Showing posts with label Epik. Show all posts
Showing posts with label Epik. Show all posts

Thursday, September 1, 2011

Age of Bronze 1: A Thousand Ships

Setiap peristiwa besar yang terjadi di dunia pastilah memiliki awal mula. Begitu juga Perang Troy yang amat termashyur dalam mitologi Yunani itu. Kita sudah sering mendengar, membaca bahkan menonton tentang perang itu, namun mungkin kita belum memahami bagaimana awal mula perang itu terjadi. Seorang ilustrator andal bernama Eric Shanower telah menelurkan sebuah novel grafis yang membuat kita memahami kisah epik kuno ini dengan lebih mudah dan dapat lebih menikmati alur ceritanya lewat gambar yang amat detail serta dialog yang gamblang.



"Aku mau ke Troy", itulah kata-kata Paris, seorang anak gembala kerbau sederhana bernama Agelaus yang tinggal di gunung Ida, yang mengawali perang Troy. Pada suatu hari pegawai kerajaan meminta kerbau keramat milik Agelaus untuk dijadikan hadiah pertandingan di kerajaan. Tak rela kerbau yang sedianya akan mereka korbankan direbut oleh Raja, berangkatlah Paris ke ibukota Troy untuk mengikuti pertandingan demi merebut kembali si kerbau keramat. Ia didampingi ayahnya, dan diiringi tangis Oenone kekasihnya yang telah meramalkan perang dan bahaya yang mengancam Paris.



Di Troy, Paris benar-benar menunjukkan kehebatannya dan berhasil memenangkan si kerbau keramat, namun putra-putra Raja tidak terima dan hendak membunuhnya. Di saat genting itu Agelaus mengingatkan Raja tentang peristiwa kelahiran Paris. Maka terungkaplah bahwa Paris sesungguhnya adalah putra Raja Priam yang dulu hendak dibunuh. Singkat kata Paris pun menjadi Pangeran di kerajaan Troy.



Beberapa bulan kemudian Paris diutus Priam ayahnya untuk menculik Hesione, kakak perempuan Priam yang masih tertawan di Achaea (Yunani). Pada saat itu Achaea dan Troy telah menandatangani perjanjian damai. Namun ternyata bukan Hesione yang dibawa pulang Paris, justru Helen, wanita tercantik sedunia yang menjadi istri raja Sparta (Lakedaemon): Menelaus lah yang diculik Paris. Menelaus meradang, dan mendesak Agamemnon, Raja Agung Achaea untuk berperang melawan Troy. Mengetahui ini, Priam mengutus pendetanya bernama Kalchas untuk pergi ke Achaea menjadi mata-mata.



Penculikan Helen bisa terjadi karena sebelum itu tiga dewi memperebutkan apel emas sebagai simbol pemiliknya adalah yang tercantik. Dan Paris lah yang ditugasi oleh para dewa untuk memilih pemenang yang berhak mendapatkan apel itu, apakah Hera, Athena atau Aphrodite. Masing-masing dewi menjanjikan hadiah bagi Paris bila ia memilih mereka. Akhirnya Paris memilih Aphrodite yang menjanjikannya seorang istri wanita tercantik di dunia, yakni Helen. Maka bahkan sebelum Paris menginjakkan kaki ke Sparta, Aphrodite sudah membuat Helen terbakar oleh api cinta pada Paris, dan yang membuatnya memutuskan melarikan diri bersama Paris.



Di sisi lain, Thetis, seorang pendeta wanita mendapatkan penglihatan tentang perang besar yang akan terjadi, memohon dewa angin Poseidon untuk mendatangkan badai ke samudra, dan menggoncangkan kapal yang membawa Paris pulang. Mengapa ia melakukan ini? Tak lain untuk melindungi putra tercintanya Achilles, buah cintanya dengan Peleus, yang menurut penglihatannya akan terlibat dalam perang besar itu, dan akan mati di medan perang.



Maka Thetis membawa Achilles ke Skyros di bawah perlindungan Lykomedes, dan menyamarkannya sebagai anak perempuan bernama Pyrrha. Di sana ia jatuh cinta pada putri Lykomedes yang bernama Deidamia, dan akhirnya memiliki putra yang dinamai Neoptolemus (Pyrrhus). Kelak Achilles ditakdirkan sebagai kunci kemenangan bagi negara-negara persekutan Achaea dalam perang Troy, berkat penglihatan Kalchas --sang pendeta Troy yang diutus menjadi mata-mata ke Achaea.



Sementara itu Agamemnon sedang menyusun kekuatan, mengumpulkan sekutu dan pasukan di pihaknya. Pertanyaannya mungkin, mengapa begitu banyak kerajaan yang mau membantu Agamemnon dalam perang karena urusan pribadi ini? Semuanya berawal ketika Helen dulu hendak dinikahkan oleh ayahnya, raja Sparta Tyndareus. Karena begitu banyak raja yang melamar Helen, dan takut akan terjadi pertikaian, maka raja-raja peminang Helen itu bersumpah akan mengangkat senjata seandainya kelak Helen direbut dari tangan raja yang berhasil menikahinya. Dan kini ternyata si pangeran Troy lah yang menculik Helen.



