Showing posts with label cergam. Show all posts
Showing posts with label cergam. Show all posts

Wednesday, November 28, 2012

Petualangan Tintin: Tujuh Bola Kristal


Meski sulit untuk menentukan judul mana dari serial Tintin yang paling kusukai—hampir semuanya aku suka; bahkan cinta!—Tujuh Bola Kristal adalah salah satu favoritku. Entah sudah keberapa kali aku membaca Tujuh Bola Kristal ini. Pertama kali saat aku masih sangat kecil, ortuku membelikanku versi bahasa Inggrisnya—tentu saja mereka harus menceritakannya padaku, karena jangankan bahasa Inggris, membaca pun aku belum mampu. Lalu setelah penerbit Indira menerbitkan terjemahannya, aku pun membacanya sendiri, selama berkali-kali hingga jilidannya rusak dan kertasnya kecoklatan, dan sekarang entah kemana… Lalu akhirnya aku kembali memiliki edisi terbitan Gramedia ini.

Petualangan sang wartawan muda Tintin dimulai ketika sedang berkunjung ke rumah sahabatnya Kapten Haddock yang sedang tergila-gila dengan sulap-menyulap; sehingga mereka berdua lalu menonton pertunjukan. Di tengah pertunjukan hipnotis, wanita yang dihipnotis ternyata meramalkan dengan tepat bahwa salah satu ilmuwan yang baru saja pulang dari ekspedisi Sanders-Hardmuth ke Amerika Selatan sedang sakit keras. Mulai saat itu tujuh ilmuwan yang telah membobol makam Inca dan membawa muminya pulang itu mengalami sakit misterius: koma setelah ‘diserang’ oleh sesuatu atau seseorang yang membawa bola Kristal, dan sering mengalami semacam kerasukan pada jam yang sama. Diyakini bahwa mereka dikutuk oleh Rascar Capac, yang muminya menghilang begitu saja setelah melepaskan bola api, tepat di hadapan Tintin, Kapten Haddock dan Professor Lakmus yang saat itu sedang berkunjung ke Profesor Bergamotte yang menyimpan mumi itu di kediamannya.

Menghilangnya mumi dan penyakit misterius para ilmuwan itu saja sudah membuat Tintin dan polisi kebingungan, namun ketika Profesor Lakmus diculik dan jejaknya tak kunjung ditemukan, Tintin dan Kapten Haddock pun dihadapkan pada sebuah petualangan eksotis nan penuh bahaya ke Amerika Selatan.

Kali ini aku membaca Tintin dengan tekad untuk lebih memperhatikan sisi grafisnya, alih-alih membaca ceritanya—yang jelas sudah hafal luar kepala :). Tiga hal yang membuatku selalu mencintai Tintin—selain seru bin jenaka ceritanya—adalah kemampuan Hergé menggambar dengan sangat detail, sangat memperhatikan keindahan, dan keberanian menggunakan warna-warna cerah. Pada awal Tujuh Bola Kristal ini saja, kita sudah disuguhi pemandangan indah di Stasiun Moulinsart ketika Tintin turun dari kereta api. Kita seolah terbawa pada suasana khas Belgia di musim panas yang cerah. Selain warna-warni pakaian orang yang berlalu-lalang di stasiun, juga ada pohon peach blossom yang bunga warna pink-nya sedang bermekaran, yang langsung memanjakan mata.



Dari Character Book Kapten Haddock, aku mengetahui bahwa Hergé adalah seorang yang fashionable, sangat memperhatikan penampilannya saat keluar rumah. Sisi flamboyannya itu ia terapkan pada sosok Kapten Haddock yang—terutama pada kisah ini—ia dandani habis-habisan. Kapten pertama muncul dalam pakaian berkuda dengan jaket warna coklat tanah dan scarf putih serta kacamata berlensa satu—yang berkali-kali ia pecahkan di sepanjang kisah ini! :)). Kemudian saat menonton pertunjukan bersama Tintin, ia mengenakan tuksedo hitam resmi dengan dasi kupu-kupunya. Tapi favoritku ialah ketika kawan-kawan kita bertamu ke rumah Professor Bergamotte, Sang Kapten mengenakan jas motif kotak-kotak coklat, celana khaki dan kemeja serta dasi serasi warna hijau muda. Nah…salut pada Hergé yang berani memadukan warna coklat dan hijau yang ternyata menjadi kombinasi yang menarik.

