Showing posts with label Kisah Nyata. Show all posts
Showing posts with label Kisah Nyata. Show all posts

Monday, December 5, 2011

Casper: Si Kucing Lucu Penumpang Bus

"Hargailah apa yang kaumiliki, raihlah cinta di mana kau menemukannya dan selalu luangkanlah waktumu walau sejenak untuk mengagumi seekor kucing yang cantik ketika ia berlalu di hadapanmu. Karena siapa tahu, kucing itu memiliki sesuatu untuk diajarkan kepadamu...." Itulah pesan Casper--Si Kucing Lucu Penumpang Bus kepada kita, manusia. Dan seperti yang ia katakan, aku pun telah belajar sesuatu dari Casper, dengan membaca buku ini. Buku yang berisi kisah nyata Casper dari penuturan "mama"nya, Susan Finden.

Meski menjadi alasan buku ini ditulis, Casper tak serta merta memenuhi seluruh halaman buku ini. Susan Finden juga mengisahkan sekelumit kisah hidupnya, terutama yang banyak dipengaruhi oleh kehadiran kucing peliharaannya. Susan memang pecinta kucing, dan Chris--suami keduanya ternyata amat mendukungnya. Susan dan Chris bukan hanya memelihara kucing agar terhibur dengan kecantikan dan kelucuan mereka saja. Ada misi mulia yang mereka emban. Latar belakang Susan merawat kaum lansia dan orang dewasa dengan ketidakmampuan belajar, membuatnya ingin memelihara kucing tua atau yang penyakitan. Kucing-kucing ini bukanlah jenis yang banyak dipilih orang untuk dipelihara. Namun Susan senang memelihara mereka, karena ingin mencurahi mereka dengan kenyamanan dan kasih sayang, terutama di penghujung hidup mereka yang malang.

"Dengan merawat kucing-kucing liar tua, kuharap aku dapat memperbaiki berbagai ketidakadilan yang telah mereka alami selama bertahun-tahun. Dengan memberikan kasih sayang dan perawatan selama hari-hari terakhir mereka, aku sendiri mendapatkan sejumlah kesenangan dan kepuasan." (Susan) ~hlm. 13.

Casper masuk ke kehidupan Susan dan Chris setelah ia dijemput dari rumah penampungan, di mana ia dipanggil Morse. Begitu tiba di rumah barunya, Susan langsung menyadari bahwa "Morse" suka mengilang tiba-tiba bak hantu. Karena itulah nama "Casper" (si hantu cilik) pas juga disematkan pada kucing berbulu hitam putih yang keras kepala ini.

Sejak itu, Casper menjadi kucing kesayangan Susan. Susan menguraikan secara detail sifat-sifat unik Casper, yang di antaranya tak suka dikekang, dan suka berkelana. Kebiasaan terakhir itu dipergoki Susan ketika ia pergi ke klinik kesehatan, dan menemukan kucingnya sedang duduk manis di kursi ruang tunggu, seolah ia memang langganan klinik itu. Keluarga Finden sendiri suka berpindah-pindah rumah, dan ketenaran Casper akan dimulai ketika mereka pindah ke kota Plymouth.

Rumah Susan yang baru ini letaknya persis di seberang halte bus. Tanpa sepengetahuannya, Casper sering menyeberang ke halte, mengantre untuk masuk bus bersama penumpang lain, lalu duduk manis sambil menikmati perjalanan menyusuri kota, hingga bus kembali ke halte itu dan menurunkan Casper untuk pulang ke rumahnya. Para supir bus menikmati selingan lucu ini, para penumpang bus menyenangi kehadiran penumpang berbulu yang sering duduk di pangkuan mereka sambil membiarkan dirinya digendong dan dibelai. Casper bahkan punya kursi favorit-nya sendiri di bus itu! Yang lebih aneh lagi, Casper punya bus favorit juga. Ia hanya mau menumpang di bus First (di Plymouth ada 2 perusahaan yang mengoperasikan bus). Akhirnya terjadi hubungan simbiosis mutaulaistis antara Casper dan pengemudi/penumpang bus. Casper memberikan hiburan bagi pengemudi/penumpang, pengemudi/penumpang menjaga keselamatan Casper hingga pulang kembali ke rumahnya.

