Showing posts with label Petualangan-Fantasi. Show all posts
Showing posts with label Petualangan-Fantasi. Show all posts

Wednesday, December 12, 2012

Apocalypse Moon: The Joshua Files #5


Juni 2012. Enam bulan sebelum supergelombang galaksi diprediksi akan tiba di bumi kita tercinta ini, Josh Garcia lagi-lagi merasa galau. Sebentar lagi Josh akan genap berusia 16 tahun, saat itu ia akan sepenuhnya diterima dalam Dewan Eksekutif Ek Naab karena statusnya sebagai Bakab Ix. Dari awal keterlibatannya hingga saat itu (mulai Joshua Files #1, #2, #3 hingga #4) Josh telah melalui berbagai petualangan berbahaya demi menyumbangkan hal-hal penting bagi Rencana 2012—yaitu rencana untuk melindungi bumi dari kehancuran akibat supergelombang galaksi. Namun, Josh merasa bahwa justru di tahap akhir Rencana 2012 ini ia dikucilkan. Josh sang pahlawan muda merasa tak diberi kesempatan untuk terlibat.

Maka seperti layaknya anak muda lainnya yang bertemperamen impulsif dan gegabah, Josh pun memutuskan untuk terlibat dengan caranya sendiri—lagi-lagi tanpa ijin dan sepengetahuan Montoyo. Josh yang telah belajar menyopiri Muwan meski belum lulus ujian, tiba-tiba merasa dirinya layak menerbangkan pesawat canggih ala Ek Naab itu dan bertualang bersama Benicio untuk melacak markas Sekte Huracan. Seperti biasa, aksi tanpa rencana biasanya berakhir sebagai bencana, dan seperti itulah aksi dua sepupu (sok) jagoan ini. Bertobatkah Josh setelah itu? Tentu saja tidak! Kalau anda sudah mengenal Josh sejak Joshua Files #1, anda akan tahu bahwa sekali sebuah ide hinggap di kepalanya, Josh akan terus berusaha mewujudkannya. Maka lagi dan lagi Josh, Ixchel, Benicio dan bahkan Tyler akan mengalami hal-hal menegangkan dan penuh bahaya dalam usaha menyelamatkan dunia dari supergelombang galaksi 2012!

Bukan hanya sarat aksi dan menantang logika dengan hal-hal teknis seputar perjalanan waktu dan misteri solusi suku Erinsi untuk menyelamatkan dunia, seri terakhir ini akan menguak semua rahasia yang selama ini menghantui Josh (juga kita..). Salah satu di antaranya…siapa sebenarnya Arcadio—sang penjelajah waktu? Akankah ketakutan Ixchel selama ini bahwa Josh adalah Arcadio akan menjadi kenyataan di akhir cerita? Atau bagi anda penyuka romance, kalau Josh adalah Arcadio, akankah ia dapat bersatu selamanya dengan Ixchel?

Namun di balik sisi aksi dan fantasi yang membuatmu sering menahan napas selama membaca buku ini, kita juga dibawa pada gambaran mengerikan dunia yang carut marut apabila supergelombang galaksi itu benar-benar tiba seperti yang diramalkan. Manusia telah terlalu bergantung pada komputer, sehingga tanpa sadar sebenarnya kita sudah tak layak lagi mendapat ‘wewenang’ dari Sang Pencipta untuk memelihara bumi dan menguasai isinya. Buktinya, alih-alih menguasai bumi, kita justru dikuasai oleh komputer! Realitas mengerikan yang dilihat Josh itu seolah mau menampar kita.

Musuh yang dihadapi Josh dan Ek Naab adalah Sekte Huracan, orang-orang serakah dan ambisius yang ingin menciptakan dunia baru yang berisi manusia-manusia pilihan. Ketika akhirnya manusia-manusia pilihan (atau yang disebut ‘berdarah-biru’) berubah menjadi jahat, inilah analsis Tyler yang menarik untuk direnungkan:

“Yang mengubah sebagian darah-biru jadi orang brengsek, Josh, adalah kesadaran bahwa mereka memiliki kekuatan itu. Diberitahu dan percaya  bahwa kau lebih baik daripada orang lain.”

Bukankah manusia jatuh ke dalam dosa karena alasan serupa? Ketika mereka sadar bahwa mereka mampu menjadi penguasa dunia, mereka pun menjadi serakah.

Kurasa kali ini aku takkan banyak berbicara tentang inti kisah Apocalypse Moon ini, kisahnya akan jauh lebih mendebarkan bila anda membacanya sendiri. Intinya tetap sama, Josh dkk akan terus berjuang melawan waktu sekaligus musuh ambisius mereka, demi menyelamatkan dunia. Sebaliknya, aku akan berbagi beberapa kutipan yang memberiku bahan permenungan tentang kehidupan. Rupanya, dari seorang remaja seperti Josh pun kita bisa belajar tentang kehidupan. Ya, kerap kali, saat kita dalam kesulitan lah kita akan menjadi lebih bijak, bukankah begitu?

“Kau tidak sendirian, Josh. Tidak akan pernah.”

Kata-kata peneguhan yang diucapkan seseorang kepada Josh, memberikan kekuatan saat kita dalam kesulitan. Peneguhan ini bukan hanya dari orang-orang yang mencintai kita, namun Sang Pencipta kita juga pasti mendampingi kita.

~~~

“Betapa besar penerimaannya akan kenyataan ini. Jauh di dalam hati, dia tahu di mana tempatnya yang seharusnya. Meskipun hidupnya begitu berat, dia ingin kembali. Pada akhirnya yang penting adalah tanggung jawab, orang-orang yang bergantung padanya.”

Komentar Josh tentang salah satu yang terlibat dalam Rencana 2012; mengingatkan kita bahwa saat hidup terasa begitu sulit dan kita nyaris putus asa, ingatlah akan orang-orang yang kita cintai dan bergantung pada kita. Saat kita punya kesempatan untuk menyelamatkan diri sendiri, manakah yang kita pilih, meraihnya sendirian, atau kembali pada orang-orang yang kita cintai untuk kembali berjuang bersama mereka meski konsekuensinya kita akan menderita?

~~~

“Dulu kita sama. Kemudian hidup kita mengambil jalan yang berbeda.”

Kata-kata yang diucapkan Josh pada dirinya sendiri pada garis waktu yang berbeda. Meski kita tak mungkin menjelajah waktu, namun apapun yang kita putuskan dan lakukan saat ini akan menentukan jalan hidup kita selanjutnya.

~~~

“Aku hanya ingin berada di sini. Sekarang.”

Dan akhirnya, bagi anda yang masih suka menghabiskan banyak waktu berandai-andai tentang masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan, ingatlah bahwa masa sekarang lah yang harusnya paling penting dan paling anda hargai. Percayalah, bahkan seorang penjelajah waktu yang pernah pergi ke masa lalu maupun masa depan, mengatakan bahwa yang ia inginkan hanyalah saat ini, di sini.

~~~

Akhirnya, tak terasa lima seri sudah aku mengenal Joshua Garcia. Dan meskipun Josh jauh dari sempurna sebagai seorang pahlawan dan banyak melakukan kesalahan, aku terlanjur menyukai cowok Brazil yang suka capoeira ini karena hatinya yang mulia. Di dalam jiwa remajanya yang labil, Josh berani mengorbankan diri bukan hanya bagi orang-orang yang dicintainya saja, tapi bagi sesamanya manusia. Inilah kualitas seorang pahlawan yang sebenarnya, pahlawan kemanusiaan.

Empat bintang untuk Joshua Files kelima ini, dan dengan sedih aku harus berpisah dengan Josh. Salut pada M.G. Harris yang telah membawa kita pada banyak pengetahuan dan kesadaran baru tentang dunia, dan yang telah menuliskan tahap-tahap perkembangan Joshua—dari remaja biasa menjadi pemuda berhati mulia, serta yang telah menutup seri ini dengan kisah yang begitu emosional (aku sempat menangis di endingnya!). Oh, dan terima kasih banyak pada M.G. Harris yang telah mempersembahkan kejutan manis di ending kisah ini bagi para pembaca Indonesia (sungguh membuatku surprise sekaligus bangga ketika tiba di bagian itu, thanks M.G!) Moga-moga supergelombang galaksi yang ditakutkan itu tak sampai menghantam bumi kita tercinta dalam beberapa hari lagi; namun apapun yang akan terjadi atau tidak terjadi, syukurilah hidup yang anda miliki hari ini!

Judul: Joshua Files # 5: Apocalypse Moon
Penulis: M.G. Harris
Penerjemah: Nina Andiana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: November 2012
Tebal: 389 hlm

Wednesday, August 8, 2012

Aliens on Vacation


“Jika aku bisa menyediakan tempat di mana beragam spesies dapat berkumpul dalam damai, maka itulah hadiah terbaik yang bisa kuberikan bagi kosmos ini.”

Selamat datang di Penginapan Antargalaksi! Sesuai dengan namanya, penginapan ini menerima pengunjung beragam spesies dari seantero galaksi. Makhluk-makhluk yang biasa kita sebut alien itu senang berlibur di planet kecil yang kita cintai ini, Bumi! Demi keselamatan mereka, para turis ini—demikian sebutan mereka—akan dipakaikan penyamaran mirip manusia sehingga mereka bisa berjalan-jalan di Bumi dan merasakan hidup di peradaban manusia. Penginapan ini dimiliki dan dikelola oleh seorang wanita eksentrik paruh baya selama empat puluh tahun, yang membuatnya tidak disenangi oleh penduduk setempat dan sang sheriff, karena penginapannya selalu berisi ‘orang-orang’ yang berpakaian dan bertingkah aneh-aneh.