Tokoh kunci lainnya dalam peperangan besar itu adalah Odysseus, raja Ithaka dan suami Penelope, yang akhirnya berhasil dibujuk Agamemnon untuk ikut berperang. Lumayan menarik kisah Odysseus ini, yang sempat berpura-pura gila ketika dikunjungi Agamemnon demi menghindarkan diri untuk maju perang. Ia dulu merupakan pencetus ide "sumpah para raja" saat pernikahan Helen, namun justru karena itulah ia mendapatkan seorang istri yang dicintainya, dan terpaksa harus ditinggalkannya bila ia maju perang.



Namun akhirnya Agamemnon berhasil membujuk Odysseus. Kemudian Odysseus bersama Diomedes, dua raja yang sama-sama memihak Achaea, berangkat ke Skyros untuk menjemput Achilles. Di Skyros penyamaran Achilles akhirnya terungkap, dan ia pun dinikahkan dengan Deidamia sebelum berangkat ke Achaea untuk menjadi salah satu komandan pasukan sekutu di bawah Agamemnon.



Sempat mengalami kekurangan bahan pangan, namun --karena perang ini merupakan kehendak para dewa-- akhirnya pasukan pun siap untuk berangkat ke medan perang. Tepat sebelum mereka berangkat, seorang peramal memperoleh penglihatan bahwa butuh waktu sembilan tahun bagi Achaea untuk berperang melawan Troy, sebelum akhirnya pada tahun ke sepuluh Troy akan jatuh ke tangan Achaea. Dan di sinilah bagian pertama Age of Bronze ini berakhir...



Seperti kita ketahui, kisah-kisah dalam mitologi Yunani telah diceritakan selama berabad-abad, dan makin lama makin banyak hiasan, tambahan di sana-sini. Aku membayangkan kisah-kisah itu bagaikan potongan-potongan puzzle yang bertebaran dalam banyak karya tulis, dongeng lisan maupun pentas sandiwara. Seperti itulah kira-kira yang dilakukan Eric Shanower demi membawa epik ini ke abad kedua puluh satu. Tak ada yang tahu pasti hingga kini apakah semua kisah yang memiliki banyak percabangan ini sungguh-sungguh terjadi, atau manakah yang benar-benar sejarah dan mana yang fiksi?



cuplikan adegan di novel grafis ini, menampilkan Helen of Sparta dan Paris, Pangeran Troy



Mungkin semuanya tak penting lagi, namun yang jelas dari potongan-potongan puzzle itu, Eric telah mempersembahkan kisah yang menarik dan cukup manusiawi untuk kita nikmati. Bahkan detail seperti bentuk bangunan, cara berpakaian atau ciri wajah tokoh-tokoh di epik ini bukan sembarangan dipilih Erik, melainkan melalui riset yang mendalam. Tak lupa Eric juga mencantumkan pula silsilah dan daftar nama pelaku dalam epik ini untuk mempermudah kita. Salut pada Eric Shanower, yang membantu kita memahami latar belakang Perang Troy. Sekaligus bagi anda yang ingin membaca karya Homer: Iliad dan Odyssey, ada baiknya anda membaca novel grafis ini sebagai referensi. Empat bintang untuk novel grafis ini!





Judul: Age of Bronze 1: A Thousand Ships

Judul terjemahan: Jaman Perunggu 1: Seribu Kapal

Penulis/ilustrator: Eric Shanower

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Mei 2007

Tebal: 225 hlm

Thursday, August 25, 2011

The Palace of Illusions


Di dunia ini ada satu hal yang paling kejam, yaitu balas dendam! Kisah epik Mahabharata mungkin paling pas untuk menjelaskan kepada kita bagaimana dahsyatnya akibat dari balas dendam. Bagaimana kebencian dan cinta mampu mengubah sejarah sekaligus para pelakunya.



Di jaman patriarkis yang kuat saat itu (sekitar abad ketiga), sosok wanita bernama Dropardi terlihat menonjol. Dengan keeksotisan warna coklat kulitnya, dengan caranya “lahir” ke dunia yang tak lewat rahim seorang ibu, dengan cara berpikir yang keluar dari pakem kaum perempuan, dengan perkawinannya dengan lima lelaki sekaligus, namun terutama dengan pengaruhnya yang besar dalam menyulut perang besar antara Pandawa dan Korawa di padang Kurukshetra. Dari sudut pandang wanita macam inilah, kisah epik ini dikisahkan kembali dengan apik oleh seorang penulis wanita asal India: Chitra Banerjee Divakaruni.