Casper duduk santai di kursi favoritnya


Casper menjelajahi bus-nya


Casper berfoto bersama "mama" Susan Finden, dan Rob--pengemudi First Bus kesayangan Casper

Kebiasaan Casper jalan-jalan "kelana kota" ini akhirnya tercium oleh media massa. Awalnya kisahnya diulas secara khusus di Plymouth Herald, koran lokal. Namun tak butuh waktu lama, kisah unik kucing yang menumpang bus ini tersebar ke seluruh penjuru Inggris, bahkan akhirnya ke seluruh dunia! Situs web BBC, Daily Telegraph dan Daily Mail ramai-ramai memungut kisah Casper dari Plymouth Herald. Bahkan konon Casper punya Page sendiri di Facebook! Jadilah Casper seekor selebritas dunia baru!

Apa yang terjadi pada Casper setelahnya? Yah...tak ada yang berubah sih. Dia tetap saja hobby kabur dari rumahnya, tetap doyan rolade kalkun sehingga tak bisa menolak tiap kali dirayu Susan untuk pulang, dengan sepotong rolade kalkun. Ketenaran tak berarti apa-apa bagi Casper. Itulah salah satu perbedaan besar kucing dengan manusia. Seringkali kupikir, kucing lebih bijak daripada manusia, karena ia tahu mana yang penting dan mana yang tak penting dalam hidup. Dalam hatinya sendiri, Casper memandang sinis perhatian berlebihan dan kehebohan di sekitarnya. Tunggu dulu! Darimana aku tahu bahwa Casper berpikir begitu? Oh...itu karena di buku ini, beberapa bab didedikasikan khusus untuk Casper. Maksudnya? Maksudnya, Casper ikut mengeluarkan uneg-unegnya tentang hidupnya, juga menuliskan tips-tips untuk hidup bersama manusia, bagi teman-teman kucingnya. Lucu bukan? Ini cuplikannya,

"Menyelinap keluar ketika manusia mengurus bulu kepala mereka, menggambari wajah masing-masing, memilih apa yang harus dikenakan, atau salah satu dari banyak hal lain yang menurutku hanya membuang-buang waktu mereka setiap harinya..." ~hlm. 138.

Lalu akhirnya? Yah...seperti banyak kisah tentang hewan peliharaan lainnya, kita harus siap-siap menangis ketika Casper harus meninggalkan dunia ini, dan pergi ke "titian bianglala". Konon kesanalah hewan peliharaan "pergi", untuk kelak bertemu kembali dengan pemiliknya. Manis ya?

Hidup seekor kucing memang sangat singkat, namun dalam waktu yang singkat itu rupanya Casper telah banyak mempengaruhi manusia. Di tengah kerasnya hidup jaman ini, Casper menawarkan "oase" yang menyegarkan. Hanya dengan menjadi dirinya sendiri, Casper melembutkan hati banyak orang dan mengeluarkan kebaikan mereka semua bagi dunia. Dari buku ini pula, aku menyadari bahwa hewan pun memiliki karakter unik, seperti manusia. Karakter itu dibangun, seperti manusia, lewat pengalaman masa lampau dan lingkungan di mana ia sebelumnya tinggal.

Yang memprihatinkan, adalah masih banyak orang yang tak peduli pada hewan peliharaan, khususnya kucing. Di Inggris saja, tak ada hukuman bagi pengemudi yang menabrak kucing; lain halnya bila yang ditabrak anjing. Wah, apalagi di negara kita, menabrak manusia pun, pengemudi masih bisa lolos dari jerat hukum!

Aku memberikan 3 bintang bagi Casper. Yang kusayangkan hanya porsi untuk "curhat" Casper tidak banyak. Menurutku, akan jauh lebih menarik kalau porsi Casper diperbanyak, ketimbang membaca porsi Susan yang agak membosankan karena pengulangan dan terlalu banyak isi surat yang ditulis di sini (padahal isinya hampir sama).

Video tentang Casper:


Judul: Casper--Si Kucing Lucu Penumpang Bus
Penulis: Susan Finden (dituliskan oleh Linda Watson-Brown)
Penerjemah: Nadya Andwiyani
Penyunting: Anton Kurnia
Penerbit: Serambi
Terbit: September 2011
Tebal: 300 hlm

Monday, August 29, 2011

Saga No Gabai Baachan

“Sebenarnya tidaklah sulit untuk mencapai ‘kehidupan yang baik’. Kita hanya perlu menikmati apa pun yang terjadi dalam hidup, menyantap dengan bersyukur makanan apa pun yang ada di depan mata, lalu hidup dengan tawa setiap harinya.”