Ke sanalah David aka Scrub akan menghabiskan dua bulan liburan musim panasnya kali ini. Scrub adalah seorang remaja cowok biasa yang canggung menghadapi cewek, dan sedang berjuang untuk masuk ke tim utama basket di sekolahnya meski tubuhnya..hmm…maaf..pendek. Ia menatap liburannya dengan muram, merasa ‘dibuang’ ke kota kecil yang tidak menarik, mendapati penginapan nyentrik milik Grandma-nya yang juga nyentrik, tak mendapati koneksi internet atau televisi di kamarnya, dan harus menyantap hidangan favorit Grandma berupa tahu, labu, beras merah, dan jamur…yucks!! Dan belum-belum ia sudah berkanalan dengan sheriff galak, pria linglung aneh berkulit kelabu dan cewek yang suka memotret sembunyi-sembunyi. Bisakah kau bayangkan prospek liburan musim panas Scrub?

Namun setelah berjalannya waktu, ternyata Scrub mulai bisa terbiasa dan malah menikmati pengalamannya. Ia menjadi asisten Grandma khusus untuk penyambutan para alien yang datang lewat transporter, dan ia juga yang dengan kreatifitasnya bertanggung jawab menyulap para alien yang berbentuk aneh itu menjadi mirip manusia normal…yah..sedikit mirip lah.. Sampai Scrub berkenalan (akhirnya) dengan si cewek bertopi kuning yang suka memotret itu. Ternyata si cewek bernama Amy ini lumayan cantik dengan bintik-bintik di hidungnya, dan dengan kecerdasannya, terutama yang menyangkut fiksi ilmiah. Singkat kata, oh…Scrub pun jadi mulai jatuh cinta pada Amy. Tampaknya, liburan init oh akan menyenangkan juga kok bagi Scrub….

Eh tapi tunggu dulu! Menangani sekian banyak ‘turis’ alien ternyata tak segampang yang kau pikirkan, terlebih karena tak boleh seorang pun tahu bahwa para turis itu adalah alien. Kau tahu sendiri kan, bagaimana masyarakat akan heboh kalau mengetahui ada alien berada dekat dengan mereka. Dan terutama, mereka harus menutupinya dari sherif Tate yang sudah gatal ingin menutup bisnis Grandma selamanya. Yah…Scrub merasakan sendiri betapa sulitnya memikul tanggung jawab untuk melindungi rahasia itu sekaligus melakukan pedekate pada Amy. Ugh…kenapa Scrub terus saja melakukan hal-hal bodoh yang membuat Amy mungkin sebal padanya, padahal yang ia inginkan cuma satu…yaitu mencium Amy; selama hidupnya Scrub belum pernah mencium cewek lho!...

Kurasa kau akan dapat menebak isi buku ini selanjutnya. Pasti akan ada hal-hal yang salah, dan ketika Scrub hendak melakukan sesuatu yang penting, semuanya malah berantakan. Si ‘jahat’ nampaknya akan menang, dan si ‘baik’ tak mampu melakukan apa-apa, sampai di saat terdesak tiba-tiba muncul ide cemerlang. Yeah…seperti itu jugalah cerita ini akan mengalir, namun tetap saja, aku mengacungkan jempol pada Clete Barrett Smith—jangan pernah meremehkan penulis yang tak pernah kau dengar sebelumnya!—yang bisa merenda cerita dengan manisnya. Ia mampu menggabungkan unsur kocak, seru, percik-percik cinta :), dan nilai-nilai kemanusiaan menjadi satu kesatuan kisah yang enak untuk dinikmati. Tidak kekanak-kanakan, tidak picisan, alurnya pas, dan meski ceritanya jelas tak masuk akal, namun kau tak akan merasakannya, sama seperti Scrub yang langsung bisa beradaptasi dengan semua keanehan di Penginapan Antargalaksi. Seolah bertemu dengan alien adalah hal paling biasa yang pernah kau alami!

Tapi kurasa hal paling hebat dari buku ini adalah kau akan sempat menemukan sebuah nilai moral yang terbungkus dalam kisah ringan ini, yaitu tentang memperlakukan sesama, meski mereka berbeda dengan kita. Berbeda bukan berarti mereka tidak baik, apalagi jahat. Yang perlu kita lakukan pertama-tama adalah menyambut mereka dengan tangan terbuka, memperlakukan mereka sama dengan kita memperlakukan teman-teman kita, maka mereka pun akan menjadi teman kita.

Aku juga senang pada bagaimana Grandma memperlakukan Scrub. Remaja seusianya ingin diperlakukan dengan serius—tidak disepelekan karena ‘masih kecil, ingin dipercaya untuk melakukan suatu tugas, dan dipuji ketika ia melakukan tugas dengan baik. Dan yang terpenting, perasaan dicintai, berikan semuanya itu, maka si anak akan menjadi anak yang baik dan berbakti pada orang tua.

Akhirnya, aku cuma ingin bilang, tak banyak novel remaja yang membuatku tersentuh, dan novel ini adalah salah satunya. Empat planet untuk Scrub dkk! :)

Judul: Aliens on Vacation (terjemahan: Liburan Para Alien)
Penulis: Clete Barrett Smith
Penerjemah: Justine Tedjasukmana
Editor: Fenty Nadia
Penerbit: Atria
Terbit: Juni 2012
Tebal: 310 hlm

Monday, August 6, 2012

Dark Parallel: The Joshua Files #4


“Aku seperti bunga matahari yang berotasi ke arah matahari” ~Joshua Garcia

Seperti itulah kondisi hati Joshua Garcia saat ia mulai pindah ke Ek Naab bersama ibunya. Masih ingatkah kau pada Joshua—si ABG yang di seri pertama serial The Joshua Files menemukan kaitan dirinya dengan Ek Naab, kota yang hilang dari bangsa Maya? Yang lalu mulai mencari keberadaan ayahnya yang hilang di seri ke-2 dalam petualangan berbahaya di gunung esOrizaba? Dan yang kemudian mulai menjajal Gelang Itzamna untuk menemukan titik nol di seri ke 3? Nah, kini Joshua, sekarang jauh lebih matang dari sebelumnya, masih akan bertualang untuk mencoba menyelamatkan peradaban dunia yang terancam punah pada Desember 2012 menurut ramalan kuno bangsa Maya.

Seperti bunga matahari yang berotasi ke matahari, Joshua di seri keempat—Dunia Paralel—ini sedang benar-benar jatuh cinta pada Ixchel, s cewek Ek Naab. Sayangnya Ixchel nampaknya malah lengket dengan Benicio, sepupu Joshua di Ek Naab. Namun, meski sedang galau dilanda cinta, Josh masih sempat memikirkan urusan Ek Naab, setidaknya ketika Montoyo membicarakan rencana pergi ke Kerajaan Calakmul abad ke-7 demi menggagalkan usaha Sekte Huracan untuk merusak Codex Ix. Bisakah kau membayangkan Montoyo bepergian ke masa lampau dan bertualang di bangsa Maya kuno? Jangan khawatir, karena akhirnya justru Josh lah yang akan berangkat bersama dengan Ixchel dengan bantuan Gelang Itzamna.

Jangan mengira misi Josh dan Ixchel akan berjalan mulus, banyak petualangan yang—bukan lagi menyerempet, tapi benar-benar—berbahaya, yang membuatmu menahan napas saking tegangnya. Kali ini musuh mereka bukan lagi Simon Madison, namun ayahnya sang Pemimpin Sekte Huracan yang kejam, Marius Martineau. Jadi bayangkan betapa terkejutnya Josh saat ia mengira bahaya terbesarnya saat itu adalah terperangkap di tengah bangsa Maya pada tahun 653 dan berpotensi menjadi kurban persembahan mereka karena telah dituduh mencuri Gelang Itzamna, tiba-tiba menyadari bahwa Pendeta bangsa Maya ini adalah Marius! Bagaimana ia sampai di sana? Tentu saja dengan Gelang Itzamna juga. Ah, berarti Gelang Itzamna ada dua? Itulah bagian teka-tekinya…

Di luar semua itu, masih ada sesuatu yang berubah di dunia Josh sendiri, sebuah misteri yang aneh baginya. Bagaimana mungkin Tyler sobatnya tidak mengenalnya? Bagaimana mungkin orang-orang Ek Naab tak mengetahui hal-hal yang terjadi di waktu lampau? Bagaimana mungkin ada hal-hal yang hanya Josh seorang yang mengetahuinya? Apa semua ini akibat dari perjalanan waktu yang Josh lakukan dengan Gelang Itzamna? Benarkah salah satu konsekuensi perjalanan waktu adalah engkau akan terlempar ke realitas yang lain meski dalam kerangka waktu yang sama? Inikah yang disebut Dunia Paralel, yang menjadi judul seri ke 4 Joshua Files ini?

Kalau begitu, saat Josh dan Ixchel akhirnya harus meninggalkan Calakmul abad ke 7 dan kembali ke abad 21, ke manakah kira-kira mereka akan mendarat? Akankah mereka mendapati Meksiko yang sama? Akankah mereka menjumpai keadaan di Ek Naab sama seperti sebelum mereka pergi? Atau akankah mereka terdampar di realitas waktu, di mana mereka sendirian, tak lagi memiliki siapapun?

