Showing posts with label Short Story. Show all posts
Showing posts with label Short Story. Show all posts

Thursday, August 9, 2012

[Short Story] Fish Files (Arsip Bau Busuk) by John Grisham


Satu lagi karya John Grisham yang keluar dari ‘pakem’ novel yang biasa kita jumpai, di mana kisahnya berfokus pada ‘perjuangan’ tokoh utamanya yang menyandang status antagonis. Kisah ini merupakan kisah ketiga dalam kumpulan cerita pendek karya Grisham berjudul Ford County. Seperti kisah pertama dan kedua, kisah ini masih bersetting di Ford County, Mississippi, dan kali ini—akhirnya—muncul tokoh pengacara dalam setting berbau hukum (ini karya Grisham kan, kisah macam apalagi yang kita tunggu-tunggu?).

Mack Stafford adalah pengacara kecil untuk kasus-kasus-kasus perceraian dan kebangkrutan, yang terhimpit di antara begitu banyak pengacara-pengacara kecil lainnya yang berjejalan mencari nafkah di Ford County. Ia sudah nyaris putus asa dengan hutang menumpuk tanpa ada tanda-tanda karirnya akan meningkat, ketika suatu hari ada telepon masuk yang akan mengubah hidupnya. Mack pernah mengerjakan kasus gugatan terhadap kesalahan produksi gergaji listrik yang telah mencelakakan pemakainya. Ia menemukan empat korban dan berusaha untuk mengajukan ‘class action’ terhadap sebuah perusahaan besar yang memproduksi alat itu. Sayangnya, waktu berlalu dan gugatan itu tak pernah ada, sampai file-nya terkubur di suatu tempat di laci berdebu Mack yang ia namakan Arsip Bau Busuk (arsip yang tak ada kelanjutannya setelah waktu yang lama).

Di hari bersejarah itu seorang pengacara yang mewakili sebuah perusahaan yang telah mengambil alih saham si perusahaan besar di Arsip Bau Busuk Mack, menelponnya untuk mengajukan proposal ganti rugi agar kasus itu dapat segera ditutup dan ‘dibersihkan’ selamanya. Mack langsung mencium aroma ‘uang’, dan seperti kebanyakan orang lain yang ada di posisinya, timbullah keserakahan. Bukannya berpikir bijak dengan menggunakan hasil yang akan ia dapatkan untuk melunasi hutang dan membangun kembali hidupnya yang carut-marut, Mack malah memutuskan untuk ‘mengubur’  kehidupannya yang sekarang untuk memulai hidup baru yang penuh kemewahan dan kebebasan. Dan dalam proses menuju ‘surga instan’ itu, ia pun mulai menghancurkan hidup orang-orang yang dekat dengannya bahkan keluarganya, lalu perlahan-lahan melakukan kejahatan demi kejahatan. Demi mendapatkan ‘surga instan’ itu.

Kisah seperti ini bukan hanya sekali kudapati pada John Grisham—ada lebih dari satu kalau tak salah, kisah yang serupa—di mana Grisham menjadikan tokoh antagonisnya sebagai tokoh utama; dan alih-alih membawa kita merasakan kemenangan pihak yang benar, kita pun diajak ‘menjadi’ si penjahat sendiri yang berhasil memperkaya diri sendiri dalam sebuah pertarungan hukum. Meski kisah ini tidaklah sesensasional The Runaway Jury, tetap saja aku merasa seperti ‘terbelah’, antara menikmati law-thriller ala Grisham yang selalu cantik—tak peduli di novel ratusan halaman atau cerpen 58 halaman—dan merasa miris pada keserakahan manusia yang mampu menjadikannya tak lagi manusiawi.

Meski tak mampu turut merasa terserap dalam kisah ini, namun kecantikan Grisham meramu law thriller-nya membuatku memberikan tiga bintang untuk kisah ini.