Itulah isi buku ini bila hendak diringkas dalam dua kalimat. Itulah juga yang telah dipelajari, dihayati dan dipraktekkan oleh Yoshichi Shimada, penulis buku ini dalam hidupnya. Berbahagialah Yoshichi karena dalam awal-awal hidupnya ia boleh tinggal bersama neneknya, Nenek Osano. Sang neneklah yang mengajarkan semua falsafah sederhana ini, dan sekarang Yoshichi hendak membaginya untuk kita dalam kisah nyata Saga No Gabai Baachan ini…


Bom atom yang jatuh ke Hiroshima saat Perang Dunia II telah memporak-porandakan kehidupan banyak keluarga. Akihiro yang saat itu berusia delapan tahun kehilangan ayahnya, sehingga ibunya harus bekerja keras. Takut perkembangan Akihiro terganggu, sang ibu memutuskan menitipkan Akihiro pada ibunya (nenek Akihiro) yang tinggal di perkampungan kecil bernama Saga.


Kalau sebelumnya keluarga Akihiro terbilang miskin, kehidupan neneknya di Saga ternyata malah jauh lebih miskin lagi. Awalnya Akihiro berkecil hati dengan keadaan ini, namun herannya, sang nenek justru terlihat santai, tenang, ceria, dan….bahagia. Bagaimana bisa? Ternyata Nenek Osano memiliki filosofi tersendiri dalam menjalani hidup ini, yang intinya terletak pada kesederhanaan.


Di sepanjang buku ini anda akan melihat bagaimana sederhananya jalan pikiran Nenek Osano, cenderung unik sehingga cucunya sendiri sering terheran-heran. Nenek Osano berani melakukan hal-hal yang sederhana namun tak pernah terpikirkan oleh orang lain, lihat saja caranya sang nenek mendapat bahan makanan sehari-hari.


Kalau anda biasa menuju ke supermarket, begitu juga Nenek Osano. Hanya saja supermarket ala Nenek Osano bukan terletak di gedung megah, melainkan berada di sungai. Kalau anda mendapatkan sayur atau buah dengan membayarkan uang atau menggesek kartu kredit, Nenek Osano tak mengeluarkan sepeser pun uang. Caranya? Anda bisa menemukannya di buku ini. Memang itu bukan cara yang “elegan” untuk mendapatkan makanan, namun cara yang cerdik bagi kehidupan super miskin seperti Akihiro dan neneknya ketika itu.


Cara sederhana bin unik lainnya bisa anda lihat di cover buku ini. Tampak ilustrasi nenek Osano berjalan sambil menyeret magnet di ujung tali yang dililitkan ke pinggangnya. Sesuatu yang janggal, namun anda akan menemukan di buku ini, bahwa alasan dan tujuan sang nenek melakukan hal itu ternyata sederhana sekaligus logis sekali...


Membaca buku ini akan terasa sekali nuansa Jepang-nya. Bukan hanya dari budaya dalam kesehariannya, namun juga penerjemahan buku ini yang langsung diambil dari versi Jepangnya. Kental sekali nuansa dialog-dialog khas Jepang yang bertebaran di mana-mana. Singkat dan sopan, dan seringkali aku bahkan seolah melihat pelakunya mengatakan dialog itu sambil membungkuk pada lawan bicaranya, khas gerak tubuh orang Jepang.


Akhirnya, buku ini adalah jenis buku yang ringan untuk dicerna, namun sekaligus mengandung filosofi hidup yang ringan juga untuk dihayati. Anda merasa sudah punya (atau hampir punya) segalanya, tapi masih tidak bahagia? Nenek Osano siap membantu anda. Tapi…beli bukunya dulu, ya…


Tiga bintang buat Nenek Osano!


Judul: Saga No Gabai Baachan (Nenek Hebat Dari Saga)
Penulis: Yoshichi Shimada
Penerjemah: Indah S. Pratidina, Koordinator: Mikihiro Moriyama
Penerbit: Mahda Books (Penerbit RedLine)
Terbit: Mei 2011
Tebal: 245 hlm

Friday, June 3, 2011

The Innocent Man

Muak-ngeri-geram di awal. Bosan menggantikannya di pertengahan. Tapi mendekati akhir, trenyuh dan prihatin berganti menyeruak di dada. Akhirnya aku sampai pada pertanyaan: Masihkah ada keadilan di dunia ini? Semua kesan itu aku dapatkan ketika membaca karya John Grisham yang merupakan sebuah kisah nyata: The Innocent Man.

Jika kau percaya bahwa orang (di Amerika) tak bersalah, sampai dinyatakan bersalah, buku ini akan mengejutkanmu.
Jika kau percaya hukuman mati, buku ini akan mengusikmu.
Jika kau percaya sistem peradilan pidana itu adil, buku ini akan menyulut kemarahanmu.