Seperti cara kemunculannya ke dunia yang eksotis --yakni melalui api-- Dropadi, putri Raja Panchala memang selalu berbeda dari wanita lainnya. Semenjak kecil ia diramalkan akan menikah dengan lima pria dan akan mengubah sejarah dunia. Tak seperti perempuan pada umumnya, Dropadi lebih suka berdiskusi dengan Dre kakaknya, juga dengan Krishna, pria keturunan dewa yang selalu menjadi sahabat dan pelindung Dropadi yang sejati.


Takdir mulai berbicara ketika tiba hari Dropadi harus mencari suami lewat sayembara yang sulit. Saat itu hanya Arjuna, putra ke-3 Pandawa bersaudara, ksatria yang akan mampu memenanginya. Sayangnya Pandawa sedang berada dalam masa pengasingan akibat saudara sepupu mereka, Korawa yang jumlahnya 100 orang, merebut takhta Hastinapura. Namun banyak orang terkejut ketika seorang pemuda bernama Karna mengikuti sayembara itu dengan penuh percaya diri. Dropadi sebenarnya berharap pemuda tampan ini menjadi suaminya, namun ia terikat pada takdir yang mengharuskannya menikah dengan Arjuna (cara politis melebarkan “sayap” kerajaan adalah dengan perkawinan).


Demi menghalangi Karna yang ngotot mengikuti sayembara, terlontarlah hinaan pedas dari mulut Dropadi yang menyakitkan bagi Karna. Itulah yang kelak menjadi cikal bakal bibit kebencian, balas dendam dan akhirnya perang. Sementara itu, Arjuna yang menyamar karena berada dalam persembunyian dari para Korawa, akhirnya memenangkan sayembara dan memboyong Dropadi sebagai istrinya.


Tak dinyana, Kunti –ibu Pandawa—meminta kelima anaknya menikahi Dropadi bersama-sama, karena dari kecil mereka sudah dididik untuk sama-rata-sama-rasa. Jadi, selain menjadi istri Arjuna, Dropadi juga akan menjadi istri Yudistira –si sulung yang bijak, Bima yang impulsif, dan saudara kembar: Nakula dan Sadewa. Dropadi yang awalnya merasa terhina karena merasa bak piala bergilir, harus pasrah menerima takdirnya. Bersama Pandawa ia pernah menjadi Ratu di Indraprashta, negara baru yang dibangun Pandawa karena Korawa mengambil hak mereka atas takhta Hastinapura. Di sini Dropadi menikmati keberlimpahan hidup dalam Istana Khayalan, istana terindah di dunia yang dibangun dengan sihir, persis seperti istana yang selalu dikhayalkan Dropadi.


Namun kebahagiaan tak berumur panjang, suatu hari Duryodana –Raja Hastinapura dan putra sulung Korawa—mengundang mereka berlibur ke kediamannya. Di sini satu-satunya kelemahan Yudistira, yaitu kegemarannya berjudi, dimanfaatkan dengan cerdiknya oleh Duryodana yang selalu dibantu pamannya yang culas: Sangkuni. Pada hari menentukan itu, Yudistira yang sudah kehilangan akal sehat, terpaksa menyerahkan berturut-turut kekayaan negaranya, kerajaannya, bahkan dirinya sendiri dan saudara-saudaranya serta Dropadi, untuk menjadi budak Korawa.


Malang bagi Dropadi, Karna mengambil kesempatan ini untuk membalas dendam dengan mempermalukan Dropadi di hadapan banyak orang. Ia menghasut Dursasana –adik Duryodana—untuk membuka kain sari Dropadi dan menelanjanginya. Namun karena bantuan para dewa (Krishna?), kain sari yang melilit tubuh Dropadi tak habis-habisnya meski ditarik terus oleh Dursasana. Hingga Dursasana pingsan, Dropadi tetap berpakaian. Namun penghinaan itu adalah penghinaan terbesar bagi seorang perempuan, apalagi Dropadi adalah seorang Ratu. Maka tak heran kalau Dropadi meyakinkan suami-suaminya untuk membalaskan dendam baginya dengan mengobarkan perang. Perang yang akan membawa kehancuran besar di abad itu, perang yang membunuh banyak orang tak berdosa. Semuanya gara-gara balas dendam yang berawal dari kebencian: perang Mahabharata di padang Kurukshetra….