Berbicara tentang pemaduan warna yang tak senada, Hergé juga ‘memberi’ Bianca Castafiore gaun warna ungu pastel dengan corsase besar warna kuning madu, ketika sang biduanita tampil di pertunjukan yang ditonton Tintin dan Haddock. Ungu dan kuning? Ternyata di tangan Hergé bisa jadi serasi…. Dan kalau anda bilang biru langit tak akan cocok dipadukan dengan coklat tanah, pandangi saja busana wartawan muda kita….yang menurutku satu-satunya yang sama sekali tak cocok di sini! :))

Bianca Castafiore dalam paduan ungu-kuning madu


Hal lain yang menarik perhatianku adalah kehadiran Milo (Milou di edisi asli bahasa Prancis, atau Snowy di edisi bahas Inggris). Entah mengapa Hergé menciptakan tokoh utamanya Tintin sebagai sosok yang paling tidak ekspresif. Kalau anda perhatikan wajah Tintin dalam banyak adegan, kebanyakan hanya bentuk mulutnya saja yang berubah-ubah dan menandakan emosi tertentu, terkejut atau senang misalnya. Nah, menurutku Hergé menambahkan Snowy (aku lebih suka menyebutnya Snowy daripada Milo yang mengingatkanku pada susu coklat :P) si anjing, untuk mempertegas emosi Tintin sehingga terasa lebih wajar. Aku merasa Snowy selalu terlibat dalam semua yang dilakukan, didengarkan dan dikatakan Tintin, seolah Snowy mengerti segala percakapan manusia dan apa yang sedang terjadi.

Saat serius mendengarkan pembicaraan orang, alis Snowy berkerut, sementara Tintin berwajah datar sambil mengatakan “Begitu?” Melihat gabungan antara Tintin dan Snowy, aku baru merasakan bahwa memang apa yang dikatakan si pembicara di adegan itu agak sulit dipercaya, yang membuatmu bertanya “Masak sih?”. Aku yakin ada banyak gambar yang menunjukkan hal itu (Snowy sebagai penegas emosi Tintin) di judul-judul lainnya juga.

Kalau aku mendapati kekurangan di cergam Tintin ini, kekurangan itu terletak pada penerjemahan dan bentuk buku ini. Pertama bentuk buku terbitan Gramedia ini menurutku terlalu kecil, sehingga detail yang mengagumkan pada gambar-gambar karya Hergé kurang bisa ditampilkan dengan optimal (kecuali anda mau susah-susah menggunakan kaca pembesar…). Pada beberapa bagian bahkan teks untuk tulisan juga menjadi amat kecil, tapi yang paling mengganggu adalah kita jadi tak bisa mengagumi detail gambar.

Kedua, tentang penerjemahan. Karena Gramedia memakai versi bahasa Prancis sebagai sumber, maka tak heran bila ada beberapa nama yang berubah dari versi Indira yang sudah lebih familiar bagi kita. Tak apa, kita hanya harus beradaptasi. Namun aku heran, sementara ada nama-nama yang dipertahankan keasliannya, mengapa nama Milou harus menjadi Milo dan Tournesol menjadi Lakmus? Khusus untuk Tujuh Bola Kristal ini, adakalanya Tintin memanggil Lakmus dengan ‘Tuan Lakmus’, lalu di bagian lain berubah menjadi ‘Pak Lakmus’. Di bagian lain bahkan ia hanya menyebutnya sebagai ‘Lakmus’. Mengapa tidak menggunakan sebutan ‘Profesor’ saja yang menurutku jauh lebih sopan, karena jelas Tintin jauh lebih muda daripada sang Profesor? Meski sepele, inkonsistensi ini lumayan mengganggu selama membaca. Mau tak mau aku harus mengatakan bahwa secara keseluruhan aku masih lebih suka versi Indira dibanding terbitan Gramedia ini—meski kertasnya jauh lebih eksklusif.

Empat bintang untuk cergam Tintin ini, yang kunikmati dalam rangka #bacabareng novel grafis bersama anggota BBI (Blogger Buku Indonesia) bulan November ini. Satu bintang aku kurangkan karena dua kelemahan yang telah kusebutkan di atas.

Judul: Tintin dan 7 Bola Kristal
Karya: Hergé
Penerjemah: Donna Widjajanto
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Mei 2012
Tebal: 64 hlm

Monday, September 12, 2011

Romawi Kuno: Selidik National Geographic

Romawi mungkin merupakan salah satu kerajaan terbesar di muka bumi yang sangat menarik. Bagiku sendiri Romawi menarik karena arsitekturnya yang konon sangat rumit dan kuat. Saking kuatnya, hingga saat ini salah satunya, yakni Colosseum, masih memperlihatkan kemegahannya. Hal menarik lainnya adalah daerah taklukan kerajaan Romawi yang amat luas, mencapai hingga dataran Asia. Yang terakhir mungkin kebudayaannya yang memberikan pengaruh besar pada peradaban dunia. Padahal…masih banyak “keajaiban” lainnya yang tersembunyi tentang Romawi yang belum pernah kuketahui!

