Showing posts with label bisnis. Show all posts
Showing posts with label bisnis. Show all posts

Thursday, March 24, 2011

Gratis – Harga Radikal Yang Mengubah Masa Depan

GRATIS. Satu kata yang dapat memberikan dampak yang besar dan beragam bagi yang membaca atau mendengarnya. Dan di dunia kita saat ini, kata Gratis telah (semakin) banyak digunakan para pebisnis untuk menarik perhatian konsumen. Karena, sungguh!—meski kita tahu tak ada yang benar-benar gratis di dunia ini, kita masih saja tersihir oleh kata itu. Tapi…benarkah tak ada yang benar-benar gratis di dunia ini? Chris Anderson, penulis buku The Long Tail yang telah membuka wawasan kita, akan membeberkan dalam buku barunya ini bagaimana dunia akan segera menuju ke titik Gratis--di mana makin banyak barang akan ditawarkan dengan harga nol atau nyaris nol, dan bagaimana kita semua mesti menyikapinya, baik sebagai produsen maupun konsumen.

Di bagian awal buku, Chris Anderson mengajak kita untuk menengok asal-mula ‘Gratis’. Fenomena memberikan iming-iming produk gratis demi menarik konsumen untuk membeli, ternyata dipelopori oleh produsen Jell-O (produk agar-agar bubuk yang terkenal di Amerika) pada awal abad 20. Anda juga akan disuguhi cerita tentang King Gillette, seorang salesman tutup botol yang diperintah bosnya untuk menemukan sesuatu yang akan dipakai-kemudian-dibuang, dan akhirnya menemukan ide tentang pisau cukur sekali pakai. Menarik juga menyimak bagaimana strategi Jell-O dan Gillette menggunakan ‘Gratis’ untuk mengerek volume penjualannya.

Kalau bentuk ‘Gratis’ di abad 20 berupa iming-iming dan trik untuk memindahkan uang dari satu kantong ke kantong yang lain (mis. gratis untuk alat cukur tapi membayar untuk pisau cukur), maka ‘Gratis’ abad 21 adalah berkat kemampuan menekan biaya barang atau jasa hingga mendekati nol, berkat ekonomi bit (byte) yang menggantikan atom. Ketika dunia digital makin merajalela, maka ‘Gratis’ akan segera terwujud karena biaya produksinya hampir mencapai nol. Jadi, dapat dikatakan bahwa ‘Gratis’ ala abad 20 adalah gratis sebagai umpan, sementara di abad 21 ‘Gratis’ adalah gratis yang sebenar-benarnya. Selamat datang di dunia ‘Gratis’!

Di bab-bab selanjutnya, buku ini banyak mengulas tentang makna ‘Gratis’ dan aplikasinya dalam kehidupan kita, terutama dalam bisnis. Chris Anderson banyak sekali menyuguhkan contoh berbagai perusahaan yang mempraktekkan ‘Gratis’ dan ternyata sukses. Di sisi halaman yang menceritakan hal itu, Chris menyuguhkan semacam tabel atau ilustrasi yang menunjukkan bagaimana strategi yang dijalankan bisnis-bisnis itu sehingga bisa meraup sukses dengan ‘Gratis’. Tentunya contoh-contoh itu akan menjejali wawasan kita pada banyak ide yang dapat kita ambil dan terjemahkan sendiri untuk mendukung bisnis kita.

Yang tak kalah menariknya adalah penjabaran tentang psikologi ‘Gratis’, bagaimana tanggapan konsumen sendiri tentang ‘Gratis’. Ternyata, harga yang dibuat (terlalu) murah malah menyebabkan konsumen meragukan kualitas barang itu. Lain halnya dengan apabila barang itu di-gratiskan. Menarik? Itulah yang dijabarkan di buku ini sebagai “Kesenjangan Satu Sen”. Fenomena inilah yang harus benar-benar dipahami oleh pebisnis sebelum menentukan harga. Apakah harga yang diberikan (atau tidak diberikan alias nol) sudah sesuai dengan harapan target konsumennya secara psikologis?

Namun di sisi lain, ‘Gratis’ juga membuat orang tak menghargai suatu barang. Chris memberi contoh tiket bus yang digratiskan oleh sebuah lembaga sosial, cenderung sering dihilangkan oleh orang-orang yang memilikinya. Baru ketika tiket itu dihargai 1 dollar, orang akan lebih berhati-hati menjaganya, karena tiket itu sekarang lebih ‘bernilai’, dan akhirnya menjadi jarang hilang. Menarik bukan, bagaimana beda 1 dollar bisa mengubah cara pandang manusia? Namun, itu bukan berarti ‘Gratis’ harus dicoret dari rencana bisnis anda. Di akhir pembahasan segi psikologis ini, Chris akan memberikan sebuah model ‘Gratis’ yang ideal untuk diterapkan dalam bisnis anda dengan tetap mempertimbangkan sisi psikologi konsumen.

Gratis Digital

Bagian ini adalah salah satu yang paling menarik di buku ini. Pelajaran dari web:
Jika harga sesuatu menjadi tinggal separuhnya setiap tahun, ‘Gratis’ tidak dapat dihindari ~(hlm. 91).
Kita semua pernah bersinggungan dengan benda-benda digital macam musik, buku, file atau film yang bisa kita download di internet secara gratis. Semua itu bisa terjadi karena biaya penyimpanan dan pembuatan benda-benda digital itu menurun dengan cepatnya, hingga tak lama kemudian pasti akan mencapai titik nol atau hampir nol. Bahkan bukan benda digital saja. Di sini Chris mengambil contoh yang bagus sekali tentang perusahaan yang memproduksi semi-konduktor (elektronik parts) yang memiliki visi jauh ke depan. Alih-alih menetapkan harga untuk hari ini, ia langsung menjual dengan mempertimbangkan ‘biaya esok hari’ yang diprediksinya akan menjadi jauh lebih murah. Hal itu membuatnya berani menjual semi konduktornya hanya dengan 1,21 dollar, bukannya 100 dollar seperti harga pasaran saat itu. Gilakah ia? Apa ia tidak rugi? Chris akan membeberkan secara detail cara berhitung si penjual semi konduktor visioner ini, yang meski tak dapat anda ambil idenya secara langsung, namun mampu membuka cara pandang kita tentang ‘Gratis’.

Lalu bagaimana dengan barang lainnya? Bisakah kita berasumsi bahwa semua barang akan mencapai titik ‘Gratis’ pada suatu saat? Kuncinya terletak pada gagasan. Gagasan, seperti dijelaskan oleh Chris, adalah sebuah komoditas yang biayanya pembuatan dan penyebarannya nol. Jadi, semakin besar porsi gagasan mendasari produksi sebuah barang, maka makin besar (dan cepat) kemungkinannya untuk menjadi makin murah. Dalam hal ini, tentu saja semua yang ada di dunia digital memenuhi syarat untuk cepat menjadi murah, dan bahkan gratis. Bandwith yang terlalu murah untuk diukur membuat kita dapat mengakses YouTube, Flickr, Facebook dll. dengan gratis.

Kemudian, pertanyaan selanjutnya pastilah: bagaimana kita dapat bersaing dengan ‘Gratis’? Siapakah yang diuntungkan dengan ‘Gratis’, pemain pertama atau justru pemain terakhir dalam sebuah bisnis? Tak ada formula yang pasti, namun Chris menyuguhkan dua contoh persaingan perusahaan besar di dunia digital untuk menjadi yang terbaik: Microsoft vs Linux (memperebutkan pasar terbesar untuk OS komputer) dan Google vs Yahoo (memperebutkan pasar terbesar e-mail). Bab ini sangat menarik disimak, karena selain menyingkapkan jurus bisnis mereka berdua yang jarang terungkap, kedua kasus itu akan membuktikan bahwa :

1. Pengaplikasian ‘Gratis’ tidaklah mustahil.
2. Siapa yang paling sigap dan kreatif dalam mengelola ‘Gratis’, dia akan bisa menang walaupun kalah jauh dari pesaingnya dalam hal skala atau usia bisnis.

Setelah kita di ‘cuci otak’ tentang Gratis, maka pertanyaan kita yang terpenting: Nah, kalau begitu…duitnya datang darimana dong, kalo semua digratis-in? Jawaban pertanyaan ini akan dibahas pada bab tentang De-monetisasi, yang lagi-lagi mengambil Google sebagai contoh. Google mengaplikasikan ‘Gratis’ agar jangkauannya bisa maksimal, dan jangkauan luas itu akan mereka manfaatkan untuk mendapatkan pemasukan yang utama. Inilah rahasia sesungguhnya ‘Gratis’! Maka untuk dapat sukses, kita perlu kreatif (seperti halnya Google) untuk menciptakan sumber penghasilan di luar ‘Gratis’.

Dunia ‘Gratis’ juga diulas dengan menarik oleh Chris. Selama ini fenomena pembajakan dan barang super murah “made-in-China” selalu menjadi polemik. Namun, mungkin kita tak pernah benar-benar berpikir bagaimana dunia ‘Gratis’ bisa eksis di China? Bagaimana pula dengan pembajakan? Karena bahkan artis-artis lokal mereka juga tak luput dari pembajakan ini. Namun, mereka bukannya teriak-teriak protes, mereka malah memanfaatkan pembajakan itu dengan cerdiknya untuk kepentingan mereka, mengkonversikannya sebagai pendapatan. Menarik bukan? Mungkin artis-artis kita juga perlu membaca buku ini. Alih-alih terus menerus menghamburkan energi melawan pembajakan dan ‘Gratis’ yang takkan pernah habis, lebih baik memikirkan bagaimana menggunakannya untuk mendongkrak publisitas mereka.

Dan yang terakhir yang juga tak kalah menariknya adalah cara pikir orang-orang yang skeptis tentang ‘Gratis’ (yang ternyata sangat banyak dan datang dari bisnis-bisnis besar juga!). Chris akan membahas keberatan-keberatan mereka tentang ‘Gratis’, lalu menunjukkan di mana kesalahan mereka, serta memberikan solusi yang terbaik yang dapat kita pakai. Tak kurang dari 14 kasus yang disuguhkan Chris di sini, dan boleh aku pastikan bahwa setelah anda membacanya, anda pasti akan merasa yakin bahwa ‘Gratis’ bukan saja telah tiba di dunia kita, namun akan mengubah masa depan kita. Tentu saja, jangan anda berhenti hanya dengan membaca buku ini. Segeralah memikirkan, ‘Gratis’ macam apa yang bisa anda aplikasikan ke dalam bisnis anda, dan mulailah berubah SEKARANG! Karena kalau tidak, jangan-jangan pesaing anda akan menyalip diam-diam…

Buku ini jelas merupakan buku yang perlu dibaca. Memang, non fiksi kurang greget karena tak ada unsur-unsur ketegangan atau klimaks yang biasa ada di fiksi. Namun Chris Anderson, untungnya, menyelingi hasil pemikirannya dengan contoh-contoh yang faktual sehingga kita bak membaca sebuah berita-misteri, yang membuat kita selalu berpikir: “Bagaimana hal itu bisa terjadi ya?” Dan dengan demikian kita takkan pernah bisa melepaskan buku ini sebelum tamat. Meskipun…(mengaku nih)..aku membutuhkan waktu yang agak lama untuk menamatkannya. Tapi memang, non fiksi kan tidak untuk dihambur-hamburkan halaman-halamannya dengan cepat begitu saja, sebaliknya justru diserap isinya sebagai landasan gagasan-gagasan yang kita sendiri bangun sendiri selanjutnya. Setuju kan?