Wednesday, August 1, 2012

[Short Story] Menjemput Raymond (Fetching Raymond) by John Grisham


[conclusion in English is at the bottom of this post]

Cerpen kedua di kumpulan cerita pendek karya Grisham: Ford County ini awalnya menyiratkan cerita yang biasa-biasa saja—Menjemput Raymond, apa yang terlintas dalam pikiran anda saat membacanya? Apa yang akan terjadi saat anda menjemput seseorang? Jangan salah, jangan menilai sebuah kisah dari judulnya saja, kalau anda tak mau terkecoh seperti aku. Mengawali kisah ini dengan skeptis, aku justru menemukan kisah ini sebagai kisah yang intens, menguras emosi dan tentu saja, menguras air mata. Memang kisahnya berkisar pada perjalanan sebuah keluarga (lagi-lagi aku bertemu dengan kisah perjalanan seperti pada cerpen pertama—Perjalanan Berdarah, apakah ini akan menjadi benang merah kumpulan cerpen ini?) untuk menjemput Raymond. Namun, siapakah Raymond ini? Mengapa ia perlu dijemput? Dan dalam keadaan bagaimana ia akan pulang? Itulah yang menjadi inti kisah ini.

Raymond ternyata adalah salah satu anggota keluarga Graney yang super berantakan. Bagaimana tidak, semua berawal dari Inez—sang ibu—yang diperkosa, lalu dinikahi oleh seorang bajingan, yang akhirnya menelantarkan keluarga mereka setelah meninggalkan ‘jejak’ abadi pada ketiga putranya yang sudah kenyang disiksa dan dipukuli, kenyang dengan suasana kekerasan dalam rumah mereka. Tak heran bila ketiganya tumbuh menjadi berandalan juga. Leon yang tertua, akhirnya mampu mengentaskan dirinya dan kembali ke jalan yang lurus, sementara Butch dan Raymond terus keluar-masuk penjara. Akhirnya Raymond pun terlibat dalam pembunuhan dan dipenjara untuk menantikan hukuman mati.

Perjalanan ini adalah perjalanan keluarga Garney yang terakhir kalinya ke penjara Parchman, karena malam itu Raymond akan dihukum mati di kamar gas. Grisham dengan piawainya telah mengusik emosiku dari saat perjalanan itu dimulai, karena sedikit demi sedikit kita pun diajak melihat perjalanan mereka semua selama sebelas tahun penantian antara Raymond mulai masuk penjara hingga saat akan dihukum mati. Dengan perjalanan itu Grisham telah mulai membangun karakter sosok Raymond, bagaimana ia selalu saja menuntut banyak dari orang lain, dan selalu membualkan berbagai macam hal. Aku pun dibuat muak dengan sifat Raymond ini. Namun—dan inilah piawainya Grisham—ketika eksekusi sudah semakin dekat, emosiku pun mulai teraduk-aduk. Mau tak mau aku teringat pada novel terbaik Grisham yang pernah kubaca: The Chamber, yang bertema sama, terpidana yang menanti hukuman mati.

**spoiler** Membaca cerpen ini kembali gugatan diam itu terlintas di pikiranku: mengapa hukuman mati tetap saja ada di muka bumi yang (katanya) beradab ini? Aku selalu berada di pihak kontra humuman mati, tak perlu kujelaskan mengapa, karena bisa-bisa ulasan ini akan berubah menjadi ajang debat filosofi… :). Dan ada dua hal yang mengusikku ketika menamatkan kisah ini, yang ditutup dengan,

“Dia (Leon) mengemudikan mobilnya ke pabrik lampu di sebelah timur kota dan memasukkan kartu absensi pada pukul 08:30, seperti biasanya.”

Pertanyaanku…setelah menyaksikan sendiri saudaramu—betapapun bejatnya dia—meregang nyawa di kamar gas, dapatkah kau hanya ‘mengemudikan mobil ke tempat kerja lalu memasukkan kartu absensi seperti biasanya’ seolah perjalanan menjemput saudaramu itu hanyalah salah satu kegiatanmu pada malam hari? Aku percaya tidak. Mungkin kalimat terakhir itu mau menekankan ironi pada nasib Raymond yang diabaikan begitu saja pada akhir hidupnya yang tragis, karena ia memang bajingan dan sudah sewajarnya mengalami nasib buruk—apa yang kau tanam itulah yang kau tuai. Tapi menurutku apa yang Leon saksikan malam itu akan terus membekas sepanjang sisa hidupnya.