Terus terang saja, aku jadi semakin kagum pada M.G. Harris. Seri ke empat ini benar-benar menyuguhkan sesuatu yang lebih daripada sekedar petualangan seru beberapa orang remaja. Aku menemukan Dark Parallel ini lebih cerdas dari seri-seri sebelumnya. Di sini imajinasi dan konsentrasi tingkat tinggi akan sangat dibutuhkan untuk memahami seluk-beluk perjalanan waktu dan semua hal di seputar codex ix dan Gelang Itzamna ini.

Mau tak mau aku jadi berpikir, bahwa sebenarnya hidup ini sendiri menawarkan konsekuensi yang sama seperti Gelang Itzamna. Sebenarnya kau tak perlu memakai Gelang Itzamna untuk melakukan perjalanan waktu ke masa lampau untuk melakukan atau memperbaiki sesuatu untuk mengubah apa yang terjadi di masa kini. Apa yang bisa kita lakukan adalah mengubah atau memperbaiki apa saja yang perlu kita perbaiki di masa kini, untuk mengubah apa yang akan terjadi kelak di masa depan. Masuk akal kan? Karena bukan hanya karena Gelang Itzamna, hidup ini sendiri memang menyediakan berjuta-juta kemungkinan. Apa yang kita lakukan dahulu—sekecil apapun itu—akan berpengaruh pada hidup kita hari ini; apa yang kita lakukan sekarang akan berpengaruh pada keadaan kita kelak, baik maupun buruk. Realitas itu membantuku untuk memahami tentang Dunia Paralel.

“Setiap tindakan memiliki konsekuensi” ~hlm. 149

“Begitu kamu meninggalkan garis waktumu, garis waktu itu hilang untuk selamanya.” ~hlm. 149

“Takdir kita tidaklah menakutkan karena ketidaknyataannya; takdir terasa menakutkan karena tak bisa diulang kembali dan terlindung besi.”~hlm. 135

“Semenakutkan itulah rasanya jika kau berurusan dengan sejarah. Kau tak akan pernah tahu ke mana tindakanmu berujung.” ~hlm. 332

Sampai dengan paragraf di atas, kau akan mengira novel ini penuh petualangan berbahaya dan deduksi rumit ala fiksi ilmiah saja. Sebenarnya tidak. Hal yang paling aku sukai dari novel ini justru terletak pada perkembangan pribadi Josh sendiri, dan tentu saja pada hubungannya dengan Ixhel. Di seri ke 4 ini aku menemukan sesuatu yang berbeda pada diri Josh. Ia sudah lebih dewasa dan matang, dan cintanya pada Ixchel terbukti bukan cinta monyet belaka. Terharu aku membaca bagaimana Josh mengorbankan hidupnya dan nasib dunia yang ada di tangannya, demi menyelamatkan Ixhel; karena di tengah petualangan penuh marabahaya itu pun Josh mampu menyadari bahwa ia takkan sanggup hidup tanpa Ixchel.

Untungnya di tengah semua hiruk pikuk menyelamatkan dunia dari super gelombang magnetik di 2012 itu, M.G. Harris masih memberi kesempatan manis kepada Josh dan Ixchel untuk menikmati saat-saat romantis mereka, hanya berdua di tepi pantai. Oh sungguh….adegan itu sangat-sangat romantis! Seperti kita semua saat mengalami kejadian yang membahagiakan, kita tak ingin semuanya berakhir, begitu juga Josh. Meski sedang dilanda cinta, ia menyadari bahwa tanggung jawab yang sangat berat ada di pundaknya, dan itu menyangkut keselamatan umat manusia! Jadi, meski kau begitu menikmati membaca seri ke-4 ini, akan ada saatnya engkau harus menutup lembar terakhir, dan sekali lagi kau akan mengalami penantian (yang moga-moga tidak) panjang sebelum seri terakhir Joshua Files terbit lagi! Sampai saat itu, cukuplah kalau aku menutup tulisan ini dengan kata-kata Josh sendiri.…

“Berada begitu dekat dengan Ixchel membuatku merasakan sesuatu, perasaan yang dalam dan tenang, seolah aku ada di dalam gelembung yang tertahan di spektrum waktu. Bukannya aku tak mau tumbuh dewasa, meskipun ada begitu banyak bahaya yang harus kami hadapi. Tapi saat ini kuharap waktu bisa berhenti berputar.”

Empat gelang untuk Joshua!

Judul: The Joshua Files #4: Dark Parallel
Penulis: M.G. Harris
Penerjemah: Nina Andiana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Juni 2012
Tebal: 367 hlm

Thursday, December 15, 2011

Zero Moment: The Joshua Files #3

"Aku ingin berenang melawan arus waktu" adalah ungkapan seorang penulis bernama Italo Calvino, yang mengekspresikan keinginannya untuk kembali ke masa lampau dan menghapus peristiwa-peristiwa yang menyebabkan kesulitan pada masa sekarang. Seberapa sering anda merasakan hal seperti itu juga? ‘Andai dulu aku tak mengatakan itu...; andai dulu aku melakukan A, bukannya B...’, dan andai-andai yang lain. Kadang ketika kita mengurai benang kusut kesulitan yang sedang kita alami, kita akan tiba pada kesimpulan bahwa peristiwa X itulah yang memulai segalanya. Itulah "titik nol"nya. Kalau aku bisa menghapus titik nol itu, semua kesulitan dan masalah ini takkan terjadi. Begitulah yang sering kita pikirkan, sama halnya yang dipikirkan oleh Joshua Garcia di buku ketiga The Joshua Files karya M.G. Harris: Zero Moment (Titik Nol).

Masih ingat kan dengan petualangan remaja asal Spanyol, yang ternyata keturunan bangsa Maya dan menemukan inskripsi Maya (Codex Ix) yang meramalkan kehancuran dunia pada tahun 2012? (Anda bisa membaca dulu review bagian pertama dan keduanya). Setelah momen yang membuat shock Joshua di Gunung Orizaba yang melibatkan ayahnya, Josh seolah ingin menghapus semua tentang Ek Naab dan Codex Ix dari ingatannya, dan (mencoba) kembali menjadi remaja biasa di Oxford, Inggris. Ia masih suka berlatih capoeira, dan sedang menghadapi kompetisi capoeira tingkat dunia yang akan diadakan di Brazil. Namun sebelum itu terjadi, tiba-tiba Ixchel (masih ingat kan cewek manis bangsa Maya yang menemani Josh di petualangannya di Ice Shock?) menghubungi Josh lewat serangkaian e-mail, yang lalu berlanjut lewat chat room 3D.

Dan sedikit demi sedikit kita dibawa ke suasana hati Josh yang telah mulai berkenalan dengan cinta. Asyik juga mengikuti pergolakan masa remaja (yang dulu pun pernah kita semua rasakan) yang terjadi dalam diri Josh. Di satu sisi mati-matian menutupi perasaannya pada si cewek, tapi di sisi lain mati-matian juga mengharapkan perhatian si cewek. Marah ketika si cewek terlihat akrab bersama cowok lain, tapi ketika si cewek berusaha mendekat, malah bersikap kasar pada si cewek. Begitulah kira-kira yang terjadi pada Josh dan Ixchel saat mereka berdua, bersama Mum (ibu Josh), Tyler, Benicio, dan Montoyo pergi ke Brazil dalam rangka kejuaraan capoeira itu. Josh merasa bingung dengan perasaannya saat itu, dulu ia dan Ixchel adalah teman, lalu mengapa tba-tiba ada perasaan yang berbeda tumbuh di hatinya?

Untuk sejenak, kita dibawa pada kehidupan normal Josh dkk. Namun hal itu tak lama, karena dalam sebuah perjalanan wisata dengan naik buggy (kendaraan khusus padang pasir), terjadilah hal yang tak diinginkan. Karena marahan pada Ixchel dan Mum, Josh memutuskan pindah ke buggy Montoyo dan Benicio. Ternyata dalam perjalanan itu, penumpang buggy satunya (Mum, Ixchel dan Tyler) diculik!

Maka dimulailah petualangan yang mendebarkan yang disuguhkan dengan apik oleh M.G. Harris. Seperti dapat ditebak, insiden penculikan itu sebenarnya ditujukan pada Josh, karena Sekte Huracan (musuh Ek Naab yang ingin merebut Codex Ix) memang mengincar Josh untuk dijadikan bahan riset. Taruhannya adalah Josh menyerahkan diri, atau penculik akan membunuh sandera, yang adalah tiga orang yang sangat disayangi Josh: ibunya, ceweknya, sahabatnya. Apa keputusan Josh?

Selain itu, Josh masih tetap memiliki keinginan untuk memperbaiki Gelang Itzamna--yang ia dapat dari ayahnya di Gunung Orizaba dalam keadaan rusak. Hanya dengan gelang itulah, ia meyakini dirinya akan dapat berjalan menembus waktu. Josh percaya, keinginan ayahnya sewaktu mereka berpisah di Gunung Orizaba, adalah agar Josh melakukan perjalanan waktu ke masa lampau (titik nol), dan mengubah jalannya sejarah agar apa yang terjadi di Gunung Orizaba tak perlu terjadi. Semakin lama tekad Josh untuk itu makin kukuh, meski Ixchel dan Tyler mengkhawatirkannya.