Judul: Gratis-Harga Radikal Yang Mengubah Masa Depan
Pengarang: Chris Anderson
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 2010
Tebal: 314 hlm

Wednesday, March 9, 2011

Social Media, Pentingkah? - Lomba Resensi Buku Serambi 2011


Judul buku: The Social Media Marketing Book
Pengarang: Dan Zarella
Penerjemah: Agung Prihantoro
Penerbit: Serambi
Cetakan: Januari 2011
Tebal: 209 hlm


Bagi anda yang sudah biasa menggunakan Twitter atau Facebook, tentu saja social media adalah salah satu alat bersosialisasi dan berinteraksi di dunia maya. Namun sebenarnya, lebih daripada itu, social media merupakan alat pemasaran yang paling canggih saat ini. Anda mungkin berpikir, ah..ini pasti buku bisnis yang membosankan, berhubung aku bukan pengusaha, tak perlulah membaca buku ini. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Karena siapapun anda, apapun pekerjaan anda, social media telah menjadi bagian penting hidup manusia modern jaman ini. Dan buku The Social Media Marketing Book ini akan mengupas beberapa social media terpopuler yang telah banyak mengubah cara hidup kita dalam bidang sosial, politik, budaya, pendidikan, serta bisnis.

Social media terpopuler
Dan Zarella mengupas sembilan jenis social media yang dianggap paling popular saat ini. Masing-masing memiliki karakteristik sendiri, dan mungkin tidak semuanya penting bagi kita. Tapi cukup mengasyikkan juga membaca semua social media ini untuk menambah wawasan, dan mungkin...siapa tahu ada social media jenis baru yang belum pernah kita coba? Buku ini menawarkan cara menggunakannya, fitur-fitur yang ada, sejarahnya, juga kiat-kiat untuk memanfaatkannya bagi kepentingan kita. Yang lebih menarik lagi, Zarella juga mewawancarai para petinggi social media itu untuk mendapatkan saran mereka bagi para pemakai seperti kita. “Suggestion from the first hand” nih! Yuk kita intip ke-9 jenis social media itu. Jangan sampai anda dibilang ketinggalan jaman loh...

Blogging
Anda yang membaca tulisanku ini, pasti sudah mengenal blog kan? Tapi apa anda tahu siapa cikal bakal blog, penulis catatan harian pertama di internet? Dan bagi anda yang memiliki bisnis, ternyata blogging itu suatu keharusan lho!...

Micro Blogging
Lagi-lagi ini social media yang sedang nge-tren di negara kita. Yes, Twitter! Anda belum punya Twitter? Buku ini akan memandu anda untuk membuat dan menggunakan Twitter. Bagian ini lumayan detail mengulas tentang elemen-elemen Twitter seperti: apa itu retweet, hashtag, dan trending topic. Tak hanya itu, buku ini membahas juga tentang aplikasi-aplikasi pendukung Twitter seperti bit.ly (untuk memperpendek URL) atau TweetDeck. Dan yang lebih penting, Zarella membagikan tips tentang etika ber-tweeting. Jangan sampai saking antusiasnya, anda terus saja membuat twit, tapi lupa untuk 'bercakap-cakap' dengan follower anda, yang merupakan tujuan utama anda membuat akun Twitter!

Jejaring Sosial
Bagian ini diwakili oleh Facebook, MySpace dan LinkedIn. Kalau anda ingin menggunakan jejaring sosial, mana yang harus anda pilih? Apakah harus menggunakan semuanya? Buku ini akan menjelaskan secara terperinci, bukan saja sejarah terbentuknya jejaring sosial di internet, tapi juga sifat unik masing-masing jejaring sosial. Tahukah anda bahwa rata-rata user Facebook berusia antara 35-54 tahun? Pantas saja, tampilan Facebook agak formal, antara LinkedIn yang konvensional dan Myspace yang lebih "remaja", demikian menurut Dan Zarella.

Media Bersama
Anda pernah nonton video di YouTube? Atau menyimpan foto di Flickr? Keduanya merupakan jenis social media yang bertajuk Media Bersama, selain SlideShare. Bagian ini sangat menarik, karena ternyata kita bisa menggunakan YouTube, Flickr dan SlideShare untuk mendukung marketing produk kita atau perusahaan kita loh! Zarella akan membedah masing-masing media itu sehingga kita akan memiliki gambaran yang jelas tentangnya, juga ide-ide segar untuk kita gunakan demi kepentingan kita. Oh ya, sudah tahukah anda bahwa YouTube itu didirikan oleh tiga orang karyawan situs pembayaran yang terkenal di internet? Bagiku, bagian Media Bersama ini adalah yang paling menarik, karena kita belum banyak mengenal manfaat sesungguhnya dari YouTube, Flickr dan SlideShare.

Berita Sosial dan Bookmarking
Mengulas tentang situs-situs seperti Digg, Delicious, Reddit, StumbleUpon. Kalau anda pernah mendapat tips untuk menggunakan semua social bookmarking untuk mengoptimalkan pemasaran, Zarella lebih bijak untuk mengupas satu-persatu karakter situs-situs itu, sehingga anda bisa lebih efektif dan focus menggunakan situs yang benar-benar sesuai dengan target pasar bisnis anda.

Forum
Yang satu ini mungkin tak asing bagi kita. Anda sudah pernah mengintip Kaskus, forum terbesar di negara kita kan? Meski bukan sesuatu yang baru, ada yang menarik di bagian: "Haruskah Anda Membuat Forum Sendiri?". Di sini Zarella memberikan sarannya untuk anda, juga daftar software untuk membuat forum sendiri.

Rating & Review
Dua social media yang ini kurang populer di negara kita, namun tak berarti mereka tak menarik untuk kita baca. Rating dan Review adalah situs-situs untuk memberikan rating bagi bisnis atau produk. Yang menarik di sini barangkali adalah tips Zarella untuk merespons review negatif. Ini hal yang jarang kita temukan di tutorial social media lainnya.

Lalu yang terakhir adalah...

Dunia Virtual
Media ini sebenarnya tak sesuai untuk kita karena koneksi internet kita yang masih jauh dari sempurna agak menyulitkan untuk bermain di dunia virtual seperti World of Warcraft dan SecondLife. Namun tetap saja bahasan tentang Dunia Virtual ini mengasyikkan untuk disimak, apalagi ditambah dengan gambar-gambar yang disertakan, makin membuat para pecandu game akan memimpikan bisa membangun rumah di SecondLife, rumah virtual tentunya...

Setelah begitu banyak wawasan kita bertambah, Zarella masih memberikan strategi, saran, taktik serta cara kita memonitor penggunaan social media kita di akhir buku ini. Sudah tepatkah pilihan cara social media marketing kita? Atau jangan-jangan anda selama ini hanya asyik twitter-an saja tanpa menganalisa manfaatnya untuk bisnis atau karier anda? Penutup buku ini jangan sampai anda lewatkan, karena kalau tidak, sia-sia saja kita membaca seluruh buku ini kan?

Entah mengapa, kali ini aku mampu menghabiskan buku ini sekaligus hanya dalam waktu dua hari (biasanya buku non fiksi bertema bisnis harus kukunyah secara bertahap, yang memakan waktu lama sehingga akhirnya malah tak pernah tuntas kucerna). Namun, The Social Media Marketing Book ini memberi nuansa yang ringan dan akrab pada topik bahasan yang agak serius. Bentuk buku yang melebar kesamping memudahkanku untuk meletakkan buku ini di meja sambil menyimak dan sesekali mengambil pena untuk mencatat yang penting di kertas di sebelah buku. Apalagi Serambi telah bermurah hati menyelipkan sebuah pembatas buku mungil berwarna merah secerah covernya agar lebih mudah menandai buku ini ketika dibawa dalam perjalanan. Sayangnya, penampilan gambar-gambar pendukung yang kadang terlalu kecil agak menyulitkan untuk melihat contoh tampilan sebuah halaman situs. Akan lebih baik mungkin, bila satu halaman diperuntukkan satu gambar, selain lebih memanjakan mata, juga lebih informatif.


bentuk buku yang melebar + pembatas buku mungil


Nah, sudahkah anda memanfaatkan keberlimpahan fitur social media bagi hidup anda? Kalau belum, anda bisa memulainya dengan membaca buku sexy ini (oh ya, aku bilang buku ini sexy karena ia ramping namun tetap padat berisi...).

Saturday, February 20, 2010

Buku Yang Mempengaruhi Hidupku

Sebelum seluruh dunia terjangkit 'demam' Piala Dunia, dunia blogosphere udah duluan terjangkit demam, yaitu demam 'tag buku'. Sudah 2 kali aku dapat tag yang tugasnya berkaitan dengan buku. Kali ini aku dapat dari Hendriawanz another tag tentang buku. Hendri bilang, kita harus menyebutkan buku-buku yang "harus" dan sampai sekarang kudu dipegang juga. Masih bingung dengan maksudnya, aku pergi ke blog Berita untuk negri buat cari bocoran. Di sana aku menemukan bahwa kita diharuskan membagi / share buku-buku apa saja yang pernah dan sampai saat ini masih jadi referensi kita. Nah..udah rada jelas deh. Berarti kita kudu ngumpulin buku-buku yang selama ini mempengaruhi hidup kita dan jadi referensi kita hingga sekarang. OK...inilah buku-bukunya (Ssttt... perasaan bukunya sama aja dengan tag-tag sebelumnya deh!)...

#1
Agatha Christie - Beliau ini adalah pengarang favoritku semenjak SMP (pertama kali aku mengenal karyanya, kalo ga salah yang judulnya 'Setelah Pemakaman'). Meski genrenya adalah cerita detektif, tapi karya Agatha juga mengandung unsur psikologis. Dengan membaca karya-karyanya, aku, yang saat itu sedang tumbuh ke arah dewasa, belajar banyak tentang watak dan karakter manusia, dan bagaimana karakter itu mempengaruhi banyak hal dalam hidup. Aku belajar juga tentang kebaikan vs kejahatan. Apa-apa saja yang membuat manusia yang asalnya baik, dididik dengan baik, dan sehari-harinya memang baik pada semua orang, bisa melakukan sebuah kejahatan terhadap orang yang dicintainya.

Hampir semua buku Agatha Christie pernah aku baca terutama yang tokohnya Hercule Poirot, namun hanya beberapa yang masih terus aku simpan, diantaranya: Tirai, Pembunuhan Atas Roger Ackroyd, dan Sepuluh Anak Negro. Tirai karena ceritanya yang tak biasa (luar biasa menurutku) karena selain endingnya tak terduga, disitu aku belajar juga tentang moral. Pembunuhan Atas Roger Ackroyd menunjukkan dengan gamblang karakter dan cara pandang si penjahat, yang notabene adalah orang baik, namun karena watak yang lemah dan keserakahan akhirnya bisa terperosok ke dunia yang jahat (waktu baca ini baru aku sadar bahwa ada orang yang memang dari sononya berwatak lemah!). Sedang Sepuluh Anak Negro aku suka karena cara deduksinya yang hebat. Bayangkan, kisah pembunuhan tanpa detektif, dan semua tokohnya mati...dan yang jelas...novel paling serem yang pernah kubaca!