Malam itu, 7 Desember 1982, sebuah pembunuhan terjadi di Ada, sebuah kota kecil di negara bagian Oklahoma, Amerika. Korbannya gadis bernama Debbie Carter, seorang waitress di bar bernama Coachlight. Keesokan harinya Debbie ditemukan tak bernyawa setelah diperkosa di apartemennya sendiri. Seperti biasa, proses penyidikan segera digelar, barang bukti diamankan, saksi-saksi (para pria tentunya) diwawancarai dan diminta menyerahkan sampel cairan tubuh, seperti layaknya prosedur tindak kriminal yang sering kita baca/tonton. Bedanya, dalam kasus ini polisi segera menjadi depresi karena setelah semua prosedur yang makan waktu lama itu dilalui, tak kunjung ditemukan seorang tersangka pun.

Maka mulailah mereka mengeluarkan "kreativitas" mereka dengan menyeret seorang pria yang sudah terkenal sebagai “troublemaker” karena suka mabuk-mabukan dan membuat keributan di bar. Alasannya gampang saja: Ron Williamson, nama pria itu, adalah tersangka yang besar kemungkinannya melakukan kejahatan itu. Pasti malam itu ia mabuk berat, lalu menginap di apartemen Debbie. Sesuatu yang seharusnya hanya dugaan, tiba-tiba berkembang menjadi obsesi polisi untuk secepatnya menetapkan tersangka. Apakah ada saksi yang melihat Ron pulang bersama Debbie malam itu? Tidak ada. Adakah yang melihatnya mendekati Debbie di bar? Tidak ada. Atau setidaknya adakah yang melihat Ron di Coachlight malam itu? Tak ada yang ingat. Lalu? Tak masalah. Ron tersangka yang sangat bagus, sekarang tinggal mendapatkan pengakuan darinya. Bagaimana kalau ia tak mengakui bahwa ia membunuh Debbie? Tak masalah. Polisi akan menerornya dengan bentakan dan ancaman yang persuasif hingga pada suatu titik, bahkan orang yang teguh pendiriannya pun akan menyerah dan membuat pengakuan yang lemah. Tak masalah. Pasti ada napi-napi lain yang bisa diancam untuk membual di pengadilan bahwa mereka mendengar Ron mengaku telah membunuh Debbie. Semua itu bisa direkayasa. Yang penting polisi telah menunaikan tugas.

Muak. Ngeri. Geram. Muak melihat kemalasan dan kebodohan polisi dalam melakukan tugas. Ngeri menyadari begitu gampangnya aparat hukum menjadikan seseorang yang tak berdosa tersangka pembunuhan. Geram membaca bahwa kebodohan dan ketidakadilan itu dilakukan hampir terang-terangan dan diketahui hampir semua orang, namun hanya didiamkan saja. Sementara polisi, yang menyimpulkan bahwa kejahatan itu pasti dilakukan 2 orang, berhasil pula menyeret seorang teman Ron: Dennis Fritz. Klop sudah.

Sementara itu, cerita kemudian bergulir pada kehidupan Ron yang ironis. Sepanjang hidupnya Ron hanya memiliki satu impian, ambisi sekaligus obsesi, yaitu pada bisbol. Ditunjang tubuhnya yang setinggi 180 cm dan atletis, Ron yang egois karena selalu dimanja sejak kecil, tak kesulitan merintis jalan menuju seorang pemain bisbol profesional di liga besar. Ketika nampaknya pengorbanan keluarga Williamson terhadap si bungsu nan manja itu bakal berbuah kebahagiaan, datanglah kabar yang menyakitkan. Ron mengalami cedera bahu yang memaksanya untuk berhenti main bisbol selamanya. Ron yang tak pernah dewasa tak mampu menerima kenyataan impiannya harus pupus, justru ketika ia nyaris berhasil menembus liga besar dan menjadi pemain bisbol terkenal seperti para idola yang ada di kartu-kartu bisbol koleksi keramatnya. Ron lalu jatuh ke jurang minuman keras, dan menderita penyakit mental. Dan dalam keadaan demikianlah, Ron menapakkan kaki ke penjara Pontotoc County sebagai pembunuh…

Meski tak sedramatis perjalanan hidup Ron, Dennis Fritz harus merelakan kehidupan sebagai suami dan ayah yang bahagia, hanya karena fakta ia merupakan teman Ron dan pernah mabuk-mabukan bersamanya. Dengan teknik yang sama, polisi akhirnya berhasil menjerat Dennis ke penjara juga. Hanya butuh sebuah sidang dengan selusin saksi-saksi penipu, para pengadu, jaksa penuntut arogan dan hakim yang kurang teliti, maka Ron dan Dennis pun resmi menjadi narapidana. Dennis dengan hukuman seumur hidup, dan Ron dengan hukuman mati!

