Showing posts with label Novel. Show all posts
Showing posts with label Novel. Show all posts

Monday, December 24, 2012

Skipping Christmas


Christmas. One word that has so many different meanings for different persons. For most of us, perhaps, it means family gatherings, for others—it’s parties, for shoppers it mean great discounts, for bakeries it’s good business, for church workers it’s a lot of works :) But for Luther Krank—an accountant who lives with his family in suburb called Hemlock—Christmas means…chaos! Well, Christmas in my country has never been a big festive season (Indonesia is a multi-cultural and multi-religions country), so I can’t imagine the hectic season of Christmas, but from Grisham’s description in this book, I can understand how Christmas can bring stress to some people.

Back to the story, Luther—from his accountant’s point of view—think that Christmas is just wasting of money for nothing. So, he decided to skip Christmas this year, and instead, bought a cruise program for him and Nora his wife, as their daughter was in Peru this year. Apparently the Kranks’ plan—very personal it was—surprisingly, affected so many aspects of Hemlock’s life. Hemlock won’t win the city’s award for best Christmas decoration this year because there’s one house that did not put Frosty up its roof, for instance. The police and the firemen won’t get their annual Christmas donations, neighbors would miss getting invited to the best Christmas Eve party, and many other trivial that looked simple but annoying.

The Kranks get annoyed because the neighbors were scornful to them, but the thoughts of the cruise and the beaches could calm them down for the time being. Until one telephone call changed everything. Blair—their daughter—made a surprise by saying that she would spend Christmas Eve at home with her fiancĂ©e, because she missed their family’s Christmas Eve. And now….the real Christmas panic has begun…

This is one of Grisham’s works out of legal theme. However, as all of his legal thrillers, Grisham could grab my full attention to this book. The idea is simple, and none of the characters is loveable, but this book brought several thoughts and reflection to me.

First, I’m overwhelmed by how far Christmas has been commercialized nowadays, as if every business owner thought they could force customers to buy from them just because it’s Christmas. And look how much money spent during this festive season! In this modern life, it’s very sad that we have forgotten what Christmas really means, and why we celebrate it. Although Grisham did not touch the religious aspects, I can see that he wanted to criticized how Christmas has now absurdly changed to a hedonism justification; when it’s alright to spend $ 6000 for expensive gifts and luxury dinner once a year--it’s Christmas anyway!

Grisham wanted to bring Christmas’ meaning back to peace, love and togetherness. Christmas is supposed to be a day when we make peace with everyone, to have a pleasant time with family and friends, and to be grateful for all we have had that year. In this book you’re going to find people shout at each other in the hectic moments, where wives yells their husbands to climb the roof in the cold of night to get Frosty up the roof. *sigh*

Christmas is the day we celebrate Christ’s birthday, and did those people really believe that yelling each other was what Christ wants to be His gift? Or the worst…people had forgotten that Christmas is the celebration of Christ’s birth. Yeah, they thought Christmas is all about frosty, Rudolph, trees and santa. I thought only children believe at those things, but in this story particularly, seems that everyone truly believe in it. Three and a half stars for Skipping Christmas, it’s not a very enjoyable story—it’s rather flat actually—but it reminded me again about how I should think about Christmas. You can skip all the Christmas attributes, but do not ever scrap the meaning of Christmas from your heart!

Apart from the book, I admit that this year our family’s Christmas tree don’t sit on the usual place. Yeah, we don’t have a tree, we don’t exchange gifts, we don’t have a special dinner. From the outside we seemed to be skipping Christmas like the Kranks, but deep in our heart—I know that me and my parents—we are preparing a special place for Christ who’s coming on Christmas Eve. :)

Last but not least…I want to wish a Merry Christmas for all my fellow bloggers, readers, and followers!

Tuesday, February 21, 2012

Suddenly Supernatural #3: Medium Yang Tidak Bahagia

Sekitar pertengahan abad 19, ada sepasang kakak beradik Margareth ‘Maggie’ dan Catherine Fox yang mengaku mampu berkomunikasi dengan arwah orang yang meninggal (medium). Karena keahlian ini mereka jadi terkenal di seluruh Amerika, di mana aliran Spiritualisme sedang marak. Namun pada tahun 1888 Maggie membuat pengakuan yang mengejutkan, bahwa apa yang dilakukan Fox Bersaudari selama ini adalah kebohongan—akting semata—yang mereka lakukan karena dorongan kakak tertua mereka Leah, demi mencari keuntungan. Anehnya, tak lama kemudian Maggie meralat pengakuannya, dan pada pengakuan kedua ini ia menandaskan bahwa Fox Bersaudari memang medium yang bisa berkomunikasi dengan arwah—suatu misteri yang tak pernah terpecahkan…

Hingga di sini anda tidak salah baca! Aku bukan hendak mereview sebuah novel historical fiction, melainkan kisah tentang seorang remaja yang menjadi ‘medium’. Masih ingat petualangan Kat dan sahabatnya Jac di Suddenly Supernatural #2 kan? Nah, di sekuel ketiga ini Kat mulai menghadapai bahaya yang sebenarnya dalam ‘profesi’ seorang medium. Kalau di buku kedua Kat masih terasa main-main, kini Kat menghadapi sesuatu yang lebih “gelap”. Yuk intip sedikit kisahnya..

Liburan musim panas kali ini Kat ikut Jac dan mamanya menghadiri konvensi musisi muda yang diadakan di rumah tua bergaya abad 19 yang bernama Whispering Pines Mountain House. Tentu saja Jac yang menghadiri acara-acara bagi para musisi itu, sementara Kat menghabiskan banyak waktunya sendirian. Dan saat pertama kali masuk kamar, Kat sudah berjumpa dengan arwah seorang wanita tua berserban yang memakai pakaian ala jaman Victoria. Wanita itu adalah Madame Serena. Si madame (dulunya) seorang medium juga, dan tak menyadari bahwa dirinya telah meninggal. Lucunya, ia malah mengira Kat lah yang berada di ‘dunia lain’, bukan kebalikannya…

Madame Serena dulu tinggal di Whispering Pines, dan menempati kamar yang saat ini ditempati Kat. Ia masih terobsesi untuk membantu kliennya, istri Kolonel, untuk “menghubungi” Loretta tercintanya. Berkali-kali ia mencoba, namun Madame Serena selalu gagal. Ia sedih, karena saat itu hanya istri Kolonel lah yang percaya kepadanya, sementara orang-orang lain menganggapnya medium bohongan. Mengapa? Kembali lagi, semuanya karena ribut-ribut pengakuan Maggie Fox yang membuat Spiritualisme dicemooh dan dianggap penipuan. Dan kini, tugas Kat lah untuk “mengirim” Madame Serena ke jalur ke mana ia seharusnya menuju.

Andai hanya sesederhana itu, pasti buku ini akan super duper membosankan. Untungnya, Kat menemukan tantangan lain. Kali ini bukan sekedar arwah orang meninggal, namun lebih dahsyat dari itu: sebuah entitas kegelapan yang cenderung merasuki dan mengendalikan manusia untuk berbuat jahat. Entitas itu berbentuk awan hitam nan pekat—mengingatkanku pada dementor di kisah Harry Potter—yang menyedot habis dan mencuri energi makhluk yang dirasukinya. Dan saat ini Kat sendirian di hotel, tanpa ibunya dan tanpa Orin (semacam guru dan teman ibunya) di sampingnya. Ia harus berjuang sendirian melawan si entitas gelap. Atau... apakah ia benar-benar sendirian?

Sampai sini anda merasa buku ini terlalu “gelap”? Jangan khawatir, Elizabeth Cody Kimmel tetap menyisipkan hal-hal khas remaja, terutama lewat sosok Jac. Di konvensi ini Jac—yang masih tetap tak akur dengan ibunya—asyik menikmati perhatian dari seorang cowok sesama peserta konvensi, sampai-sampai mengacuhkan Kat dan bahkan bertengkar dengannya. Sekali lagi tersisip indahnya persahabatan di kisah ini.

Ada hal yang menarik bagiku—selain secuplik fakta sejarah yang terselip di sini—yaitu nasihat dari Orin saat Kat harus menghadapi bahaya si entitas jahat:

“Segala bentuk cahaya terang adalah musuh makhluk ini. Energi terang adalah energi cinta, kebaikan, dan kemurahan hati. Energi gelap adalah energi kebencian dan kehancuran.” ~hlm. 153.

“Seorang manusia, tak peduli selemah apa pun, bisa melindungi dirinya dari kerasukan fisik dengan doa sederhana atau dengan memanggil kekuatan apa pun yang mereka yakini, jika mereka tahu caranya. …Pikirkan sebuah bintang yang akan meledak menjadi supernova. Tambahkan dengan cinta. Setiap emosi kepedulian dan kasih sayang yang bisa kau bangkitkan.” ~hlm. 153.


Kali ini secara keseluruhan, Kat sudah lebih dewasa dari petualangannya yang terakhir, dengan problema yang lebih “nyata” juga. Karena masalah kerasukan itu adalah masalah yang nyata, kadang dalam bentuk ekstrem yang membuatnya si manusia menjerit-jerit atau lainnya, namun kadang bentuknya lebih pasif—membuat seseorang terdorong untuk bunuh diri. Pada saat-saat itulah, seperti nasihat Orin, yang harus dilakukan hanya satu: berdoa sambil tetap percaya bahwa Yang Baik lah yang akan menang.

Lalu, akankah Kat berhasil mengusir si entitas jahat untuk selamanya? Apakah Jac berhasil mencuri hati si cowok? Dan mengapa sekuel ini diberi judul medium yang tidak bahagia? Kau harus menemukan jawabannya sendiri deh...