#2
Kisah Petualangan Tintin - Meski buku-buku yang lama sudah tak kusimpan (saking lamanya sampai warnanya kecoklatan dan bau apek), tapi banyak ilmu yang telah kuserap selama aku memiliki dan membacanya. Banyak wawasan yang ada di setiap komik Tintin (aku punya semuanya yang edisi asli Herge loh..). Yang jelas, meski tak pernah ke luar negeri, dari sejak SD aku tahu bahwa Tibet itu letaknya di puncak Himalaya, dan di sana ada makhluk yang disebut Yeti (pengen ketawa sendiri kalo ingat Kapten Haddock waktu ketemu Yeti..), aku juga tahu bahwa di gurun pasir sering ada fenomena yang namanya fatamorgana, dan pohon yang bisa tumbuh di sana hanyalah pohon kurma, juga bahwa di bulan tak ada gravitasi. Dan buaanyaak lagi deh pengetahuan umum yang kudapat dari sana. Rasanya komik Tintin adalah buku yang paling sering kubaca ulang.

#3
To Kill A Mockingbird - Aku sudah sering membaca tentang buku ini sejak lama, yang di Amerika menjadi buku wajib baca oleh para siswa sekolah. Tapi, karena aku tak pernah menemukannya edisi terjemahannya di Indonesia (malas ah kalo baca versi Inggrisnya), jadi lama-lama aku lupa. Akhirnya aku menemukan juga edisi terjemahannya, dan memang...kalau buku ini dibaca sejak kecil bisa menjadi landasan cara pandang kita mengenai perbedaan, mengenai bahwa manusia itu diciptakan sama olehNya, dan tak ada manusia lain yang lebih atau kurang baik daripada kita, baik itu dari ras, sosial ekonomi, dst. Buku ini bisa membantu seorang anak untuk bersikap dalam menghadapi perbedaan yang ada.

#4
Catatan Harian Anne Frank - Awalnya papaku sering bercerita tentang Anne Frank, yang adalah gadis yang periang dan penuh optimistis meski dalam keadaan serba sulit. Meski masih muda, harapannya tentang hidup yang lebih baik tak pernah goyah. Aku penasaran waktu itu, dan ingin sekali aku bisa mengenal dan bisa menjadi seperti dirinya: membawa keceriaan pada sekitarku, dan selalu optimis, tak pernah putus asa, dan penuh harapan. Akhirnya aku dapat juga buku edisi terjemahannya beberapa tahun lalu.

#5
Change (Rhenald Kasali) - Buku yang membuka pikiranku pada paradigma baru dalam menjalani hidup, yaitu perubahan. Tak bisa tidak, kita harus mau berubah kalau kita tak mau grafik kehidupan kita terus menurun dan akhirnya tenggelam. Dan setiap perubahan selalu meminta pengorbanan. Setiap kali berubah, pasti ada penurunan sedikit dalam grafik itu, namun grafik itu akan naik lebih tinggi dari grafik kita yang lama. Begitulah kira-kira inti konsep Change-nya Rhenald Kasali ini.

#6
The Long Tail - Buku mengenai bisnis yang memperlihatkan kondisi di mana kita hidup di jaman ini, yaitu di era digital dan informasi. Di jaman ini konsumen tidak lagi didikte oleh produsen, dan orang makin merasa perlu untuk memilih produk yang sesuai keinginannya. Orang lebih percaya pada pengalaman sesama mereka ketimbang pada produsen yang sering membohongi konsumen. Konsep inilah yang akhirnya menjadi dasar pijakanku untuk menseriusi bisnis online.

Rasanya itu buku-buku yang paling menginspirasi dan mempengaruhi hidupku. Kalo buku yang 'harus' sih banyak banget, hehehe... Dan sesuai peraturannya, aku harus meneruskan tag ini ke 10 orang berikutnya. Kali ini yang kebagian adalah...


Silakan dikerjakan kalau berkenan, kalo gak....ya...ga pa pa sih...

Tuesday, July 7, 2009

The Ideavirus – Kiat Menjual Tanpa Memasarkan

Hari gini mau jualan tanpa memasarkan? Ide gila siapa ini? OK, anda boleh menyebutnya ide gila, karena memang pemasaran dan iklan adalah jantung sebuah bisnis. Tapi Seth Godin memiliki pemikiran yang berbeda. Kita bisa tetap menjual tanpa pemasaran, yaitu dengan menyebarkan ide...

----

Dalam buku The Ideavirus yang ia tulis, Seth Godin memaparkan pemikirannya bahwa ‘virus ide’ atau dari konsumen ke konsumen adalah penyebaran informasi yang paling efektif, yang dapat digunakan semua bisnis untuk dapat sukses tanpa harus berurusan lagi dengan cara pemasaran tradisional.

Apa Itu Virus Ide?

Di sepanjang abad pertama dalam sejarah AS, kekayaan dicapai melalui pertanian. Siapa yang mempunyai tanah paling luas dan menjual kedelai dengan harga tinggi akan menjadi kaya. Abad kedua, orang mulai berpaling pada pabrik. Siapa yang menghasilkan produk yang terpajang di semua supermarket besar akan dibilang sukses. Bagaimana dengan abad ke-3 (jaman ini)? Apa yang dapat membuat kita kaya? Jawabnya: IDE. Nah, untuk membuat kita kaya, ide harus dilepaskan, agar ia bergerak, berkembang dan akhirnya menulari semua orang yang disentuhnya, yang bila dikendalikan dengan baik untuk mencapai pasar yang menjadi targetnya, akan meledak dan menjadi...VIRUS IDE.

Mengapa Virus Ide?

  • Hubungan antar manusia kini jauh lebih luas. Internet membuat hubungan kita lebih cepat, luas dan sering.
  • Kecenderungan manusia untuk mengetahui hal-hal terbaru dan menjadi yang terdepan (membuat tren).
  • Pemasaran tradisional tidak efektif karena sering kurang tepat sasaran dan mahal. Misalnya produk tertentu yang iklannya tersebar dimana-mana belum tentu yang dibutuhkan orang yang melihat.
  • Untuk bisa sukses, produk anda harus menjadi yang paling dikenal. Virus ide-lah yang dapat membantu anda mewujudkannya. Contoh: Kalau anda ingin makan nasi pecel, kemana anda akan masuk: kedai A yang harganya lebih murah, tapi sepi? Atau kedai B yang lebih mahal tapi antreannya sampai 2 meter panjangnya? Pasti anda berpikir, wah..pasti enak pecel di kedai B, sampai ngantre-ngantre kayak gitu! Jadi, apa yang mempengaruhi pembelian anda? Bukan pecelnya, tapi pengalamannya. Atau ide akan sebuah pengalaman!

Apa Beda Word of Mouth dan Virus Ide?

Word of mouth menyebar lebih lambat karena hanya beredar dari teman ke teman, ia juga lebih cepat menghilang karena jumlah orang yang berpartisipasi lebih sedikit. Sedang virus ide menyebar lebih cepat dan jauh, dan karenanya bukannya melambat pertambahannya, namun justru semakin berkembang.

Bagaimana Melepaskan Virus Ide?

Jika anda baru membuka kedai eskrim, dan semua orang di kota anda memberitahu 10 orang temannya tentang kedai anda, lalu hari berikutnya ada antrean mengular di depan pintu kedai anda, maka virus ide anda telah sukses. Masalahnya, semudah itukah menularkan virus ide?

Unsur utama atau inti dalam virus ide, tentu saja adalah Penyebar Virus. Ia haruslah orang yang memiliki kredibilitas sehingga ketika ia berbicara kepada 10 atau 100 orang lain, mereka mempercayainya. Ada 2 macam Penyebar Virus:

  1. Penyebar Virus Sembarang – orang yang menyebarkan virus demi mendapat imbalan. Termasuk di dalamnya agen asuransi, anggota MLM, anggota affiliate dari Amazon, dsb. Uang adalah motivasi mereka.
  2. Penyebar Virus Kuat – orang-orang yang gaya hidupnya menjadi panutan banyak orang. Tipe ini tidak mendapat imbalan atau perintah, tapi biasanya justru merupakan penyebar virus yang amat kuat pengaruhnya. Contoh: potongan rambut Demi Moore ketika tampil di film ‘Ghost’, menyebabkan banyak cewek cepat-cepat pergi ke salon untuk mengganti hair style mereka.

Adakalanya Penyebar Virus Sembarang tiba-tiba menjadi Penyebar Virus Kuat, yakni saat seseorang yang mendapat imbalan untuk menyebarkan ide melalui suatu media, katakanlah blog, lalu banyak orang membaca dan menyukai ulasan orang tsb.

Bagi pemilik usaha yang ingin menggunakan ‘jasa’ Penyebar Virus Sembarang, ada beberapa tips berguna untuk mengoptimalkan hasilnya,

  1. Buatlah janji-janji yang muluk, misalnya kesempatan untuk mengubah gaya hidup atau memberikan penghargaan tertentu.
  2. Tunjukkan pada mereka cara meningkatkan volume
  3. Gambarkan jalur yang bisa dicapai, dengan menunjukkan bahwa ada cara bagi mereka untuk mengambil keuntungan dari petualangan ini.
  4. Saat satu orang sukses, beritahu lainnya.
  5. Berikan orang yang sukses itu kiat untuk menunjukkan pada orang yang bukan penyebar virus bahwa cara itu berhasil.

Bagaimana Menangani Virus Jelek

Semua bisnis tidak lepas dari kesalahan. Saat kesalahan itu terungkap publik (virus jelek), cara terbaik untuk menangani dan memperbaikinya adalah bukan dengan memeranginya, atau tutup mulut berharap publik kelak akan tahu bahwa hal itu tidak benar (yang akan mendatangkan kerugian selama penurunan penjualan). Tetapi justru dengan menyebarkan virus lain yang membiarkan publik merasakan pengalaman positif ketika memakai produk anda, atau yang disebut Godin sebagai mengisi kevakuman yang ada. Contoh: saat sebuah merek mobil ‘X’ ditengarai mesinnya berbunyi keras, anda bisa mengadakan acara ‘Jalan-Jalan Gratis Bersama X’. Dengan mengajak orang berkendara dengan mobil itu, mereka akan mengalami sendiri bahwa ternyata mesinnya berbunyi halus.

Apa Yang Menentukan Penyebaran Virus Ide Anda?

  1. Berapa banyak orang yang mengetahui tentang produk anda sebelum penyebaran dimulai?
  2. Kelancaran penyebaran, dengan membuat virus itu mudah menyebar. Contoh pada e-business, dengan membubuhkan kalimat ‘Klik di sini untuk mengirim artikel ini pada teman’.
  3. Mengubah sesuatu yang bersifat coba-coba menjadi tetap.
  4. Tak perlu ditekankan lagi, bahwa di masa ini penggunaan internet memberi dampak hebat pada penyebaran virus ide.

Bagaimana Meramu Virus Ide Untuk Bisnis Anda?

5 hal yang harus diperhatikan:

Keuntungan dari segi reputasi bagi Penyebar Virus Kuat karena merekomendasikan suatu virus - Penyebar Virus Kuat memang tak dapat disuap, namun mereka mungkin termotivasi untuk terlihat pintar/up to date di mata orang lain, atau ingin membuat orang lain senang.

Keuntungan dari segi egoisme untuk Penyebar Virus Sembarang karena merekomendasikan virus – Amazon adalah penyedia program afiliasi yang mudah untuk diikuti, dengan skema komisi yang sederhana, dan dukungan prosedur dan tools yang sangat membantu Penyebar Virusnya.

Kelancaran dalam membagi virus itu dengan seorang teman – buatlah agar Penyebar Virus anda mudah dan otomatis dalam melakukan penyebarannya.

Daya penguat yang digunakan untuk menyebarkan kabar dari mulut ke mulut yang positif – Keberhasilan Penyebar Virus untuk mempengaruhi orang lain akan memperkuat virus ide itu tanpa mengeluarkan biaya tambahan.