Di sisi lain, aku geram dengan reaksi para tetangga keluarga Garney, yang tak muncul seorang pun pada saat pemakaman Raymond. Dia memang penjahat, tapi apakah tak ada sedikit pun rasa belasungkawa karena seorang manusia—sesama mereka—telah dibunuh? (oh ya, aku menganggap hukuman mati sebagai sebuah pembunuhan terorganisir!) Aku juga sangat heran dengan komentar Mr. McBridge yang meminjamkan van-nya untuk perjalanan menjemput Raymond ini: “Tahu nggak, beberapa orang tidak menyukai ini” Apa maksudnya? Bahwa para tetangga tak menyukai van milik orang baik-baik dipakai untuk membawa pulang peti mati penjahat? Atau bahwa jenazah seorang penjahat akan dimakamkan berdekatan dengan makam leluhur mereka? Betapa absurdnya kalau perkiraanku benar! Ingin rasanya aku melemparkan alkitab tebal ke wajah mereka, sambil berkata: Baca Yoh 8:7b “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

Yah, sayangnya aku hanya membaca kisah ini lewat cerita pendek karya John Grisham, dan hanya mampu memberikan 5 bintang untuknya! Sungguh kisah yang menggugah emosi, dan hebatnya, hanya ditulis sebagai cerita pendek sepanjang 65 halaman!

Conclusion:

This is a story about a crooked family named Garney—a mother and two brothers—in their journey to the county jail to pick up Raymond for the last time. Raymond Garney was charged with death penalty for murdering a man, and tonight is the night of the execution, after waiting for eleven years. Many things had happened during those eleven years, the mother never failed to support his son, no matter guilty he was. “She was there when they were born, and she’s still there when they were beaten”.

I got emotional (crying a bit) after reading this book, it reminded me much of Grisham’s The Chamber. I still can’t agree on death penalty, and the scene of the execution always sheds my tears (thanks to Grisham!). Raymond is not an innocent man, he was guilty, he was born a liar, and he always asks for money from his family. Well, in short, he has every quality of man we should hate. Nevertheless, seeing a human being killed by others (although under the law) always touched me deeply.

Five stars for this story!

Wednesday, July 25, 2012

[Short Story] The Woman With A Pitted Face by Ratih Kumala


This time I would like to introduce and promote Indonesian literature in the Short Stories on Wednesdays. What embarrasses me is that I’ve just found this site: I-Lit: IndonesianLiterature in Translation from a non-Indonesian blogger. I did not even know that such a project exists, until now. Anyway, this is a project to promote Indonesian literature by translating it to English. You can find many short stories (and you can read it directly on the site) written by young female Indonesian authors. The tag line is “Not Chick-Lit! Writing by Younger Indonesian Women Writers”.

For my first reading, I pick a short story from Ratih Kumala, as I have recently read one of her novels, a historical fiction, that I found very enjoyable.

The story is about a poor woman with a disfigured face (a pitted face) who was rejected by her parents since her birth, as well as by everybody in the kampong (small village). Not only ugly, she was also mute and appeared to be idiot too. I’d rather think that in fact the girl was quite normal in spite of her pitted face, however as nobody has ever treated her as a human (taught her to be civilized), she became mute and idiot. Anyway, everything run quite well for the pitted face girl until someday, a group of school boy threw pebbles to her out of nothing, just because she was ugly and never talked or responded to them. The girl took a big stone and threw it to the children, and one of them got a wound from it. The mother of the wounded boy got angry and insisted that the idiot girl should be chained “because she didn’t even resemble a human being”.

That was such an absurd thing that I could never understand. Haven’t we all been taught about not doing something that you don’t want others do to you since we were kids? I really want to shout out to that stupid mother: it’s your boy who has first thrown the pebbles to the girl, so you must blame him instead of the girl; what do you expect the girl to do against that insult? If she didn’t do anything, the boys would insult her more!