Maka petualangan pun segera pindah ke Ek Naab lagi. Kali ini Tyler mendapat kesempatan berkunjung ke sana bersama Josh. Namun, alih-alih mengalami liburan, ia harus mengarungi petualangan berbahaya bersama Josh dan yang lainnya. Semuanya berawal dari SMS yang diterima Josh di ponsel Ek Naab-nya, yang sepertinya mengarahkan Josh untuk menemukan sesuatu yang amat penting. Kejar-kejaran full action, termasuk perjalanan menembus waktu yang bikin deg-deg-an, semuanya ada di buku ketiga ini!

Sungguh, buku ketiga The Joshua Files ini menurutku lebih menegangkan dari kedua buku sebelumnya. Bahaya-bahaya yang dihadapi Josh lebih serius, dan keberanian serta percaya diri tampaknya juga mulai muncul dalam diri Josh. Tapi yang paling unik, sisi remaja Josh juga mengemuka di sini. M.G. Harris sangat memahami para pembacanya yang mayoritas remaja. Empat bintang buat Josh dan M.G. Harris! Moga-moga buku keempat dan kelimanya akan lebih memukau dari tiga seri sebelumnya.

Judul: The Joshua Files #3: Zero Moment
Penulis: M.G. Harris
Penerjemah: Nina Andiana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Oktober 2011
Tebal: 368 hlm

Monday, June 27, 2011

Lee Raven Boy Thief

Pernahkah anda ketika membaca buku, merasakan bahwa buku itu, begitu dibuka pada halaman pertama, tiba-tiba seolah menjadi hidup? Dan selanjutnya, selama buku itu tetap terbuka, ia lantas memuntahkan kisahnya pada anda, dan berhenti setiap kali anda menutupnya? Pernahkah anda sadari, bahwa buku yang sama apabila dibaca oleh dua orang yang berbeda, akan bercerita pada kedua orang itu dengan cara yang berbeda pula?

Buku. Sebuah benda mati. Sekumpulan kertas berisi coretan (atau ketikan) yang dijilid menjadi satu. Bagaimana ia bisa menjadi hidup ketika kita membacanya? Itu karena saat kita membaca, kita mencurahkan kecintaan kita pada buku itu. Kita memegangnya dengan hati-hati, jangan sampai ia terlipat, jangan sampai ia terkena air. Kita mencurahkan perhatian pada kata demi kata yang muncul di sana dengan rasa takjub. Ketika kita dengan antusias mengikuti cerita di buku itu, maka buku itu akan dengan antusias pula memuntahkan cerita itu seperti yang kita inginkan. Bahkan, kadang-kadang, buku pun bisa bercerita kepada seorang anak yang tak dapat membaca. Tepatnya, kepada seorang remaja laki-laki penderita disleksia bernama Lee Raven. Atau kalau anda ingin, anda bisa menjulukinya Lee Raven Boy Thief. Karena memang itulah pekerjaannya, mencopet!

London, Inggris, suatu malam di bulan April tahun 2046. Di sanalah kisah ini bermula. Tepatnya di kawasan Soho, ketika seorang remaja berusia sekitar 15 tahun memutuskan untuk mencopet dompet milik seorang wanita kaya. Ia berhasil, karena memang ia telah terbiasa mencopet. Bahkan ia lahir dan hidup dalam keluarga pencopet. Lee Raven memang pencopet kecil. Sama seperti ayahnya, serta saudara-saudaranya: Finn, Billy dan Ciaran. Hanya saja, kali ini dompet itu akan membawanya ke dalam sebuah petualangan seru, menegangkan sekaligus mengasyikkan.

Menghindar dari kejaran petugas keamanan si wanita kaya, kedua kakinya membawa Lee ke pintu belakang sebuah rumah. Sang pemilik rumah yang penuh buku itu adalah Mr. Maggs, seorang penjual buku antik yang tinggal di sana bersama asisten remaja perempuan yang ia anggap anak kandungnya: Janaki. Mr. Maggs mengira Lee tamu yang ditunggunya, dan menyuruhnya masuk. Ketika Mr. Maggs meninggalkannya di ruang kerjanya, tak sengaja Lee menemukan sebuah buku tua di dalam sebuah kotak penyimpan barang berharga. Dan secara tak sengaja pula buku itu meluncur masuk ke kantong rahasia yang ada di dalam jaket Lee tempat ia biasa menyimpan hasil copetannya, ketika ia nyaris ketahuan Mr. Maggs. Meski Lee tak dapat membaca karena disleksia, ia mengenali buku itu sebagai Beano Annual. Beano Annual adalah cerita anak-anak bergambar dengan banyak karakter, yang diterbitkan setiap tahun di Inggris pada bulan yang sama (pertama diterbitkan tahun 1939, dan tahun ini edisi ke 73 akan terbit). Salah satu karakter terpopuler di situ adalah Dennis The Menace. Cerita itu sering dibacakan oleh ibunya ketika Lee kecil. Beano itu merupakan satu-satunya persentuhan Lee dengan buku selama hidupnya. Yah...sampai saat ini tentu saja. Sampai ia tak sengaja mencuri buku, dan terlibat dalam petualangan yang akan membuatnya memandang buku dengan cara yang berbeda...


Salah satu cover Beano Annual, edisi ini terbit tahun 1976. Karena kepopulerannya, tokoh Dennis The Menace selalu tampil di setiap cover sejak tahun 1979


Salah satu yang menarik dalam buku ini adalah gaya bercerita dari sudut pandang tiap karakter, secara bergantian. Gaya ini akhir-akhir ini sering kujumpai di novel-novel terjemahan. Menurutku, gaya itu akan sukses apabila ceritanya memiliki hanya beberapa tokoh utama yang sangat kental perannya. Aku teringat pada buku The Other Side Of Midnight-nya Sidney Sheldon, di mana kisah berfokus pada dua wanita yang memperebutkan seorang pria. Karakter keduanya sangat kental karena pengenalan kita kepada mereka telah dibangun sejak awal kisah, silih berganti hingga akhir. Sehingga, kalaupun nama mereka ditiadakan, kita akan tetap mengenali siapa yang sedang diceritakan. Sedangkan buku ini, memiliki terlalu banyak tokoh untuk dapat digali lebih dalam. Sehingga saat membaca kita kadang bingung, tokoh siapa yang sedang berperan, karena terasa serupa satu sama lain. Ini ditambah dengan adanya beberapa kesalahan penempatan nama (entah dari buku aslinya atau saat penerjemahan).

Kembali pada kisah Lee, ketika meninggalkan rumah Mr. Maggs, Lee baru sadar bahwa dompet yang dicopetnya tertinggal di ruang kerja Mr. Maggs. Sebaliknya, buku Beano itu yang justru terbawa olehnya di dalam jaket. Dari pencopet dompet, Lee tiba-tiba menjadi pencuri buku. Namun anehnya, buku yang terbawa olehnya itu yang justru lebih diburu orang daripada dompet milik wanita kaya yang penuh uang tunai. Buku apa sebenarnya yang dibawa oleh Lee? Dan mengapa gara-gara buku itu, pemilik sebenarnya buku itu sampai dibunuh? Jawabannya tentu saja terletak pada dan di dalam buku itu sendiri. Maka dimulailah petualangan Lee yang malang, bersama dengan buku itu, yang ternyata memang bukan buku biasa.

Tiap kali buku itu dibuka, ia akan menampilkan cerita yang berbeda. Berbeda untuk setiap orang, dan berbeda setiap waktu. Cerita yang disajikannya akan disesuaikan dengan selera atau kebutuhan pembacanya. Ketika hari ini kita membaca kisah Cinderella misalnya, dan menutup buku itu sebelum kisahnya tamat, maka keesokan paginya ketika kita membuka buku itu lagi (di halaman pertama lagi), kita akan menemukan kisah lanjutannya. Tapi, jika kita sudah menamatkan Cinderella, maka selanjutnya ketika membuka halaman pertama buku itu lagi, kita akan menemukan kisah lainnya, Harry Potter misalnya. Asyik kan? Aku membayangkan...seandainya aku memiliki buku seperti itu. Buku yang ada sejak aku kecil, yang kubawa kemana-mana, dan tiap selesai membaca satu cerita, buku itu akan memilihkan cerita baru yang pasti kusenangi ketika aku buka lagi halaman pertamanya keesokan harinya. Aahhh...alangkah bahagianya hidupku kalau itu yang terjadi! Memiliki sebuah buku yang tak ada habisnya... Bahkan Lee Raven yang disleksia pun akhirnya bersahabat dengan buku itu. Dari buku itu, ia menggali banyak cerita indah dan mempesona. Bahkan buku itu memaparkan kisah sejarah tentang dirinya sendiri! Tapi...Lee kan tidak dapat membaca? Bagaimana ia bisa menikmati buku itu? Itu adalah salah satu misteri si buku tua yang oleh Lee diberi nama lucu: Booko. Anda pun harus membuka buku Lee Raven Boy Thief ini untuk mendapatkan cerita lengkap yang jauh lebih seru dan asyik daripada reviewku ini, dan tentu saja untuk memecahkan misteri si Booko!