Frekuensi interaksi di antara para anggota kelompok – Temukan di mana sebuah kelompok tingkat interaksinya paling tinggi, maka disitulah kecepatan virus ide anda akan meningkat drastis. Misalnya produk anda adalah pakaian olahraga, membagikan topi gratis dengan logo anda pada sebuah turnamen akan memperkuat pesan atau ide anda.

Contoh Penyebaran Virus Ide Dalam Kehidupan Masa Kini:

Setelah membaca buku ini, inilah contoh cara penyebaran virus ide dalam era sekarang ini.

  1. Paid review di blog (misalnya Alcnect Computer yang sedang mengadakan kontes bagi para blogger untuk mereview produk mereka. Anda sebetulnya adalah para penyebar virus loh!).
  2. Konsep yang diusung oleh Amazon.com, yang memungkinkan konsumen mereview produk yang sudah dibelinya, dan dipakai sebagai acuan bagi calon konsumen lain.

Sebenarnya konsep ini memang sedang marak digunakan. Paling tidak, sekarang kita tahu alasan dibalik penggunaan konsep ini, bagaimana sesungguhnya konsep ini bekerja, dan bagaimana dampaknya dalam persaingan bisnis.

Kesimpulannya, cara marketing yang agresif kini dituntut untuk dapat memenangkan kompetisi. Iklan dan promosi yang pasif kurang efektif karena dunia sudah makin crowded. Bagaimana dengan bisnis anda? Sudahkah anda menerapkan virus ide untuk memenangkan persaingan?

Judul : The Ideavirus
Pengarang : Seth Godin
Penerbit : BIP, 2006
Halaman : 262
Harga : Rp 46.000,-


Thursday, June 11, 2009

Putera Sampoerna & The Sampoerna Way

Sampoerna: Perjalanan Menuju Perusahaan Kelas Dunia, itu adalah judul tulisanku untuk berkontribusi di Slim Magazine II, sebuah proyek milik mas Trimatra yang edisi keduanya mulai ditayangkan tgl. 10 Juni 2009 kemarin. Saat aku mendapat e-mail dari mas Trimatra untuk mengirimkan tulisan, aku lumayan surprise karena ternyata aku kebagian mengisi kolom Ekonomi. Wow…begitu pikirku langsung. Kalo yang namanya inspirasi atau review novel sih udah biasa, tapi kalo ekonomi? Wah, harus banyak melibatkan otak kiri nih…alias berpikir serius.

Tapi, berhubung Fanda suka tantangan, kayak biasa, aku terima aja. Sempat bingung juga, apa yang akan aku tulis?? Aku ngintip dulu ke Slim Magazine edisi I, ternyata mbak Reni menulis tentang Mohammad Yunus. Seorang tokoh! Ya..kenapa tidak? Menulis seorang tokoh dan kiprahnya di bidang ekonomi/bisnis. Lalu aku ingat bahwa sudah lama aku ingin mengulas sebuah buku tentang perjalanan bisnis Sampoerna. Sempurna deh… Hasilnya bisa dibaca langsung di Slim Magazine part II di bagian Ekonomi. Thanks ya mas Trimatra buat kesempatan menulis di Slim Magazine ini. Semoga makin sukses deh proyeknya...

Namun, kali ini aku tak akan memposting ulang tentang Sampoerna sebagai sebuah perusahaan, namun khusus kepada sang pebisnis ulung yang kebetulan jadi salah satu idolaku: Putera Sampoerna. Sampoerna adalah sebuah perusahaan hebat yang dimulai dari sebuah kios kecil dan dalam 90 tahun telah bertransformasi menjadi perusahaan kelas dunia (perjalanannya bisa dibaca disini). Dan lompatan terbesar ditorehkan oleh Putera Sampoerna yang merupakan generasi ke 3. Kali ini sisi leadership beliau lah yang akan aku ulas.

Kehebatan Putera Sampoerna sebagai sosok pemimpin yang visioner dan perfeksionis terungkap dalam konsep The Sampoerna Way yang ia luncurkan pada bulan Mei 2002. The Sampoerna Way menjadi tatanan berperilaku semua orang yang bernaung di bawah Sampoerna, dan akan membawa Sampoerna benar-benar berbeda dari pesaingnya.

Kebetulan Sampoerna adalah salah satu customer perusahaan di mana aku bekerja. Bekerja sama dengan Sampoerna memberikan kesan yang dalam tentang profesionalisme dan passion orang-orangnya. Terlihat jelas bahwa tiap orang, dengan kapasitasnya masing-masing selalu ingin membuat sebuah perbedaan, bahkan terasa melebihi ekspektasi standar. Umpamanya, kami (aku hanya mendampingi saja) suatu saat mempresentasikan sebuah proyek kepada sekitar 6 orang yang berbeda divisi. Presentasi yang sebenarnya singkat itu berlangsung berjam-jam karena semua orang dengan penuh semangat mengeluarkan pendapat dan memberikan usulan-usulan (yang bagi kami terlalu fantastis bagi sebuah proyek yang sederhana). Namun, memang karakter itu yang dituntut oleh the Sampoerna Way, yakni kreatifitas dan cara pikir yang berbeda, sesuai dengan budaya ‘Kami Memang Beda’.

Kredo utama dari The Sampoerna Way adalah Anggarda Paramita, yang berarti Menuju Kesempurnaan, yang kemudian diterjemahkan ke dalam falsafah-falsafah yang memicu karyawan untuk selalu berpikir kreatif dan berbeda menuju sebuah arah yang sama. Namun kuncinya tetap berada di tangan sang pemimpin, yakni Putera Sampoerna yang memiliki karakteristik strategic intelligence.

4 ciri pemimpin dengan strategic intelligence:

Visioner – selalu melihat ke depan, berani untuk merubah status quo
Risk Taker (Pengambil Resiko) – berani melawan arus dan melaksanakannya dengan komitmen sampai ke titik sukses.
Pola pikir system thinking – dalam menjalankan sesuatu memiliki skenario dan langkah untuk beberapa tahapan ke depan.
Passion – melakukan sesuatu dengan passion demi misi untuk mengubah keadaan.

Namun di kala ide brilian dan inovatif, tak jarang orang justru takut untuk merealisasikannya karena ragu apakah akan berhasil atau tidak. Untuk itu Putera selalu menekankan prinsip “Don’t blame anybody! Solve the problem, don’t blame the person”. Dengan demikian tiap orang dipacu untuk berpikir dengan cara berbeda tapi harus memiliki arah yang jelas yang harus dieksekusi dengan tepat dan cepat.

Sistem Sampoerna Rank
Putera Sampoerna tidak menganggap penting sebuah jabatan, namun lebih menekankan pada tanggung jawab fungsionalnya. Di Sampoerna karyawan tidak diberi job description, melainkan opportunity. Ini karena tiap orang punya kapasitas berbeda dan unik. Setiap orang dipacu untuk memberikan kontribusi terbaik apabila opportunity yang sesuai dengan kemampuannya datang, tanpa dibatasi tingkat jabatan. Dengan begini, seorang bawahan tak harus menunggu atasannya naik baru bisa memperlihatkan kemampuannya.

Agar atasan mengenal kemampuan bawahannya, setiap manajer harus mengenal semua bawahannya sampai 2 level di bawahnya. Contoh: Si C punya atasan B, dan B punya atasan A. Maka A bukan saja mengenal B, tapi harus juga mengenal C. Bila suatu tugas membutuhkan skill si C, ia bisa langsung menugaskannya tanpa melalui B. Terkesan tidak adil? Mungkin ini dimaksudkan Putera untuk memacu semua karyawannya untuk selalu berprestasi dan berinovasi.

Putera Sampoerna selalu menyamakan bisnis dengan perang, namun perang yang memiliki etika (“business is an ethical war”). Menurutnya, ada 2 tipe karyawan dipandang dari kapasitasnya. Ada yang berani mengambil tanggung jawab (di medan perang disamakan dengan tentara di garis depan atau satuan tempur), atau yang bertahan di status quo (satuan pendudukan).

Yang tak kalah menarik, adalah konsep Putera Sampoerna dalam hal promosi karyawan, yakni konsep tanggung jawab dari si promotor terhadap orang yang dipromosikan. Sehingga bila orang yang dipromosikan berbuat salah, si promotor juga ikut menanggung kesalahannya. Maka seorang manajer harus yakin dulu sebelum memprakarsai suatu promosi.

Kesimpulannya, yang membuat sebuah perusahaan terus tumbuh dan berkembang adalah budaya atau kultur, bukan orang atau bakatnya. Orang bisa saja keluar-masuk di semua lini, namun budaya yang kuat akan mengakar pada keseluruhan perusahaan. Bahkan dapat mengelola setiap orang yang datang dengan latar belakang berbeda untuk dapat bekerja dengan arah yang sama. Budaya yang dilaksanakan dengan baik tidak hanya berpengaruh terhadap kinerja yang lebih bagus, tapi juga menghasilkan organisai yang lebih efisien. Dan dalam konteks Sampoerna, budaya itu adalah budaya ‘Kami Memang Beda’ yang terjabarkan dengan begitu detail dan sempurna dalam The Sampoerna Way.


Thursday, May 14, 2009

The Starbucks Experience

Siapa yang tidak mengenal Starbucks, kedai kopi paling terkenal di dunia? Paling tidak anda pernah melihat tempatnya, atau paling tidak mendengar tentangnya. Judul posting ini bukan berarti aku melulu menceritakan pengalamanku ngopi di Starbucks, melainkan ulasan sebuah buku yang mengupas tuntas keberhasilan Starbucks mendunia hanya dengan menjual kopi! Mari kita ngopi sebentar yuk...[mbak Elly pasti suka nih...].

Buat yang belum pernah ngopi di Starbucks, coba aku gambarkan sedikit ya. Di Surabaya Starbucks pertama kali buka di Tunjungan Plaza. Dari jarak beberapa meter sebelum pintu depan kedaipun, aroma kopi yang harum sudah langsung menyeruak, membuat kita langsung tahu di mana letak kedainya. Itu dia! Kedai dengan penataan interior yang nyaman dan eksklusif, cahaya yang soft, musik yang mengalun pelan. Beberapa sofa empuk untuk pengunjung yang datang berombongan, maupun meja-meja kecil buat yang ingin menikmati kopinya sambil mengetik laporan atau membaca buku sendirian, semuanya ditata dengan rapi dan memberi kesan luas.

Begitu datang aku langsung menghampiri konter untuk memesan. Para stafnya begitu ramah dan bersahabat membantuku memilih menu. Meski saat pertama kesana aku agak bingung juga pilih-pilih, namun mereka dengan sabar membimbing aku sehingga akhirnya aku bisa memilih minuman yang benar-benar sesuai dengan seleraku (kopinya pake yang decaf dan jangan banyak-banyak, esnya jangan terlalu dingin, ga pake krim, dll). Setelah membayar, maka jadilah kopiku. Aku menuju ke tempat gula, topping, dsb, mengambil gula sesuai keinginan, sedotan, dan...mencari tempat yang enak. Saat itu aku sendirian, aku bawa buku dari rumah, dan dengan segelas besar Frappucino dingin lalu duduk di salah satu meja kecil itu, dan membaca dengan tenang. Tak perlu tergesa-gesa menghabiskan minuman, karena toh tak ada yang mengusirku meski gelasku sudah kosong.