Tiga bintang untuk buku ini!

Judul: Suddenly Supernatural #3: Medium Yang Tidak Bahagia
Penulis: Elizabeth Cody Kimmel
Penerjemah: Barokah Ruziati
Penerbit: Atria
Terbit: Desember 2011
Tebal: 217 hlm

Tuesday, February 14, 2012

The Penderwicks

Selamat datang di keluarga yang paling aneh yang pernah kutahu, Keluarga Penderwick! The Penderwicks terdiri dari 5 orang. Mari kita berkenalan dengan mereka: Yang tertua (tentu saja) Martin Penderwick--ayah dan sarjana Botani yang suka tiba-tiba menyisipkan kalimat bahasa Latin ke dalam percakapan. Rosalind adalah si sulung cantik dari 4 bersaudara perempuan Penderwick, usia 12 tahun dan lebih dewasa dari usianya karena harus mengurus ketiga adiknya setelah ibu mereka meninggal. Nomor dua adalah Skye "langit biru-mata biru", maksudnya agar kau mudah mengingat namanya dengan menatap matanya yang sebiru langit. Si mata biru ini yang paling bengal, paling tomboy, dan paling jago matematika di antara saudara-saudaranya.

Nomor tiga adalah Jane, sang penulis dan pemimpi keluarga Penderwick. Di usia 10 tahun ia sudah menulis beberapa buku fantasi anak-anak berkat imajinasinya yang tinggi--bahkan seringkali kelewat tinggi sehingga membuat kesal yang lain. Terakhir adalah si bungsu Batty, anak berusia 4 tahun yang pemalu dan suka memakai sayap kupu-kupu kemana-mana. Oh...bukan terakhir sebetulnya, kalau Hound dapat dimasukkan menjadi anggota keluarga Penderwick. Dari namanya, kau pasti sudah menebak kan makhluk apakah Hound yang paling sayang kepada Batty ini? Yup, ia adalah seekor anjing!

Nah, mereka berlima.. ups..maksudku berenam sedang berlibur ke sebuah villa indah bernama Arundel yang mereka sewa selama liburan musim panas. Di sana mereka berkenalan dengan teman-teman baru yang mengasyikkan. Ada cowok tukang kebun ganteng yang suka cerita-cerita sejarah bernama Cagney, lalu juru masak ramah bernama Crunchie, dan....anak cowok putra pemilik villa tersebut yang suka main musik bernama Jeffrey. Tapi, ada juga makhluk-makhluk menyebalkan yang harus mereka hadapi, yaitu Mrs. Tifton--ibu Jeffrey sekaligus pemilik villa, dan pacarnya yang angkuh Dexter.

Dan bisa kau bayangkan kalau ada 5 orang anak bersama-sama saat liburan di lingkungan mansion yang besar dan kebun yang luas. Oh.. 5 orang anak dan 1 ekor anjing (jangan lupakan itu!)...pastilah keributan yang bakal terjadi. Masalahnya, Mrs. Tifton itu tipe wanita kaya yang (sok) anggun, yang jelas takkan suka pada orang-orang yang "tidak se-level" dengannya, apalagi anak-anak yang suka ribut-ribut di taman kesayangannya. Banyak kejadian super kocak yang bakal membuatmu tertawa ngakak di sepanjang kisah ini, mulai dari kelinci yang lepas dari kandangnya hingga Batty hampir diseruduk sapi. Pokoknya, kocak dan seru!

Tapi bukan hanya kelucuan saja yang ada di buku ini, kau juga akan menemukan persahabatan dan kesetiakawanan, juga keteguhan anak-anak Penderwick dalam menjaga kehormatan keluarga mereka yang senantiasa kompak. Bukan hanya bersenang-senang, anak-anak Penderwick juga membantu memecahkan masalah Jeffrey yang diharuskan ibunya bersekolah di sekolah militer Pencey seperti kakeknya, padahal Jeffrey sendiri memiliki minat di bidang musik. Keempat gadis Penderwick juga memberikan keceriaan pada Jeffrey si anak tunggal yang dididik dengan cara kolot dan membosankan oleh ibunya.

Kisah bertambah seru ketika akan ada kontes Klub Berkebun dan Mrs. Tifton berambisi untuk memenangkan kontes itu dengan kebunnya yang indah. Kira-kira apa ya yang akan terjadi kalau tak jauh dari sana ada anak-anak Penderwick, seekor anjing, dua ekor kelinci dan seorang anak laki-laki? Hmmm....kau akan tahu dengan membaca buku ini. Yang jelas, ini buku yang memang cocok dibaca saat liburan atau saat kau membutuhkan bacaan yang ringan dan membuatmu ceria.

Tiga bintang untuk Keluarga Penderwick!

Buku ini adalah pemberian #secretsanta ku, si manis Alvina...Thanks ya Vina, sudah menceriakan hariku dengan buku ini!

Judul: The Penderwicks: A Summer Tale of Four Sisters, Two Rabbits, and a Very Interesting Boys
Penulis: Jeanne Birdsall
Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Maret 2008
Tebal: 292 hlm

Wednesday, January 4, 2012

The Shack

Banyak sudah yang menyarankan aku membaca buku ini. Ketika kutanya, mengenai apa sih buku ini? Jawabnya kebanyakan singkat: tentang trinitas (tiga pribadi Tuhan dalam doktrin Kristen: Bapa, Putera dan Roh Kudus). Ketika mendengarnya, kupikir The Shack adalah semacam novel yang ‘teologis’, yang hendak menjelaskan arti trinitas. Namun setelah kubaca, aku menemukan lebih dari sekedar trinitas di buku ini. The Shack lebih mengedepankan hubungan Tuhan dengan manusia, daripada semata-mata ajaran religius.

Dikisahkan seorang pria bernama Mackenzie aka Mack, ayah dari 5 orang anak, yang di masa kecilnya memiliki masalah dengan ayah yang pemabuk dan suka menyiksa. Meski kekurangan kasih sayang saat anak-anak, namun Mack berhasil membina keluarga yang baik, dan membesarkan serta mencintai anak-anaknya dengan baik pula. Hidupnya akan berjalan dengan sempurna, kalau saja tragedi itu tidak terjadi.

Pada suatu acara liburan ke arena perkemahan di Wallowa Lake, Oregon, USA, kano yang ditumpangi kedua anak Mack: Josh dan Kate terbalik dan tenggelam. Kate berhasil berenang ke tepian, namun kaki Josh terlilit sesuatu hingga ia tak mampu keluar dari kano. Sebagai mantan penjaga pantai, dengan cekatan Mack langsung terjun ke danau dan akhirnya berhasil menyelamatkan Josh. Namun, aksi penyelamatan yang lumayan heboh itu telah mengalihkan perhatian semua orang dari Missy—putri bungsu Mack yang berusia 5 tahun dan saat insiden itu terjadi, sedang duduk dan mewarnai di meja piknik. Begitu Mack sadar, Missy tak dapat ditemukan di mana-mana. Pencarian pun dilakukan, yang menyita perhatian pengurus perkemahan, teman-teman Mack hingga FBI.

Akhirnya penyelidikan forensik mengungkap bahwa Missy telah diculik oleh seorang pria yang terkenal sebagai Si Pembunuh Gadis Cilik. Missy adalah korban kelima pria itu, yang hingga kini belum dapat tertangkap. Hal itu terungkap dari pin berbentuk kepik berbintik lima (menunjukkan jumlah korban) yang ditemukan di TKP. Pembunuhan Missy serta-merta menjungkirbalikkan kehidupan Mack. Ketika ia sudah dapat melupakan trauma perlakuan ayahnya, kini pembunuhan Missy seolah-olah menjadi titik balik dalam hubungannya dengan Tuhan. Ia marah—sangat marah pada Tuhan dan menjauhiNya.

Tiga tahun setelah insiden yang ia sebut Kesedihan Besar itu, datanglah sepucuk surat dari “Papa”. Jangan mengasumsikan Papa berarti ayah Mack atau Nan, istrinya. Papa adalah panggilan Nan untuk Tuhan. Apa? Surat dari Tuhan? Bergurau ya? Begitulah yang awalnya dirasakan Mack, seperti yang pasti akan kita rasakan juga kalau kita mengalami hal yang sama. Dan gilanya lagi, surat itu mengundang Mack untuk pergi ke ‘Gubuk’ (The Shack) di mana Missy dibunuh, karena di sana pula “Papa” akan menunggunya.

Meski kedengaran gila, Mack tetap berangkat. Awalnya gubuk itu ternyata kosong, namun setelah sejenak ia berbalik, gubuk itu menjelma menjadi sebuah rumah asri yang ditinggali 3 orang. Perempuan besar keturunan Afrika yang minta dipanggil Papa, pria Timur Tengah yang berpakaian seperti tukang, dan perempuan Asia mungil yang seolah tak nyata. Anda bisa menebaknya, mereka adalah sosok yang mewakili: Tuhan (Bapa), Yesus dan Roh Kudus—yang dalam kisah ini menggunakan nama Sarayu. Pertanyaannya: mengapa Tuhan mengundang Mack untuk datang ke pondok? Dan apakah Mack akan mempergunakan kesempatan ini untuk melontarkan amarah yang selama ini dipendamnya terhadap Tuhan? Akankah ia mendapatkan jawaban memuaskan seputar mengapa Missy harus menanggung kekejian pembunuh itu? Dari semua anak di dunia, mengapa harus Missy?

Pertanyaan yang sama yang mungkin telah berjuta kali dilontarkan orang-orang yang pernah mengalami penderitaan atau kehilangan seperti Mack. Pertanyaannya selalu, apakah Tuhan itu sungguh baik? Kalau Ia baik, mengapa Ia membiarkan hal buruk terjadi pada orang baik? Kalau Tuhan ada, mengapa kekacauan dan kejahatan terus terjadi di bumi yang notabene Ia ciptakan sendiri?