Sebenarnya kisah epik asli Mahabharata ini sangat panjang dan melibatkan banyak sekali tokoh. Aku ingat di masa kecilku, cergam Mahabharata (terdiri dari 4 buku) dan Bharata Yudha (terdiri dari 3 buku) menjadi favoritku, dan telah kubaca berkali-kali hingga akhirnya hafal luar dalam. Cergam itu karya RA Kosasih dan alih-alih berpakaian ala India, RA Kosasih mendandani tokoh-tokohnya ala busana adat raja-raja di Jawa. Mungkin karena kisah itu sudah terpaku demikian dalam dalam benakku selama ini, menjadikanku agak sulit membaca The Palace of Illusions ini secara obyektif. Contoh sewaktu Dropadi dipermalukan, aku terus membayangkan yang ditarik Dursasana adalah kain kemben, alih-alih sari.



salah satu contoh isi cergam Mahabharata, lihat pakaian mereka, busana khas Jawa kan?


Lagipula, terbiasa membaca cergam yang panjang dengan detil emosional yang mengagumkan dari RA Kosasih, rasanya agak hambar ketika membaca Mahabharata yang dimampatkan menjadi sebuah novel. Hal ini terasa terutama saat perang berlangsung. Anda takkan bisa merasakan kengerian perang itu hanya dari ilustrasi Dropadi yang terasa singkat di buku ini. Namun di sisi lain, sisi emosional tokoh-tokoh utama justru lebih tergali di buku ini.


Cergam Bharata Yudha (khusus tentang perangnya), dengan gambar cover Krishna saat menjadi kusir kereta Arjuna ketika berhadapan dengan Karna. Inset: gambar kakek Bisma




Anda jadi akan mengenal karakter Dropadi yang keras kepala dan selalu ingin menjadi beda, Krishna yang selalu tenang, misterius sekaligus senang bergurau. Atau Bima yang lugu, Arjuna yang mengagungkan keahliannya, dan sebagainya. Sebagai bonus, yang tak mungkin anda dapatkan di versi cergam, adalah sepercik roman. Di buku ini Divakaruni mencoba mereka-reka pria mana yang selama ini selalu mendapat tempat istimewa di hati Dropadi, sekaligus pria (-pria) mana saja yang benar-benar mencintai Dropadi, entah cinta berbalut hasrat atau cinta sejati. Mengingat kebanyakan orang sudah pernah mengenal epik Mahabharata, bisa jadi bumbu roman inilah yang menjadi kekuatan buku ini.

Bagaimanapun, Dropadi adalah seorang wanita, dan hanya seorang penulis wanita lah yang dapat menggambarkan sisi kewanitaannya dengan baik. Empat bintang untuk buku ini!



Judul: The Palace of Illusions (Istana Khayalan)
Penulis: Chitra Banerjee Divakaruni
Penerjemah: Gita Yuliani K.
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Juli 2009
Tebal: 493 hlm

Thursday, July 14, 2011

The Heike Story

"Perang akan terus terjadi hingga manusia belajar untuk menghilangkan keserakahan dan kecurigaan dari hati mereka. Selama anak masih meragukan ayah mereka, dan ayah meragukan anak mereka, tak ada yang bisa menghentikan sanak saudara menjadi musuh bebuyutan. Selama majikan, pelayan dan teman-teman tidak saling mempercayai, maka tanpa pertumpahan darah sekalipun, kehidupan di dunia ini akan menjadi neraka."

Itulah yang akan anda temukan hampir di sepanjang buku ini. The Heike Story ini merupakan sebuah epic novel yang ditulis oleh Eiji Yoshikawa dari sudut pandang salah satu klan samurai paling berpengaruh di Jepang pada abad 12, yaitu klan Heike. Pada saat itu, kondisi sosial dan politik khususnya di ibukota Kyoto sedang dalam keadaan carut marut. Secara teori Kaisar memang berkuasa di istananya, namun sebenarnya roda pemerintahan dipegang oleh para bangsawan Fujiwara yang menduduki pos-pos strategis di pemerintahan. Namun kekaisaran ini juga memiliki “bayangan”. Mantan kaisar juga ingin tetap memiliki kekuasaan. Beliau memiliki istana juga yang disebut Istana Kloister. Untuk urusan militer, kedua kaisar mengandalkan pengabdian para samurai untuk melindunginya serta memerangi musuhnya. Musuh itu bisa berarti dari pihak oposisi, tapi kadang kala para biksu juga bisa saja mengangkat senjata untuk memberontak. Untuk membuatnya lebih ruwet lagi, sesama anggota salah satu klan samurai bisa saja membela 2 pihak yang berlawanan. Contohnya ketika Genji Tameyoshi yang membela Mantan Kaisar harus berhadapan dengan putranya: Yoshitomo yang membela Kaisar, dalam peristiwa Hogen.