Aku selalu suka dengan kisah-kisah yang berkaitan dengan buku. Apalagi melihat kecintaan orang terhadap buku. Mungkin agak aneh kalau orang memperlakukan buku seperti memperlakukan harta karun. Namun kupikir, buku MEMANG merupakan harta karun yang, tak seperti emas atau berlian yang bisa berkarat atau hilang, sekali isi sebuah buku kita serap, kita takkan kehilangan makna dan pengetahuannya yang mempengaruhi cara pandang kita dalam hidup. Satu-satunya yang membuatku kurang puas pada buku ini, hanyalah sosok ke mana si Booko akan menjelma di akhir cerita. Rasanya, aku jauh lebih suka kalau Booko tetaplah sosok sebuah buku, dengan segala misterinya. Itulah sosok buku yang ingin selalu kukenang dari kisah ini.


Penulis buku ini, two in one

Kalau buku tentang buku yang bisa bercerita sudah unik, penulis buku ini juga tergolong unik. Dulu kusangka Zizou Corder adalah nama maskulin dari seorang pria. Ternyata dugaanku keliru. Zizou Corder adalah perempuan, dua orang perempuan. Mereka adalah ibu dan anak, Louisa Young dan Isabel Adomakoh Young. Karena nama mereka terlalu panjang sebagai penulis buku, maka mereka mencatut nama kadal peliharaan Isabel yang bernama Zizu. Dari situlah nama Zizou Corder diambil. Louisa, sang ibu memang seorang novelis. Hasil karya mereka yang pertama adalah trilogi Lion Boy, yang idenya berasal dari dongeng sebelum tidur ketika Isabel masih berusia 3 tahun! Lalu tujuh tahun kemudian barulah ibu dan anak ini berkolaborasi menelurkan bukan hanya 1 tapi 3 buku sekaligus. Ini salah satu bukti bahwa untuk menulis, pertama-tama anda harus: TERUS MEMBACA. Jadi, kalau belum mulai membaca, anda bisa mulai dari buku yang berkisah tentang buku ini. Semoga dengan begitu kecintaan anda akan buku makin bertambah...

Judul: Lee Raven Boy Thief (Pencopet Cilik)
Penulis: Zizou Corder
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: April 2011
Tebal: 295 hlm

Tuesday, May 24, 2011

Midnight For Charlie Bone

Charlie Bone sama hebatnya dengan Harry Potter? Hmm...tunggu dulu! Biarpun endorsement dari Goodreads mengatakan begitu, aku tak setuju. Midnight For Charlie Bone ini memang jelas terinspirasi oleh dan mirip dengan Harry Potter, namun cara bertutur Jenny Nimmo di buku ini jelas-jelas sangat jauh bila dibandingkan dengan J.K. Rowling. Yang membuat kisah petualangan fantasi itu bagus, adalah bila pembaca bisa dibuat (sejenak) percaya bahwa apa yang terjadi di kisah itu adalah apa yang ia alami/lihat sendiri. Itu artinya, walau kisah itu fantasi, pembaca merasa seolah-olah kisah itu wajar, sewajar apa yang terjadi di sekitar kita. Lalu, mengapa Charlie Bone ini dibilang mirip dengan Harry Potter? Mari kita intip cerita singkatnya...

Keluarga Bone jelas bukan keluarga yang normal. Charlie, si bocah lelaki, dan ibunya tinggal seatap bersama kedua nenek Charlie yang hampir sama nyentriknya. Maisie adalah nenek dari pihak ibu yang periang dan pintar memasak. Sebaliknya Nenek Bone, nenek dari pihak ayah Charlie, adalah wanita tua yang cemberut, suka memerintah dan suka mengeluh. Si Nenek punya 3 orang saudara perempuan yang sama nyentrik dengannya. Suatu hari Charlie menemukan keanehan pada dirinya. Ketika memandang sebuah foto milik orang lain (yang tertukar dengan foto Runner Bean -- anjing milik sahabatnya, Benjamin), Charlie tiba-tiba dapat mendengar suara dalam otaknya. Suara itu adalah suara orang-orang di foto saat foto itu diambil. Keanehan ini tercium oleh Nenek Bone yang juga anggota keluarga Yewbeam yang "diberkahi". Dari kemampuan khusus Charlie itu, nenek Bone akhirnya memaksa Charlie untuk keluar dari sekolahnya saat itu, dan pindah ke Bloor's Academy, akademi untuk mereka yang "diberkahi".

Benjamin, sahabat sekaligus tetangga Charlie yang sering kesepian karena tak punya teman dan sering ditinggal pergi orang tuanya, sedang berulang tahun. Charlie, satu-satunya sahabatnya, ingin memberikan hadiah berupa foto Runner Bean yang akan ia jadikan kartu ucapan. Sayangnya, ketika ibunya mengambil foto itu dari tempat cuci cetak di toko buku Ingelsdew, foto itu tertukar dengan foto orang lain, dari mana Charlie menyadari kemampuan khususnya. Ingin menukar foto tersebut, Charlie pergi ke Ingledew, dan disambut oleh pemiliknya: Julia Ingledew, yang menceritakan kisah yang menarik. Kisah keponakan perempuannya yang anak seorang ilmuwan bernama Dr. Tolly, dan terpaksa ditukar ayahnya dengan sebuah “kotak misterius”. Ketika Charlie pulang, ia tak hanya membawa foto Runner Bean miliknya, tetapi juga kotak misterius itu, yang lantas disembunyikannya bersama Benjamin dengan rapi.

Tak sedetikpun Charlie menyadari bahwa kotak itu akan membawanya pada petualangan yang seru, tegang dan berbahaya. Untungnya ia tak sendirian. Selain Benjamin, ia memiliki Fidelio, seniornya di Bloor’s Academy yang mengajarinya musik, sekaligus membantunya menyembunyikan kotak misteriusnya. Lalu ada Paman Paton, satu-satunya keluarga Yewbeam yang berada di pihak Charlie. Oh ya, keluarga Ingledew termasuk Nenek Bone ternyata mengincar kotak misterius Charlie. Bukan dia saja, Manfred Bloor –putra Dr. Bloor pemilik Bloor’s Academy yang punya keahlian menghipnotis, juga meminatinya. Charlie tahu, bahwa tugas untuk menemukan kembali putri Dr. Tolly terletak di tangannya. Dan dari pertemuannya dengan Mr. Onimous yang nyentrik bersama tiga kucing apinya, Charlie pun tahu bahwa yang dicarinya kini berada di Bloor’s Academy.

Di Bloor’s Academy inilah satu persatu jawaban misteri yang dibawa Charlie muncul. Salah satunya bahwa ayahnya masih hidup entah di mana, dan bahwa sang ayah dulu telah berjuang menyelamatkan putri Dr. Tolly. Dibantu oleh Olivia dan Fidelio, teman-temannya di academy, Charlie pun memulai misi untuk menyelamatkan putri Dr. Tolly, dan “menyadarkannya” dari pengaruh hipnotis Manfred Bloor lewat kotak misterius yang didapatnya dari Julia Ingledew.

Misi penyelamatan ini dan segala pengalaman baru berada di sebuah sekolah khusus seperti Bloor’s Academy ini yang membuat buku ini dapat dinikmati dan cukup menghibur. Dibantu oleh penempatan huruf-huruf yang cukup besar dan berspasi agak renggang oleh penerbit Ufuk, membuat buku ini enak dibaca. Dan kalau anda adalah seorang pembaca yang menganut "judge a book from its cover", anda jelas akan meminati buku bercover nuansa kilap dan bernuansa misterius ini. Hanya sayangnya, kurasa kehidupan sehari-hari di Bloor’s Academy kurang dieksplor oleh Jenny Nimmo. Tak seperti Hogwarts yang membuat kita sangat mengenal suasana sekolah seolah kita sendiri pernah bersekolah di sana, Bloor’s Academy masih terasa asing bagiku meski telah menamatkan bagian pertama ini. Namun, bagaimana pun kisah Charlie Bone memang ingin menyuguhkan sesuatu yang lain. Mungkin saja kekuatan cerita akan semakin mengental di seri-seri berikutnya, karena si Raja Merah yang misterius dan sepertinya menjadi benang merah serial ini masih harus terungkap, dan ayah Charlie pun masih menunggu entah di mana untuk diselamatkan oleh putranya yang juga “diberkahi”.

Satu hal yang kutangkap dari kisah ini, bahwa menjadi berbeda [baca: memiliki kelebihan atau kekurangan] memang dapat membuat seseorang menderita. Namun semuanya kembali kepada kita, bagaimana kita memandang keunikan kita itu. Karena Sang Pencipta kita pasti menambahkan keunikan itu agar kita dapat memanfaatkannya untuk hal-hal yang baik. Keunikan menjadi kekurangan kalau kita menjadi minder, namun ia menjadi kelebihan kalau kita menggunakannya untuk menolong sesama. Seperti halnya Charlie Bone!