Alih-alih menjelaskan secara teologis, William P. Young—penulis buku ini—mengajak kita semua mencari jawabnya melalui pengalaman Mack. Mack diajak berdialog dan melakukan kegiatan-kegiatan manusia biasa oleh Papa, Yesus dan Sarayu. Sedikit demi sedikit akhirnya Kesedihan Besar yang selama ini menggelayuti dirinya berangsur-angsur terkikis.

Beberapa hal menarik yang aku dapat dari buku ini:

= Ketika menciptakan manusia, Tuhan memberikan kebebasan pada mereka untuk memutuskan tindakan mereka sendiri, baik ataupun jahat. Jadi, ketika ada kejahatan di atas bumi, itu bukan karena Tuhan mau menghukum, itu adalah hasil kejahatan dalam diri manusia. Tuhan bukan tak mampu menghentikannya, melainkan tak mau mengambil kebebasan manusia. Tapi di sisi lain, Tuhan selalu menunggu dengan penuh cinta

= Tuhan bukanlah Bapa yang menghukum. Tuhan begitu mencintai anak-anakNya, lebih besar dari cinta manusia. Ketika kita menyakiti Dia, Tuhan memang sedih, tapi itu tak akan sanggup memadamkan cintaNya kepada kita. Hal ini digambarkan dengan indah dan jelas sekali dalam dialog antara Mack dan Sophia (perwujudan kebijaksanaan Tuhan) ketika Mack harus memutuskan siapa di antara 5 anaknya yang akan “dimasukkan ke neraka”. Tentu saja Mack tak mau anaknya masuk ke neraka seberapa pun mereka telah menyakiti Mack. Begitu juga halnya dengan Tuhan…

The Shack adalah jenis bacaan yang perlu direnungkan di sela-sela membaca. Begitu banyak kalimat-kalimat yang meneduhkan jiwa bertebaran di buku ini, terutama yang keluar dari mulut Papa, Yesus dan Sarayu. Namun, aku merasa agak janggal dengan bagian akhirnya yang menurutku agak dibuat-buat. Lagipula, sulit untuk membayangkan bagaimana perobatan sempurna seseorang dapat terjadi dalam waktu hanya dua hari saja. Memang ini novel religius yang difiksikan, tapi tetap saja aku merasa kurang sreg.

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, aku memberikan 4 bintang untuk The Shack ini!

Judul: The Shack
Penulis: William P. Young
Penerbit: Penerbit Andi
Terbit: 2008
Tebal: 416 hlm

Tuesday, January 3, 2012

Sweetly

'Dua orang anak yatim piatu diusir oleh ibu tiri yang jahat ke hutan. Di hutan mereka menemukan rumah bertabur permen dan kue jahe yang ditinggali seorang perempuan tua. Perempuan itu ternyata nenek sihir yang hendak memakan anak-anak itu.' Apakah kisah itu tak asing bagi anda? Tentu saja, itu adalah dongeng Hansel and Gretel yang dipopulerkan Grimm Bersaudara. Jackson Pearce--seorang penulis novel young-adult fantasy--meminjam dongeng itu untuk kisah Sweetly ini.

Alih-alih Hansel dan Gretel, dua bersaudara yang menjadi tokoh kisah ini bernama Ansel dan Gretchen, dua bersaudara yang tumbuh di Washington. Ketika masih kecil, mereka mempunyai adik perempuan, saudari kembar Gretchen. Suatu hari saat bermain-main ke hutan, mereka dikejar oleh sesosok monster bermata kuning. Berlari semburat keluar hutan, Ansel dan Gretchen lalu menemukan bahwa saudari mereka tertinggal di hutan. Lenyap. Tanpa bekas. Tanpa penjelasan.

Musibah itu menghancurkan keluarga Ansel dan Gretchen, membuat mereka berdua selalu dihantui perasaan bersalah dan mendapat perlakuan tak adil dari warga setempat yang menyalahkan mereka. Akhirnya mereka pun didepak oleh ibu tiri mereka dari rumah. Miskin dan hanya berbekal pakaian dan mobil butut, mereka pun mengembara. Mobil butut itu memaksa mereka berhenti di kota kecil yang tampak mati bernama Live Oak. Ansel mencari uang dengan membantu seorang gadis pemilik toko cokelat bernama Sophia, yang hidup di pondok terpencil di tepi hutan.

Saat ingin memberanikan diri berjalan-jalan di hutan, Gretchen kembali berhadap-hadapan dengan monster bermata kuning yang selama ini menghantuinya. Kalau selama duabelas tahun ia menganggap monster itu penyihir, kini akhirnya ia tahu apa yang telah mengambil adiknya dan Ansel: sesosok Fenris.

Fenris atau fenrir adalah sebuah mitos, yakni sesosok monster berwujud serigala. Aku tak tahu pasti apa bedanya fenrir dan werewolf--manusia yang berubah menjadi serigala saat bulan purnama, yang jelas dalam kisah ini si fenris bisa menjelma menjadi pria yang tampan untuk mengelabui calon mangsanya.

Seorang pria muda bertampang masam bernama Samuel lah yang menolong Gretchen di hutan saat itu, dengan menembak sesosok fenris. Sejak saat itu, Gretchen yang sebenarnya sudah mulai menjalani hidup rutin dan normal di toko cokelat Sophia, harus membulatkan tekad untuk berhadapan langsung dengan para fenris penunggu hutan. Sementara itu, di balik manisnya aroma cokelat dan vanila serta segarnya permen lemon, ada kabut misteri pekat di kehidupan Sophia. Sang gadis ngotot menyelenggarakan Festival Cokelat, meski dua even yang sama telah membuat beberapa gadis Live Oak hilang tanpa jejak secara misterius. Apa yang terjadi sebenarnya? Apakah memang Sophia yang menyebabkan gadis-gadis itu hilang seperti yang dituduhkan warga? Dan bagaimana Gretchen seorang diri dapat menaklukkan para fenris, padahal ia sendiri ketakutan pada mereka?

Yang membuatku agak heran adalah selama ini Gretchen selalu bertanya-tanya mengapa saudari kembarnya yang diambil fenris di hutan, bukannya dia; apa yang istimewa dari adiknya? Menurutku pertanyaan yang agak tak biasa saja dipikirkan seseorang yang kehilangan orang yang disayanginya. Seolah-olah misteri itu jauh lebih penting daripada kenyataan bahwa ada monster yang mengambil adiknya. Aku juga agak tak setuju dengan adegan penembakan di akhir kisah. Selebihnya, Sweetly menawarkan ketegangan, misteri dan sepercik bumbu romantis.

Yang menarik justru covernya. Untunglah Atria menggunakan cover asli untuk edisi terjemahan ini. Kalau anda perhatikan dari dekat, gambarnya adalah dua tebing dengan pepohonan yang tumbuh di lereng-lerengnya. Ranting-rantingnya ada yang saling bertautan, dan di tengah lembah ada rumah. Tapi coba pandanglah dari jarak yang agak jauh, apa yang anda lihat?....

Aku memberikan tiga bintang untuk Sweetly!

Judul: Sweetly
Penulis: Jackson Pearce
Penerbit: Atria
Penerjemah: Ferry Halim
Penyunting: Fenty Nadia
Terbit: November 2011
Tebal: 401 hlm

Wednesday, December 28, 2011

Cecilia & Malaikat Ariel

“Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.” ~1 Kor 13:12.

“For now we see through a glass, darkly; but then face to face: now I know in part; but then shall I know even as also I am known.” (teks dari Bible versi King James).

Through A Glass, Darkly adalah judul asli buku karya Jostein Gaarder ini. Judul itu diambil dari cuplikan teks Alkitab yang kukutip di atas. Lalu apa hubungannya dengan Cecilia & Malaikat Ariel yang menjadi judul versi terjemahannya ini? Itu karena memang inti buku ini terletak pada dialog antara tokoh Cecilia dan Malaikat Ariel. Itu sebabnya juga, sub judul buku ini adalah Kisah Indah Dialog Surga dan Bumi.

Cecilia adalah seorang anak kecil yang harus terbaring sakit pada suatu malam Natal. Saat itu ia sudah semakin lemah, dan keluarganya sadar bahwa sewaktu-waktu ia akan tiada. Mereka--ayah, ibu, kakek, nenek dan sang adik Lars, berusaha memberikan perhatian dengan menyediakan apa yang diinginkan Cecilia. Mereka memberinya kado Natal papan ski dan toboggan (kereta luncur), meski mereka tak yakin Cecilia akan bisa menggunakannya di musim salju itu. Meski Cecilia harus berbaring di kamarnya di lantai atas, mereka membuka pintu kamarnya sehingga Cecilia tetap bisa merasakan suasana persiapan Natal yang terjadi di bawah. Aroma kulit pohon Natal yang masih segar, suara denting piano lagu-lagu Natal, semuanya diserap Cecilia sehingga ia turut merasakan Natal. Bahkan ketika tiba waktunya membuka kado-kado, ia khusus dibopong turun ke ruang keluarga, dan bergembira bersama yang lain membuka kado.

Namun, momen-momen terindah Cecilia di saat Natal itu, justru datang dari sesosok malaikat bernama Ariel. Malaikat Ariel suka datang ke kamar Cecilia di malam hari, ketika seluruh keluarga tertidur nyenyak. Mereka mengobrol lama, bahkan kadang-kadang mereka berdua berpetualang dengan ski dan toboggan baru Cecilia di hamparan salju di luar rumah. Apa saja yang mereka obrolkan? Tentu saja tentang perbedaan antara manusia yang fana dan malaikat yang ilahiah; antara bumi dan surga. Yah..sebenarnya itulah keseluruhan kisah dalam buku ini. Kalau begitu, di mana letak keistimewaannya? Kekuatan buku ini justru terletak dalam dialog Cecilia dan Malaikat Ariel.

