Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Friday, January 4, 2013

All The President’s Men: Third Level Inquiry


This post serves as well as my final review for this book. All The President’s Men is a history of political journalism which covered the fall of Richard M. Nixon in one of the most humiliating political scandals in White House. Carl Bernstein and Bob Woodward were two reporters in Washington Post, they were appointed to cover a case of breaking-in and tapping at the Democratic headquarter in Watergate by five people. This soon turned out as extraordinary news, since it involved several men from President Nixon’s Committee for Re-election of The President (CRP) team. Interviews being made, and slowly but surely, Bernstein and Woodward unveiled organized illegal intelligence activities with the aim to win Nixon as a President. Not only both reporters, but Washington Post as a whole institution must suffer a lot in its fight to reveal the truth, but—as we all know—by the help of inside sources and honorable intentions of its crews, Washington Post had helped people of America to finally force its President to resign.

From the series of news published in Washington Post, Bernstein and Woodward then arranged them into this chronologically crafted history book. It becomes sort of political detective story, but the fact that this is a true story, made this book stands out from any other similar themed books. Four stars for All The President’s Men! And following the first and second level of inquiries for my The Well-Educated Mind Project, this is my analysis for the third level inquiry.

Dustin Hoffman & Robert Redford in the movie adaptation


Rhetoric-Stage Reading

What is the purpose of this history?

The main purpose is to show how people of America were proud of and respected honesty and honor in their blood; that when the sacred of White House was corrupted, there are brave people who sacrificed their career—and often their lives too—to reveal the truth. From the fall, this history also teaches us about how the conspiracy had been built.

What does it mean to be human?

Carl Bernstein and Bob Woodward showed us that we as human have the responsibility to correct the error in all aspects of life; and we must do it with the right and honest ways, with persistence and commitment.

Why do things go wrong?

Greediness and arrogance—I think—that had corrupted the White House at that time. Nixon was in his second period of presidential, he and his men must have thought that because they had put every other institutions—FBI, CIA, Ministry of Justice—under their control, their illegal activities won’t be revealed. Hunt, one of the President’s men, even blackmailed the President because he had some evidence about Watergate. The moral corruption of President and his men had been in the lowest level when they knew they would surely win.

What place does free will have?

In their fight to reveal the truth, both reporters and the Washington Post must face a lot of trials. Bernstein and Woodward were summoned to the court because they have tried to interview the jury. White House had openly attacked Washington Post’s reputation, and the newspaper’s stock had been crashed down to 50% in the stock market. At one time the two reporters were warned that their office and houses might have been tapped, and their lives were in danger. However—from the reporters, the senior redactors, to the owner—Washington Post had persistently kept their intention to supply honest investigations to its readers and to help the nation to know the whole truth; they fought to the end.

What is the end of this history?

When Bernstein and Woodward started their coverage for Watergate case, I believe they never thought where this would have ended; a breaking-in to Watergate was not unusual anyway. However, when they found that a huge amount of fund and someone from the closest circle of CRP were involved, they knew that this would be a delicate case. From then on they always looked at the higher level to see who was actually in control. Both reporters ended this history book when House of Representatives finally opened investigation to impeach President Nixon, and the law process began. Six months after this book first published, Richard M. Nixon resigned from his office after the Republican announced that they had been ready to the verdict against Nixon.