Seri Selidik National Geographic: Arkeologi Menguak Rahasia Masa Lampau-Romawi Kuno ini sangat membantuku memahami lebih dalam tentang kerajaan Romawi. Di buku ini bertebaran foto-foto menawan tentang artefak-artefak, juga arsitektur bangunan kuno pada jaman Romawi. Penempatan teks, foto dan artikel menarik terangkai sedemikian rupa hingga nampak artistik dipandang, sekaligus membuat kita mudah mengumbar imajinasi seolah kita sedang dalam sebuah tur di situs-situs arkeologi Romawi ini.

Buku ini dibuka dengan penjabaran peta daerah yang pernah dikuasai Romawi. Kemudian berturut-turut legenda tentang dua orang bersaudara pendirinya, bagaimana para diktator mulai mengambil alih dan memperluas kerajaan dengan perang, hingga bagaimana kerajaan ini mengembangkan sistem perdagangan untuk mempertahankan kerajaan mereka. Menarik mengamati pembangunan rumah orang kaya Romawi, saluran air (aquaduk) yang mengalirkan air dari sumber, juga pembangunan tempat-tempat permandian di rumah orang-orang kaya dengan menggunakan sistem pemanasan.

Khusus bagian permandian ini, saat membaca buku Quo Vadis, aku penasaran dengan ritual mandi para bangsawan Roma. Di awal cerita Quo Vadis, Petronius mengajak keponakannya Vinicius untuk mandi bersama. Dimulai dari tepidarium, lalu pindah ke caldarium dan akhirnya mendinginkan diri di frigidarium. Di buku ini akan dijelaskan dengan sangat terperinci tentang ritual mandi itu sendiri dan pembangunan sarananya.

Kubah Pantheon ini salah satu bangunan yang masih berdiri megah sejak 1800 tahun lalu. Atap kubah itu terbuat dari baja tipis dan kuat, salah satu bukti hebatnya arsitektur jaman Romawi Kuno


Masih ingatkah anda akan kisah bangsa Troy setelah dihancurkan oleh kaum Achaean (Yunani)? Salah satu pahlawannya yang bernama Aeneas berhasil melarikan diri dan melakukan perjalanan hingga mendarat di daratan Italia. Artikel di buku ini akan menjelaskan keterkaitan bangsa Troy dengan Romawi.

Namun yang paling menarik dari buku ini adalah karena National Geographic menceritakan bagaimana aktivitas arkeologi dapat akhirnya mengungkap kebudayaan dari zaman ribuan tahun lalu. Bagaimana seorang arkeolog mengungkap pola hidup dan kebiasaan rakyat hanya dari artefak atau reruntuhan bangunan saja. Bagaimana mereka mereka-reka umur benda-benda arkeologi, membandingkan potongan catatan-catatan yang mereka temukan, dan membandingkannya dengan sejarah.

Beruntunglah kita, yang meski hidup di jaman ini, masih boleh menyaksikan penemuan demi penemuan masa kejayaan Romawi karena banyak dari peninggalan itu masih terkubur di bawah tanah. Terlindungi oleh suhu lembab di bawah tanah atau oleh kemumpunian orang Romawi dalam pembuatannya. Atau abu letusan gunung Vesuvius yang mengubur kota Pompeii dan Herculaneum dan menyelamatkan semua yang ada di bawahnya hampir tak berubah dari wujud aslinya setelah 1700 tahun (hebat bukan?). Semuanya menunggu untuk dikuak oleh para arkeolog….

Patung kepala wanita muda yang masih utuh meski berusia 1700 tahun, karena terkubur di bawah abu letusan Gunung Vesuvius


Terakhir, tahukah anda mengapa banyak sekali peninggalan jaman Romawi Kuno ini yang masih dalam kondisi baik setelah ribuan tahun? Ternyata itu berhubungan dengan cara pembangunan rumah-rumah hunian di Roma. Menarik?

Yang jelas, setelah membaca buku ini, menjadi arkeolog sepertinya bukan pekerjaan yang membosankan ya? Alan Kaiser yang diwawancarai khusus di buku ini akan membuat kita mengenal sedikit lebih banyak tentang arkeologi. Dan moga-moga para arkeolog yang mengkhususkan diri pada Romawi Kuno akan terus membawa penemuan-penemuan baru yang sedikit demi sedikit menguak tabir tentang salah satu peradaban paling hebat dalam sejarah manusia itu. Semoga!