Dalam dialog ini, Jostein Gaarder menumbuhkan kesadaran kita akan hakikat manusia. Ketika menciptakan manusia, Tuhan telah menganugerahkan sekeping diriNya kepada manusia. Sehingga, meski manusia terdiri dari darah dan daging seperti hewan yang fana, manusia juga memiliki sepercik keilahian dalam dirinya, seperti yang telah dianugerahkan pada Adam & Hawa. Seperti dikatakan Ariel:

"Kau adalah hewan dengan ruh malaikat, Cecilia. Itu berarti, kau dianugerahi hal-hal terbaik dari dunia." ~hlm. 50.

"Bukan hanya Adam dan Hawa yang saat itu tercipta. Saat itu, sebagian kecil dirimu ikut tercipta. Kemudian, suatu hari, mendadak tiba giliranmu untuk melihat apa yang telah Tuhan ciptakan. Kau diguncangkan keluar dari lengan jas Tuhan dan kau temukan dirimu menghirup udara, benar-benar hidup." ~hlm. 42. Entah mengapa, aku paling suka dengan bagian ini!

Sayangnya, apa yang dimiliki manusia ketika lahir dan masih kanak-kanak itu segera memudar dengan berjalannya waktu, dan dengan segala ilmu pengetahuan yang dijejalkan dalam otak manusia, sama seperti yang terjadi dengan Adam & Hawa yang menyebabkan mereka diusir dari Taman Firdaus.

Meski memiliki sepercik keilahian, Cecilia tak mampu memahami atau sulit mencerna apa yang terjadi di surga. Itu karena manusia memang 'melihat melalui cermin' sehingga mereka tak mendapat gambaran yang sempurna. Gambaran sempurna itu akan mereka dapatkan, ketika mereka meninggalkan kefanaan dunia dan berpindah ke surga. Seperti yang dijanjikan Tuhan lewat kata-kata St. Paulus dalam ayat Alkitab di atas.

Selain itu, lewat Malaikat Ariel, Gaarder mencoba mengingatkan kita akan betapa rapuh dan tidak nyatanya hidup manusia di dunia ini. Kita sering merasa hidup kita lah yang paling nyata, sedangkan 'kehidupan lain' adalah sesuatu yang di awang-awang, belum tentu ada. Padahal menurut Ariel, justru manusia lah yang tak nyata. "Bagi kami, kalian adalah hantu, Cecilia, bukan sebaliknya. Kalian mendadak muncul, dan setiap kali seorang bayi diletakkan di dalam perut ibunya, itu adalah suatu keajaiban. Tapi, secepat itu pula kalian pergi. Seolah-olah Tuhan bermain gelembung sabun dengan kalian." ~hlm. 77.

Sepercik keilahian yang kita miliki itu mewujud, misalnya saat kita bermimpi atau berimajinasi. Karena saat itu, menurut Malaikat Ariel, kita sama saja dengan malaikat. Malaikat tak memiliki indra penglihatan; penglihatan itu datang dari pikiran. Yang lebih menarik lagi--menurut Ariel, Tuhan menciptakan mata bagi manusia agar ia dapat berbagi proses penciptaan dengan manusia. "Setiap mata adalah sekeping kecil misteri Ilahi. Mata manusia adalah cermin tempat sisi kreatif dari kesadaran Tuhan bertemu muka dengan diri-Nya sendiri dalam ranah ciptaan." ~hlm 99.

Pada akhirnya Malaikat Ariel berhasil memberikan pengertian pada Cecilia, sekaligus kepada kita, betapa berharganya diri manusia di mata Tuhan. Itulah keagungan penciptaan Tuhan yang merupakan misteri Ilahi. Kita tercipta sebagai makhluk fana, namun sekaligus memiliki sepercik keilahian. Kita tercipta sebagai citra Allah, namun sekaligus memiliki kelemahan. Mengapa begitu? Kita takkan pernah sanggup memahaminya, karena saat kita masih hidup di dunia, kita hanya melihat melalui cermin gambaran yang samar-samar. Yang jelas, kita menggenggam janji Tuhan, bahwa kelak kita akan melihat keseluruhan gambaran itu ketika kita sampai di surga.

Sekali lagi, Jostein Gaarder berhasil memukauku dengan sebuah kisah berbingkai suasana Natal yang teramat sederhana, namun teramat dalam maknanya. Mungkin memang begitulah seharusnya kita menjalani hidup kita sendiri. Alih-alih meruwetkan diri dengan segala macam hal duniawi, seharusnya kita menjalani hidup dengan cara yang sederhana. Kita pernah menjadi kanak-kanak, jangan biarkan sisi kekanakan kita menghilang dan membuat kita menjadi skeptis pada semua yang ilahiah. Jangan sampai kita menjadi sok pintar seperti Adam & Hawa, lalu dibuang dari surga selamanya! Kita harus berterima kasih pada Jostein Gaarder yang telah mengingatkan kita lewat kisah sederhana nan manis ini.

Lima bintang untuk Cecilia, Malaikat Ariel, dan Jostein Gaarder. Saat ia datang ke Indonesia beberapa waktu lalu, ia mengakui bahwa Through A Glass, Darkly merupakan salah satu karyanya yang paling ia sukai.

Judul: Cecilia & Malaikat Ariel
Judul asli: Through A Glass, Darkly
Penulis: Jostein Gaarder
Penerjemah: Andityas Prabantoro
Penerbit: Mizan
Terbit: Desember 2008
Tebal: 210 hlm

Note: Review ini terbit sesaat setelah Natal, dan ini merupakan proyek baca bareng BBI (Blogger Buku Indonesia). Maka aku sekaligus ingin mengucapkan: SELAMAT HARI NATAL 2011 bagi semua yang merayakannya. Semoga dengan kesadaran baru lewat buku ini, hati kita menjadi tempat yang layak bagi Yesus mungil yang lahir di hari Natal ini!

Thursday, December 22, 2011

Ziarah (The Pilgrimage)

Menurut John C. Maxwell dalam bukunya: The Success Journey (Perjalanan Menuju Sukses), kesuksesan itu bukanlah tujuan melainkan perjalanan. Kesimpulan yang sama kuperoleh setelah membaca buku karya Paulo Coelho ini: The Pilgrimage atau Ziarah.

Dalam The Pilgrimage, Paulo Coelho mengisahkan perjalanan ziarahnya sendiri demi memenuhi syarat untuk menjadi Guru suatu ordo yang disebut RAM (Regnum Agnus Mundi) yang berada di bawah naungan persaudaraan besar di dunia yang disebut “Tradisi”. Awalnya Coelho—sang narator di buku ini, sudah dalam tahap penobatan sebagai Guru, ketika ia melakukan sebuah kesalahan besar. Sebagai Guru, Coelho akan menerima sebuah Pedang. Sayangnya, karena ia terlalu bangga dengan pencapaiannya, ia jadi serakah dan ingin segera memiliki Pedang itu. Guru-nya pun akhirnya membatalkan penobatan, dan menyuruh Coelho berjuang kembali dari awal untuk menemukan Pedangnya—yang akan disembunyikan di suatu tempat. Itu berarti Coelho harus meninggalkan seluruh kehidupannya termasuk keluarga dan pekerjaan, untuk menjalani ziarah selama beberapa bulan. Maukah Coelho mengambil resiko besar itu? Mampukah ia menemukan Pedangnya?

Mendapatkan Pedang memang tujuan dari ziarah itu, namun perjalanan itu sendiri yang sebenarnya harus dilalui oleh Coelho untuk mencapai impiannya. Ziarah yang ia lakukan adalah rute perjalanan abad pertengahan yang terletak di Spanyol, disebut sebagai Jalan Misterius Menuju Santiago. Pada abad pertama dulu, umat Kristiani—seperti halnya umat Muslim, juga diharapkan melakukan peziarahan suci. Ada 3 rute yang bisa dipilih: pertama menuju pusara Santo Petrus di Roma, kedua menuju Makam Suci Kristus di Yerusalem, dan ketiga menuju jasad salah satu murid Yesus yang bernama San Tiago (St. Yakobus) dikuburkan di Iberia, Spanyol. Jalan Santiago ini disebut juga sebagai Jalan Bimasakti karena rasi bintang itu dibuat acuan pagi peziarah di malam hari. Jasad itu berada di Katedral Santiago de Compostela yang terkenal di Spanyol.

Perjalanan dimulai dari kota di perbatasan Prancis dan Spanyol: Saint-Jean-Pied-de-Port. Di sini Coelho pertama kalinya bertemu dengan Petrus, pemandunya. Bersama mereka berjalan kaki menaiki gunung, menuruni lembah, bahkan ‘menjinakkan’ air terjun. Hanya berbekal ransel, mengenakan pakaian sederhana dan lambing kerang yang menunjukkan identitas seorang peziarah, membawa makanan seadanya, dan tidur di mana saja. Dalam perjalanan itu berkali-kali Coelho mengalami cobaan. Salah satunya dari iblis yang disebut Legiun (karena jumlahnya banyak) yang merasuk ke dalam seekor anjing. Berkali-kali Coelho bertemu dengan si anjing, dan selama itu keduanya “bertarung”.

Di sisi lain, Petrus juga mengajarkan sebelas ritual RAM yang akan membantu Coelho dalam perjalanan spiritualnya. Coelho bahkan memberikan langkah-langkah setiap latihan itu di buku ini.