If at first the President and his men still arrogantly challenged their ‘enemies’—Washington Post was their biggest target—at the end President’s men fought each others, raced to reveal evidences, to get a chance to put the blame on the others. Nixon was under his men’s control and forced to sacrifice one of his assistants, and at the end his closest friends fell with him too. In a way Washington Post helped America to clean up their corrupt government by their journalism. The end of this history opened a new hope of a better presidential (Nixon was succeeded by Gerald Ford).


~~~~~


*I read translated version in Bahasa Indonesia by Penerbit Serambi*

Read and posted for:


Monday, September 12, 2011

Romawi Kuno: Selidik National Geographic

Romawi mungkin merupakan salah satu kerajaan terbesar di muka bumi yang sangat menarik. Bagiku sendiri Romawi menarik karena arsitekturnya yang konon sangat rumit dan kuat. Saking kuatnya, hingga saat ini salah satunya, yakni Colosseum, masih memperlihatkan kemegahannya. Hal menarik lainnya adalah daerah taklukan kerajaan Romawi yang amat luas, mencapai hingga dataran Asia. Yang terakhir mungkin kebudayaannya yang memberikan pengaruh besar pada peradaban dunia. Padahal…masih banyak “keajaiban” lainnya yang tersembunyi tentang Romawi yang belum pernah kuketahui!

Seri Selidik National Geographic: Arkeologi Menguak Rahasia Masa Lampau-Romawi Kuno ini sangat membantuku memahami lebih dalam tentang kerajaan Romawi. Di buku ini bertebaran foto-foto menawan tentang artefak-artefak, juga arsitektur bangunan kuno pada jaman Romawi. Penempatan teks, foto dan artikel menarik terangkai sedemikian rupa hingga nampak artistik dipandang, sekaligus membuat kita mudah mengumbar imajinasi seolah kita sedang dalam sebuah tur di situs-situs arkeologi Romawi ini.

Buku ini dibuka dengan penjabaran peta daerah yang pernah dikuasai Romawi. Kemudian berturut-turut legenda tentang dua orang bersaudara pendirinya, bagaimana para diktator mulai mengambil alih dan memperluas kerajaan dengan perang, hingga bagaimana kerajaan ini mengembangkan sistem perdagangan untuk mempertahankan kerajaan mereka. Menarik mengamati pembangunan rumah orang kaya Romawi, saluran air (aquaduk) yang mengalirkan air dari sumber, juga pembangunan tempat-tempat permandian di rumah orang-orang kaya dengan menggunakan sistem pemanasan.

Khusus bagian permandian ini, saat membaca buku Quo Vadis, aku penasaran dengan ritual mandi para bangsawan Roma. Di awal cerita Quo Vadis, Petronius mengajak keponakannya Vinicius untuk mandi bersama. Dimulai dari tepidarium, lalu pindah ke caldarium dan akhirnya mendinginkan diri di frigidarium. Di buku ini akan dijelaskan dengan sangat terperinci tentang ritual mandi itu sendiri dan pembangunan sarananya.

Kubah Pantheon ini salah satu bangunan yang masih berdiri megah sejak 1800 tahun lalu. Atap kubah itu terbuat dari baja tipis dan kuat, salah satu bukti hebatnya arsitektur jaman Romawi Kuno


Masih ingatkah anda akan kisah bangsa Troy setelah dihancurkan oleh kaum Achaean (Yunani)? Salah satu pahlawannya yang bernama Aeneas berhasil melarikan diri dan melakukan perjalanan hingga mendarat di daratan Italia. Artikel di buku ini akan menjelaskan keterkaitan bangsa Troy dengan Romawi.

Namun yang paling menarik dari buku ini adalah karena National Geographic menceritakan bagaimana aktivitas arkeologi dapat akhirnya mengungkap kebudayaan dari zaman ribuan tahun lalu. Bagaimana seorang arkeolog mengungkap pola hidup dan kebiasaan rakyat hanya dari artefak atau reruntuhan bangunan saja. Bagaimana mereka mereka-reka umur benda-benda arkeologi, membandingkan potongan catatan-catatan yang mereka temukan, dan membandingkannya dengan sejarah.