Empat bintang untuk mereka yang bekerja tak kenal lelah di National Geographic, untuk Zilah Deckker sang penulis, dan tentu saja untuk penerbit KPG yang menerbitkannya untuk kita! Jadi ingin mengkoleksi seri lainnya di Selidik National Geographic ini deh…


Judul: Selidik National Geographic – Romawi Kuno
Penulis: Zilah Deckker
Penerjemah: Priyatno Ardi
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Terbit: Maret 2011
Tebal: 64 hlm

Thursday, September 1, 2011

Age of Bronze 1: A Thousand Ships

Setiap peristiwa besar yang terjadi di dunia pastilah memiliki awal mula. Begitu juga Perang Troy yang amat termashyur dalam mitologi Yunani itu. Kita sudah sering mendengar, membaca bahkan menonton tentang perang itu, namun mungkin kita belum memahami bagaimana awal mula perang itu terjadi. Seorang ilustrator andal bernama Eric Shanower telah menelurkan sebuah novel grafis yang membuat kita memahami kisah epik kuno ini dengan lebih mudah dan dapat lebih menikmati alur ceritanya lewat gambar yang amat detail serta dialog yang gamblang.



"Aku mau ke Troy", itulah kata-kata Paris, seorang anak gembala kerbau sederhana bernama Agelaus yang tinggal di gunung Ida, yang mengawali perang Troy. Pada suatu hari pegawai kerajaan meminta kerbau keramat milik Agelaus untuk dijadikan hadiah pertandingan di kerajaan. Tak rela kerbau yang sedianya akan mereka korbankan direbut oleh Raja, berangkatlah Paris ke ibukota Troy untuk mengikuti pertandingan demi merebut kembali si kerbau keramat. Ia didampingi ayahnya, dan diiringi tangis Oenone kekasihnya yang telah meramalkan perang dan bahaya yang mengancam Paris.



Di Troy, Paris benar-benar menunjukkan kehebatannya dan berhasil memenangkan si kerbau keramat, namun putra-putra Raja tidak terima dan hendak membunuhnya. Di saat genting itu Agelaus mengingatkan Raja tentang peristiwa kelahiran Paris. Maka terungkaplah bahwa Paris sesungguhnya adalah putra Raja Priam yang dulu hendak dibunuh. Singkat kata Paris pun menjadi Pangeran di kerajaan Troy.



Beberapa bulan kemudian Paris diutus Priam ayahnya untuk menculik Hesione, kakak perempuan Priam yang masih tertawan di Achaea (Yunani). Pada saat itu Achaea dan Troy telah menandatangani perjanjian damai. Namun ternyata bukan Hesione yang dibawa pulang Paris, justru Helen, wanita tercantik sedunia yang menjadi istri raja Sparta (Lakedaemon): Menelaus lah yang diculik Paris. Menelaus meradang, dan mendesak Agamemnon, Raja Agung Achaea untuk berperang melawan Troy. Mengetahui ini, Priam mengutus pendetanya bernama Kalchas untuk pergi ke Achaea menjadi mata-mata.



Penculikan Helen bisa terjadi karena sebelum itu tiga dewi memperebutkan apel emas sebagai simbol pemiliknya adalah yang tercantik. Dan Paris lah yang ditugasi oleh para dewa untuk memilih pemenang yang berhak mendapatkan apel itu, apakah Hera, Athena atau Aphrodite. Masing-masing dewi menjanjikan hadiah bagi Paris bila ia memilih mereka. Akhirnya Paris memilih Aphrodite yang menjanjikannya seorang istri wanita tercantik di dunia, yakni Helen. Maka bahkan sebelum Paris menginjakkan kaki ke Sparta, Aphrodite sudah membuat Helen terbakar oleh api cinta pada Paris, dan yang membuatnya memutuskan melarikan diri bersama Paris.



Di sisi lain, Thetis, seorang pendeta wanita mendapatkan penglihatan tentang perang besar yang akan terjadi, memohon dewa angin Poseidon untuk mendatangkan badai ke samudra, dan menggoncangkan kapal yang membawa Paris pulang. Mengapa ia melakukan ini? Tak lain untuk melindungi putra tercintanya Achilles, buah cintanya dengan Peleus, yang menurut penglihatannya akan terlibat dalam perang besar itu, dan akan mati di medan perang.



Maka Thetis membawa Achilles ke Skyros di bawah perlindungan Lykomedes, dan menyamarkannya sebagai anak perempuan bernama Pyrrha. Di sana ia jatuh cinta pada putri Lykomedes yang bernama Deidamia, dan akhirnya memiliki putra yang dinamai Neoptolemus (Pyrrhus). Kelak Achilles ditakdirkan sebagai kunci kemenangan bagi negara-negara persekutan Achaea dalam perang Troy, berkat penglihatan Kalchas --sang pendeta Troy yang diutus menjadi mata-mata ke Achaea.