Kiyomori: Pemimpin Heike yang sukses

Di masa itu ada 2 klan samurai besar yang saling berkompetisi dan bermusuhan: klan Heike dan klan Genji. Kisah ini dibuka saat pamor Heike sedang kalah cemerlang dari Genji. Pemimpin Heike saat itu adalah Tadamori, seorang pria miskin bertubuh kecil dan pendiam. Namun tokoh yang akhirnya membawa klan Heike ke tempat tertinggi dan mengalahkan Genji, adalah putra Tadamori yang bernama Kiyomori. Kiyomori sebenarnya bukan putra kandung Tadamori. Ibu Kiyomori dulunya merupakan gundik Kaisar, dan setelah Kiyomori, yang merupakan buah cinta mereka, lahir, Kiyomori dan ibunya di”titip”kan pada Tadamori. Kiyomori kecil sering berkeliaran di jalanan Kyoto sebagai bocah miskin yang kurus kering, nyaris tak nampak sebagai putra samurai. Saat beranjak remaja, ia pun mulai bekerja bersama ayahnya melayani junjungan mereka. Dan saat Tadamori meninggal, Kiyomori pun menjadi kepala klan Heike dan resmi terjun ke dalam politik.

Kesempatan pertama bagi Kiyomori untuk menunjukkan kekuatannya adalah ketika terjadi semacam pemberontakan biksu-biksu bersenjata dari Gunung Siei yang hendak menyerang Istana Kloister. Sebagai pengawal Mantan Kaisar, Kiyomori pun maju untuk meredakan pemberontakan itu, juga karena anggota klannya lah yang telah membangkitkan amarah para biksu itu. Kiyimori berhasil melakukannya dengan penuh keberanian serta taktik yang jitu, dan bahkan melahirkan pujian dan rasa hormat dari beberapa biksu Gunung Hiei sendiri. Di kemudian hari, apa yang telah ia tabur dalam insiden pada hari itu, akan mendatangkan hasil yang manis dalam kiprahnya yang lain.

Setelah itu kemashyuran dan kemakmuran klan Heike pun melaju dengan pesat. Kepercayaan dari kekuasaan tertinggi makin besar, penghormatan dari rakyat pun makin banyak, dukungan dari luar pun mengalir. Contohnya dari saudagar kaya yang bernama Bamboku (si Hidung Merah) yang menjadikan Kiyomori patron sekaligus sahabat. Bamboku mungkin satu-satunya orang yang mengenal karakter asli Kiyomori. Bagiku pribadi, justru karakter si tokoh ini yang menarik, ketimbang intrik yang rumit. Dari muda Kiyomori selalu rikuh saat menghadapi wanita. Boleh dibilang kelemahan Kiyomori adalah wanita cantik. Tokiwa adalah kekasih (gundik) samurai Genji Yoshitomo yang tewas dikalahkan Heike. Tokiwa aslinya adalah geisha yang terkenal sangat cantik. Ia memohon pada Kiyomori agar ketiga putra Yoshitomo diampuni (biasanya keturunan pihak yang kalah juga akan dihukum mati). Berkat kecantikan Tokiwa yang rapuh, hati Kiyomori pun meleleh. Ia membebaskan ketiga putra Tokiwa dan mengasingkan mereka di biara. Tokiwa sendiri akhirnya dijadikan gundik oleh Kiyomori. Meski keputusannya tidak membunuh keturunan Yoshitomo ini dipuji banyak orang, namun terbukti bahwa keputusan itu kelak akan membawa malapetaka bagi klan Heike.

Di luar itu, Kiyomori punya kepribadian yang sederhana, blak-blakan dan ceria, membuatnya gampang disukai orang lain. Aku selalu senang membaca dialog antara Kiyomori dan Bamboku, layaknya mendengarkan guyonan dua sahabat yang saling menggoda. Aku juga kagum pada impian dan visi Kiyomori yang ingin membangun kota pelabuhan dekat perbatasan Cina, yang memungkinkan mereka bisa berdagang dengan Cina. Entah bagaimana nasib impiannya ini, karena tak diungkapkan di buku ini (moga-moga terjawab di buku lanjutannya). Paling tidak, Kiyomori tak melulu berpikir seperti seorang samurai yang hanya berperang saja. Kiyomori jauh daripada itu, ia adalah seorang pemimpin yang bervisi. Terbukti selama bertahun-tahun di bawah pengaruh Heike, rakyat mengalami hidup penuh kedamaian. Kiyomori memang tidak sempurna. Ia punya kelemahan, tapi bukankah kiprah seorang pemimpin dilihat dari hasilnya?....

Rajutan cerita ala Eiji Yoshikawa

Yang membuat buku ini menjadi demikian tebal (750 hlm), adalah karena kisahnya jadi melebar ke tokoh-tokoh yang nampaknya di luar tokoh utama kita. Contohnya kisah Morito, teman seangkatan Kiyomori di akademi samurai, yang membunuh wanita yang dicintainya sampai akhirnya menjadi biksu. Atau kisah Asatori, juru kunci Istana Mata Air Dedalu yang akhirnya menjadi tabib. Keduanya seolah tak ada hubungannya dengan tokoh utama, hingga aku awalnya bertanya-tanya mengapa kisah mereka dikisahkan dengan begitu detail? Setelah kurenungkan, mungkin semua tokoh yang diceritakan ini memang memiliki keterkaitan pada kisah utama, dan berperan untuk membentuk kisah utama itu. Apalagi, kisah ini tak berhenti di buku The Heike Story aja, melainkan berlanjut ke buku berikut. Di sanalah mungkin tokoh-tokoh “sampingan” di buku ini akan ambil peranan yang lebih banyak.