Beruntunglah kita, yang meski hidup di jaman ini, masih boleh menyaksikan penemuan demi penemuan masa kejayaan Romawi karena banyak dari peninggalan itu masih terkubur di bawah tanah. Terlindungi oleh suhu lembab di bawah tanah atau oleh kemumpunian orang Romawi dalam pembuatannya. Atau abu letusan gunung Vesuvius yang mengubur kota Pompeii dan Herculaneum dan menyelamatkan semua yang ada di bawahnya hampir tak berubah dari wujud aslinya setelah 1700 tahun (hebat bukan?). Semuanya menunggu untuk dikuak oleh para arkeolog….

Patung kepala wanita muda yang masih utuh meski berusia 1700 tahun, karena terkubur di bawah abu letusan Gunung Vesuvius


Terakhir, tahukah anda mengapa banyak sekali peninggalan jaman Romawi Kuno ini yang masih dalam kondisi baik setelah ribuan tahun? Ternyata itu berhubungan dengan cara pembangunan rumah-rumah hunian di Roma. Menarik?

Yang jelas, setelah membaca buku ini, menjadi arkeolog sepertinya bukan pekerjaan yang membosankan ya? Alan Kaiser yang diwawancarai khusus di buku ini akan membuat kita mengenal sedikit lebih banyak tentang arkeologi. Dan moga-moga para arkeolog yang mengkhususkan diri pada Romawi Kuno akan terus membawa penemuan-penemuan baru yang sedikit demi sedikit menguak tabir tentang salah satu peradaban paling hebat dalam sejarah manusia itu. Semoga!

Empat bintang untuk mereka yang bekerja tak kenal lelah di National Geographic, untuk Zilah Deckker sang penulis, dan tentu saja untuk penerbit KPG yang menerbitkannya untuk kita! Jadi ingin mengkoleksi seri lainnya di Selidik National Geographic ini deh…


Judul: Selidik National Geographic – Romawi Kuno
Penulis: Zilah Deckker
Penerjemah: Priyatno Ardi
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Terbit: Maret 2011
Tebal: 64 hlm

Monday, September 5, 2011

Big Breasts and Wide Hips

“Kenapa orang mengambil istri? Untuk meneruskan garis keturunan keluarga.” ~hlm. 90.

“Bagi seorang wanita, tidak menikah bukanlah pilihan, tidak punya anak tidak bisa diterima, dan hanya memiliki anak perempuan tidak bisa dibanggakan sama sekali.” ~hlm. 93.

“Kau memukuli perempuan supaya dia patuh seperti kau membuat adonan untuk dijadikan bakmi.” ~hlm. 106.

Sebagai seorang perempuan, marah tentunya adalah reaksi yang wajar bagiku membaca potongan percakapan-percakapan di atas. Ya, aku sudah mengetahui dalam sejarah bahwa di abad-abad lalu, keberadaan perempuan selalu di nomor duakan, bahkan cenderung disepelekan. Aku juga sudah belajar tentang bagaimana rakyat China begitu mengagung-agungkan anak laki-laki sehingga anak perempuan cenderung “dibuang” dan ditolak. Dan aku sudah memiliki semua persepsi itu sewaktu hendak membaca buku ini: Big Breasts and Wide Hips, yang menurutku waktu itu pastilah (lagi-lagi) mengenai ketidakberdayaan perempuan di China.

Namun, membaca halaman demi halaman buku ini, rasa marahku berkembang menjadi jijik, ngeri dan trenyuh saat memahami penderitaan yang sesungguhnya ditanggung oleh kaumku itu di China sana, seabad yang lalu. Perempuan bukan saja disepelekan dan ditolak, ada di antara mereka yang diperlakukan sangat tidak manusiawi dan dengan sangat biadab. Dan Mo Yan, penulis kisah nyata ini, menjelentrehkan semua budaya kejam itu melalui kisah diri seorang wanita bernama Shangguan Lu.

Lu Xuan’er adalah seorang anak perempuan yatim piatu yang dipelihara paman dan bibinya. Ia baru berusia lima tahun ketika ia harus mendapatkan siksaan pertamanya sebagai seorang perempuan. Kaki-kaki mungilnya harus mulai diikat karena jaman itu deskripsi kecantikan perempuan adalah kaki yang teramat mungil yang diibaratkan teratai. Namun yang anda mungkin belum tahu, adalah proses yang amat menyakitkan dalam pengikatan kaki itu. “…Kata Ibu, sakitnya sama seperti kalau kita membenturkan kepala ke dinding.” ~hlm 79. Dan untuk apa penderitaan itu harus dialami anak berusia lima tahun? Hanya agar saat dewasa akan ada laki-laki yang mau menikahinya!