Anyway, that incident caused the pitted face girl to be chained in a small hut since that day. Years went by, she became a woman, and still no one cared about her. She was rejected, captured and alone. Her only friend now was the moon, who always shone her with its light, no matter who she was and how she looked. Only the moon who always came for her, the one to whom she could talk every night.

Actually the story is very simple (and short), written in narrative style, no dialog, no conflict, and without any major character besides the woman with a pitted face; however I found it quite deep to be reflected. I like how Ratih put the ending:

“She approaches the pool of water, a dirty pool of water, mixed with dust. There is a shadow there. She smiles-and finds the moon’s face in it. Then she falls asleep and has no need to wake up again because her friend is with her.”

It is beautiful to picture God in the moon. God who loves men no matter how they are, and who treats them all equally. How absurd it is that men can’t love each other while they are together in the same pilgrimage on earth. Why must men treated others badly just because they are not like us? Isn’t it enough that a woman was born with ugly face, that we must insult her too?

I was moved by this story, and when I feel alone and desperate, I’ll need only to see the moon, for there I will see God, and know that I will never be alone in this world…

Four stars for this story!




And I encourage you to read some of the literatures in I-Lit, you will find there short stories, poetry, as well as monologue. Let’s help Indonesian literature to get access to international readers!

Wednesday, July 18, 2012

[Short Story] Perjalanan Berdarah (Blood Drive) by John Grisham


[Conclusion in English is at the bottom of the pos]

Cerita ini adalah salah satu dari tujuh cerita pendek karya John Grisham yang dikemas dalam buku berjudul “Ford County”. Karena ini adalah pertama kalinya Grisham menulis dalam bentuk cerita pendek, tentu saja Ford County menjadi ‘wajib baca’ bagi fans John Grisham sepertiku. Dan kali ini pertama kalinya pula bagiku untuk mengulas cerita pendek secara terpisah (bukan review buku kumpulan ceritanya secara utuh). Mengapa? Karena menurutku cara terbaik untuk menikmati kumpulan cerpen seperti ini—yang memiliki tema berbeda meski masih dalam satu topik—adalah membaca masing-masing cerpen seolah-olah mereka berdiri sendiri [baca: tidak membacanya secara simultan]. Jadi nantinya aku akan menerbitkan ulasan ke-7 cerpen secara terpisah, dan pada akhirnya aku akan tetap mereview buku ini sebagai sebuah kumpulan cerita-cerita menarik tentang Ford County, sebuah kota kecil di negara bagian Mississippi. Baiklah, sekarang aku akan mengulas cerita pertama: Perjalanan Berdarah, yang diterjemahkan dari judul aslinya: Blood Drive.

Seperti halnya yang sering terjadi di pedesaan di mana penduduknya saling mengenal akrab, demikian juga yang terjadi di Box Hill, sebuah desa di Ford County. Ketika Bailey—seorang putra daerah mereka—mendapatkan kecelakaan tertimpa perancah di sebuah lokasi konstruksi di Memphis, seluruh desa menjadi gempar. Pertama, berita kejadian itu menjadi simpang siur, dan karenanya tak ada seorang pun yang memiliki data yang akurat tentang kejadian sebenarnya.

Kedua, setelah pihak Rumah Sakit yang merawat Bailey mengabarkan bahwa si pemuda membutuhkan donor darah, kegemparan berikutnya pun terjadi. Kali ini mereka semua berusaha agar bukan dirinya yang harus berangkat ke Memphis untuk menyumbangkan darahnya, karena—lagi-lagi seperti yang biasa terjadi di pedesaan—mereka membayangkan donor darah sebagai hal yang menakutkan. Namun akhirnya dua pemuda mengajukan diri sebagai pahlawan, yaitu Aggie dan Calvin, ditemani seroang pemuda pemabuk dan pemakai narkoba bernama Robert. Bertiga mereka memulai perjalanan ke Memphis demi menyelamatkan nyawa teman mereka Bailey.