Di bagian ini, cerita menjadi datar. Aku sempat bosan membaca naik-turunnya kondisi Ron yang begitu cepat, namun dengan kepastian grafik itu menuju ke bawah. Pemenjaraan memang siksaan bagi semua yang mengalaminya, namun bagi seorang sakit mental seperti Ron, itu berarti merenggut hidup seorang manusia secara perlahan. Dan itu bukan saja karena penjara itu sendiri namun juga keacuhan semua pihak yang terlibat di dalamnya terhadap kesehatan mental dan fisik Ron. Dan itu terjadi selama dua belas tahun. Bayangkan, dua belas tahun menghabiskan hidup di penjara padahal anda tak melakukan apapun! Untunglah ada orang-orang seperti Barry Schenck dan Mark Barrett yang aktif di yayasan yang peduli terhadap orang-orang tak mampu yang mengalami peradilan yang buruk. Mereka bekerja sama dengan para pekerja medis yang tergerak oleh nurani memperjuangkan nasib Ron yang dijauhkan dari perawatan kesehatan. Berkat rasa keadilan mereka, Ron bersama Dennis akhirnya berhak mendapatkan sidang peradilan yang baru, yang (diharapkan) lebih bersih.

Di bagian-bagian akhir inilah cerita kembali memanas. Aku bisa membayangkan bagaimana perasaan Ron dan Dennis menghadapi berita yang memberikan harapan besar ini. Setelah belasan tahun terpenjara dan pengajuan banding mereka ditolak di mana-mana, nyaris tak ada lagi harapan barang secuil pun bahwa mereka akan dapat kembali menghirup udara bebas. Kini secercah harapan nampak di ujung lorong panjang penantian itu. Apakah cahaya itu nyata? Bagaimana kalau ternyata sidang itu penuh kebohongan seperti pada sidang yang lalu? Di sinilah emosiku turut diaduk-aduk antara harapan dan kekhawatiran. Harapan bahwa akhirnya, keadilan akan ditegakkan. Sekaligus kekhawatiran bahwa harapan yang terlambung untuk kedua kalinya akan semakain membuat Ron dan Dennis makin terpuruk. Untunglah, Hakim Seay memiliki cukup keberanian untuk mendobrak sistem yang salah.

Dan akhirnya sidang pun dimulai. Sidang kedua pembunuhan Debbie Carter yang telah berlangsung 14 tahun lalu! Bahagiakah Ron dan Dennis setelah mereka dinyatakan bebas? Tentu saja! Namun yang membuatku trenyuh adalah perjuangan mereka untuk dapat kembali ke masyarakat, mengenyam hidup yang normal. Melewatkan dua belas tahun di penjara adalah satu hal, namun harus memulai hidup kembali setelah tertinggal dua belas tahun adalah hal lain yang bisa jadi lebih mengkhawatirkan. Bagi sedikit orang yang berkarakter kuat seperti Dennis, mereka akan berhasil melewatinya. Namun bagi orang-orang yang tak pernah bisa mandiri dan sepenuhnya dewasa seperti Ron, kebebasan itu terasa semu. Itulah menurutku dosa paling besar proses peradilan yang tidak jujur. Bukan hanya waktu yang tersia-sia di penjara, namun pemenjaraan itu bisa merusak hidup seseorang sepenuhnya hingga akhir hayatnya. Kalau anda tak percaya bacalah kata-kata terakhir Ron sebelum ia meninggal dunia, yang membuatku menangis...

"...Aku pernah bertanya pada diri sendiri apa alasan aku dilahirkan, saat aku dipenjara terpidana mati, jika aku harus melalui semua itu? Apa alasan kelahiranku? Aku hampir mengutuk ayah dan ibuku--jahat sekali--karena membuat aku lahir ke dunia ini. Bila aku harus melakukan semuanya itu lagi, aku tak ingin dilahirkan."

Sangat miris kalau orang sudah menyesalkan kelahirannya sendiri ke dunia ini. Dan itu gara-gara segerombolan aparat hukum sembrono yang tak mampu menegakkan hukum dengan adil. Jadi...apakah keadilan itu masih ada? Tentu saja! Hakim Seay, Mark Barrett dan Barry Scheck adalah contoh-contoh nyata. Kasus Ron itu mungkin saja menjadi titik balik dimulainya proses hukum yang lebih baik. Dan kalau demikian, mungkin saja pengorbanan Ron tak sia-sia, kelahiran Ron ke dunia bukannya tanpa tujuan. Ia memang harus mengalami semuanya itu, agar makin banyak orang yang boleh merasakan keadilan. Mungkin saja...