Saat usianya tujuh belas tahun Xuan’er dipinang oleh keluarga Shangguan untuk putra mereka. Sudah berharap segera meminang bayi laki-laki, Shangguan Lũ --sang ibu mertua yang bengis—kecewa karena menantu perempuannya tak kunjung hamil. Rentetan kata-kata kasar, menghina dan merendahkan sudah biasa meneror keseharian Shangguan Lu (nama Xuan’er setelah menikah). Hingga akhirnya saat pulang ke kampung bibi dan pamannya dan memeriksakan diri ke dokter, kenyataan yang ironis pun mereka dapati. Ternyata yang mandul bukanlah Shangguan Lu, melainkan suaminya.

Bagaimana pun tak mungkin baginya meminta keadilan. Selama ia tak dapat memberikan anak laki-laki bagi mertuanya, sang ibu mertua akan terus menyiksanya. Maka sang bibi memberi kemenakannya arak hingga mabuk, lalu menyuruh suaminya untuk menyetubuhi Shangguan Lu supaya ia bisa hamil. Si Cakar Besar, paman Shangguan Lu, sempat menanamkan benihnya dua kali di rahim kemenakannya. Dua-duanya menghasilkan anak perempuan. Lalu karena teror dari sang ibu mertua yang makin intens tiap kali Shangguan Lu melahirkan anak perempuan, Shangguan Lu akhirnya terpaksa menggunakan “donor” dari pria yang berbeda-beda demi memberinya anak laki-laki.

Di “Daftar Tokoh-Tokoh Penting” yang diselipkan sebelum bab I buku ini, anda akan melihat deretan ayah anak-anak perempuan Shangguan Lu yang akhirnya berjumlah hingga delapan orang. Mulai dari pedagang anak itik, dokter herbal keliling, jagal anjing, biarawan, hingga pastor misionaris berdarah Swedia. Bahkan empat orang tentara desertir pada masa itu menambahkan jejak kelam dalam sejarah memilukan Shangguan Lu, ketika keempat pria itu memperkosa Shangguan Lu dan memberinya anak perempuan yang ketujuh.

Sedangkan anak laki-laki yang ditunggu-tunggu itu akhirnya lahir ke dunia bersama dengan kembarannya, anak perempuan ke delapan yang buta. Anak laki-laki inilah yang kelak menceritakan kisah Shangguan Lu ini hingga menjadi buku ini.

Yang membuatku miris pada bagian ini adalah kelakuan suami dan ibu mertua Shangguan Lu. Bagaimana mungkin seorang manusia tega menyuruh wanita yang baru saja beberapa menit lalu melahirkan anak, untuk langsung bekerja keras di ladang di bawah terik matahari? Apalagi manusia itu seorang ibu yang pasti tahu rasanya melahirkan anak? Tubuhku sampai menggigil membayangkan kekejian macam itu.

Keadaan agak membaik (dan membuatku bisa menghembuskan napas lega) ketika pasukan Jepang masuk ke kota tempat mereka tinggal dan membunuh mertua laki-laki dan suami Shangguan Lu, sementara ibu mertuanya menjadi linglung. Sejak saat itu Shangguan Lu harus berusaha menghidupi ke delapan anaknya. Ketika melihat Pastor Malory yang mencintai Shangguan Lu dengan lembut, memperlakukannya sebagai seorang wanita, aku pun ikut bersyukur, meski keadaan itu tak berlangsung lama.

Membesarkan delapan anak sendirian sambil mengarungi kondisi politik yang tak menentu bukanlah tugas mudah bagi Shangguan Lu. Kekecewaan demi kekecewaan harus dialaminya ketika anak-anak perempuannya satu demi satu menikah dengan pria-pria “bermasalah”. Ada yang pemberontak, ada pula yang bandit. Dan anak-anak perempuan itu sendiri ada yang menjadi gila, ada pula yang bunuh diri. Lalu bagaimana dengan si anak laki-laki yang digadang-gadang menjadi anak emas, dan demi kehadirannya di dunia ini si ibu rela mengorbankan segalanya, dari nyawa hingga kehormatannya?

Ternyata Jintong, si anak laki-laki itu tumbuh menjadi anak manja yang ketagihan menyusu hingga usia tujuh tahun, sekaligus memiliki obsesi yang menyimpang terhadap payudara wanita. Di bagian inilah aku merasa agak risih karena Jintong suka menilai perempuan dari bentuk payudaranya, alih-alih cara berpikir atau perasaannya. Di sini aku jadi bertanya-tanya, apakah maksud Mo Yan menggunakan metafora payudara ini dengan cara yang (menurutku) terlalu vulgar? Alih-alih mengambil simpati para wanita, ia malah membuatku merasa tak nyaman.