Judul: Midnight for Charlie Bone
Penulis: Jenny Nimmo
Penerbit: Ufuk Press
Cetakan: November 2010
Tebal: 412 hlm

Wednesday, May 11, 2011

Persekutuan Misterius Benedict

Siapa di dunia ini yang paling mengerti tentang makna "kesepian"? Pastilah para anak yatim piatu yang tak sempat mengecap kasih orang tua, entah karena ketiadaan orang tua, atau karena pengabaian orang tua akan anaknya. Kesepian macam inilah yang dirasakan Reynard Muldoon alias Reynie, bocah lelaki jenius yang tinggal di sebuah panti asuhan di kota Stonetown, yang gemar berdiskusi sambil minum teh bersama pembimbingnya: Miss Perumal. Suatu hari mereka berdua menemukan iklan aneh mengenai sebuah tes di surat kabar yang bunyinya begini: 'Apakah kau seorang anak berbakat yang mencari kesempatan istimewa?'. Berbekal iklan itu, berangkatlah Reynie ke tempat tes itu dilaksanakan, tanpa menyadari bahwa tes itu akan mengubah hidupnya yang membosankan selama ini.

Dari beberapa tes yang diadakan, Reynie berhasil lolos bersama dengan 2 anak lainnya: Kate Wetheral dan George "Sticky" Washington. Mereka bertiga, seperti semua anak yang mengikuti tes, memiliki tingkat kepandaian di atas rata-rata. Sticky misalnya, adalah pembaca cepat. Ia bisa membaca dan menghafal isinya luar kepala dalam waktu amat cepat. Kate lebih pandai dalam hal fisik dan banyak akal karena ia pernah bergabung bersama rombongan sirkus. Reynie sendiri memiliki kemampuan analisa yang bagus dan wawasan luas karena senang membaca koran dan berdiskusi. Bagaimana pun juga, mereka bertiga memang anak-anak yang unik. Mereka sama-sama memiliki bakat unik, dapat dikategorikan jenius, dan memiliki karakter jujur (dibuktikan lewat tawaran "menyontek" yang ternyata ditampik oleh ketiga anak yang mengikuti tes). Belakangan, ada seorang anak lagi yang bergabung dengan mereka, yaitu Constance Contraire. Hmm...sulit mengatakan dengan pasti bakat anak kecil (memang bertubuh amat kecil) yang bandel dan keras kepala ini. Namun kenyataannya, keempat anak ini direkrut oleh seorang ilmuwan nyentrik dan baik hati bernama Mr. Benedict, yang mengadakan tes itu.

Mr. Benedict memiliki sebuah misi menyelamatkan dunia dari pengaruh "pesan-pesan rahasia" yang dikirimkan oleh sebuah institut lewat gelombang televisi. Tujuannya untuk mengacaukan otak manusia, sehingga si pemilik institut yang serakah dan jahat itu akan mampu menguasai dunia. Menurut Mr. Benedict hanya anak-anaklah yang mampu menghentikan pengiriman pesan itu, karena anak-anak jugalah yang dipakai sebagai pengirim pesan. Tentu saja, untuk menggagalkan misi institut itu, dibutuhkan lebih dari sekedar anak-anak, melainkan anak-anak yang sangat berbakat. Reynie, Sticky, Kate dan Constance adalah empat anak berbakat yang dipilih Mr. Benedict. Misi mereka adalah untuk menyelusup ke Institut LIVE (Learning Institute of the Very Enlightened) untuk menjadi murid di sana, sekaligus mata-mata bagi Mr. Benedict.

Di LIVE, ternyata ada strata bagi para murid. Para murid yang mendapat nilai paling baik di kelas berpeluang diangkat penjadi Penyampai Pesan. Dan suatu saat para Penyampai Pesan ini bisa juga menjadi Eksekutif. Apa yang harus dilakukan Penyampai Pesan maupun Eksekutif? Tentu saja membantu Mr. Curtain, pendiri sekaligus pemimpin LIVE, yang berambisi mengubah wajah dunia dengan keahliannya. Untuk menghentikan misi jahat itu, anak-anak Persekutuan Misterius Benedict harus pasang mata dan telinga mengamati semua yang terjadi di sekeliling mereka. Mereka mengadakan rapat di kamar anak-anak lelaki setiap malam. Dan bila mereka mengalami kesulitan, mereka bisa mengirim pesan ke Mr. Benedict dengan menggunakan kode Morse. Tentu saja semua ini tidak berlangsung dengan mulus. Ada kalanya rapat mereka nyaris ketahuan oleh para Eksekutif, atau pesan jawaban yang mereka terima dari Mr. Benedict begitu sulit dipecahkan. Sepanjang waktu itu, anak-anak tanpa sadar selalu menggantungkan pada keputusan dan pemikiran Reynie, yang terbukti mampu menjadi sosok pemimpin, sekaligus merupakan sosok yang paling aku sukai. Reynie adalah sosok pahlawan yang sejati menurutku, bukan pahlawan yang selalu percaya diri, mampu bekerja sendiri, selalu berani dan selalu menang. Namun justru pahlawan yang juga merasa sama takutnya dengan yang lain, dan mengakui ketakutan itu dan kebutuhannya akan teman-teman yang lain. Sikap Reynie yang membesarkan hati Sticky si penakut, dengan mengatakan bahwa Reynie sangat membutuhkan Sticky. Tak banyak pemimpin yang mau mengakui hal semacam ini karena takut dianggap lemah dan khawatir direndahkan oleh anak buahnya. Padahal, justru sikap semacam itulah yang membuat anak buah menaruh respek pada pemimpinnya. Sebuah contoh yang baik bagi anak-anak yang membaca buku ini.

Banyak kejadian lucu sekaligus tegang selama geng pahlawan kita ini menyamar di institut. Anda pasti paling tidak tersenyum waktu membaca saat Constance yang kemana-mana harus digendong di punggung Kate dengan mengomel, atau tiap kali Mr. Benedict tiba-tiba tertidur setelah tertawa karena ia menderita Narcolepsy (serangan tidur lelap yang tiba-tiba dan tak dapat dikendalikan, salah satu penyebabnya adalah adanya emosi yang kuat). Anda juga akan ikutan terkekeh puas saat teman sekelas mereka yang bernama Martina jatuh terjerembab saat dikerjai dengan sukses oleh Kate. Tapi yang jelas, anda pasti akan ikut merasa tegang saat petualangan anak-anak ini telah berada di tahap akhir dan mereka harus menyerempet bahaya sungguhan, bukan hanya bahaya kecil macam ketahuan menyontek. Apalagi saat dua dari mereka harus berhadapan dengan “Sang Pembisik”. Siapa atau apa itu Pembisik? Dan bahaya apa tengah mengintai ke empat pahlawan cilik kita? Berhasilkah mereka dalam misi yang mereka emban? Lebih baik (dan pasti lebih seru) kalau anda menuntaskan sendiri kisahnya. Karena bagaimanapun, kisah petualangan hanya bisa dinikmati secara langsung kan? Tapi moga-moga saja sekilas reviewku ini bisa menerbitkan setitik air liur anda untuk membaca buku petualangan setebal 574 halaman ini…

Judul: Persekutuan Misterius Benedict (The Mysterious Benedict Society)
Pengarang: Treton Lee Stewart
Penerbit: Matahati
Cetakan: Februari 2009
Tebal: 574 hlm

Monday, February 28, 2011

Ice Shock: The Joshua Files #2

Siapa bilang sekuel sebuah buku itu biasanya tak lebih bagus dari buku pertamanya? (Mungkin aku yang sering bilang begitu, karena memang dari beberapa pengalaman buku yang dibuat sequel, aku mendapati buku kedua dst. biasanya tak sebagus buku pertama. *Harry Potter bisa dikecualikan dari list ini!). Nyatanya, aku tak mendapati kenyataan itu di buku The Joshua Files karya M.G. Harris. Buku keduanya, Ice Shock malah lebih 'manusiawi' menurutku, karena lebih banyak sisi emosionalnya dibanding buku pertama.

Masih ingatkah anda pada petualangan Josh, putra seorang arkeolog yang memiliki keturunan bangsa Maya di Ek Naab? Setelah berhasil menemukan Codex Ix di kisah bagian pertama: Kota Yang Hilang, kali ini kisah dibuka saat Benicio (sepupu Josh di Ek Naab) menjemput Josh di rumahnya, Oxford untuk menyampaikan sebuah berita: musuh bebuyutan Josh, Simon Madison si Nissan Biru (yang telah membunuh Camilla, kakak tiri Josh pada buku pertama) telah kembali! Ia dilaporkan mencuri sebuah artefak Mesopotamia kuno, dan Montoyo (pimpinan Dewan di Ek Naab) meminta Josh untuk berhati-hati. Maka ketenangan hidup Josh akan sekali lagi diganggu oleh hasrat Madison, dan siapapun yang mengirimnya, untuk mencuri teknologi yang dimiliki suku Maya.

Lalu terjadilah sesuatu yang aneh. Salah seorang sahabat ayah Josh, seorang musisi bernama Rodrigo bercerita bahwa ia pernah bertemu ayah Josh di kota kecil di Inggris: Saffron Walden. Bukan tempatnya yang menjadi masalah, namun waktunya. Waktu pertemuan itu adalah tgl. 16 Juni, hari kematian ayah Josh di Meksiko! Bagaimana mungkin? Fakta itu berhasil membuat keinginan Josh untuk mengetahui rahasia kematian ayahnya --yang masih terus menghantuinya selama ini-- makin besar. Ia membulatkan tekad untuk pergi menyelidiki dengan mengajak Tyler, sobatnya yang saat petualangan pertamanya ke Meksiko juga sempat terlibat bersama teman cewek mereka: Ollie.