Namun halangan terbesar bagi Coelho untuk mendapatkan pedang itu sebenarnya justru berasal dari dirinya sendiri. Ia—seperti halnya kita semua, salah dalam merumuskan tujuan hidup kita. Pikiran Coelho selama perjalanan selalu fokus pada ‘menemukan Pedang’. Ia lupa untuk merenungkan apa yang hendak ia perbuat dengan Pedang itu untuk kebaikannya dan dunia, yang seharusnya merupakan tujuan utama dari segala ziarah dan ritualnya itu.

Jadi, berhasilkah Coelho menyelesaikan perjalanan dan menemukan Pedang itu? Dan mampukah ia mengalahkan Legiun? Semuanya dituliskan dengan cukup apik oleh Coelho. Meski agak membosankan karena tak begitu mengerti tentang ritual mistik ini, kurasa Coelho telah berhasil membuat pengalaman ziarahnya menjadi semacam kisah yang seru dan tegang, namun juga mengandung permenungan bagi kita semua. Meski aku tak ingin menjalani ziarah dan melakukan ritual-ritual itu, aku jadi diingatkan kembali akan cinta agape, akan perseteruan antara yang baik dan jahat dalam diriku, juga akan bagaimana aku menjalani hidup ini.

Tiga bintang untuk The Pilgrimage!

Judul: Ziarah (The Pilgrimage)
Penulis: Paulo Coelho
Penerjemah: Eko Indriantanto
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Februari 2011
Tebal: 263 hlm

Thursday, December 15, 2011

Zero Moment: The Joshua Files #3

"Aku ingin berenang melawan arus waktu" adalah ungkapan seorang penulis bernama Italo Calvino, yang mengekspresikan keinginannya untuk kembali ke masa lampau dan menghapus peristiwa-peristiwa yang menyebabkan kesulitan pada masa sekarang. Seberapa sering anda merasakan hal seperti itu juga? ‘Andai dulu aku tak mengatakan itu...; andai dulu aku melakukan A, bukannya B...’, dan andai-andai yang lain. Kadang ketika kita mengurai benang kusut kesulitan yang sedang kita alami, kita akan tiba pada kesimpulan bahwa peristiwa X itulah yang memulai segalanya. Itulah "titik nol"nya. Kalau aku bisa menghapus titik nol itu, semua kesulitan dan masalah ini takkan terjadi. Begitulah yang sering kita pikirkan, sama halnya yang dipikirkan oleh Joshua Garcia di buku ketiga The Joshua Files karya M.G. Harris: Zero Moment (Titik Nol).

Masih ingat kan dengan petualangan remaja asal Spanyol, yang ternyata keturunan bangsa Maya dan menemukan inskripsi Maya (Codex Ix) yang meramalkan kehancuran dunia pada tahun 2012? (Anda bisa membaca dulu review bagian pertama dan keduanya). Setelah momen yang membuat shock Joshua di Gunung Orizaba yang melibatkan ayahnya, Josh seolah ingin menghapus semua tentang Ek Naab dan Codex Ix dari ingatannya, dan (mencoba) kembali menjadi remaja biasa di Oxford, Inggris. Ia masih suka berlatih capoeira, dan sedang menghadapi kompetisi capoeira tingkat dunia yang akan diadakan di Brazil. Namun sebelum itu terjadi, tiba-tiba Ixchel (masih ingat kan cewek manis bangsa Maya yang menemani Josh di petualangannya di Ice Shock?) menghubungi Josh lewat serangkaian e-mail, yang lalu berlanjut lewat chat room 3D.

Dan sedikit demi sedikit kita dibawa ke suasana hati Josh yang telah mulai berkenalan dengan cinta. Asyik juga mengikuti pergolakan masa remaja (yang dulu pun pernah kita semua rasakan) yang terjadi dalam diri Josh. Di satu sisi mati-matian menutupi perasaannya pada si cewek, tapi di sisi lain mati-matian juga mengharapkan perhatian si cewek. Marah ketika si cewek terlihat akrab bersama cowok lain, tapi ketika si cewek berusaha mendekat, malah bersikap kasar pada si cewek. Begitulah kira-kira yang terjadi pada Josh dan Ixchel saat mereka berdua, bersama Mum (ibu Josh), Tyler, Benicio, dan Montoyo pergi ke Brazil dalam rangka kejuaraan capoeira itu. Josh merasa bingung dengan perasaannya saat itu, dulu ia dan Ixchel adalah teman, lalu mengapa tba-tiba ada perasaan yang berbeda tumbuh di hatinya?

Untuk sejenak, kita dibawa pada kehidupan normal Josh dkk. Namun hal itu tak lama, karena dalam sebuah perjalanan wisata dengan naik buggy (kendaraan khusus padang pasir), terjadilah hal yang tak diinginkan. Karena marahan pada Ixchel dan Mum, Josh memutuskan pindah ke buggy Montoyo dan Benicio. Ternyata dalam perjalanan itu, penumpang buggy satunya (Mum, Ixchel dan Tyler) diculik!

Maka dimulailah petualangan yang mendebarkan yang disuguhkan dengan apik oleh M.G. Harris. Seperti dapat ditebak, insiden penculikan itu sebenarnya ditujukan pada Josh, karena Sekte Huracan (musuh Ek Naab yang ingin merebut Codex Ix) memang mengincar Josh untuk dijadikan bahan riset. Taruhannya adalah Josh menyerahkan diri, atau penculik akan membunuh sandera, yang adalah tiga orang yang sangat disayangi Josh: ibunya, ceweknya, sahabatnya. Apa keputusan Josh?

Selain itu, Josh masih tetap memiliki keinginan untuk memperbaiki Gelang Itzamna--yang ia dapat dari ayahnya di Gunung Orizaba dalam keadaan rusak. Hanya dengan gelang itulah, ia meyakini dirinya akan dapat berjalan menembus waktu. Josh percaya, keinginan ayahnya sewaktu mereka berpisah di Gunung Orizaba, adalah agar Josh melakukan perjalanan waktu ke masa lampau (titik nol), dan mengubah jalannya sejarah agar apa yang terjadi di Gunung Orizaba tak perlu terjadi. Semakin lama tekad Josh untuk itu makin kukuh, meski Ixchel dan Tyler mengkhawatirkannya.

Maka petualangan pun segera pindah ke Ek Naab lagi. Kali ini Tyler mendapat kesempatan berkunjung ke sana bersama Josh. Namun, alih-alih mengalami liburan, ia harus mengarungi petualangan berbahaya bersama Josh dan yang lainnya. Semuanya berawal dari SMS yang diterima Josh di ponsel Ek Naab-nya, yang sepertinya mengarahkan Josh untuk menemukan sesuatu yang amat penting. Kejar-kejaran full action, termasuk perjalanan menembus waktu yang bikin deg-deg-an, semuanya ada di buku ketiga ini!

Sungguh, buku ketiga The Joshua Files ini menurutku lebih menegangkan dari kedua buku sebelumnya. Bahaya-bahaya yang dihadapi Josh lebih serius, dan keberanian serta percaya diri tampaknya juga mulai muncul dalam diri Josh. Tapi yang paling unik, sisi remaja Josh juga mengemuka di sini. M.G. Harris sangat memahami para pembacanya yang mayoritas remaja. Empat bintang buat Josh dan M.G. Harris! Moga-moga buku keempat dan kelimanya akan lebih memukau dari tiga seri sebelumnya.

Judul: The Joshua Files #3: Zero Moment
Penulis: M.G. Harris
Penerjemah: Nina Andiana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Oktober 2011
Tebal: 368 hlm

Monday, December 5, 2011

Casper: Si Kucing Lucu Penumpang Bus

"Hargailah apa yang kaumiliki, raihlah cinta di mana kau menemukannya dan selalu luangkanlah waktumu walau sejenak untuk mengagumi seekor kucing yang cantik ketika ia berlalu di hadapanmu. Karena siapa tahu, kucing itu memiliki sesuatu untuk diajarkan kepadamu...." Itulah pesan Casper--Si Kucing Lucu Penumpang Bus kepada kita, manusia. Dan seperti yang ia katakan, aku pun telah belajar sesuatu dari Casper, dengan membaca buku ini. Buku yang berisi kisah nyata Casper dari penuturan "mama"nya, Susan Finden.

Meski menjadi alasan buku ini ditulis, Casper tak serta merta memenuhi seluruh halaman buku ini. Susan Finden juga mengisahkan sekelumit kisah hidupnya, terutama yang banyak dipengaruhi oleh kehadiran kucing peliharaannya. Susan memang pecinta kucing, dan Chris--suami keduanya ternyata amat mendukungnya. Susan dan Chris bukan hanya memelihara kucing agar terhibur dengan kecantikan dan kelucuan mereka saja. Ada misi mulia yang mereka emban. Latar belakang Susan merawat kaum lansia dan orang dewasa dengan ketidakmampuan belajar, membuatnya ingin memelihara kucing tua atau yang penyakitan. Kucing-kucing ini bukanlah jenis yang banyak dipilih orang untuk dipelihara. Namun Susan senang memelihara mereka, karena ingin mencurahi mereka dengan kenyamanan dan kasih sayang, terutama di penghujung hidup mereka yang malang.

"Dengan merawat kucing-kucing liar tua, kuharap aku dapat memperbaiki berbagai ketidakadilan yang telah mereka alami selama bertahun-tahun. Dengan memberikan kasih sayang dan perawatan selama hari-hari terakhir mereka, aku sendiri mendapatkan sejumlah kesenangan dan kepuasan." (Susan) ~hlm. 13.