Di luar itu, keunikan buku ini adalah karena keluarga Shangguan secara tak sengaja merupakan saksi dan pelaku beberapa sejarah penting. Shangguan Lu lahir tepat pada tahun terjadinya pemberontakan Boxer, kemudian berturut-turut ia turut terlibat (meski sedikit dan secara tak sengaja) dalam invasi Jepang ke China saat Perang Dunia II hingga Revolusi Kebudayaan. Demikian juga anak-anak perempuan dan para menantunya.

Pada akhirnya, Mo Yan seolah ingin menunjukkan keperkasaan kaum wanita melalui Big Breasts and Wide Hips ini. Kaum wanita yang waktu dianggap lemah dan tak berarti, justru memainkan banyak peranan penting yang mengubah sejarah. Sebaliknya, anak laki-laki yang dinanti-nantikan kehadirannya sehingga memberikan penderitaan pada ibu dan kakak-kakak perempuannya, malah tumbuh dewasa sebagai pria lembek yang tak berdaya, yang bahkan tunduk pada wanita.

Tiga bintang untuk buku ini, karena meski kurang nyaman dibaca –selain karena ke-vulgar-an dan kebrutalannya, juga penempatan paragraph-paragraf yang panjang sangat melelahkan untuk dinikmati— namun Mo Yan telah berhasil membuahkan tulisan bernuansa realism magis bercampur sejarah yang dengan sangat detail membangun karakter tokoh-tokohnya.

Judul: Big Breasts and Wide Hips
Penulis: Mo Yan
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit: Serambi
Terbit: Mei 2011
Tebal: 750 hlm

Tuesday, June 28, 2011

Genghis Khan 1: Sang Penakluk

Aku sedikit mengenal tokoh pemersatu rakyat Mongol bernama Genghis Khan ini sejak kecil. Hanya saja, selama ini aku merasa ada dualisme dalam penilaian akan karakter Genghis Khan ini. Di satu sisi ia dianggap pahlawan, sementara di sisi lain ia adalah orang barbar. Mana yang benar? Mengapa satu orang yang sama bisa memiliki dua sisi sejarah? Mungkin ini alasannya…

It is hard to pass fair judgment on historical facts of which we have no eye witness (sulit juga membuat penilaian yang adil terhadap fakta sejarah yang tidak kita saksikan dengan mata kepala sendiri) ~Prakata

Beruntunglah kita, karena bulan April 2011 lalu Penerbit Bentang Pustaka telah menerbitkan versi terjemahan Buku Genghis Khan: Sang Penakluk ini untuk kita. Buku ini mengungkapkan sejarah seorang pria Mongolia bernama Temujin, yang kelak akan menjadi seorang penakluk terbesar yang pernah hidup di dunia: Genghis Khan. Luas wilayah yang pernah ia taklukkan sekitar 35.000.000 kilometer persegi -- 2,2 kali lebih besar daripada wilayah taklukan Alexander Agung, dan 6,7 kali lebih luas daripada wilayah yang berhasil dikuasai Napoleon Bonaparte. Kekaisaran Romawi bahkan hanya seperempatnya saja. Namun yang menurutku membuat Genghis Khan layak disebut hebat, bukan hanya luasnya wilayah taklukan, melainkan lebih pada kecerdikannya, kebijaksanaannya dalam memerintah, serta semangat, kesabaran, ketekunan dan keberanian dalam karakternya. Hanya lewat buku inilah kita akan melihat karakter Genghis Khan sebagai manusia. Dan hanya setelah membaca buku ini, anda akan memahami mengapa Genghis Khan disebut sebagai pahlawan.

Kisah diawali dengan memperlihatkan ordu (perkampungan/desa) Yesugei yang merupakan markas suku Mongol Kyat, sebagai salah satu yang terkuat pada sekitar abad ke duabelas. Saat itu adalah masa-masa para nomad yang mendiami Dataran Mongolia terpecah belah menjadi ratusan klan dan suku yang berbeda-beda sehingga sering terlibat dalam konflik berkepanjangan. Saat itu, yang kuat akan menghancurkan yang lemah. Sehingga yang lemah hanya punya dua pilihan: hancur atau bergabung pada kelompok yang lebih kuat. Semua orang, semua klan, semua suku tidak memiliki teman atau musuh yang tetap. Kawan hari ini bisa menjadi musuh esok hari bilamana berbeda pandangan, karena kalau kau tak menghancurkan pihak lain duluan, pihak lainlah yang akan menghancurkanmu. Karena situasi seperti inilah orang Mongolia terpecah belah, dan kalau hal itu berangsur-angsur terjadi, suku Mongolia akan punah selamanya.