Anehnya, si Nissan Biru Simon Madison selalu mampu mencium setiap rencana Josh, termasuk kunjungannya ke rumah seorang bekas arkeolog di Saffron Walden, tempat yang mungkin telah disinggahi ayah Josh tgl 16 Juni itu. Di sana Josh nyaris tertangkap oleh Madison, meski akhirnya mampu lolos sambil membawa beberapa dokumen penting yang diminati Madison di sana. Namun kejadian itu disusul oleh kejadian lainnya, membuat Josh sadar bahaya yang tengah mengintainya. Ia bahkan merasa curiga bahwa satu dari kedua sahabatnya (atau bahkan keduanya) bukan benar-benar sahabatnya, dan justru menjadi mata-mata bagi pihak musuh. Di pihak lain, ia menerima secara beruntun kartu pos-kartu pos dari Veracruz, Meksiko yang hanya berisi beberapa patah kata. Ia sadar bahwa ada seseorang di sana yang tengah berusaha mengirimkan pesan kepadanya. Namun apakah maksudnya?

Akhirnya Josh bertekad untuk berusaha menjauhkan ibunya dari bahaya dengan membujuknya mengikuti sebuah retret di tempat yang jauh dari Oxford. Setelah itu ia mencoba (dan berhasil) memecahkan sandi yang terdapat dalam dokumen yang dicurinya dari Saffron Walden. Namun sebelum ia sempat kembali ke Ek Naab untuk melaporkannya, dokumen itu ternyata dicuri oleh...siapa lagi kalau bukan Madison. Sampai disini dimulailah kembali petualangan Josh yang jauh lebih berbahaya dibanding petualangan pertamanya dulu. Kini ia telah menyadari bahwa salah satu sahabatnya ternyata adalah musuhnya, dan mereka semua tidak main-main lagi. Tapi apa sih sebenarnya yang diperebutkan? Teknlogi rahasia macam apa yang bisa menyelamatkan umat manusia dari kehancuran peradaban akibat gelombang super-elektromagnetik yang akan melanda bumi di tahun 2012? Kalau Ek Naab selama ini berusaha memecahkan rahasia teknologi itu demi menyelamatkan umat manusia, lalu apakah tujuan dari musuh mereka?

Dalam misi menemukan kebenaran tentang ayahnya, Josh akan menemukan banyak kejutan, juga mengalami banyak tantangan dan bahaya. Tak heran bahwa kali ini Josh memandang perlunya tetap memberi kabar kepada ibunya lewat blog yang ia buat khusus, dengan password yang hanya dapat dibaca ibunya (atau begitulah sangkanya). Cukup mengharukan juga membaca pesan Josh kepada ibunya, yang apabila Josh tak pernah kembali dari misinya dengan selamat, akan menjadi ucapan perpisahan pada sang ibu. Di titik ini kita bisa memandang Josh sebagai benar-benar remaja biasa, yang mencintai keluarganya, sebelum keberadaan ayahnya dan dirinya sebagai pewaris Bakab Ix memisahkan mereka semua. Isi blog kepada ibunya itu benar-benar menyentuh dan membuat kita melihat sisi manusiawi seorang remaja yang harus memikul beban tanggung jawab berat.

Di bagian kedua ini pula, Josh akan kembali dipertemukan cewek Ek Naab yang seharusnya dijodohkan dengannya oleh suku Maya: Ixchel. Pertemanan dan petualangan mereka berdua juga memberi nuansa keceriaan remaja di sela-sela misi berbahaya yang harus mereka hadapi. Pada akhir kisah ini, di antara dinginnya salju di ketinggian puncak gunung Orizaba teka-teki sebenarnya tentang kematian ayah Josh akhirnya terungkap, dan sekali lagi anda akan disuguhi pengalaman emosional yang akan dirasakan Josh, yang akan memberinya kedewasaan baru, jika saja tanggung jawab beratnya selama ini masih belum membuatnya makin dewasa...

Tulisan M.G, Harris ini patut diacungi jempol. Ia mampu menyuguhkan kisah petualangan-fantasi, namun tetap terasa nyata. Ditambah dengan proses penerjemahan yang sangat mulus oleh penerbit Gramedia, yang mampu mempertahankan kesan 'remaja' dalam kalimat-kalimat yang singkat, juga berhasil menyuguhkannya tanpa kesalahan ejaan satupun! Hanya saja yang membuatku agak heran adalah kualitas cover buku ini. Seingatku buku pertamanya (bukuku sudah berpindah tangan) berbahan cover lebih tebal. Cover buku kedua ini agak lembek, sehingga agak menyebabkan kesulitan untuk membawanya dalam keadaaan terbuka saat dibaca, karena kalau kita tak hati-hati, cover sebelah dalam (yang bergambar motif suku Maya) akan menjadi kusut.

Bagaimanapun juga, The Joshua Files #2 ini, Ice Shock akan cukup memberi kejutan-kejutan manis yang pasti sangat cocok untuk melepas ketegangan sebagai bacaan akhir pekanmu!

Judul: Ice Shock - The Joshua Files #2 (Kejutan Di Gunung Es)
Pengarang: M.G, Harris
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Desember 2010
Tebal: 367 hlm

Thursday, January 27, 2011

Treasure Of Genghis Khan

Bila diibaratkan makanan, buku Treasure of Genghis Khan ini bisa dibilang serupa dengan Gado-Gado (makanan khas Jawa Timur). Sulit mengatakan dengan pasti apa yang akan anda dapatkan di buku ini, seperti halnya sulit menguraikan satu-persatu bahan Gado-Gado. Yang penting, ketika semua bahan dicampur, lidah kita hanya akan mengecap satu rasa: nikmat! Clive dan Dirk Cussler pun telah sukses mencampurkan petualangan, misteri, pencarian harta karun, thriller dan sci-fi, lalu menuangkan bumbu sejarah ke atasnya, yang lalu dihidangkan oleh penerbit Dastan yang telah menterjemahkannya dengan baik bagi kita.

Buku ini terbagi dalam 3 masa. Pada awalnya ketiga masa itu nampak tak berkaitan, dan di akhir kisah pertama dan kedua selalu ada misteri yang tak terjawab. Kisah pertama adalah usaha bersama Mongolia dan Cina, sekutunya, untuk menginvasi Jepang di abad 13 SM. Kolaborasi armada Cina dan kapal perang Korea yang membawa pejuang-pejuang Mongolia sedang berlabuh di dermaga Hakata ketika terjadi badai laut yang ganas. Badai itu memporakporandakan seluruh armada Cina, dan menyisakan sebuah kapal rusak dengan penumpang si prajurit Temur dan anak buahnya terbawa arus laut entah kemana. Mereka mendarat di pulau asing di daerah tropis yang dipimpin seorang tua berambut putih panjang yang mengenakan kalung dengan hiasan gigi hiu, bernama Mahu. Temur bersama Mahu, yang ahli navigasi berdasarkan bintang, sempat naik kapal kembali ke Cina untuk menghadap kaisar Kubilai Khan. Tak lama kemudian Kubilai Khan wafat, dan lokasi makamnya dirahasiakan. Bukan itu saja misteri yang menggantung di kisah pertama ini, Clive juga menyisakan misteri lain: sebuah kapal misterius tanpa bendera diam-diam meninggalkan daratan Cina menuju ke tengah samudera nan luas, dengan seorang tua berambut putih menjadi ahli navigasinya....

Bagian kedua langsung loncat ke sebuah situs penggalian arkeolog bernama Hunt. Ia, ditemani asisten sekaligus sahabatnya: Tsendyn, seorang berkebangsaan Mongolia, tengah melakukan penggalian di wilayah Shang-Tu, Cina. Gara-gara tentara Jepang makin merangsek masuk ke lokasi itu dalam perang, Hunt memutuskan untuk segera menyingkir. Namun, justru pada saat itu mereka menemukan sesuatu yang misterius. Sebuah kotak berpernis, berisi: selembar kulit cheetah dan sebuah tabung perunggu berisi sehelai sutra dengan peta di atasnya. Membaca peta yang berbahasa Mongol, Hunt sadar bahwa peta itu akan membuka tabir lokasi makam Genghis Khan yang masih merupakan misteri. Hunt pun sadar bahwa penemuan itu bernilai tinggi, maka ia selalu menyimpannya dengan amat hati-hati. Namun toh saat ia sudah berada di pesawat yang meninggalkan situs, ia akhirnya menyadari bahwa sahabat sekaligus asistennya Tsendyn telah mengkhianatinya dan mencuri lembar sutra dalam kotak perunggu itu! Tepat saat ia ingin berputar kembali, pesawatnya ditembaki oleh pesawat Jepang karena dikira mata-mata. Pilot dan co-pilotnya mati seketika, meninggalkan Hunt yang kesakitan selama beberapa hari, baik fisik maupun hati, sebelum akhirnya meninggal pula sambil memeluk kotak berpernisnya menuju alam baka...

Bagian ketiga bersetting abad ke 21. Di sini kita akan menemui berbagai peralatan canggih, juga hal-hal penting di panggung politik dan perekonomian dunia masa kini seperti masalah perminyakan. Mendadak dan dalam jarak waktu berdekatan, terjadi beberapa musibah di beberapa negara yang menimpa titik pengeboran minyak di lepas pantai. Salah satunya di Danau Baikal, Siberia, di mana sebuah kapal berisi para ilmuwan terkena efek gempa itu. Beruntunglah, tak jauh dari sana ada kapal milik sebuah badan kelautan (NUMA) yang sedang berlayar. Dua dari para penumpangnya, para petualang pemberani Dirk Pitt dan Al Giordino berjibaku menolong para ilmuwan. Namun penyelamatan itu tak berlangsung lama, karena malamnya terjadi gempa bawah laut yang menyebabkan kapal milik NUMA itu karam. Ajaibnya, para ilmuwan itu menghilang tak berbekas! Another mistery!