Membaca buku ini memang butuh perhatian ekstra. Begitu banyak (sekaligus begitu cepat) intrik-intrik terbangun, kadang ke kanan, kadang ke kiri. Sampai-sampai kita akan bingung saat ini tokoh A sedang membela B atau C? Di sisi lain, penggambaran Eiji yang super detail di buku ini membantu kita untuk merasakan atmosfer kehidupan dan budaya di Jepang saat itu. Seringkali kita merasa diajak melewati mesin waktu dan ikut berjalan bersama Kiyomori muda di pasar atau menikmati segarnya air dari mata air Dedalu yang disodorkan dengan penuh ketulusan oleh Asatori.

Kekuasaan itu sia-sia…

Akhirnya, dengan membaca buku ini kita sampai pada satu kesimpulan: kekuasaan itu pada dasarnya sia-sia. Karena setinggi apapun kekuasaan, pasti akan ada batasnya. Lalu setelah itu: apa? Sementara pihak yang berkuasa terbuai dalam kekuasaannya, pihak yang dikalahkan akan membangun kekuatan untuk mencoba mengambil alih kekuasaan. Begitu terus, siklus itu akan berputar. Dan kalau begitu, perang akan terus ada, pembunuhan akan terus ada, balas dendam akan terus ada. Kekuasaan pada akhirnya sia-sia karena kehidupan ini akan terus berubah, tak ada yang kekal. Tepat seperti bagaimana Eiji Yoshikawa mengawali epic ini dalam versi aslinya:

“Lonceng kuil menggemakan betapa mudahnya segala sesuatu berubah. Warna-warni bunga menegaskan kenyataan bahwa apapun yang berkembang dengan indah akan membusuk di kemudian hari. Kebanggaan hanya sejenak bertahan, bagaikan mimpi di malam musim semi. Dalam waktu singkat, kedigdayaan akan surut, dan segalanya akan menjadi debu yang tertiup angin.”

***

Aku memberikan 4 bintang untuk buku ini. 3 untuk kisahnya, 1 untuk ketekunan Eiji Yoshikawa membangun dan mengembangkan alur cerita.

Judul: The Heike Story – Kisah Epik Jepang Abad Ke-12
Penulis: Eiji Yoshikawa
Penerbit: Zahir Books (Grup Penerbit RedLine)
Terbit: Juli 2010
Tebal: 750 hlm

Tuesday, June 28, 2011

Genghis Khan 1: Sang Penakluk

Aku sedikit mengenal tokoh pemersatu rakyat Mongol bernama Genghis Khan ini sejak kecil. Hanya saja, selama ini aku merasa ada dualisme dalam penilaian akan karakter Genghis Khan ini. Di satu sisi ia dianggap pahlawan, sementara di sisi lain ia adalah orang barbar. Mana yang benar? Mengapa satu orang yang sama bisa memiliki dua sisi sejarah? Mungkin ini alasannya…

It is hard to pass fair judgment on historical facts of which we have no eye witness (sulit juga membuat penilaian yang adil terhadap fakta sejarah yang tidak kita saksikan dengan mata kepala sendiri) ~Prakata

Beruntunglah kita, karena bulan April 2011 lalu Penerbit Bentang Pustaka telah menerbitkan versi terjemahan Buku Genghis Khan: Sang Penakluk ini untuk kita. Buku ini mengungkapkan sejarah seorang pria Mongolia bernama Temujin, yang kelak akan menjadi seorang penakluk terbesar yang pernah hidup di dunia: Genghis Khan. Luas wilayah yang pernah ia taklukkan sekitar 35.000.000 kilometer persegi -- 2,2 kali lebih besar daripada wilayah taklukan Alexander Agung, dan 6,7 kali lebih luas daripada wilayah yang berhasil dikuasai Napoleon Bonaparte. Kekaisaran Romawi bahkan hanya seperempatnya saja. Namun yang menurutku membuat Genghis Khan layak disebut hebat, bukan hanya luasnya wilayah taklukan, melainkan lebih pada kecerdikannya, kebijaksanaannya dalam memerintah, serta semangat, kesabaran, ketekunan dan keberanian dalam karakternya. Hanya lewat buku inilah kita akan melihat karakter Genghis Khan sebagai manusia. Dan hanya setelah membaca buku ini, anda akan memahami mengapa Genghis Khan disebut sebagai pahlawan.