Yesugei adalah salah seorang yang memiliki impian untuk menyatukan seluruh Mongolia. Yesugei memiliki beberapa putra dan putri. Salah satu putra yang dibanggakannya adalah Temujin, yang lahir dari istri kedua, seorang wanita bernama Ouluun. Dari semenjak kecil, Temujin telah menunjukkan kualitasnya sebagai calon pemimpin besar. Ia tak hanya terampil menunggang kuda dan memanah, namun kecerdasan dan karakter kuatnya sudah mulai memancar. Sepertiga dari awal buku ini dengan sangat detail menggambarkan kehidupan Temujin kecil. Bagaimana ia belajar segala sesuatu (saat itu tak ada sekolah) dari berbagai sumber. Ajaran ayahnya, dongeng dari ibunya, pengalaman di alam bebas bersama Mamay (paman dari pihak ibunya). Singkatnya, setiap hal yang dilihat, didengar dan dialaminya selalu dicerna dengan kritis, mengapa A terjadi? Mengapa B melakukan C? Temujin bukan hanya merenungkan misteri-misteri itu, namun ia selalu menemukan jawabannya untuk dimasukkan ke dalam memorinya. Pendek kata, tak ada hal yang luput dari perhatiannya.

Ketika usianya baru 9 tahun, Temujin sudah akan ditunangkan dengan seorang anak perempuan berusia 10 tahun dari suku Olqunuud, bernama Borte. Saat Yesugei pulang dari mengantarkan Temujin ke ordu calon mertuanya, ia diracun oleh orang Tartar yang menjadi musuh kaum Mongol Kyat. Seharusnya, Temujin adalah pewaris Yesugei, dan berhak menjadi pemimpin suku mereka. Namun, karena rakyat merasa mereka menjadi lemah setelah kematian Yesugei, banyak pendukung Yesugei yang meninggalkan ordu. Bahkan kerabat Temujin. Salah satu yang masih setia pada Temujin adalah Yamuka. Yamuka telah menjadi sahabat Temujin sejak kecil, mereka tumbuh bersama-sama. Mereka berdua bahkan telah menjadi anda. Anda adalah dua orang yang bersumpah setia menjadi saudara.
Dari antara kaum nomad yang bergabung dengan Yesugei saat masih hidup, adalah kaum Taichut. Kaum Taichut merupakan nokhod (orang bebas yang bisa pergi kapan saja mereka mau). Begitu Yesugei meninggal, kaum Taichut mengambil alih ordu Yesugei yang seharusnya menjadi milik Temujin. Temujin terpaksa melarikan diri bersama ibu dan sedikit orang yang masih setia kepadanya. Dari sebuah ordu yang memiliki lima belas ribu kepala keluarga dan merupakan salah satu yang terkuat, tiba-tiba keluarga Temujin jatuh ke jurang kemiskinan yang amat dalam. Ini karena di stepa berlaku hukum, bila suatu klan memenangkan peperangan, ia berhak atas pampasan perang dari pihak yang dikalahkan, berupa ternak, harta benda, termasuk orang (kecuali tentu saja bagi yang melarikan diri). Saking miskinnya, keluarga Temujin bahkan tak bisa makan daging domba dan sapi yang menjadi makanan pokok orang Mongolia. Kekalahan dari kaum Taichut itu bukanlah akhir dari peperangan mereka. Karena beberapa tahun kemudian, tatkala Temujin sudah berusia empat belas tahun, kaum Taichut kembali memburu ordu Temujin. Perjalanan terjal pun kembali harus dilalui Temujin. Dalam keadaan terdesak, ia mampu menyelamatkan keluarganya meski ia sendiri akhirnya tertangkap kaum Taichut. Namun berkat kebaikan salah seorang mantan pengikut Yesugei, ia pun dapat melarikan diri.