Casper masuk ke kehidupan Susan dan Chris setelah ia dijemput dari rumah penampungan, di mana ia dipanggil Morse. Begitu tiba di rumah barunya, Susan langsung menyadari bahwa "Morse" suka mengilang tiba-tiba bak hantu. Karena itulah nama "Casper" (si hantu cilik) pas juga disematkan pada kucing berbulu hitam putih yang keras kepala ini.

Sejak itu, Casper menjadi kucing kesayangan Susan. Susan menguraikan secara detail sifat-sifat unik Casper, yang di antaranya tak suka dikekang, dan suka berkelana. Kebiasaan terakhir itu dipergoki Susan ketika ia pergi ke klinik kesehatan, dan menemukan kucingnya sedang duduk manis di kursi ruang tunggu, seolah ia memang langganan klinik itu. Keluarga Finden sendiri suka berpindah-pindah rumah, dan ketenaran Casper akan dimulai ketika mereka pindah ke kota Plymouth.

Rumah Susan yang baru ini letaknya persis di seberang halte bus. Tanpa sepengetahuannya, Casper sering menyeberang ke halte, mengantre untuk masuk bus bersama penumpang lain, lalu duduk manis sambil menikmati perjalanan menyusuri kota, hingga bus kembali ke halte itu dan menurunkan Casper untuk pulang ke rumahnya. Para supir bus menikmati selingan lucu ini, para penumpang bus menyenangi kehadiran penumpang berbulu yang sering duduk di pangkuan mereka sambil membiarkan dirinya digendong dan dibelai. Casper bahkan punya kursi favorit-nya sendiri di bus itu! Yang lebih aneh lagi, Casper punya bus favorit juga. Ia hanya mau menumpang di bus First (di Plymouth ada 2 perusahaan yang mengoperasikan bus). Akhirnya terjadi hubungan simbiosis mutaulaistis antara Casper dan pengemudi/penumpang bus. Casper memberikan hiburan bagi pengemudi/penumpang, pengemudi/penumpang menjaga keselamatan Casper hingga pulang kembali ke rumahnya.

Casper duduk santai di kursi favoritnya


Casper menjelajahi bus-nya


Casper berfoto bersama "mama" Susan Finden, dan Rob--pengemudi First Bus kesayangan Casper

Kebiasaan Casper jalan-jalan "kelana kota" ini akhirnya tercium oleh media massa. Awalnya kisahnya diulas secara khusus di Plymouth Herald, koran lokal. Namun tak butuh waktu lama, kisah unik kucing yang menumpang bus ini tersebar ke seluruh penjuru Inggris, bahkan akhirnya ke seluruh dunia! Situs web BBC, Daily Telegraph dan Daily Mail ramai-ramai memungut kisah Casper dari Plymouth Herald. Bahkan konon Casper punya Page sendiri di Facebook! Jadilah Casper seekor selebritas dunia baru!

Apa yang terjadi pada Casper setelahnya? Yah...tak ada yang berubah sih. Dia tetap saja hobby kabur dari rumahnya, tetap doyan rolade kalkun sehingga tak bisa menolak tiap kali dirayu Susan untuk pulang, dengan sepotong rolade kalkun. Ketenaran tak berarti apa-apa bagi Casper. Itulah salah satu perbedaan besar kucing dengan manusia. Seringkali kupikir, kucing lebih bijak daripada manusia, karena ia tahu mana yang penting dan mana yang tak penting dalam hidup. Dalam hatinya sendiri, Casper memandang sinis perhatian berlebihan dan kehebohan di sekitarnya. Tunggu dulu! Darimana aku tahu bahwa Casper berpikir begitu? Oh...itu karena di buku ini, beberapa bab didedikasikan khusus untuk Casper. Maksudnya? Maksudnya, Casper ikut mengeluarkan uneg-unegnya tentang hidupnya, juga menuliskan tips-tips untuk hidup bersama manusia, bagi teman-teman kucingnya. Lucu bukan? Ini cuplikannya,

"Menyelinap keluar ketika manusia mengurus bulu kepala mereka, menggambari wajah masing-masing, memilih apa yang harus dikenakan, atau salah satu dari banyak hal lain yang menurutku hanya membuang-buang waktu mereka setiap harinya..." ~hlm. 138.

Lalu akhirnya? Yah...seperti banyak kisah tentang hewan peliharaan lainnya, kita harus siap-siap menangis ketika Casper harus meninggalkan dunia ini, dan pergi ke "titian bianglala". Konon kesanalah hewan peliharaan "pergi", untuk kelak bertemu kembali dengan pemiliknya. Manis ya?

Hidup seekor kucing memang sangat singkat, namun dalam waktu yang singkat itu rupanya Casper telah banyak mempengaruhi manusia. Di tengah kerasnya hidup jaman ini, Casper menawarkan "oase" yang menyegarkan. Hanya dengan menjadi dirinya sendiri, Casper melembutkan hati banyak orang dan mengeluarkan kebaikan mereka semua bagi dunia. Dari buku ini pula, aku menyadari bahwa hewan pun memiliki karakter unik, seperti manusia. Karakter itu dibangun, seperti manusia, lewat pengalaman masa lampau dan lingkungan di mana ia sebelumnya tinggal.

Yang memprihatinkan, adalah masih banyak orang yang tak peduli pada hewan peliharaan, khususnya kucing. Di Inggris saja, tak ada hukuman bagi pengemudi yang menabrak kucing; lain halnya bila yang ditabrak anjing. Wah, apalagi di negara kita, menabrak manusia pun, pengemudi masih bisa lolos dari jerat hukum!

Aku memberikan 3 bintang bagi Casper. Yang kusayangkan hanya porsi untuk "curhat" Casper tidak banyak. Menurutku, akan jauh lebih menarik kalau porsi Casper diperbanyak, ketimbang membaca porsi Susan yang agak membosankan karena pengulangan dan terlalu banyak isi surat yang ditulis di sini (padahal isinya hampir sama).

Video tentang Casper:


Judul: Casper--Si Kucing Lucu Penumpang Bus
Penulis: Susan Finden (dituliskan oleh Linda Watson-Brown)
Penerjemah: Nadya Andwiyani
Penyunting: Anton Kurnia
Penerbit: Serambi
Terbit: September 2011
Tebal: 300 hlm

Friday, November 11, 2011

The Abduction: Theodore Boone 2

Theodore Boone, si pengacara cilik, kembali diajak beraksi oleh “ayah”nya, maestro kisah-kisah thriller hukum favoritku: John Grisham. Setelah berhasil memecahkan misteri sebuah kasus pembunuhan di buku pertama: Theodore Boone: Pengacara Cilik, kali ini Theo menghadapi sebuah kasus penculikan.

Masih ingat teman cewek Theo yang bernama April? Di buku pertama, April yang tumbuh di keluarga yang tidak bahagia, sempat dimunculkan oleh Grisham. Kali ini ia menjadi salah satu tokoh utamanya. April diceritakan tiba-tiba menghilang pada suatu malam, hanya beberapa jam setelah mengobrol di telepon bersama Theo. Minggatkah ia? Tapi ia tak membawa barang-barangnya. Diculikkah ia? Tapi rumahnya tak menampakkan tanda-tanda pengrusakan. Bisa jadi April diculik oleh seseorang yang ia kenal. Siapa?

Hampir bersamaan waktunya dengan menghilangnya April, seorang narapidana yang kabur dari penjara, sempat terlihat di Stattenburg, kota tempat Theo dan April tinggal. Kebetulan sekali si narapidana adalah sepupu jauh April yang pernah menjadi sahabat pena si gadis. Diakah penculiknya?

Sebagai sahabat terdekat April, menghilangnya gadis itu membuat Theo sedih dan tak bersemangat. Di sekolah ia menggagas gerakan pencarian terhadap April di seluruh kota. Suatu hari, Theo dan beberapa temannya menyaksikan evakuasi seonggok jenazah dari dalam sungai oleh polisi. Runtuhlah pertahanan Theo, tertusuk hatinya, yang membuatnya menangis tersedu-sedu di depan sketsa coretan April yang tergantung di kamar kerjanya, sambil tangannya menelusuri tulisan nama “April” di sketsa itu. Sebuah momen emosional dan personal dari Theo. Sungguhkah April sahabatnya telah pergi selamanya? Seisi sekolah, teman, guru, kepala sekolah Theo semuanya mendadak sedih.

Di tengah kesedihan itu, Ike Boone (masih ingat Paman Ike?)-- paman Theo yang mantan pengacara dan memiliki banyak “koneksi” di “jalanan”, tiba-tiba memanggil Theo. Ia menyampaikan kabar bahwa mayat yang ditemukan polisi bukan mayat April. Berarti ada kemungkinan April masih hidup. Lalu di manakah ia? Benarkah si narapidana menculiknya? Kalau bukan, lalu siapa? Di saat polisi sibuk sendiri dengan si narapidana, Theo Boone lah yang harus memecahkan teka-teki di balik penculikan sahabatnya, April.

Boleh dibilang, The Abduction ini lebih banyak menampilkan petualangan daripada proses hukum. Theo si Pengacara Cilik, sepertinya berubah menjadi Theo Si Detektif di buku ini. Peran Theo sebagai “pengacara” hanya muncul pada waktu ia membela burung beo milik teman sekolahnya yang digugat karena mengganggu. Adegan di Pengadilan Hewan ini mau tak mau membuatku terpingak-pingkal saking lucunya, saat Peter si burung beo tampil sebagai “terdakwa”. Ulah lucu Peter mau tak mau membawa keceriaan sejenak, setelah nuansa sedih yang kental karena hilangnya April.