Saat aku keluar dari situ, dengan isi dompet berkurang sekitar 25ribu (itu beberapa tahun lalu ya!), aku merasa puas dan bahagia. Anda mungkin akan bilang, ‘Gila! Ngopi saja 25ribu? Malah merasa bahagia?’. Anda salah, karena uang 25ribu tadi bukan melulu untuk membeli kopi. ‘Loh, katanya Starbucks itu kedai kopi? Beli apa lagi dong kalo bukan kopi?’....

-----

Berterima kasihlah pada Joseph A. Mitchelli, yang telah merangkum bagi kita 5 prinsip dalam bisnis untuk mengubah hal biasa menjadi luar biasa, yang telah ia pelajari dari seluruh mitra (bagi kita artinya karyawan) Starbucks di berbagai kota. 5 prinsip itulah yang telah mengubah Starbucks dari sebuah kedai kopi menjadi jaringan cafe yang mendunia dan mengubah gaya hidup kita. Uniknya lagi, Mitchelli menyediakan pertanyaan refleksif pada akhir setiap pembahasan agar kita dapat menciptakan pengalaman kita sendiri.

Prinsip 1 – Lakukan Dengan Cara Anda

Di Starbucks, karyawan merupakan aset yang sangat penting. Mereka disebut sebagai ‘mitra’. Mereka diharapkan tidak sekedar menjalankan tugas, namun didorong oleh perusahaan untuk mengeluarkan gairah dan bakat masing-masing. Karena dengan begitu mereka akan memberikan dampak terhadap orang-orang yang mereka layani. Manajemen Starbucks membuat konsep yang disebut Green Apron Book (Kitab Celemek Hijau), sebuah pamflet yang dapat dimasukkan ke dalam celemek para mitra berisi 5 kiat: ramah, tulus, perhatian, berwawasan, peduli. Itulah panduan singkat yang dapat diterjemahkan dan dikembangkan sendiri oleh para mitra agar dapat menciptakan Starbucks Experience secara unik dengan cara mereka masing-masing.

Prinsip 2 – Semuanya Penting

Bisnis ritel adalah tentang detail. Kesuksesan Starbucks-pun datang dari perhatian para mitra tentang detail-detail terkecil yang sangat penting bagi konsumen. Detail itu antara lain atmosfer di tiap-tiap kedai yang harus punya citra dan karakter yang konsisten. Arsitektur bisa disesuaikan dengan kekhasan kedai tsb, misalnya kedai di kota Paris yang mempertahankan langit-langit bergaya abad 19 sesuai bentuk aslinya. Detail yang lain adalah prosedur dalam pengoperasian sehari-hari yang meliputi kualitas kesegaran kopi dan cara penyimpanannya. Begitu juga cara mitra memperlakukan pelanggan. Untuk hal ini manajemen menciptakan permainan simulasi yang diberi nama Starbucks Experience From the Inside Out, yakni permainan yang mengharuskan seorang barista melayani pelanggan yang diperankan mitra lainnya. Pendek kata, konsistensi akan detail yang dijalankan di Starbucks bertujuan untuk menyediakan kehangatan, kenyamanan dan kesenangan bagi setiap orang yang datang.

Prinsip 3 – Surprise And Delight

Apa yang anda rasakan saat seseorang memberikan sesuatu di luar kebiasaannya dan melebihi ekspektasi anda, dan itu diberikan secara alami dan spontan? Surprise and delight, kejutan dan kegembiraan. Itulah yang diberikan Starbucks secara berkala untuk memanjakan pelanggan. Bayangkan jika suatu hari anda pergi ke kedai Starbucks dan ditawari seporsi es krim gratis? Padahal selama ini produk tak dijual di kedai, dan hanya di supermarket? Ketika anda bertanya, dalam rangka apa nih? Lalu dijawab: semata-mata untuk menyenangkan pelanggan....Apa yang terjadi? Rasa es krim itu mungkin hanya melekat di bibir anda hingga 5 menit berikutnya, namun pengalaman yang berkesan mendapat es krim gratis secara tak terduga mungkin akan melekat di hati anda, bahkan sampai ke telinga orang lain sampai waktu yang lama. Anda yang hanya pelanggan kecil akan merasa diperhatikan oleh perusahaan yang begitu besar. Dan untuk itu semua yang diperlukan hanyalah sikap tulus dan penuh makna dari para mitra yang kreatif... Akan lebih hebat lagi kalau anda bisa menyenangkan pelanggan saat ada masalah!

Prinsip 4 – Terbuka Terhadap Kritik

Menurut Starbucks, kritik perlu didengarkan secara aktif. Dan bukan hanya menanggapi masalah, kadangkala mereka bahkan mengundang pengkritik dalam sebuah diskusi pemecahan masalah. Membuat pengkritik berbalik menjadi rekan, itulah prinsip keterbukaan terhadap kritik. Jangan berusaha mengalahkan mereka, bersahabatlah dengan mereka! Karena bila kritik didiamkan atau justru direspon secara reaktif, maka image perusahaan akan semakin jatuh. Maka yang dibutuhkan adalah mendengarkan dan mengambil tindakan dengan cepat.

Prinsip 5 – Tinggalkan Jejak Anda (Leave Your Mark)

Masih menurut Starbucks, kesuksesan bisnis mereka terkait dengan dampak kuat dan positif yang mereka berikan pada komunitas dan lingkungan. Lewat program CSR-nya (Corporate Social Responsibility), Starbucks antara lain berkomitmen untuk menggunakan produk yang ramah lingkungan, bekerja sama dengan perusahaan yang peduli lingkungan dan memiliki latar belakang sosial yang kuat, seperti pemasok yang lebih dari 51% pemiliknya adalah wanita atau kelompok minoritas. Starbucks juga ‘menantang’ para mitranya untuk meninggalkan jejaknya sendiri dengan menciptakan program Make Your Mark. Caranya, Starbucks menyediakan kontribusi sebesar $10 per jam sampai $1000 per proyek pada organisasi yang memenuhi syarat, di mana sang mitra akan menjadi sukarelawan/wati.

Di mata Starbucks, program CSR bukan melulu mem-budgetkan sejumlah dana untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat, namun memulai menjadi pelayan masyarakat, melibatkan diri dalam masyarakat.

Hebat ya perusahaan seperti Starbucks ini, yang mengajarkan pegawainya bagaimana cara menjadi, bukan sekedar melakukan sesuatu yang paling berharga bagi bisnisnya. Dan semua itu memiliki sebuah tujuan besar, yakni membuat hari-hari pelanggan lebih baik dan membuat mereka merasa nyaman berada di Starbucks. Itulah rangkuman ‘apa yang seharusnya dilakukan oleh sebuah bisnis’. Bukan begitu?

Lalu, sudah siapkah anda mengaplikasikannya dalam bisnis/karir anda?



Saturday, May 2, 2009

Tinjauan The Long Tail: Saatnya Niche Market Berkuasa

Pada tahun 2006 terbit sebuah buku yang mengangkat sebuah fenomena baru dalam dunia bisnis. Chris Anderson dengan cara memikat membuka wawasan kita akan masa depan dunia ini. Dunia di mana pilihan tak terbatas akan menciptakan permintaan tak terbatas. Buku ini diterbitkan di Indonesia tahun 2007, dan inilah tinjauanku atas pemikiran dan teori Long Tail ini, dan bagaimana teori ini akan membantu hidup dan bisnis kita.

-----

Long Tail atau ekor panjang sejatinya adalah gambaran sebuah kurva pada grafik penjualan suatu produk. Lihat gambar di bawah ini:


Area berwarna merah (kita sebut sebagai kepala) menunjukkan popularitas, sedang area berwarna orange (yang disebut ekor) menunjukkan produk atau omzet. Jadi, bila diterjemahkan, Chris Anderson memandang tendensi bisnis saat ini adalah semakin tinggi popularitas sebuah produk, semakin kecil omzetnya. Sedangkan semakin rendah popularitasnya, semakin besar omzetnya. Bahkan, kalau kita cermati, ujung area orange membentuk panah ke arah timur, yang menggambarkan bahwa di dasar popularitas, terdapat pasar yang tak terbatas. “Apa??”

Anda mungkin terkejut dan tidak setuju dengan teori itu. Kita sudah terbiasa dicekoki oleh ‘the best’ atau ‘hit’ dalam hidup kita. Anda sering mendengarkan radio? Banyak radio yang menayangkan tangga lagu setiap malam Minggu, begitu juga MTV. Artinya, yang disanjung-sanjung adalah selalu ‘the best’, the best movie, the best music, dan the best-the best lainnya. Anda pernah belanja buku atau download musik online? Di situs-nya pasti ada the best, best seller atau top sekian...(ten to one hundred). Dan dapat dibayangkan pasti yang masuk di daftar best seller itu meraup untung yang banyak dari omzet yang besar. Maka popularitas dianalogikan dengan keuntungan, siapa yang paling populer, dialah yang berkuasa. Sampai...Chris Anderson datang membawa idenya yang akan mengubah pandangan anda!

Anda pasti kenal Michael Jackson. Albumnya masuk dalam top 50 penjualan musik di seluruh dunia. Namun, lihat saja di abad 21 ini, berapa orang yang mendownload lagu-lagunya dalam satu bulan terakhir misalnya. Lihat juga pergeseran hiburan bagi kita yang hidup di jaman ini. Penonton jaringan televisi merosot karena banyak yang pindah ke saluran-saluran kabel bertema khusus. Penonton televisi juga mulai lebih suka memelototi internet maupun video games ketimbang acara TV. Jadi, meski fenomena hit masih tetap ada, rating mereka terus turun. Lalu, kemana perginya mantan customer setia itu? Tidak kemana-mana, melainkan terbagi-bagi ke banyak pasar kecil khusus (niche market) yang lebih sesuai dengan selera mereka dan jumlahnya buanyaaaaak...

Dulu kita hanya mempunyai beberapa surat kabar di kota kita dan malahan hanya satu saluran televisi (TVRI) sebelum akhirnya banyak TV swasta yang berkiprah. Sehingga berita yang diterima oleh semua orang sama: yaitu yang disiarkan TV atau dicetak di koran itu. Kalau ada yang bertanya siapa penyanyi favoritmu? Pasti jawabannya adalah penyanyi yang kita tahu karena memang sudah terkenal. Tapi lihatlah apa yang terjadi sekarang!

Anda mungkin sudah familiar dengan iPod. Coba bandingkan isi iPod anda dengan teman-teman, isinya pasti akan sangat beragam. Mungkin malah ada lagu-lagu yang tak pernah anda dengar sebelumnya. Itulah pasar kecil khusus atau niche market.

Terima kasih pada internet, dunia maya yang memberikan pilihan yang tak terbatas pada kita. Niche market yang pada jaman dulu pasti tak akan terlihat, tertutup bayang-bayang para penguasa best seller, kini dapat menemukan dan ditemukan penggemarnya lewat Google dan search engine lainnya. Tapi, bukankah niche market itu jumlahnya kecil sekali? Bagaimana bisa sebuah bisnis hanya mengandalkan niche market? Begitu pula pikirku ketika aku pertama kali berkenalan dengan internet marketing (baik adsense maupun affiliate marketing). Apa akan ada yang mengklik iklan adsense-ku? Atau membeli produk affiliate-ku? Atau bahkan berapa orang yang akan masuk ke website nicheku? Padahal aturan bisnis yang aku ketahui sampai saat itu adalah gelutilah bisnis yang paling banyak dibutuhkan orang, misalnya: makanan. Kan semua orang pasti butuh makan? Makanya bisnis ini kagak ada matinya. Kata siapa?? Banyak resto yang tutup padahal makanannya lumayan enak.