Setelah kembali kepada calon mertuanya dahulu, dan kali ini benar-benar mempersunting Borte, Temujin pun mulai berupaya mempersatukan kaum Mongolia, sebuah cita-cita yang diamanatkan oleh mendiang ayahnya. Sebuah usaha yang nampak sia-sia! Berjuang membangun ordu besar dari titik nol merupakan usaha luar biasa. Tapi untuk mempersatukan dataran Mongolia? Mustahil. Mungkin bagi sebagian besar orang, namun tidak bagi Temujin. Saat itu mungkin ia tak punya dukungan dan harta berlimpah, namun ia memiliki modal kuat yang tak dimiliki orang lain: Visi. Kalau pun anda-nya, Yamuka memiliki visi yang sama, namun ia hanya berhenti pada cita-cita itu saja. Sebaliknya, Temujin telah memikirkan langkah demi langkah yang harus dilakukannya untuk meraih cita-cita itu. Visi semata tidaklah cukup, orang harus memiliki visi yang jelas, dan tahu apa yang perlu dilakukannya, bagaimana cara terbaik untuk melakukannya, dan tentu saja yang terpenting: keberanian dan kesabaran untuk mewujudkannya. Itu semua dimiliki Temujin, dan dalam usia muda itu, ia segera melakukannya. Sedikit demi sedikit kehormatan dapat ia raih. Banyak orang yang dulu melarikan diri, kini kembali bergabung dengannya. Bahkan Toghrul Khan, pemimpin klan terbesar saat itu pun mengangkat Temujin menjadi anak angkatnya. Apakah dengan semua itu berarti ia telah sukses? Belum, perjalanan masih jauh. Temujin harus berkali-kali mengalami jatuh bangun, diserang, dan dikhianati. Kadang memenangi pertempuran, kadang juga dikalahkan. Bahkan Borte, istrinya, harus mengalami penculikan dan pemerkosaan ketika ordu mereka kalah. Semuanya itu hanya makin membuat semangat Temujin menggelora. Sayangnya kita belum dapat mengikuti kisah Temjujin dalam kiprahnya sehingga menjadi sang penakluk paling besar dan mashyur di dunia: Genghis Khan. Kisah ini harus berlanjut di buku kedua, sedang buku pertama ini memperlihatkan perjuangan dan jatuh bangun yang dialami Temujin dari sejak kecil.

Meski demikian, setelah membaca buku pertama inipun, aku jadi dapat melihat sosok Genghis Khan yang sebenarnya. Kalau orang menilainya kejam, sadis, bahkan barbar, menurutku itu karena kondisi pada saat itu yang mengharuskannya membunuh lawan-lawannya. Kita harus ingat, bahwa sebagian besar kaum nomad memang masih barbar saat itu. Untuk mempersatukan mereka, memang harus dengan jalan kekerasan. Kalau tidak, selamanya mereka takkan pernah bersatu, dan malah akan punah karena selalu terlibat konflik dengan sesama orang Mongolia sendiri. Toh meski harus membunuh lawan, ia melakukannya ketika perang atau bila orang tersebut akan membahayakan ordunya. Pada mantan musuh yang ia pandang akan setia, ia akan mengangkatnya menjadi anggota pasukannya.


Yang aku kagumi juga dari Temujin adalah perlakuannya terhadap para pengikutnya. Temujin menuntut kesetiaan mereka kepadanya, dan sebagai imbal baliknya ia memberikan keadilan dan perlakuan yang setara bagi semua orang. Bahkan ia sendiri mengenakan pakaian yang sama dan makan makanan yang sama seperti yang dimakan bahkan oleh penggembala lembu (yang termasuk warga paling rendah). Hal ini membuat pengikutnya memandang Temujin sebagai pemimpin yang adil dan mau berbela rasa, dan merupakan hal yang tak lazim, mengingat pemimpin lainnya pada saat itu hidup dalam kemewahan.

Akhirnya, dari buku pertama ini aku bisa memahami sudut pandang Temujin dalam keputusannya untuk menggunakan kekerasan dalam mempersatukan Mongolia. Seperti yang dikatakan oleh Sam Djang di awal tulisanku ini, memang sulit membuat penilaian yang adil terhadap fakta sejarah, jika tidak kita saksikan dengan mata kepala sendiri. Karena kita tak mungkin dapat kembali ke masa lampau, kita harus mengandalkan buku ini untuk membawa kita ke masa itu, ke salah satu masa sejarah paling keemasan di muka bumi ini. Salut pada Bentang yang telah menerjemahkannya dengan baik!

Judul: Genghis Khan 1: Sang Penakluk
Judul asli: Genghis Khan: World Conqueror, volume 1
Penulis: Sam Djang
Penerbit: Bentang Pustaka
Penerbit versi asli: New Horison Books, North Hills, 2010
Penerjemah: Reni Indardini
Terbit: April 2011
Tebal: 503 hlm