Sementara itu Agamemnon sedang menyusun kekuatan, mengumpulkan sekutu dan pasukan di pihaknya. Pertanyaannya mungkin, mengapa begitu banyak kerajaan yang mau membantu Agamemnon dalam perang karena urusan pribadi ini? Semuanya berawal ketika Helen dulu hendak dinikahkan oleh ayahnya, raja Sparta Tyndareus. Karena begitu banyak raja yang melamar Helen, dan takut akan terjadi pertikaian, maka raja-raja peminang Helen itu bersumpah akan mengangkat senjata seandainya kelak Helen direbut dari tangan raja yang berhasil menikahinya. Dan kini ternyata si pangeran Troy lah yang menculik Helen.



Tokoh kunci lainnya dalam peperangan besar itu adalah Odysseus, raja Ithaka dan suami Penelope, yang akhirnya berhasil dibujuk Agamemnon untuk ikut berperang. Lumayan menarik kisah Odysseus ini, yang sempat berpura-pura gila ketika dikunjungi Agamemnon demi menghindarkan diri untuk maju perang. Ia dulu merupakan pencetus ide "sumpah para raja" saat pernikahan Helen, namun justru karena itulah ia mendapatkan seorang istri yang dicintainya, dan terpaksa harus ditinggalkannya bila ia maju perang.



Namun akhirnya Agamemnon berhasil membujuk Odysseus. Kemudian Odysseus bersama Diomedes, dua raja yang sama-sama memihak Achaea, berangkat ke Skyros untuk menjemput Achilles. Di Skyros penyamaran Achilles akhirnya terungkap, dan ia pun dinikahkan dengan Deidamia sebelum berangkat ke Achaea untuk menjadi salah satu komandan pasukan sekutu di bawah Agamemnon.



Sempat mengalami kekurangan bahan pangan, namun --karena perang ini merupakan kehendak para dewa-- akhirnya pasukan pun siap untuk berangkat ke medan perang. Tepat sebelum mereka berangkat, seorang peramal memperoleh penglihatan bahwa butuh waktu sembilan tahun bagi Achaea untuk berperang melawan Troy, sebelum akhirnya pada tahun ke sepuluh Troy akan jatuh ke tangan Achaea. Dan di sinilah bagian pertama Age of Bronze ini berakhir...



Seperti kita ketahui, kisah-kisah dalam mitologi Yunani telah diceritakan selama berabad-abad, dan makin lama makin banyak hiasan, tambahan di sana-sini. Aku membayangkan kisah-kisah itu bagaikan potongan-potongan puzzle yang bertebaran dalam banyak karya tulis, dongeng lisan maupun pentas sandiwara. Seperti itulah kira-kira yang dilakukan Eric Shanower demi membawa epik ini ke abad kedua puluh satu. Tak ada yang tahu pasti hingga kini apakah semua kisah yang memiliki banyak percabangan ini sungguh-sungguh terjadi, atau manakah yang benar-benar sejarah dan mana yang fiksi?



cuplikan adegan di novel grafis ini, menampilkan Helen of Sparta dan Paris, Pangeran Troy



Mungkin semuanya tak penting lagi, namun yang jelas dari potongan-potongan puzzle itu, Eric telah mempersembahkan kisah yang menarik dan cukup manusiawi untuk kita nikmati. Bahkan detail seperti bentuk bangunan, cara berpakaian atau ciri wajah tokoh-tokoh di epik ini bukan sembarangan dipilih Erik, melainkan melalui riset yang mendalam. Tak lupa Eric juga mencantumkan pula silsilah dan daftar nama pelaku dalam epik ini untuk mempermudah kita. Salut pada Eric Shanower, yang membantu kita memahami latar belakang Perang Troy. Sekaligus bagi anda yang ingin membaca karya Homer: Iliad dan Odyssey, ada baiknya anda membaca novel grafis ini sebagai referensi. Empat bintang untuk novel grafis ini!





Judul: Age of Bronze 1: A Thousand Ships

Judul terjemahan: Jaman Perunggu 1: Seribu Kapal

Penulis/ilustrator: Eric Shanower

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Mei 2007

Tebal: 225 hlm

Wednesday, December 22, 2010

Tintin Character Book: Kapten Haddock

Sejuta topan badai!...
Kutu busuk!...

Maaf, aku tak hendak memaki-maki anda... Hanya ingin mengingatkan anda pada sebuah sosok istimewa yang tak gampang dilupakan dalam sebuah serial cerita bergambar. Anda sudah ingat sekarang? Ya, dialah Kapten Haddock dalam serial Petualangan Tintin, kisah ciptaan dan hasil goresan tangan Herge.