Yang membuat buku ini terasa spesial adalah foto-foto mereka yang tersangkut dalam cerita ini. Ada foto Debbie Carter yang manis, dan banyak foto-foto Ron. Di foto itu anda bisa membandingkan ketika Ron baru saja didakwa, dan ketika Ron keluar dari penjara. Anda takkan percaya bahwa tenggang waktunya hanya 12 tahun! Salut pada John Grisham yang keluar dari kebiasannya menulis fiksi. Meski mungkin saja fiksinya lebih "heboh", namun bukankah itu hanya fiksi? Ketidak adilan yang dialami orang-orang yang nyata, justru akan menjungkir balikkan emosi anda, dan akhirnya membuat buku ini semakin melekat di hati anda. Empat bintang untukmu John!

Judul: Tak Bersalah (The Innocent Man)
Penulis: John Grisham
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Mei 2011
Tebal: 537 hlm

Monday, August 24, 2009

Mata Ketiga - 1

Mata Ketiga adalah sebuah otobiografi seorang berkebangsaan Tibet, yang menggunakan nama Tuesday Lobsang Rampa dalam buku ini. Ia sengaja menyamarkan nama-nama dalam kisahnya karena alasan politis. Meski demikian, buku ini jauh dari hal-hal politis. Lobsang adalah seorang lama Tibet. Lama tokoh agama dalam agama Buddha, setingkat di atas rahib. Kita semua tahu bahwa pemimpin tertinggi mereka bergelar Dalai Lama. Dalam buku ini ia berkisah tentang liku-liku perjuangannya untuk menjadi salah satu sosok tertinggi di Tibet. Selain itu, menarik juga untuk menjelajahi negeri Tibet, yang sering dijuluki 'atap dunia', sebuah negara yang cinta damai namun sejak lama kurang dipahami oleh dunia luar.



Sebagai negara teokrasi, Tibet tidak menginginkan 'kemajuan' seperti yang dialami dunia luar. Yang mereka inginkan hanyalah bermeditasi dan mengatasi segala keterbatasan fisik mereka sendiri. Khazanah kekayaan Tibet banyak menggiurkan negara-negara lain, dan bila mereka datang, maka kedamaian di Tibet dipastikan akan hilang. Hal ini telah lama diramalkan oleh Orang-Orang Bijak di Tibet.



Kali ini, di luar kebiasaan, aku bukan hanya mengulas buku ini secara umum, tapi aku ingin membeberkan sedetail mungkin kebudayaan dan kehidupan di Tibet, selain mengikuti perjalanan hidup Lobsang. Makanya, jangan heran kalo ulasan ini akan terbagi dalam 2 posting.



Mengapa Tibet disebut atap dunia? Karena Tibet memang terletak di puncak pegunungan Himalaya, titik tertinggi di seluruh muka bumi ini. Ibukota Tibet, Lhasa, terletak di ketinggian 3600 meter dari permukaan laut. Di musim panas suhu di Lhasa pada siang hari 24 derajat Celcius, dan mencapai minus 4 derajat Celcius di malam hari. Pada musim dingin, suhu bisa lebih dingin lagi. Karena cuaca yang ekstrem ini, orang Tibet sangat keras dalam mendidik anak-anak mereka. Tanpa disiplin yang tinggi, mereka takkan dapat bertahan hidup. Dan orang-orang yang lemah akan membahayakan hidup yang lain. Orang luar yang tak mengerti, mungkin menganggap cara mereka membesarkan anak terlalu kejam, padahal itu memang sesuai dengan kerasnya kehidupan di tempat itu.



Lobsang sendiri adalah anak seorang tokoh penting di Tibet. Semakin tinggi derajat seorang anak, semakin keras pula latihan yang ia terima. Menurut ayah Lobsang, anak miskin tak punya kans untuk hidup senang di kemudian hari, maka selagi masih muda diberikan kebaikan dan perhatian. Sebaliknya, anak kaya punya banyak kesempatan kelak untuk hidup senang, maka waktu muda harus dididik keras agar bisa merasakan susahnya kehidupan dan memiliki perhatian pada yang lain.



Masa kecil Lobsang dipenuhi dengan penggemblengan dan permainan yang bertujuan untuk memperkuat tubuh. Belajar berkuda poni mulai usia 4 tahun, memanah sasaran yang bergerak, main layangan. Di kelas ia juga belajar Bahasa dan Hukum. Hukum di Tibet sangat sederhana namun tegas.