Meski tak terlalu “hukum” seperti kakaknya (Theodore Boone 1), namun The Abduction ini lebih emosional dan lebih menyentuh. Dengan penculikan April, kurasa Grisham mau menggaris bawahi pentingnya hubungan yang harmonis dan kasih sayang dalam keluarga. Bagaimana kemesraan hubungan dalam keluarga berperan sangat penting bagi pertumbuhan emosional dan kejiwaan bagi seorang anak. Sekali lagi, John Grisham berhasil menyentuh hati kita dengan buku-bukunya, tak peduli lewat cerita yang “berat” seperti The Chamber, atau lewat kisah yang sederhana seperti The Abduction ini. Empat bintang untuk Theo Boone!

Judul: Theodore Boone: The Abduction
Penulis: John Grisham
Penerjemah: Monica Dwi Chresnayani
Editor: Dini Pandia
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Juni 2011
Tebal: 230 hlm

Monday, October 31, 2011

Comanche Heart

Melanjutkan kisah cinta lintas budaya dan ras dari Catherine Anderson, inilah Comanche Heart --bagian kedua dari Comanche Moon yang berkisah tentang dua “kutub” yang selalu bertolak belakang: ras kulit putih dan ras Indian. Di Comanche Moon, dengan apik Anderson telah menciptakan tokoh Hunter Wolf yang menurut ramalan akan menemukan jodoh wanita kulit putih; dan Loretta—si mata biru yang menjadi jodoh Hunter. Di samping itu Anderson juga menyertakan tokoh Amy Masters, sepupu Loretta, yang bernasib malang karena diculik dan diperkosa oleh 23 orang Comanchero, sebelum akhirnya diselamatkan oleh Hunter.

Di Comanche Moon, Amy yang mengalami trauma sedikit demi sedikit menemukan ketenangan berkat Swift Antelope muda. Keduanya kemudian saling mencintai dan bertunangan secara Comanche. Sayangnya, peperangan memisahkan mereka berdua hingga lima belas tahun lamanya.

Memasuki bagian kedua, Comanche Heart lebih fokus mengisahkan perjuangan Swift dan Amy untuk menyelamatkan cinta mereka yang, bukan saja terpisahkan oleh jarak dan waktu, namun juga budaya dan trauma. Lima belas tahun berlalu, dan kini suku Comanche tinggal kenangan. Swift yang kini menyandang nama Swift Lopez berkelana dalam kerasnya kehidupan di dataran Amerika. Ia telah menjadi pria yang matang dan gagah, serta dikenal sebagai penembak tercepat yang –menurut desas-desus—telah membunuh lebih dari seratus pria!

Seusai perang, ia berniat menjemput tunangannya di kediaman Henry Masters, namun dengan pilu menemukan kabar bahwa Amy telah meninggal karena kolera. Patah hati, Swift pun akhirnya berkelana hingga ke Oregon, tempat di mana Hunter dan Loretta menetap dan telah membangun keluarga, bahkan membangun sebuah kota kecil yang diberi nama Wolf’s Landing. Tak dinyana, sang pujaan hati ternyata selama ini masih hidup, sehat walafiat, telah tumbuh menjadi wanita dewasa, dan menjadi guru sekolah. Amy ternyata menetap tak jauh dari rumah Hunter dan Loretta.

Jangan bayangkan pertemuan keduanya bak adegan di sinetron remaja yang berlarian menghambur ke pelukan masing-masing sambil bertangisan. Tidak…jauh dari itu! Swift memang amat bahagia bertemu Amy, namun sebaliknya, Amy sangat ketakutan bertemu kembali dengan Swift. Nah, di sinilah nilai tambah novel ini yang membedakannya dari historical romance biasa yang hanya berbicara tentang romansa cinta. Comanche Heart lebih berbicara tentang kondisi psikologis seorang Amy yang telah mengalami peristiwa yang amat dahsyat di masa lalu, dan bagaimana seorang wanita menghadapinya. Yaitu dengan menciptakan kondisi keamanan yang palsu, seperti keteraturan, rutinitas dan kepastian, lalu membungkus diri dengannya dan bersembunyi di dalamnya.

Amy memang selalu mengenang Swift, namun Swift muda yang polos, tenang dan tulus. Berhadapan dengan Swift Lopez si pria penuh tekad, malah membuat Amy bersikeras hendak memutuskan janji pertunangan mereka. Adalah sebuah tantangan besar bagi Swift untuk mencoba memahami Amy, mencari akar masalah dan ketakutan Amy, dan memaksanya keluar dari “tabung kaca” yang seolah menyelubungi kehidupannya selama ini. Karena sesungguhnya, cinta Swift untuk Amy sangatlah besar, yang bisa kita rasakan lewat apa yang Swift katakan pada Amy waktu Amy menolaknya:

“Minta aku untuk memotong tangan kananku untukmu, dan aku akan melakukannya. Minta aku untuk mengorbankan nyawaku untukmu, dan aku akan melakukannya. Tapi, kumohon, jangan meminta aku untuk menyerahkanmu sekarang setelah aku menemukanmu kembali. Jangan minta aku melakukan itu, Amy.”

Mampukah Swift sekali lagi masuk ke kehidupan Amy? Apa yang sebenarnya dialami Amy, selain peristiwa pemerkosaan Comanchero itu yang membuatnya begitu ketakutan? Dan dengan cara bagaimana Swift mampu melelehkan kebekuan dalam diri Amy? Dengan Comanche Heart, Catherine Anderson berhasil keluar dari mendayu-dayunya cinta, dan menyajikan sebuah contoh lain cinta yang luar biasa: cinta yang merendahkan diri, cinta yang mau berkorban, cinta yang mau bersabar, cinta yang menyelamatkan.

Dengan membaca Comanche Heart, sekali lagi Catherine Anderson mengingatkan kita pada masalah perbedaan budaya di masyarakat mana pun di dunia. Namun di sisi lain, ada juga tantangan yang harus dihadapi pasangan yang berbeda latar budaya. Mereka harus bersedia untuk berkorban, menerima budaya pasangannya, tanpa sekalipun melepaskan identitas dirinya sendiri. Dalam hal ini aku kagum pada sosok Hunter. Hidup di daerah kulit putih, ia bersedia untuk beradaptasi dengan lingkungannya, namun dalam hatinya, Hunter tetaplah seorang Comanche. Hal itu tercermin dari tepee (pondok ala Indian) yang terletak di samping rumah keluarga Wolf, tempat Hunter kadang-kadang menyendiri, agar ia tetap memiliki ke-‘Comanche’-annya.

tepee Indian suku Comanche

“Di sini adalah tempat di mana aku menemukan diriku sendiri. Aku hidup di satu dunia, tetapi hatiku kadang-kadang merindukan yang lain.”

“Dunia itu [Comanche] masih ada, dan selama anak-anakku hidup, dunia itu akan terus ada, karena aku menyanyikan lagu-lagu bangsaku dan mengajarkan anak-anakku cara-cara mereka.“

Terus terang, dibandingkan Comanche Moon, novel ini kurang “Comanche”. Settingnya saja sudah sepenuhnya di Amerika, begitu juga tokoh-tokohnya. Membaca tentang Hunter dan Swift, rasanya mereka sudah jauh lebih “Amerika”, karena identitas khas Indiannya sudah luntur. Mungkin kesan itulah yang membuat Comanche Heart menjadi sedikit kurang romantis dibanding pendahulunya. Tiga bintang untuk buku ini!

Judul: Comanche Heart
Penulis: Catherine Anderson
Penerjemah:
Penerbit: Dastan Books
Terbit: Maret 2011
Tebal: 476 hlm

Friday, October 14, 2011

The Remains Of The Day

Seandainya seseorang bertanya pada anda: “Manakah yang terpenting bagi anda, hidup pribadi atau karier anda?” –jawaban apakah yang akan anda berikan? Sebelum anda memberikan jawaban apapun, ada baiknya kita bersama menelaah perjalanan hidup seorang kepala pelayan Inggris abad 20 bernama Stevens, yang dikisahkan dengan indah oleh Kazuo Ishiguro lewat buku ini: The Remains of The Day.

Stevens adalah contoh seorang kepala pelayan terhormat, tak bercacat yang bisa anda jumpai bila anda hidup di kalangan bangsawan di Inggris pada pertengahan abad 20. Setelah selama tiga puluh tahun mengabdi pada seorang Lord Darlington di Darlington Hall, Stevens telah mengalami tak terhitung banyaknya acara-acara penting yang menjadi saksi sejarah. Kini Darlington berganti pemilik, dan Stevens pun kini mengabdi pada Mr. Farraday, seorang pengusaha Amerika. Atas kebaikan hati Mr. Farraday, Stevens diijinkan berkendara dengan mobil Ford sang bos untuk pergi berlibur.

Bila awalnya sempat ada keraguan, sepucuk surat dari mantan koleganya--Miss Kenton yang menyiratkan perkawinannya yang tak bahagia, membulatkan tekad Stevens untuk pergi berlibur. Dalam perjalanan tiga hari menuju ke daerah West Country Inggris menuju rumah Miss Kenton inilah Stevens memiliki kesempatan untuk berhenti sejenak berkutat dengan pekerjaannya, dan lebih banyak merenungkan seluruh hidupnya selama menjadi kepala pelayan.

Ada satu hal yang selama ini menjadi obsesi pribadi Stevens, yakni: martabat. Bagi Stevens, puncak karir bagi seorang kepala pelayan adalah saat ia menjadi kepala pelayan yang bermartabat. Untuk dapat mencapainya, salah satunya dengan mengabdi pada majikan yang tepat, yakni di rumah para bangsawan dan orang terhormat. Di sisi lain, martabat adalah suatu aura atau karakter yang dimiliki seseorang. Panutan Stevens untuk kepala pelayan bermartabat adalah ayahnya sendiri.