Dalam banyak kisah heroik, di samping sosok sang pahlawan yang nyaris sempurna (dan seringkali menjadi kurang natural, kurang manusiawi), tampil pula tokoh pendamping yang keahliannya di bawah sang pahlawan, namun kepribadiannya lebih mirip manusia kebanyakan seperti kita. Tokoh pendamping ini akan mengimbangi kesempurnaan sang pahlawan. Ingat Dr. Watson dan Sherlock Holmes? Seperti itulah peran Kapten Haddock dalam sebagian besar petualangan Tintin.


Dalam Petualangan Tintin, sang wartawan muda ini memang serasa bagaikan tokoh khayalan. Tintin terlalu sempurna. Selalu cerdik, jarang membuat kesalahan, hampir tak pernah dikuasai emosi, selalu berpikiran jernih. Sebaliknya, Kapten Haddock adalah orang yang berangasan, emosional dan punya kelemahan yaitu ketergantungan pada minuman keras, meskipun sejatinya Haddock adalah pribadi yang setia kawan, memegang teguh prinsip keadilan dan kebenaran, serta berani berkorban demi sahabatnya.


Character Book yang disusun Michael Farr ini membawa kita lebih mengenal dari dekat sosok Kapten Haddock (juga karakter-karakter lainnya dalam serial Tintin di banyak Character Book yang lain). Kita juga dibawa mengikuti proses penciptaan tokoh ini oleh Herge, sekaligus makna tokoh itu baginya. Kapten Haddock ternyata adalah perwujudan karakter Herge sendiri yang di masa tuanya tenggelam dalam minuman keras, sama seperti Kapten Haddock. Sedangkan Tintin adalah cerminan sosok yang diimpikan Herge di masa mudanya, reporter yang banyak berkeliling dunia. Yang lebih menarik lagi adalah proses peciptaan tokoh ini. Nama Haddock ternyata berasal dari sejenis ikan yang sedang dimasak istrinya suatu hari untuk makan malam!


Hal yang menarik tentang nama Haddock ini, si Kapten yang diceritakan sebagai pensiunan kapten kapal dan pelaut, ternyata memang memiliki 'kembaran' di dunia nyata. Ada beberapa perwira angkatan laut di Inggris yang bernama Haddock. Maka makin sreg-lah Herge dengan tokoh ciptaannya yang akan menemani Tintin dalam banyak petualangannya.


Masih ingatkah anda peran Kapten Haddock dalam beberapa petualangan Tintin? Dia bisa dibilang sosok paling flamboyan di antara rekan-rekan Tintin lainnya seperti Profesor Calculus (Lakmus), Thompson & Thomson (Dupont & Dupond). Kita ingat kembali penampilan-penampilan Kapten Haddock dalam banyak kisah, yang bervariasi dan berbeda, tergantung kondisi dalam kisah itu. Di Tujuh Bola Kristal misalnya, Haddock muncul dalam setelan resmi saat menonton acara sulap, lengkap dengan kacamata berlensa satu. Anggun dan elegan. Padahal saat berpetualang ke luar negeri, ia biasa mengenakan sweater ala pelaut warna biru dengan gambar jangkar di dada, topi pelaut dan celana hitam. Gambaran Kapten Haddock yang fashionable adalah cerminan diri Herge yang juga sangat memperhatikan penampilannya di luar rumah.

Namun keistimewaan yang paling menonjol dari sosok kapten Haddock mungkin adalah...makiannya! "Sejuta topan badai" dan "kutu busuk" telah menemani masa kecil kita dalam cergam-cergam Tintin. Membuat kita selalu paling tidak tersenyum tiap kali mengingat dan membayangkan Kapten Haddock. Darimana Herge mendapat inspirasinya? Ternyata dari pertengkaran seorang penjaga toko dengan pelanggannya yang sempat terdengar oleh Herge. Makin panjang dan variatif isi makian si penjaga toko, makin efektif pula dampaknya pada si pelanggan. Dari situ, Herge lalu menciptakan berbagai variasi makian yang jumlahnya bisa mencapai ratusan di seluruh kisah yang menyertakan Kapten Haddock!


Hal lain yang menarik dari sosok Kapten Haddock adalah minuman keras, terutama wiski. Kenalkah anda dengan merk wiski Loch Lomond? Mungkin anda sering mendengarnya, tapi tahukah anda darimana merk Loch Lomond itu berasal? Eh, whisky Loch Lomond itu benar-benar ada loh! Apakah Herge mencomot brand ini ke dalam cergamnya? Bukan! Justru awal mula brand Loch Lomond adalah brand fiktif untuk wiski yang diciptakan Herge di cergam Tintin. Di kemudian hari, akhirnya brand fiktif itu benar-benar dijadikan sebuah brand untuk Scotch wiski. Menarik bukan?