Kisah diawali dengan memperlihatkan ordu (perkampungan/desa) Yesugei yang merupakan markas suku Mongol Kyat, sebagai salah satu yang terkuat pada sekitar abad ke duabelas. Saat itu adalah masa-masa para nomad yang mendiami Dataran Mongolia terpecah belah menjadi ratusan klan dan suku yang berbeda-beda sehingga sering terlibat dalam konflik berkepanjangan. Saat itu, yang kuat akan menghancurkan yang lemah. Sehingga yang lemah hanya punya dua pilihan: hancur atau bergabung pada kelompok yang lebih kuat. Semua orang, semua klan, semua suku tidak memiliki teman atau musuh yang tetap. Kawan hari ini bisa menjadi musuh esok hari bilamana berbeda pandangan, karena kalau kau tak menghancurkan pihak lain duluan, pihak lainlah yang akan menghancurkanmu. Karena situasi seperti inilah orang Mongolia terpecah belah, dan kalau hal itu berangsur-angsur terjadi, suku Mongolia akan punah selamanya.

Yesugei adalah salah seorang yang memiliki impian untuk menyatukan seluruh Mongolia. Yesugei memiliki beberapa putra dan putri. Salah satu putra yang dibanggakannya adalah Temujin, yang lahir dari istri kedua, seorang wanita bernama Ouluun. Dari semenjak kecil, Temujin telah menunjukkan kualitasnya sebagai calon pemimpin besar. Ia tak hanya terampil menunggang kuda dan memanah, namun kecerdasan dan karakter kuatnya sudah mulai memancar. Sepertiga dari awal buku ini dengan sangat detail menggambarkan kehidupan Temujin kecil. Bagaimana ia belajar segala sesuatu (saat itu tak ada sekolah) dari berbagai sumber. Ajaran ayahnya, dongeng dari ibunya, pengalaman di alam bebas bersama Mamay (paman dari pihak ibunya). Singkatnya, setiap hal yang dilihat, didengar dan dialaminya selalu dicerna dengan kritis, mengapa A terjadi? Mengapa B melakukan C? Temujin bukan hanya merenungkan misteri-misteri itu, namun ia selalu menemukan jawabannya untuk dimasukkan ke dalam memorinya. Pendek kata, tak ada hal yang luput dari perhatiannya.

Ketika usianya baru 9 tahun, Temujin sudah akan ditunangkan dengan seorang anak perempuan berusia 10 tahun dari suku Olqunuud, bernama Borte. Saat Yesugei pulang dari mengantarkan Temujin ke ordu calon mertuanya, ia diracun oleh orang Tartar yang menjadi musuh kaum Mongol Kyat. Seharusnya, Temujin adalah pewaris Yesugei, dan berhak menjadi pemimpin suku mereka. Namun, karena rakyat merasa mereka menjadi lemah setelah kematian Yesugei, banyak pendukung Yesugei yang meninggalkan ordu. Bahkan kerabat Temujin. Salah satu yang masih setia pada Temujin adalah Yamuka. Yamuka telah menjadi sahabat Temujin sejak kecil, mereka tumbuh bersama-sama. Mereka berdua bahkan telah menjadi anda. Anda adalah dua orang yang bersumpah setia menjadi saudara.
Dari antara kaum nomad yang bergabung dengan Yesugei saat masih hidup, adalah kaum Taichut. Kaum Taichut merupakan nokhod (orang bebas yang bisa pergi kapan saja mereka mau). Begitu Yesugei meninggal, kaum Taichut mengambil alih ordu Yesugei yang seharusnya menjadi milik Temujin. Temujin terpaksa melarikan diri bersama ibu dan sedikit orang yang masih setia kepadanya. Dari sebuah ordu yang memiliki lima belas ribu kepala keluarga dan merupakan salah satu yang terkuat, tiba-tiba keluarga Temujin jatuh ke jurang kemiskinan yang amat dalam. Ini karena di stepa berlaku hukum, bila suatu klan memenangkan peperangan, ia berhak atas pampasan perang dari pihak yang dikalahkan, berupa ternak, harta benda, termasuk orang (kecuali tentu saja bagi yang melarikan diri). Saking miskinnya, keluarga Temujin bahkan tak bisa makan daging domba dan sapi yang menjadi makanan pokok orang Mongolia. Kekalahan dari kaum Taichut itu bukanlah akhir dari peperangan mereka. Karena beberapa tahun kemudian, tatkala Temujin sudah berusia empat belas tahun, kaum Taichut kembali memburu ordu Temujin. Perjalanan terjal pun kembali harus dilalui Temujin. Dalam keadaan terdesak, ia mampu menyelamatkan keluarganya meski ia sendiri akhirnya tertangkap kaum Taichut. Namun berkat kebaikan salah seorang mantan pengikut Yesugei, ia pun dapat melarikan diri.