Jadi, kalau bisnis yang pasarnya luas aja bisa bangkrut, apalagi kalau di niche market? Chris Anderson memperkenalkan pada kita yang disebutnya dengan ‘Aturan 98%”. Yaitu hasil pengamatan sebuah perusahaan pembuat digital jukebox. Dari 10.000 album yang tersedia, ada berapa persen yang terjual paling tidak 1 track per triwulan? Kalau di dunia nyata, separo dari 10.000 buku terlaris tidak terjual satupun per triwulan. Sedang di digital jukebox? Siap-siaplah untuk kaget: 98% !! Setelah riset yang panjang, Chris pun memperkenalkan fenomena the Long Tail, si ekor panjang. Karena, ternyata justru produk yang sangat-sangat niche dan jumlahnya sangat banyak itu tetap diminati banyak orang, sehingga kurva itu seolah tanpa akhir. Setiap kali si digital jukebox menambah koleksinya, selalu akan ada penjualan. Jadi, tidak diketahui kan kapan berakhirnya?

Apa penyebab fenomena ini?

Tak lain karena pergeseran budaya. Baik yang menyangkut permintaan: manusia modern yang tak mau lagi didikte. Didikte oleh penjual, oleh selera pasar. Kita semua ingin tampil beda kan? Juga yang menyangkut produksi. Dengan adanya bytes dalam dunia digital dan internet, juga fenomena open source (lihat review buku Wikinomics), ongkos produksi dan distribusi menjadi semakin murah sehingga segala sesuatu menjadi tersedia bagi semua orang. Dengan bantuan Google, kita dapat mencari apapun yang kita butuhkan, berita, makanan, tempat wisata, kursi di pesawat, sampai jodoh...

Bagi penggemar buku, mungkin pernah mendengar tentang print-on-demand, yakni pencetakan buku yang bukan dengan cara massal seperti yang selama ini ada, tetapi sebuah naskah baru akan dicetak begitu ada permintaan (aku sudah pernah membeli buku yang model begini, yakni Old Surehand). Mungkin cara ini masih terbilang mahal, namun potensinya sangat besar untuk menggeser industri percetakan (buku Old Surehand kubeli dengan harga 60.000, bukan harga yang terlalu mahal dibanding buku-buku best seller di toko buku offline!).

Efisiensi produksi itu bukan hanya memperpanjang ekor si Long Tail, tapi juga akan memperbaiki iklim bisnis di area kepala. Lalu bagaimana sebenarnya mekanisme Long Tail itu dapat bertahan? Unsur pertama adalah produksi (yang sudah diulas di atas), kedua: distribusi, dan yang ketiga dan terpenting adalah unsur word of mouth, yang memungkinkan orang menemukan apa yang mereka inginkan di tengah keragaman yang luarbiasa berlimpah itu.

Mungkin kita ini tidak menyadari bahwa kita sedang berada pada titik perubahan besar dalam era manusia. Kita sedang meninggalkan Jaman Informasi untuk memasuki Jaman Rekomendasi. Apa itu Jaman Rekomendasi? Di jaman ini informasi begitu mudah didapat, namun yang sulit adalah untuk membuat keputusan di tengah banjir informasi itu. Nah, rekomendasi-lah jalan pintas menembus hutan informasi itu. Pernahkah anda membeli barang atau sekedar ‘window shopping’ di Amazon??

Bagaimana kultur para pengguna Amazon? Sebelum membeli mereka akan mempelajari fitur produk itu, lalu melihat berapa banyak pengguna lain yang telah memakai produk itu, apa kata mereka tentang produk itu, puas atau tidak. Pada akhirnya, rekomendasi pemakai lainlah yang punya pengaruh besar pada keputusan membeli. Coba kalau kita melihat barang yang belum pernah direkomendasi orang sama sekali. Pasti kita akan berpikir, wah, kok tidak ada yang merekomendasi ya? Jangan-jangan produknya jelek?. Nah, jelas kan apa itu Jaman Rekomendasi?

Mengapa pada 30 tahun yang lalu, misalnya, kita tidak membutuhkan niche atau rekomendasi? Karena kultur manusia sudah berubah. Jika dulu orang ingin ‘I want to be normal’, maka sekarang mereka menuntut ‘I want to be special’. Jika dulu mereka dipaksa menurut selera pasar, alias pasarlah yang mendikte, maka kini customer berbalik menjadi penguasa atas pasar. Customer-lah yang menciptakan pasar. Kita semua dapat mengeksplorasi selera kita tepat seperti yang kita inginkan. Jika dulu, pada jaman toko buku offline, berhubung keterbasan ruang untuk display, maka buku-buku yang best seller-lah yang menguasai ruangan. Kita tak punya pilihan lain. Namun sekarang, ketika biaya penyimpanan dalam bytes hampir nihil, ketersediaan itu menjadi berlimpah. Maka kita disuguhi pilihan yang tak terbatas. Karena melimpahnya pilihan itu, maka kita membutuhkan rekomendasi, yakni rekomendasi dari orang lain dengan kebutuhan dan kondisi yang sangat mirip dengan kita.

Maka, tak dapat dipungkiri bahwa kemajuan pesat teknologi membuat Long Tail tak dapat dihindari. Kultur niche akan menata ulang tatanan sosial kita. Orang-orang akan membentuk kembali kelompok berdasarkan minat yang tidak dipengaruhi lagi oleh kedekatan geografis serta kesamaan tempat kerja. Kalau dulu penduduk sebuah kota kecil dapat dipastikan membaca berita yang sama dari harian lokal yang sama, menonton acara televisi yang sama. Namun kini, anda dan anak anda bisa saja berada di ruang yang sama, namun sibuk dengan hal yang benar-benar berbeda.

Keberadaan blog adalah contoh bisnis yang menganut kultur niche. Seorang blogger bisa mengulas sesuatu niche dengan sangat fokus, berkebalikan dengan media massa yang harus menjangkau semua golongan, sehingga hanya berita-berita terhangat di semua niche-lah yang akan di-cover. Itulah sebabnya blog merupakan ancaman serius bagi industri media.

Lalu bagaimana dengan anda, siapkah anda mengantisipasi ledakan Long Tail ini bagi karir maupun bisnis anda? Hanya anda yang tahu. Yang jelas, bagi yang sedang atau sudah menekuni internet marketing, aku pikir kita sudah berada di jalan yang tepat!



Thursday, April 9, 2009

Wikinomics 3 - Kolaborasi Global Berbasis Web Bagi Bisnis Masa Depan (Habis)

Bagi yang baru pertama kali membaca Wikinomics, lebih baik membaca dari Wikinomics 1, lalu lanjut ke Wikinomics 2, karena artikel yang anda baca saat ini adalah seri terakhir dari review buku yang revolutionary ini: Wikinomics!

Pabrik Global

Perusahaan multinasional yang bersifat hirarki tertutup akan segera mati, dan yang berjaya adalah perusahaan yang memiliki batasan yang terbuka dan bersaing dengan menjangkau ke luar guna memanfaatkan pengetahuan, sumber daya dan kemampuan eksternal, yakni yang disebut: pabrik global.

Pabrik global memanfaatkan kolaborasi masal untuk merancang dan merakit sesuatu dengan lebih efisien daripada pabrik multinasional. Mengapa? Karena produksi lokal dapat menyesuaikan produknya dengan selera lokal, mempekerjakan bakat lokal dapat menciptakan lapangan kerja dan kekayaan bagi perekonomian lokal, yang pada akhirnya akan memacu permintaan atas produk konsumsi. Sedang perusahaan multinasional masih dibatasi oleh tarif, kontrol nilai tukar dan kendala perdagangan lain serta proteksionisme. Perusahaan global dapat menyebar produk dan kemampuan ke seluruh dunia dan memanfaatkan SDM secara lintas batas negara dan institusi.

Contoh pabrik global adalah BMW. Alih-alih berkutat dengan hal-hal teknis, BMW memfokuskan diri pada pemasaran, kemitraan dan hubungan customer serta mempertahankan keahlian permesinan yang dianggap penting. Sementara pemasok-lah yang membuat sebagian besar komponen dan semakin mendekati aktivitas perakitan final otomotif. Bagi BMW, inovasi bukan lagi sekedar mencipta dan membuat produk fisik, melainkan lebih tentang mengatur atau mengkoordinasikan gagasan-gagasan bagus.

Contoh lain adalah Lifan. Ada sebuah kota di China yang merupakan kota dengan pertumbuhan terpesat di dunia dan salah satu kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Adalah Yin Mingshan, seorang pionir industri berusia 68 tahun yang membuka bengkel sepeda motor dengan sembilan orang karyawan empat belas tahun lalu. Kini ia memiliki Lifan, perusahaan yang memproduksi kendaraan, baik sepeda motor maupun mobil dengan 9000 karyawan yang memproduksi lebih dari 700.000 sepeda motor per tahun untuk customer di 112 negara, dengan pendapatan lebih dari $900 juta!

Lifan adalah salah satu dari banyak perusahaan sepeda motor yang menjadi motor penggerak China untuk menjadi raja industri. Apa yang menjadi rahasianya? Peer production. Tidak seperti pabrik konvensional di mana jaringan produksi diatur dengan ketat, industri sepeda motor di China mencakup ratusan perusahaan yang berkolaborasi dalam design dan manufaktur. Dengan hanya sebuah arahan hirarki kecil, perusahaan-perusahaan itu merancang dan memproduksi sepeda motor baru dengan lebih cepat dan lebih murah dibanding ratusan pabrik konvensional. Keberhasilan mereka, membuat Honda, Yamaha dan Suzuki yang selama ini mendominasi pasar di kawasan itu kehilangan 40% pangsa pasar dalam waktu kurang dari 10 tahun. Bagaimana caranya?

China menekankan pada arsitektur sepeda motor modular, sehingga memungkinkan pemasok menempelkan komponen subsistem (seperti sistem rem) ke produk standar. Dengan demikian, desain level tinggi ditetapkan secara garis besar pada cetak biru (blueprint) sehingga memungkinkan pemasok mengadakan perubahan tanpa memodifikasi arsitektur keseluruhan. Pemasok dapat memanfaatkan spesifikasi yang longgar untuk mengubah dan memperbaiki kinerja komponen mereka, sering kali melalui kolaborasi dengan pemasok komponen lainnya. Misalnya pemasok rangka dan fairing bekerja sama mencoba desain baru sebelum menetapkan satu desain yang memenuhi persyaratan biaya, kualitas, kinerja dan integrasi. Dengan banyaknya toko khusus sejenis telah mempermudah pertukaran pengetahuan dan keahlian di antara perusahaan. Dan ini mendorong tumbuhnya kepercayaan, yang berguna saat timbul persoalan produksi. Dengan demikian perusahaan dapat memproduksi sepeda motor yang berfungsi setara dengan biaya lebih rendah dan waktu pembuatan yang lebih singkat dibanding pendekatan top down tradisional.

Memanfaatkan Pabrik Global

Lifan dan BMW memberikan pelajaran yang berguna bagi pabrik global, yaitu:
Berfokus pada pendorong nilai utama - Perusahaan harus memperhatikan ke mana bergeraknya peluang penciptaan nilai di masa depan, lalu pastikan kemampuan anda juga bergerak ke arah yang sama.