Begitu mencapai usia 7 tahun, para astrolog akan meramalkan karier seorang anak di masa depan. Acara itu akan dibuat pesta meriah. Dalam kasus Lobsang, pestanya super meriah dan prestisius karena ortunya orang-orang penting. Ketua penyelenggara tentu saja ibu Lobsang, karena di Tibet dikenal kesetaraan gender. Namun untuk urusan dapur, penguasa tertinggi adalah istri. Maka dimulailah persiapan pesta dengan pengiriman undangan yang rumit, pembersihan rumah, dan (yang asyik nih) persiapan hidangan.



Orang Buddha tidak membunuh. Mereka makan daging hewan hanya yang mati karena kecelakaan atau ditemukan sudah mati. Dagingnya bisa disimpan begitu saja tanpa alat pendingin, karena suhu di sana sangat dingin (seperti kulkas alami). Ibu Lobsang memilih hidangan yang langka dan mahal. Yaitu Kuntum Bunga Rhododendron. Beberapa minggu sebelum pesta, orang mengumpulkan kuntum-kuntum bunga yang belum mekar sepenuhnya, lalu di cuci dengan hati-hati, lalu dicelupkan ke dalam toples kaca besar berisi air dan madu. Toples ditutup, dan diletakkan di tempat yang disinari matahari selama berminggu-minggu. Bunga itu akan pelan-pelan mekar sambil terisi oleh nektar dari air dan madu. Setelah itu bunga-bunga itu diangin-anginkan agar kering dan menjadi renyah, lalu ditaburi gula di atasnya. Jadilah cemilan yang (mungkin) rasanya renyah dan manis.



Hari H pun tiba, dan tamu-tamu berdatangan. Cara menyambut tamu di Tibet cukup rumit dan dibedakan menurut tingkatan tamu dan tuan rumah. Penyambutan (diwakili oleh Pengurus Rumah) dilakukan dengan memberikan atau meletakkan syal sutra yang disebut 'khata' ke tangan tamu. Bila keduanya sederajat, cukup dengan menjulurkan tangan saja. Namun kalau tamu lebih tinggi derajatnya, tuan rumah berlutut sambil menjulurkan lidah (sebagai salam khas Tibet, seperti orang Barat dengan mengangkat topi), dan meletakkan syal di kaki tamu.



Pada puncak acara yang ditunggu-tunggu, 2 orang astrolog berdoa lalu mengumumkan ramalan mereka, yang akan mengubah hidup Lobsang seratus delapan puluh derajat. Ia akan masuk biara setelah berhasil melewati semua ujian. Di sana ia dididik menjadi rahib ahli bedah. Itu karena, ia adalah titisan seorang lama yang mempunyai kemampuan tinggi di masa lalu.



Maka, di usia yang baru 7 tahun (coba bandingkan dengan kita saat masih 7 tahun!!), Lobsang sudah harus keluar dari rumahnya, tiba-tiba berpisah dengan orang tuanya begitu saja, menjalani hidup sendiri nan miskin sebagai rahib di biara. Tanpa kehangatan kasih sayang dan perhatian dan tanpa ada waktu bermain dengan anak sebaya. Seolah itu belum cukup, proses 'keluarnya' Lobsang dari rumah juga cukup mengharukan bagiku.



Ia dibangunkan ketika matahari belum juga terbit, mengenakan pakaian rahib, dan dipersenjatai dengan tsampa (makanan pokok di Tibet yang bisa dibawa kemana-mana), mangkuk tsampa, cangkir, jubah dan sepatu bot. Lalu ia disuruh keluar begitu saja dari rumah, tanpa ada acara pamitan, tanpa apa-apa, diam-diam. Tentu saja, kemarin malamnya Lobsang sudah diberitahu ayahnya bahwa sejak Lobsang meninggalkan rumah, ia tidak boleh lagi kembali. Karena itu ia harus berjuang, apapun yang terjadi, untuk diterima menjadi rahib di biara, karena keluarganya tak akan menerima ia kembali. Bayangkan, semua itu harus ia alami ketika masih berumur 7 tahun!