Setelah kembali kepada calon mertuanya dahulu, dan kali ini benar-benar mempersunting Borte, Temujin pun mulai berupaya mempersatukan kaum Mongolia, sebuah cita-cita yang diamanatkan oleh mendiang ayahnya. Sebuah usaha yang nampak sia-sia! Berjuang membangun ordu besar dari titik nol merupakan usaha luar biasa. Tapi untuk mempersatukan dataran Mongolia? Mustahil. Mungkin bagi sebagian besar orang, namun tidak bagi Temujin. Saat itu mungkin ia tak punya dukungan dan harta berlimpah, namun ia memiliki modal kuat yang tak dimiliki orang lain: Visi. Kalau pun anda-nya, Yamuka memiliki visi yang sama, namun ia hanya berhenti pada cita-cita itu saja. Sebaliknya, Temujin telah memikirkan langkah demi langkah yang harus dilakukannya untuk meraih cita-cita itu. Visi semata tidaklah cukup, orang harus memiliki visi yang jelas, dan tahu apa yang perlu dilakukannya, bagaimana cara terbaik untuk melakukannya, dan tentu saja yang terpenting: keberanian dan kesabaran untuk mewujudkannya. Itu semua dimiliki Temujin, dan dalam usia muda itu, ia segera melakukannya. Sedikit demi sedikit kehormatan dapat ia raih. Banyak orang yang dulu melarikan diri, kini kembali bergabung dengannya. Bahkan Toghrul Khan, pemimpin klan terbesar saat itu pun mengangkat Temujin menjadi anak angkatnya. Apakah dengan semua itu berarti ia telah sukses? Belum, perjalanan masih jauh. Temujin harus berkali-kali mengalami jatuh bangun, diserang, dan dikhianati. Kadang memenangi pertempuran, kadang juga dikalahkan. Bahkan Borte, istrinya, harus mengalami penculikan dan pemerkosaan ketika ordu mereka kalah. Semuanya itu hanya makin membuat semangat Temujin menggelora. Sayangnya kita belum dapat mengikuti kisah Temjujin dalam kiprahnya sehingga menjadi sang penakluk paling besar dan mashyur di dunia: Genghis Khan. Kisah ini harus berlanjut di buku kedua, sedang buku pertama ini memperlihatkan perjuangan dan jatuh bangun yang dialami Temujin dari sejak kecil.

Meski demikian, setelah membaca buku pertama inipun, aku jadi dapat melihat sosok Genghis Khan yang sebenarnya. Kalau orang menilainya kejam, sadis, bahkan barbar, menurutku itu karena kondisi pada saat itu yang mengharuskannya membunuh lawan-lawannya. Kita harus ingat, bahwa sebagian besar kaum nomad memang masih barbar saat itu. Untuk mempersatukan mereka, memang harus dengan jalan kekerasan. Kalau tidak, selamanya mereka takkan pernah bersatu, dan malah akan punah karena selalu terlibat konflik dengan sesama orang Mongolia sendiri. Toh meski harus membunuh lawan, ia melakukannya ketika perang atau bila orang tersebut akan membahayakan ordunya. Pada mantan musuh yang ia pandang akan setia, ia akan mengangkatnya menjadi anggota pasukannya.


Yang aku kagumi juga dari Temujin adalah perlakuannya terhadap para pengikutnya. Temujin menuntut kesetiaan mereka kepadanya, dan sebagai imbal baliknya ia memberikan keadilan dan perlakuan yang setara bagi semua orang. Bahkan ia sendiri mengenakan pakaian yang sama dan makan makanan yang sama seperti yang dimakan bahkan oleh penggembala lembu (yang termasuk warga paling rendah). Hal ini membuat pengikutnya memandang Temujin sebagai pemimpin yang adil dan mau berbela rasa, dan merupakan hal yang tak lazim, mengingat pemimpin lainnya pada saat itu hidup dalam kemewahan.

Akhirnya, dari buku pertama ini aku bisa memahami sudut pandang Temujin dalam keputusannya untuk menggunakan kekerasan dalam mempersatukan Mongolia. Seperti yang dikatakan oleh Sam Djang di awal tulisanku ini, memang sulit membuat penilaian yang adil terhadap fakta sejarah, jika tidak kita saksikan dengan mata kepala sendiri. Karena kita tak mungkin dapat kembali ke masa lampau, kita harus mengandalkan buku ini untuk membawa kita ke masa itu, ke salah satu masa sejarah paling keemasan di muka bumi ini. Salut pada Bentang yang telah menerjemahkannya dengan baik!

Judul: Genghis Khan 1: Sang Penakluk
Judul asli: Genghis Khan: World Conqueror, volume 1
Penulis: Sam Djang
Penerbit: Bentang Pustaka
Penerbit versi asli: New Horison Books, North Hills, 2010
Penerjemah: Reni Indardini
Terbit: April 2011
Tebal: 503 hlm