Memberikan nilai tambah
Menanamkan proses desain yang cepat dan baru
Memanfaatkan arsitektur modular
Menciptakan ekosistem yang transparan dan setara
Berbagi biaya dan resiko
Terus memantau masa depan

Ruang Kerja Wiki

Net Generation telah memunculkan lingkungan kerja baru. Dengan makin tersebarnya institusi besar secara geografis, makin perlu lah komunikasi dan kerjasama dengan orang-orang yang terpisah oleh jarak yang lebar. Adanya tekanan kompetitif membuat perusahaan lebih terfokus pada customer dan harus lebih responsif dan dinamis. Untuk itu, hirarki kuno tidak dapat dipakai lagi, sifat kerja menjadi lebih berbasis tim dan kolaboratif. Dengan adanya arus teknologi baru, ruang kerja pun mengalami perubahan. Karyawan dapat bekerja secara mobile berkat telepon seluler dan BlackBerry dan dapat bertindak global.

Ada 5 fungsi umum dalam ruang kerja wiki:

Tim – Untuk membentuk tim, perusahaan kini tak perlu lagi menyediakan meja-kursi dan ruangan bagi timnya. Dan jumlah anggotanyapun bisa tak terbatas. Dengan perangkat yang tepat dan cukup transparansi, kelompok orang dalam jumlah besar, beragam, dan terseleksi mandiri dapat menuntaskan tugasnya untuk penambahan nilai bagi perusahaan.

Alokasi waktu
Pembuatan keputusan – Keputusan diambil berdasarkan prediksi pasar, yang terbukti lebih akurat dari prediksi pakar.
Alokasi sumberdaya
Komunikasi korporat – penggunaan blogging sebagai alat komunikasi yang transparan.

Pertanyaannya: kapan perubahan itu akan terjadi? Tidak dalam waktu sangat dekat. Karena generasi baby boomer akan sulit untuk mengubah kebiasaannya. Mungkin ketika Net Gen memasuki pasar kerja, barulah ruang kerja wiki bisa terwujud.

Pikiran Kolaboratif

Tentu saja tidak semua kalangan dapat menyetujui konsep Web 2.0 ini. Yang mengkritisi, merasa cemas bahwa dunia akan dibanjiri oleh konten-konten amatiran, sehingga tidak akan ada lagi maestro-maestro semacam Hemingway, Hitchcock atau Mozzart.

Apakah ini adalah akhir dari properti intelektual? Kenyataannya NetGen senang meremiks dan menata ulang fungsi media, iklan dan barang consumer mereka dan berbagi hasil remiks mereka dengan dunia. Mereka suka kebebasan, tertarik untuk menikmati konten tanpa iklan, menemukan musisi baru yang tidak ditekan oleh perusahaan rekaman besar. Apakah dapat dikatakan suatu pembajakan bila seorang DJ menghabiskan waktu berjam-jam meremiks lagu “Pretty Vacant”nya Sex Pistol dengan beberapa lagu dari The Charlatans dan Visage menjadi satu kreasi baru, yang kemudian ia bagi ke para pengikutnya secara online? Ataukah justru ini sebuah kreativitas baru yang perlu kita dukung saat kita berusaha menemukan model bisnis baru yang berpusat pada pengguna di industri media?

Sekarang timbul desakan untuk mengendurkan regim copyright yang ketat. Jika perusahaan media ingin berpartisipasi dalam penciptaan nilai, mereka harus menerima fakta bahwa mereka dapat memperoleh lebih banyak dengan tangan yang terbuka daripada tertutup.

Lalu bagaimana kita bisa bersaing dengan semua yang ‘gratis’ itu? Contoh yang bagus datang dari Nettwork Records, perusahaan rekaman Canada yang sedang berkembang. Avril Lavigne, Dido dan Saran McLachlan adalah beberapa artis yang mereka lahirkan. Mereka menilai kunci sukses industri yang distribusinya dikendalikan consumer, adalah nilai emosi pengalaman bermusik. Maka solusi untuk masalah properti intelektual itu bukan dengan meredam arus teknologi, tetapi dengan memahami teknologi mana yang digunakan consumer, kemudian mencari cara kreatif untuk menjadikan musik bagian dari pengalaman. Misalnya jika anak-anak mendengarkan musik sambil memainkan video game, maka Nettwork akan tersedia di dalamnya.

Kini semakin banyak artis yang memahami bahwa mereka tidak perlu mengendalikan kuantitas bit lagunya jika mereka dapat menyediakan proporsi nilai superior bagi customer. Karena konten gratis akan tetap ada, para artis harus memberikan produk yang lebih baik dari ‘gratis’ bagi calon customer, produk yang menyediakan lebih banyak nilai dibanding yang dapat diperoleh customer dari sumber ilegal.

Jadi, era peer production sudah pasti akan datang. Maka yang terbaik untuk anda lakukan adalah segera bertindak untuk berpartisipasi dalam membangun bisnis yang baru, dengan bergabung dalam komunitas inovator baru. Dan dengan kecepatan pergerakan komunitas ini, sekarang-lah saat yang tepat untuk bertindak!

Enterprise 2.0 – Memanfaatkan Kekuatan Wikinomics

Novartis adalah sebuah perusahaan farmasi Swiss. Pada awal 2007 Novartis merilis data mentahnya ke internet dalam upaya mengungkapkan dasar genetika diabetes tipe 2, dengan tujuan untuk memformulasikan obatnya. Dengan demikian Novartis dapat mempercepat dan memangkas biaya aktivitas litbangnya. Sementara itu niat baik dan hubungan erat dengan komunitas riset diabetes yang dipupuk Novartis akan memberikan keunggulan dibanding pesaingnya. Karena, jika seorang peneliti independen memiliki hasil yang akan membantu pengobatan diabetes, ia toh akhirnya akan kembali ke Novartis untuk berkolaborasi karena laboratorium akademik tidak dapat melakukan pengembangan riset.

Novartis adalah model perusahaan kolaboratif yang disebut penulis sebagai Enterprise 2.0, yaitu yang menerapkan empat prinsip:

#1 - Keterbukaan
Titik awal bagi setiap pemimpin dalam menggunakan teknologi kolaboratif baru adalah mengalaminya secara pribadi. Bergabunglah pada Facebook, MySpace, mengedit Wikipedia atau membuat klip video untuk YouTube. Rasakan pengalaman anda. Lalu mulailah proses perencanaan untuk mengaplikasikan ideagora ke dalam bisnis anda. Namun begitu anda memutuskan untuk bersikap terbuka, anda harus bersiap dengan konsekuensinya. Ingatlah bahwa mengabaikan isu negatif di blogosphere dapat mematikan bisnis anda. Sekali anda memutuskan terbuka, anda harus tetap terbuka, termasuk juga bila perusahaan anda melakukan kesalahan, mintalah maaf secara terbuka. Ini lebih baik daripada mengelak.

#2 - Peering
Anda dapat membiarkan bakat-bakat dari luar untuk menciptakan inovasi tanpa batas bagi bisnis anda, namun anda tetap harus meluangkan banyak waktu untuk mengkoordinasi dan mengintegrasi karya-karya mereka dengan baik. Apabila tidak, kontributor akan kecewa dan tidak akan berpartisipasi lagi, atau nilai yang mereka hasilkan tidak mendukung sukses bisnis anda.

#3 - Berbagi
Saling berbagi berarti memangkas biaya, membangun komunitas, mempercepat penemuan, dan mengerahkan semua daya upaya.

#4 - Bertindak global
Selain perusahaan, kini semakin banyak jumlah keluarga kaya Amerika yang memanfaatkan situs semacam Elance untuk meng-outsource-kan pekerjaan pribadi kepada virtual assistant di Inida, Cina dan Bangladesh. Pekerjaan seperti membuat label alamat untuk undangan perkawinan, mencari harga bagus untuk hotel, arsitektur lansekap, dll dengan biaya hanya sepersekian dari biaya di Amerika.

Jadi bagaimana para pebisnis bisa menerapkan prinsip wikinomics ke dalam bisnis mereka? Kolaborasi massal adalah sebuah inovasi desain dan produksi, dan perusahaan harus belajar bagaimana beroperasi di lingkungan baru ini dengan cara:

- Dapatkan petunjuk dari pengguna utama anda
- Membangun masa yang besar
- Menyediakan infrastruktur bagi kolaborasi
- Luangkan waktu untuk mencapai struktur dan tata kelola yang tepat
- Pastikan semua partisipan dapat memanfaatkan nilai yang sama
- Taati norma-norma komunitas
- Biarkan proses berjalan
- Jangan kehilangan objektif bisnis anda
- Kolaborasi diawali secara internal
- Menemukan kepemimpinan internal bagi perubahan
- Asahlah pikiran kolaboratif anda

Jadi...sudah siapkah anda untuk menyongsong dunia baru ini, wikinomics?



Wednesday, February 18, 2009

Wikinomics 2 - Kolaborasi Global Berbasis Web Bagi Bisnis Masa Depan

Tinjauan buku ini adalah lanjutan dari Wikinomics 1, silakan membaca bagian pertamanya dulu...



Bab 3 – Pionir “Peer” – Piranti Lunak Hanyalah Permulaan



Wikipedia dan Linux adalah contoh peer production. Wikipedia mampu menyediakan berita terkini sebuah peristiwa jauh lebih lengkap dan lebih cepat dari sebuah media tunggal. Sedang Linux menjadi kekuatan besar ekonomi karena produknya dipakai oleh perusahaan besar macam Google, Sony, Yahoo, Nokia, dll. Pertanyaan yang muncul: Jika ribuan orang dapat berkolaborasi untuk menciptakan sistem operasi atau sebuah ensiklopedia, lalu apa yang akan terjadi?



Peer production telah muncul sebagai model perusahaan alternatif yang memanfaatkan keahlian kemanusiaan, kecerdasan, intelegensia dengan lebih efektif dan efisien dibanding perusahaan tradisional. Perusahaan akan membutuhkan sebuah strategi untuk menangani peer production dengan mempertimbangkan ancaman dan peluang bagi bisnis mereka.



Cara Baru Produksi



Peer production sejatinya adalah cara memproduksi barang dan jasa yang bergantung seluruhnya pada organisasi mandiri, komunitas individu yang secara sukarela bergabung untuk memproduksi sebuah hasil bersama. Ekonomi produksi telah berubah signifikan dari ekonomi berbasis industri menuju ekonomi berbasis informasi. Bila dalam ekonomi industri peluang untuk membuat sesuatu yang bernilai dan penting terganjal biaya pembuatan, maka dalam ekonomi informasi publik dapat berkolaborasi dan saling berbagi kreasi mereka dengan biaya yang sangat kecil hanya karena kita menginginkannya. Peering memanfaatkan motivasi relawan dengan menempatkan orang yang tepat pada tugas yang sesuai, sehingga akhirnya akan terjadi seleksi mandiri. Saat orang-orang menyeleksi diri sendiri secara sukarela untuk tugas kreatif dan padat ilmu, maka kemampuan mereka akan melebihi kemampuan manajer. Bukankah yang paling tahu tugas yang paling kita kuasai adalah kita sendiri, bukan manajer kita? Di sisi lain peer production menjungkir balikkan arti tradisional hak properti. Bila bentuk tradisional melarang pihak lain menggunakan sebuah kerja kreatif, peer production menggunakan “lisensi publik umum” untuk menjamin hak pengguna dalam memodifikasi kerja kreatif. Peer production tidak diganggu kontrak, memungkinkan partisipan untuk bekerja pada setiap proyek yang menarik, sehingga proyek tersebut dapat menjadi lebih efisien dengan sumber daya yang tersedia.



Ensiklopedia Yang Dapat Di-Edit Setiap Orang



Bagi sejumlah orang, alasan orang-orang menjadikan relawan dalam memproduksi Wikipedia masih misterius. Kenyataannya, Wikipedia telah berhasil menarik minat banyak pakar. Mereka merasakan kedekatan dengan topik yang mereka kuasai dan mereka ingin dunia tahu, atau dapat dikatakan sebagai suatu misi sosial.