Ngomong-ngomong tentang Loch Lomond wiski, jadi teringat Snowy (atau Milou dalam terjemahan Gramedia), si anjing mungil milik Tintin. Gara-gara Kapten Haddock, Snowy jadi ketagihan wiski Loch Lomond juga…


Begitulah kisah Tintin ini. Seluruh cergamnya benar-benar merasuk ke dalam ingatan dan hati penggemarnya, sehingga bahkan bertahun-tahun setelah kita membacanya, selalu ada potongan-potongan adegan atau kisah yang akan kita ingat saat ada momen serupa yang kita alami. Membaca atau menonton acara tentang Tibet? Pasti aku akan teringat pada Tintin, Chang (Zhang) dan Yetty. Membaca tentang peluncuran roket luar angkasa, pasti terbayang roket kotak-kotak merah-putih karya Profesor Calculus yang sempat amnesia menjelang keberangkatan roket, dsb dsb. Kisah petualangan Tintin ternyata adalah salah satu sahabat yang menemani aku selama aku tumbuh menjadi manusia sekarang ini…

Judul: Kapten Haddock

Pengarang: Michael Farr

Penerbit: Gramedia

Tuesday, April 28, 2009

Tintin Dan Alpha Art

Judul : Tintin dan Alpha Art

Pengarang: Hergé

Penerbit : Gramedia, February 2009

Halaman : 64
Harga : Rp 45.000,-



Hergé telah meninggalkan dunia ini bertahun-tahun lalu, namun ada satu karyanya yang belum sempat dipublikasikan, yakni Tintin dan Alpha Art. Karya ini masih dalam taraf pembuatan ketika ditinggalkan selamanya oleh pembuatnya, namun justru itulah yang membuatnya semakin unik, karena merupakan warisan terakhir Hergé, sekaligus membuat kita lebih mengenal liku-liku pembuatan serial komik yang melegenda ini.



Membaca Tintin dan Alpha Art seolah menghampiri meja kerja Hergé dan mengintip kertas-kertas yang penuh coretan ide cerita, sketsa gambar maupun susunan dialog tokoh-tokohnya. Memang, tidak seperti komik Tintin yang lain, yang colorful dan tersusun dengan rapi jalan ceritanya, komik ini hanya berupa kumpulan sketsa. Ya, komik ini memang hasil karya Hergé yang belum selesai. Di tengah pembuatannya, Hergé meninggal, namun berpesan bahwa tidak ada seorangpun yang boleh menyelesaikannya kecuali dirinya. Maka cerita yang menggantung dan sketsa kasarnya tetap dipertahankan, namun kemudian disusun kembali sehingga enak dibaca dan diikuti.




salah satu halaman sketsa yg sempat diwarnai


Yang perlu dicatat adalah nama tokoh-tokoh utama dalam serial Tintin. Dalam edisi aslinya, yakni dalam bahasa Perancis, nama beberapa tokoh berbeda dengan edisi terjemahannya. Snowy, si anjing mungil nan cerdik yang tak bisa lepas dari tuannya, di edisi aslinya bernama Milou, dan diterjemahkan di sini sebagai Milo. Calculus, sang profesor genius namun pikun, disebut Lakmus. Sedang si kembar detektif Thompson dan Tompson menjadi Dupont dan Dupond.



Alpha Art sendiri adalah suatu hasil kreasi seni yang berdasar pada huruf-huruf alphabet. Bagaimana Tintin dan Kapten Haddock bisa terlibat dengan urusan galeri dan seni ini? Semuanya bermula ketika Bianca Castafiore, si burung Milan, menelpon ke kastil kediaman Kapten Haddock. Seperti biasanya, ia selalu keliru melafalkan nama Haddock menjadi Kapstock, Shadock, Paddock, Karbock... (kalau diteruskan anda bisa terkekeh-kekeh sendiri!). Castafiore bakal datang menemui ‘kekasihnya’ karena ia sedang mengagumi seorang guru aliran kebatinan bernama Endaddine Akkas, dan akan sekalian mampir ke Moulinsart (di edisi terjemahannya menjadi Marlinspike). Kapten Haddock, yang seperti biasa panik karena akan bertemu Castafiore, menghindar dengan berjalan-jalan ke pusat kota. Tapi, tak dinyana justru di situ ia melihat Castafiore beserta rombongannya hendak lewat. Maka ia cepat-cepat masuk ke bangunan terdekat, yang ternyata sebuah galeri seni bernama Fourcart.