Ternyata di perjalanan banyak sekali rintangan yang menghadang. Mulai dari minuman keras, dikejar polisi, dicurigai pemilik sebuah rumah, salah masuk rumah sakit karena mereka ternyata tak tahu di rumah sakit mana Bailey dirawat (di Memphis ada 7 Rumah Sakit!), hingga yang terparah, hasrat mereka untuk bersenang-senang di stripping club hingga terlibat perkelahian missal di sana. Padahal di sebuah tempat tidur di sebuah rumah sakit entah di mana, si malang Bailey mungkin sedang membutuhkan pertolongan mereka….

Aku melihat kisah ini sebagai sebuah absurditas. Ingin rasanya aku berteriak pada penduduk Box Hill dan ketiga pemuda yang berangkat untuk menyumbangkan darah: ‘Cepatlah..cepatlah! ni masalah genting, tahu!’. Lebih jengkel lagi aku pada Aggie, Calvin dan Robert yang dengan gampangnya mengesampingkan urusan yang amat serius hanya gara-gara mereka menginginkan kesenangan! Dari sini sedikit banyak aku belajar bahwa sangat-sangat-sangat sulit untuk berkorban bagi orang lain. Aggie dan Calvin paling tidak sudah memiliki niat baik untuk pergi menyumbangkan darah (meski mau tak mau aku berpikir, apakah niat mereka murni untuk menolong, ataukah hanya agar dianggap sebagai pahlawan)? Dan kalaupun niat sudah ada (dan ingat, dari sekian banyak penduduk hanya Aggie dan Calvin yang memiliki paling tidak sedikit niat itu), kita masih dihadapkan pada perjalanan panjang untuk mengeksekusi niat baik kita. Dan di sini kita membutuhkan persistensi dan fokus pada apa yang kita niatkan. Dua hal yang tak dimiliki Aggie maupun Calvin; mereka berdua mengumpat Robert si pembuat onar, padahal mereka sendiri juga sama bersalahnya.

Hal kedua yang menarik adalah benang merah yang juga menjadi bagian dari judul kisah ini, yaitu “darah”. Menarik bahwa elemen darah menjadi titik pusat kisah ini. Bailey membutuhkan donor darah. Tiga orang berniat menyumbangkan darah. Pada akhirnya merekalah (terutama Aggie dan Calvin) yang berdarah-darah. Ketika uang mereka habis, apa yang ingin mereka lakukan? Menjual.. darah! Tak heran bila John Grisham memberi judul kisah ini ‘Perjalanan Berdarah’. Adakah anda merasakan paradox di sini? Jadi dapat kita golongkan sebagai apa kisah ini? Paradox yang absurd? Hmm….

Untung saja kisah ini ditulis oleh John Grisham, yang memang terbukti sebagai seorang pencerita yang hebat, sebab sesuatu yang sebenarnya sering kita alami (baca: kehebohan yang tak perlu sehingga mengabaikan hal yang penting, niat baik yang pupus karena godaan) mampu dianyam menjadi kisah yang cukup seru oleh Grisham. Tiga bintang aku hadiahkan untuk kisah ini, semoga aku akan menemukan kisah-kisah lain yang lebih “dalam” dari Perjalanan Berdarah ini.

Conclusion:

This story is in: Ford County, John Grisham’s first stories collection. It’s about three young men from a small village in Ford County who volunteered to donate their blood for a wounded friend called Bailey in Memphis. One of them (the bad boy, we can say) is a drunkard, and during the journey has been poisoning the two other with both dozen cans of beer and talking about stripping clubs they ought to visit. With all the distraction, it was obvious that the journey would soon become a disaster, and they would hardly come in time for rescuing the wounded friend with their blood.

I see this story as an absurdity. How could the three young men pleased themselves with beer and women, while their friend might have been dying in need of blood donor? And the most absurd here is that instead of giving their blood to rescue life, it was THEIR blood that must be shed in the end.

Yes, this story is an absurdity, yet Grisham has written it beautifully, that I can’t stop reading to get to know the ending.