Maka berangkatlah Lobsang ke biara Chakpori. Untuk diterima masuk ke biara tidaklah mudah. Lobsang bersama dengan 3 orang anak lainnya disuruh masuk dan ditanyai latar belakangnya. Karena Lobsang adalah anak yang datang dari keluarga yang paling kaya, ia mendapat ujian masuk yang paling keras. Harus duduk bersemadi tanpa boleh bergerak sedikitpun di halaman biara sejak matahari terbit sampai terbenam. Meski kepanasan saat teriknya matahari bersinar, Lobsang tak berani bergerak sedikitpun, mengingat pesan ayahnya. Matilah ia kalau ia tak lulus ujian masuk itu. Saat senja, ia baru boleh bergerak, diberi makan tsampa dan teh bermentega, lalu boleh tidur. Tapi keesokan harinya ia harus sudah duduk bersemadi sebelum matahari terbit. Dan itu berlangsung selama 3 hari penuh! Setelah itu baru ia resmi diterima di biara.



Di biara, semua rahib muda harus mengikuti pelajaran, berdoa, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan keras. Salah satu yang menarik adalah mengolah tsampa dan teh bermentega. Keduanya makanan dan minuman pokok di Tibet. Tsampa terbuat dari biji barley panggang yang sudah pecah. Biasanya para rahib selalu mengantongi biji-biji barley ini kemana-mana. Saat lapar, mereka menaruh segenggam biji-biji itu ke dalam mangkuk, lalu menuanginya dengan teh mentega yang panas lalu mengaduknya terus sampai menjadi adonan yang (mungkin) agak kenyal. Lalu memakannya begitu saja, atau bisa ditambahkan sayuran. Makanan ini sangat mengenyangkan dan praktis untuk daerah yang bercuaca ekstrem seperti Tibet.



Sedang teh bermentega, sesuai namanya adalah campuran air, daun teh, sedikit garam dan soda yang dididihkan, lalu ditambahkan mentega yang sudah dibeningkan, lalu campuran itu dididihkan lagi berjam-jam. Teh ini harus selalu dalam keadaan panas, untuk konsumsi seluruh biara.



Mengetahui bahwa Lobsang adalah anak istimewa, karena titisannya dahulu, ia langsung dipisah pendidikannya dari anak-anak lainnya. Seorang guru khusus ditunjuk oleh Dalai Lama sendiri untuk mengajar Lobsang, yakni Lama Mingyar Dondup. Lama Mingyar adalah seorang yang humoris, bijaksana, sangat pandai, dan merupakan orang kepercayaan Dalai Lama. Ia salah satu orang yang mempunyai kemampuan clairvoyance, seperti halnya yang sudah ditakdirkan terjadi pada Lobsang setelah ulang tahunnya yang ke-8.



Clairvoyance itu bisa diartikan sebagai kemampuan paranormal. Dengan kemampuan ini, seorang manusia bisa melihat aura orang atau benda lain. Dengan demikian, ia akan mengetahui penyakit yang diderita, juga isi hati seseorang. Menurut testimoni Lobsang sendiri dalam buku ini, ia bisa tahu bahwa seseorang itu hatinya bersih, atau tamak dan tidak jujur. Lalu bahwa seseorang tengah menderita penyakit pada jantungnya, atau bahwa orang lainnya lagi sudah mendekati ajalnya. Tentu saja, hal-hal itu merupakan bakat yang sudah ada pada seseorang, namun untuk menajamkannya, Lobsang harus menjalani sebuah operasi untuk menambahkan ‘mata ketiga’nya.



Dan itu terjadi tepat setelah ulang tahunnya yang ke delapan. Yang melakukan operasi adalah gurunya, Lama Mingyar. Mata ketiga itu diletakkan di tengah-tengah dahinya. Caranya dengan mengebor (ya..mengebor!) tulang tengkorak dengan alat bor tanpa ulir berbentuk huruf U dengan gigi-gigi kecil di ujungnya. Malam sebelumnya, dahi Lobsang sudah dibaluri ramuan tumbuh-tumbuhan. Lalu paginya Lama Mingyar melakukan ‘pengeboran’ setelah mensterilkan alatnya terlebih dulu. Lobsang merasakan seperti dahinya ditusuk duri, tapi setelah itu tak terasa sakit, hanya sedikit nyeri dan ada tekanan (mungkin ramuan itu semacam anestesi ya?).



Sesudah mata bor mengenai tulang tengkorak, dimasukkanlah sepotong kayu kecil ke dalam lobang itu setelah disterilkan dan dibalur ramuan yang membuatnya sekeras baja. Potongan kayu itu dibiarkan selama dua minggu, dan selama itu Lobsang harus tinggal di tempat yang temaram, dan hanya makan minum secukupnya. Setelah potongan kayu diambil, maka terbukalah mata ketiga Lobsang. Ia kini memulai sebuah hidup yang baru. Untuk cerita yang lebih seru, baca bagian kedua kisah Mata Ketiga ini ya!