Sialnya, tatkala melewati galeri itu Castafiore justru ingin masuk karena di sana terpajang karya dari pelukis favoritnya, Ramó Nash, yang sedang memamerkan kreasi alphabetnya. Maka Kapten Haddock cepat-cepat masuk ke ruangan terdekat, dan di situ bertemu dengan Tuan Fourcart, direktur galeri, yang lalu menitipkan pesan untuk Tintin bahwa ia ingin menemuinya. Selain itu, Kapten yang malang tergoda rayuan Ramó Nash untuk membeli sebuah huruf H besar terbuat dari acrylic yang katanya adalah koleksi Alpha Art pribadi. Jadi, begitulah awal dari petualangan ini. Seperti biasa, di setiap kehadirannya, Castafiore selalu membawa bencana sekaligus petualangan yang menarik ya?



Seperti janjinya, Tuan Fourcart (pemilik galeri) membuat janji pertemuan dengan Tintin. Namun setelah ditunggu-tunggu, Tuan Fourcart tak pernah datang, hingga keesokan harinya tersiar berita bahwa beliau meninggal dalam kecelakaan mobil. Selain itu ada pula seniman besar lainnya yang lebih dulu meninggal. Maka, insting detektif si wartawan muda Tintin mulai bekerja. Berarti ini bukan kebetulan. Direktur itu ingin bertemu, lalu ia mati. Pasti ada sesuatu yang penting (mungkin rahasia) yang ingin disampaikannya, yang menyebabkan ia mati.



Ia pun menelusuri jejak sang direktur galeri dari asisten sang direktur sampai ke bengkel yang mereparasi mobil celaka itu. Di lain pihak, muncul juga tokoh Emir Ben Kalish Ezab yang berputerakan bocah paling nakal sedunia: Abdullah (masih ingat kan bagaimana hebohnya Abdullah kalau bertemu dengan Kapten?? – di Negeri Emas Hitam). Beliau ingin membangun sebuah museum seni. Tuh kan...seni lagi... Apa hubungan semua ini?



Ada kejadian lucu saat Tintin yang penasaran dengan Endaddine Akkas, datang ke acara sang guru spiritual. Di saat sang guru sedang menghipnotis hadirin, eh..Kapten Haddock bersin-bersin keras sekali sehingga mengacaukan acara. Lalu ketika sang guru mengucapkan mantranya “Aom..”, Kapten malah berujar: “Bunyinya mirip band desa Moulinsart (tempat tinggalnya), Po-pom, po-pom, po-pom...” Hehehehe....selalu saja berbuat iseng di saat yang tidak tepat Kapten kita ini!



Saat di acara itu, pikiran Tintin mulai terbuka akan misteri yang sedang berlangsung. Namun, seperti pada kisah detektif umumnya, saat-saat itulah yang paling berbahaya bagi seorang detektif. Yaitu saat petualangan berubah dari pengejaran seru menjadi pertaruhan hidup-mati yang berbahaya. Dan di saat itulah Tintin tertangkap oleh penjahat-penjahat yang tidak ingin rahasianya terbongkar oleh sang wartawan muda. Rahasia apa? Dan siapakah penjahat itu? Rasanya lebih seru kalau anda membaca sendiri langsung dari bukunya. Tapi, jangan salahkan aku kalau anda kecewa, karena..seperti sudah aku singgung di atas, kisah ini tidak tamat alias terpenggal di tengah-tengah (dan payahnya, pas lagi tegang-tegangnya...).



Di halaman-halaman akhir ada serangkaian sketsa yang dibuat ketika Hergé sedang mengeksplorasi jalan cerita kisah ini. Ada banyak kemungkinan-kemungkinan yang ia kembangkan. Salah satunya menampilkan tokoh duta besar Sondonesia (maksudnya Indonesia mungkin ya?!). Semuanya masih konsep kasar, dan Hergé sendiri belum memutuskan jalan cerita mana yang nantinya akan ia pakai. Namanya juga masih belum selesai?



Anyway, justru semua ketidak-pastian ini yang menurutku makin membuat buku ini semakin menarik. Tak ada yang pernah tahu akhir ceritanya, maka kita pun bebas merangkai kisah kita sendiri, atau bagi yang mahir menggambar komik, mungkin saja anda bisa belajar banyak dari coretan-coretan sang Maestro ini. Dari buku yang tak selesai, bisa muncul begitu banyak kreatifitas. Bukankah itu lebih menarik daripada membaca kisahnya sendiri (toh kita tahu pasti si Tintin pasti akan bebas, entah ditolong oleh Kapten yang membawa polisi, atau oleh si kembar detektif yang kebetulan sedang berada di tempat itu, atau oleh si Snowy, eh..Milo... (tuh kan aku sudah mulai berkreasi sendiri!)...



Ada yang mau membagikan kisah akhir Tintin dan Alpha Art menurut kreasinya sendiri mungkin?