Setelah itu cerita bergulir dengan makin cepat, dengan makin banyak tokoh terlibat. Kini fokus Dirk Pitt dan Al Giordino adalah menemukan para ilmuwan dan penyebab tenggelamnya kapal mereka yang ditengarai adalah akibat sabotase. Namun itu semua belum apa-apa. Tunggu hingga mereka 'terdampar' ke tanah Mongolia untuk bertemu seorang bangsawan kaya misterius bernama Borjin. Dan tiba-tiba satu persatu jawaban atas berbagai misteri yang sudah ditumpuk oleh Clive dan Dirk Cussler semenjak awal akan terkuak. Dan semua misteri itu ternyata mengerucut pada satu sosok: Borjin! Siapakah ia sebenarnya?

Petunjuk:
Ingat-ingatlah detail yang ada di bagian atau masa pertama kisah ini. Karena detail kecil penampilan seseorang yang misterius itu akan menjadi kunci jawaban salah satu misteri di akhir kisah. Penulisnya tidak terang-terangan mengungkapnya, namun kalau anda jeli, maka jawabannya ada di sana...

Membaca buku ini benar-benar mengasyikkan. Rasanya tak habis-habis misteri, ketegangan serta kejutan, sambil sesekali diselingi dengan komedi yang disuguhkan oleh Clive & Dirk Cussler bagi para pembacanya, dari halaman pertama hingga akhir.

Catatan untuk penerbit:
Sayang, proses penerjemahan buku ini mengalami banyak typo di sana-sini, juga ada beberapa ungkapan yang mengganggu. Misalnya kata "bersalin" yang harusnya "berpakaian". Istilah "bersalin" seingatku memang dipakai kakek-nenekku untuk mengatakan "berganti pakaian" (mis: Opa mau salin dulu ya). Kata itu jelas bukan bahasa Indonesia yang benar, dan generasi sekarang kemungkinan tak ada yang tahu istilah ini. Belum lagi, karena kata "bersalin" memiliki makna lain yaitu melahirkan.

Judul: Treasure of Genghis Khan
Terjemahan: Misteri Khan Sang Penakluk
Pengarang: Clive Cussler & Dirk Cussler
Penerbit: Dastan

Thursday, October 28, 2010

The Joshua Files: Kota Yang Hilang


Lagi-lagi sebuah cerita fiksi seru yang tokoh utamanya seorang bocah laki-laki berusia 13 tahun. Kisah ini jelas kisah fiksi, namun menggunakan latar belakang konflik yang sedang marak sekarang, yaitu ramalan suku Maya bahwa dunia akan berakhir pada bulan Desember 2012. Lalu apa hubungannya dengan Joshua, si bocah laki-laki sang tokoh utama buku ini?

Joshua adalah remaja Inggris biasa, yang sedang belajar seni bela diri ala Brazil, Capoeira, dan memiliki sebuah blog tempat ia mengekspresikan dirinya. Ayahnya seorang arkeolog yang sering bepergian ke negeri-negeri eksotis di mana banyak terdapat situs purbakala. Saat itu Joshua mengetahui bahwa ayahnya sedang berada dalam sebuah proyek yang maha penting.

Dan....tiba-tiba saja, dunia Joshua bagai terbalik 180 derajat, ketika suatu sore ia ditelpon untuk segera pulang, ketika ia sedang berlatih Capoeira. Ternyata, ibunya baru mendapat kabar bahwa ayahnya telah tiada, terbunuh dalam kecelakaan pesawat di Meksiko. Tubuh dan wajahnya hancur, sehingga tak dapat dikenali. Namun Josh tak dapat menerima begitu saja bahwa ayahnya telah tiada. Bagaimana kalau mayat itu mayat orang lain? Bukannya Josh dilanda histeria, justru sebaliknya ia memakai akal sehatnya untuk mengurutkan segala fakta yang ada, dan menurutnya ada sesuatu yang tak pada tempatnya. Banyak pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Maka semua kegalauannya itu ia tuangkan ke dalam blognya, dan mendapat tanggapan (komentar) dari seseorang berjulukan TopShopPrincess. Lewat blognya, mereka berdua akhirnya menjadi teman.

Selain itu ada teori yang lebih tak masuk akal lagi, yang mengasumsikan ayah Josh berselingkuh dengan wanita Meksiko, lalu suami wanita itu mengamuk dan membunuh ayah Josh. Merasa bingung, Josh mulai membongkar komputer ayahnya di rumah, membaca e-mail-e-mailnya. Ada sebuah komunikasi mengenai 'codex Ix', inskripsi bangsa Maya persis sebelum kepergian ayah Josh ke Meksiko. Josh pun tanpa pikir panjang me-reply e-mail itu kepada orang yang berhubungan dengan ayahnya, untuk minta penjelasan lebih detil.

Lalu keesokan harinya Joshua menangkap basah seorang penyelundup di rumahnya, yang mencuri komputer ayah Josh. Jelaslah bagi Josh, apapun yang sedang diselidiki atau diburu oleh ayahnya sebelum kematiannya, adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Sesuatu yang telah mengakibatkan kematian seorang arkeolog, dan sesuatu yang ada hubungannya dengan sejarah bangsa Maya. Apakah itu? Siapa dalang di balik semuanya ini?

Dari situ kehidupan Josh langsung berlari cepat. Ia membuat blog khusus yang diberi password dan hanya dirinya saja yang diberi ijin mengaksesnya. Ia sadar bahwa urusan Codex Ix ini adalah rahasia dan berbahaya. Dan akhirnya, keinginannya untuk mencari tahu kebenaran perselingkuhan ayahnya, yang menjadikan ibunya linglung, membawa Josh, TopShopPrincess (nama aslinya Ollie), dan Tyler (teman kursus Capoeira-nya) pergi menyelidiki kasus itu hingga ke Meksiko.

Namun ternyata 'petualangan ala detektif' tiga ABG ini dengan cepat berubah menjadi sebuah kasus yang serius dan penuh bahaya, bahkan meminta nyawa. Josh akhirnya terseret pada apa yang telah dilakukan oleh ayahnya, yaitu menemukan kembali kitab bangsa Maya yang hilang itu: Codex Ix.

Mengapa Codex Ix begitu penting bagi dunia? Karena di sana tercantum bagaimana dunia akan berakhir pada akhir tahun 2012 serta teknologi yang harus dikembangkan untuk melindungi umat manusia dari bencana yang menghancurkan itu. Dan tugas mulia itu terletak di pundak Josh. Ya, Josh, seorang bocah Inggris biasa yang sedang menikmati dunia remajanya.... Setelah misi itu selesai, Josh takkan pernah menjadi seorang remaja biasa lagi!

Yang amat menarik dari buku ini, selain petualangannya yang seru, tegang dan mendebarkan, adalah teori khayalan pengarang tentang kehancuran umat manusia di tahun 2012. Yaitu bahwa saat itu sebuah benda angkasa di inti galaksi ini akan meledak hebat, lalu gelombangnya masuk ke atmosfer bumi. Gelombang itu adalah gelombang elektromagnetik yang akan mampu melumpuhkan seluruh jaringan komputer di seluruh dunia. Kelihatannya sih bukan bencana yang mematikan, tapi kalau kita bayangkan lagi dampak lumpuhnya semua sistem komputerisasi di dunia itu memang mengerikan. Bayangkan! Data warganegara, data bank, data karyawan hilang, alat-alat di rumah sakit tak berfungsi, lift macet, kendaraan umum semacam kereta api bawah tanah lumpuh, distribusi makanan terhambat. Bisa dibilang, setelah semua data komputer itu terhapus, anda tiba-tiba bukan diri anda lagi, bahkan anda bukan siapa-siapa. Tak ada data kewarganegaraan, nama anda tak ada di daftar gaji, bahkan uang anda pun lenyap karena semuanya tersimpan sebagai data-data di bank. Mau membeli makanan, anda tak punya uang. Mau mengambil uang, data di bank ludes. Orang akan saling membunuh untuk berebut makanan, dan di mana-mana akan terjadi chaos. Akhirnya dunia akan kembali seperti abad 19 namun dengan populasi abad 21. Mengerikan bukan? Tapi semoga-oh-semoga...semuanya ini hanyalah khayalan kreatif seorang penulis kisah fiksi thriller.....

Di luar itu, kisah ini enak untuk dinikmati dengan alur yang semakin lama semakin cepat. Ide ceritanya sendiri unik dan sesuai dengan topik yang sedang banyak dibicarakan: ramalan suku Maya tentang 2012. Lagipula, buku ini juga layak dikoleksi karena cover depannya yang unik. Ada gambar motif khas suku Maya menghiasi seluruh cover, lalu di atasnya ditambahkan cover berwarna putih yang dipotong tengahnya menjadi bentuk huruf J (Joshua?). Keren kan? Kalau anda ingin memiliki buku ini, silakan memesan di Vixxio Buku Online. Anda bisa mendapat diskon 15% di sana!