Dari cerita Stevens tentang si ayah, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa bagi Stevens deskripsi bermartabat adalah: menjaga profesionalitas kapan pun juga kecuali ketika si kepala pelayan sedang menikmati privasi kamarnya sendiri. Di luar itu, dalam kondisi apapun, kepala pelayan tak sepatutnya menunjukkan emosi, entah saat ia marah, takut, atau sedih. Hanya ketenangan yang harus ia tampakkan. “Topeng” profesionalitas itu harus dipakai selama berada di luar kamar tidurnya.

Bagi Stevens, profesionalitas kepala pelayan akan teruji saat terjadi hal-hal dramatis dalam sebuah acara penting. Contoh ketika Lord Darlington mengadakan acara makan malam rahasia yang menjadi cikal bakal Konferensi Maret 1923; sebuah konferensi yang hendak memprotes hukuman bagi Jerman untuk membayar “denda” yang bertentangan dengan perjanjian damai Versailles usai Perang Dunia I. Acara di Darlington Hall malam itu sangat penting, dan tentu saja membuat Stevens sangat sibuk. Namun, sayangnya sesuatu yang amat pribadi dan penting bagi Stevens harus memilih malam itu untuk terjadi. Dapat diduga, Stevens si kepala pelayan sempurna terpaksa harus mengedepankan tanggung jawabnya dan mengorbankan kepentingannya sendiri.

Jadi begitulah…sementara Stevens berkendara melewati daerah pedesaan dan kota-kota kecil yang menyuguhkan pemandangan indah dan keramahan penduduknya, ingatan si kepala pelayan pun melayang pada momen-momen kecil sepanjang perjalanan karirnya. Kalau kita amati, sepertinya kehadiran Miss Kenton yang menjadi koleganya, menempati porsi terbesar dalam nostalgia Stevens. Dan kini, saat pertemuan dengan Miss Kenton makin mendekat, kenangan-kenangan itu pun seolah bercerita pada kita tentang perasaan Miss Kenton yang sebenarnya pada Stevens. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?

The Remains of The Day ini ditulis dengan gaya buku harian. Seolah-olah Stevens menumpahkan seluruh kenangan dan pemikirannya lewat buku harian ini. Ishiguro dengan piawainya membuatku seolah-olah mengenal Stevens dengan baik selama bertahun-tahun. Seolah-olah aku adalah temannya, dengan siapa ia berbagi pandangan hidup, perasaan dan pikirannya. Meski beralur lambat, aku tetap setia membaca “buku harian” ini. Bravo Ishiguro, empat bintang untukmu!

Judul: The Remains of The Day
Judul terjemahan: Puing-Puing Kehidupan
Penulis: Kazuo Ishiguro
Penerjemah: Femmy Syahrani
Penerbit: Hikmah
Terbit: Januari 2007
Tebal: 336 hlm

Thursday, September 15, 2011

Arsene Lupin

Mari sejenak mengamati cover buku ini. Topi tinggi, kacamata pince-nez, kumis. Kira-kira bayangan apa yang terbersit di benak anda melihat gabungan ketiga komponen itu? Seorang gentleman? Berarti anda sudah menebak setengah benar. Gambar cover itu sendiri menyiratkan sesuatu yang kocak. Di Goodreads, beberapa orang meletakkan buku ini di shelf misteri, kisah detektif. Apakah itu berarti ini kisah detektif yang kocak? Tiga perempat benar. Yang paling tepat, Arsene Lupin adalah kisah tentang seorang pencuri!

Bukan sembarang pencuri, Arsene Lupin yang tinggal di Prancis adalah pencuri terhebat di dunia. Sesosok karakter yang diciptakan Maurice Leblanc dan mulai diperkenalkan pada tahun 1905 dalam bentuk cerita pendek berseri yang terbit di majalah dan diberi judul Je Sais Tous. Arsene Lupin yang diterjemahkan Penerbit Bukune ini merupakan karya Edgar Jepson, yang menggunakan tokoh ciptaan Maurice Leblanc. Jadi buku yang judul aslinya adalah Arsène Lupin: The Book of the Play ini bukanlah murni karya Maurice Leblanc.

Keunikan Arsene Lupin adalah ia mencuri hanya dari orang-orang kaya yang serakah, kemudian hasil curiannya ia bagikan kepada orang miskin, mirip tokoh Robin Hood. Modal utama Arsene Lupin adalah kepiawaiannya dalam menyamar dan kecepatan tangannya. Modal lainnya adalah seleranya yang tinggi terhadap benda-benda seni dan buku, sehingga ia bisa menilai lukisan mana yang bernilai tinggi, mana yang tidak. Di buku ini banyak bertebaran karya-karya para maestro dunia seperti Rembrandt, Velasques, dll.

Kisah diawali di chateu milik Duke Jacques Charmerace. Sore itu undangan perkawinan sang Duke dengan Germaine, putri jutawan M. Gournay-Martin, sedang dalam pengerjaan. Saat itulah pertama kalinya Germaine dan Sonia, pengurus rumah tangganya, menyadari adanya keanehan di chateu itu. Patung perak yang berpindah tempat, kaca jendela yang dipotong, keanehan-keanehan kecil yang sepele.

Lalu masuklah ke dalam kisah ini, Duke Charmerace yang eksotis dan tampan, baru saja pulang dari petualangan Kutub Selatan. Malam itu ia menghadiahkan kalung dengan bandul mutiara kepada Germaine, tunangannya yang judes dan manja. Namun di sisi lain sang Duke malah mulai memperhatikan Sonia-si pengurus rumah tangga cantik yang rapuh, dengan ketertarikan yang lebih daripada seorang majikan kepada pelayan…

Malam itu pula pertama kalinya Duke mendengar kisah tentang seorang Arsene Lupin, yang pernah merampok lukisan dan benda berharga milik M. Gournay-Matin tiga tahun lalu. Tepat setelah itu datanglah bapak dan anak-anak keluarga Charolais yang ingin membeli mobil yang diiklankan oleh M. Gournay-Martin. Salah satu anak laki-lakinya tertangkap basah ketika menyambar kotak berisi kalung berbandul mutiara yang dihadiahkan Duke untuk Germaine. Untungnya usaha pencurian itu digagalkan sang Duke.

Namun, ketika M. Gournay-Martin lagi-lagi menerima surat dari Arsene Lupin yang mengatakan dirinya akan datang ke rumahnya di Paris untuk “mengambil” lukisan-lukisan sekaligus mahkota Princesse de Lamballe yang amat bernilai, otomatis para Charolais yang pernah mencuri itu patut dicurigai. Apakah salah satu dari mereka adalah Lupin?

Sesungguhnya Arsene Lupin memiliki musuh bebuyutan. Seorang Kepala Kepolisian bernama Guerchard telah sepuluh tahun lamanya selalu gagal meringkus Lupin, yang membuat Guerchard akhirnya terobsesi pada Lupin. Sebagai reaksi surat terakhir Lupin, Duke mengajukan diri untuk bermobil ke Paris dan memanggil polisi untuk melindungi rumah M. Gournay-Martin. Sementara itu calon mertuanya, Germaine dan Sonia akan menyusulnya kemudian.

Betapa terkejutnya Duke, Hakim Pemeriksa Formery dan Guerchard sendiri ketika menemukan bahwa mereka datang terlambat. Rumah M. Gournay-Martin telah dijarah oleh Arsene Lupin! Belum puas ia mempermalukan polisi, Arsene Lupin pun mengirim telegram yang mengatakan bahwa ia akan datang keesokan harinya pukul dua belas malam untuk mengambil mahkota yang berharga itu.

Kini para polisi dan Guerchard beradu kecerdikan dengan Arsene Lupin. Penyelidikan terus berlangsung, namun keberadaan Lupin belum jua ditemukan, sementara jarum jam semakin merambat ke arah pukul dua belas malam. Siapakah yang akan menang, Guerchard atau Arsene Lupin? Dan siapakah sebenarnya Arsene Lupin yang menurut Guerchard memiliki kelemahan terhadap wanita? Akankah ia akhirnya tertangkap?

Arsene Lupin di beberapa film, pencuri yang ganteng seperti ini lebih tepat mencuri hati ya?


Begitu banyak kisah detektif yang telah kubaca, sungguh menarik bisa membaca kisah seorang pencuri. Dari biasanya “mengejar”, kini pembaca diajak menikmati sensasi “dikejar”. Dan kisah ini menjadi lebih berwarna karena hadirnya sepercik romansa di tengah serunya pengejaran.

Terus terang saja, aku masih penasaran dengan versi Arsene Lupin yang asli, karangan Maurice Leblanc. Kisah yang kubaca ini kurang tepat disebut kisah misteri, karena dalam kenyataannya aku –mungkin anda juga—langsung bisa menebak sosok Lupin ini ketika masih di pertengahan cerita. Endingnya tak menyisakan misteri, hanya tegangnya pengejaran dan duel Lupin vs Guerchard saja. Bagaimana pun ini kisah yang unik dan nikmat dibaca. Tiga bintang kusediakan untuk dicuri Arsene Lupin!

----

Sedikit catatan untuk penerbit Bukune, aku suka dengan desain sampul yang ringkas tapi lucu ini. Hanya saja aku agak terganggu dengan banyaknya typo yang bertebaran di sana-sini. Semoga Bukune tak berhenti menerbitkan kisah Arsene Lupin lainnya, yang pastinya akan jauh lebih baik dari yang sekarang.

Judul: Arsene Lupin
Penulis: Edgar Jepson & Maurice Leblanc
Penerjemah: Sissy Jaslim
Penerbit: Bukune
Terbit: Juli 2011
Tebal: 304 hlm