Pembagian kerja para Wikipedian - Pembagian kerja di Wikipedia yang terspesialisasi ikut memotori pertumbuhan. Para relawan-lah yang mengurus semua pekerjaan administratif seperti mengatur halaman, mengembangkan piranti lunak, mencari foto bebas royalti atau berpatroli melawan vandalisme.



Keterbukaan - Namun demikian, Wikipedia tetaplah tidak sempurna. Kelemahan paling nyata adalah karena setiap orang dapat menyatakan diri sebagai pakar sesuatu. Untuk itulah Wikipedia membuat kebijakan yang mencegah pengguna tak terdaftar untuk membuat artikel baru di Wikipedia. Sementara dalam hal akurasi, perbedaannya dengan Encyclopedia Britanica sangat kecil: Wikipedia mengandung rata-rata 4 ketidak-akuratan di setiap entri, sementara Britanica ada 3. Bedanya, di Wikipedia kekeliruan sudah lama dikoreksi, tetapi di Britanica masih tetap ada.



Bertindak hati-hati - Proses memperbaiki situs yang bersifat bottom-up selama ini telah berhasil mempertahankan tingkat pertumbuhan Wikipedia yang sangat pesat. Pada th 2005 muncullah WikiHow, kumpulan buku pedoman (How To) yang dibangun dengan cara yang sama seperi Wikipedia, tempat pengunjung menemukan iklan gratis tentang semua hal (cara melakukan sesuatu). Kemudian ShopWiki, WikiTravel dll mengikuti jejaknya. Dan kini Wiki telah melepaskan kekuatan besar yang tidak dapat di-stop atau pun ditiru oleh model hirarki.



Kritik Terhadap Open Source - Tentang Korporat Bebas dan Laba



Memperoleh laba dari komunitas ‘peer production’ seperti Linux tidak secara langsung seperti produk dan jasa konvensional. Penambahan dan penciptaan nilai baru bagi customer lah fungsi korporat yang sesungguhnya.



Manfaat utama 'peer production' bagi bisnis



Yaitu memanfaatkan bakat eksternal. Dengan cepat dan rumitnya perubahan, tak satupun perusahaan dapat membuat inovasi yang diperlukan untuk bersaing. Dengan peer production mereka dapat melibatkan lebih banyak orang dan mitra dalam membangun solusi bagi klien. Selain itu peer production dapat:



Terus mengikuti minat pengguna – Siapa pesaing yang menghantui Microsoft di pasar web browser? Mozilla Firefox (dulunya Netscape), yang adalah web browser open source. Ini bukti bahwa jika anda tidak terus mengikuti minat pengguna, mereka (kompetitor bersama pengguna) akan melakukan inovasi di sekitar anda dan mendahului anda.



Memacu permintaan atas produk pelengkap - Berpartisipasi dalam komunitas peer production memacu permintaan atas produk pelengkap yang memberikan peluang baru untuk menciptakan nilai tambah, yang berarti pendapatan dari layanan, jasa pendukung dan piranti keras.



Memangkas biaya - Kolaborasi peer production dapat membuat produk yang lebih kuat, disesuaikan dengan pengguna, serta lebih murah.



Mengalihkan titik persaingan - Contohnya bagi industri piranti lunak, titik persaingan bisa dialihkan dari sistem operasi ke aplikasi, integrasi dan jasa.



Menyingkirkan friksi dari kolaborasi – Makin banyak perusahaan yang memakai inovasi kolaboratif untuk menghindari problem kepemilikan dan eksploitasi properti intelektual.



Membangun modal sosial – Biaya menjadi anggota komunitas peer production adalah dengan berbagi. Dengan memberikan akses bebas royalti atas inovasi mereka, mereka memperoleh lisensi untuk beroperasi di komunitas.



Peer production akan semakin penting dengan adanya akses atas daya komputer dan aplikasi, transparansi, globalisasi, demokratisasi pengetahuan dan keahlian.



Bab 4 – Ideagora - Pasar Bagi Gagasan, Inovasi Dan Pikiran Unik Yang Berkualitas



Pasar Ideagora adalah istilah yang diberikan Don Tapscott untuk perusahaan yang memanfaatkan pasar berkembang global untuk mencari pikiran unik berkualitas serta menemukan dan membangun produk dan jasa baru dengan lebih cepat dan efisien. Contoh Ideagora: InnoCentive dan eBay. Perusahaan atau “pencari” secara anonim mempublikasikan problem litbang, sementara “pemecah masalah” akan menyerahkan solusi mereka untuk memperoleh hadiah uang tunai. Dengan adanya jaringan bakat yang menyebar luas, maka persoalan pelik dapat lebih cepat dan efisien dipecahkan dibanding tim litbang internal. Perusahaan akan tetap membutuhkan bakat internal, tetapi anda juga semakin perlu mempertimbangkan orang terbaik yang berada di luar dinding perusahaan.



Dengan pendekatan yang tepat, perusahaan dan industri dapat saling menyuburkan. Teknologi di sebuah industri dapat menciptakan efisiensi di industri lain. Contohnya; bahan yang memberikan daya serap tinggi pada popok bayi juga berguna untuk kabel bawah laut yang menjadi jalur telekomunikasi antar benua. Jadi produsen popok melisensikan teknologinya pada produsen kabel, memperoleh arus pendapatan baru dan imbal hasil yang lebih baik untuk divisi litbang. Produsen kabel dan perusahaan telekomunikasi memperoleh inovasi yang bagus. Ideagora menawarkan peluang signifikan bagi perusahaan kecil dan menengah untuk memperoleh pendapatan sehat dengan menjual gagasan dan teknologi kelas dunia ke pihak lain.



Dunia Adalah Departemen Litbang Anda



Dalam era sekarang, arti penciptaan telah bergeser dari menciptakan dan menkomersialkan gagasan dalam aktivitas terbatas dan tertutup, menjadi konsep terbuka dan berkembang pesat.

Yet2.com adalah awal mula Ideagora. Yet2.com adalah suatu tempat dimana perusahaan dapat menampilkan aset-aset yang belum terpakai yang telah dipatenkan. P&G misalnya memiliki lebih dari 27.000 hak paten di Amerika, tapi menggunakan hanya kurang dari 10% dari jumlah itu untuk produk mereka.



Memanfaatkan Ideagora




Ideagora dapat dimanfaatkan perusahaan untuk :



Menciptakan likuiditas - Transfer gagasan dan teknologi memiliki arti yang lebih luas dibanding hanya pertukaran dokumen hukum. Ketika memberikan lisensi ke pihak luar, sang mitra pasti akan meminta informasi teknik, peragaan, contoh dan pengujian sebelum disetujui. Oleh karena itu alih teknologi dapat menjadi mahal dan memakan waktu. Namun, dengan adanya yet2.com dan InnoCentive sebagai perantara (pialang), perusahaan dapat meningkatkan likuiditas.



Menanamkan budaya - Kini makin banyak pihak yang percaya bahwa properti intelektual dapat menjadi salah satu ladang pencetak laba dan dapat membayar semua biaya pemeliharaan, penyelesaian dan persiapan paten.



Memanfaatkan gagasan eksternal - Sifat litbang internal dan akuisisi eksternal adalah melengkapi, bukan menggantikan. Perusahaan yang terlibat di Ideagpra harus ingat bahwa pasar adalah kesetaraan yang besar, dan bahwa ketika pasar dibuka penuh, keunggulan kompetitif tidak akan mengalir langsung. Namun demikian ideagora memberikan kecepatan dan keahlian yang dapat digunakan untuk memanfaatkan pasar dalam membangun tawaran baru dari customer.



Mendapatkan rasio yang tepat - Mencapai rasio internal yang optimal demi inovasi eksternal merupakan sebuah tantangan bagi perusahaan dalam menggunakan ideagora.



Pendekatan portofolio - Dengan adanya ideagora, akan ada keragaman pendekatan untuk terbuka terhadap inovasi, baik dari jalan yang diambil perusahaan dalam mendapatkan gagasan dan teknologi di pasar maupun dari sumber masukan eksternal.




Bab 5 – Prosumer (Tolong Susupi Produk Ini)



Prosumer adalah customer yang juga produsen. Contohnya adalah Second Life, sebuah game multiplayer online dimana sekitar 325.000 member bersosialisasi, menghibur dan bertransaksi di sebuah lingkingan maya yang dibangun sepenuhnya oleh para pengguna. “Penduduk” Second Life lebih dari sekedar pengguna. Mereka memakai identitas maya, menjalankan peran dan aktifitas khayalan dan bahkan menciptakan bisnis maya. Second Life diciptakan hampir seluruhnya oleh customer, yaitu desain, kreasi dan pembuatan produk. Sementara Linden Labs, pemiliknya, hanya mengatur komunitas dan memastikan berjalannya infrastruktur.



Customer Sebagai Rekan Inovator




John Fluevog adalah perancang sepatu canggih. Terinspirasi oleh Linux, Fluevog membuat alas kaki open source. Customer menyerahkan desain untuk dipertimbangkan, dan desain yang terbaik akan diproduksi. Fluevog akan menamai setiap desain sepatu yang ia adopsi dengan nama si perancang.



Customer adalah rekan inovasi menuju kesiapan diri




Film Snake On A Plane keluaran thn 2006 melibatkan pemirsa dalam banyak aspek film ini, mulai dari penyusunan skenario hingga pemasaran. Demikian juga Lego, produsen mainan anak, menggunakan Mindstorms untuk membantu pengguna berkreasi untuk merekayasa ulang sensor, motor dan alat pengendali di pusat sistem robot.



Dilema Prosumsi: Kendali Melawan Penyusupan Customer




Bagaimana bila modifikasi dan perluasan yang dibuat customer bertentangan dengan persyaratan utama suatu bisnis? Hal seperti ini dialami oleh Apple dengan iPodnya dan Sony dengan PlayStation Portable-nya (PSP). Penyusupan customer yang notabene berusia muda dan canggih dalam segi teknik, ingin memaksakan teknologi mereka ke titik batas. Pengguna fanatik Sony PSP menambahkan kemampuan dan fitur baru tidak resmi, lalu beraktivitas online untuk saling bertukar aplikasi dan game budidaya rumahan. Bahkan ada yang berhasil mengubah PSP menjadi pemutar musik, perangkat wi-fi dan browser web. Apabila Apple cenderung membiarkan penyusupan terhadap iPodnya, Sony mengambil langkah dengan mengunci platform PSP. Pengguna harus meng-upgrade pada waktu ingin memakainya. Alasan Sony adalah karena aplikasi rumahan dapat menyebabkan kerusakan di unit PSP dan membatalkan garansi.



Budaya Remiks



Musik remiks adalah memodifikasi, membumbui, melengkapi, dan mencipta ulang beberapa musik/lagu yang sudah ada. Seni baru ini sangat populer di kalangan muda dan kini menjadi salah satu genre paling menguntungkan di industri musik. Contohnya DJ Danger Mouse yang meremiks cuplikan dari lagu The Beatles dengan suara Jay-Z. Atau musik rap Missy Elliot diremiks dengan melodi suara band rock Joy Division dari Inggris, atau suara riang Madonna melapisi musik Sex Pistols. Banyak kalangan menganggap remiks sebagai tindakan ilegal dan merugikan, namun faktanya setelah hasil remiks karya DJ Danger Mouse beredar, Beatles dan Jay-Z menjadi semakin populer, dan hasil kerja mereka makin terekspos ke khalayak. Akhirnya, Danger Mouse malah dipekerjakan oleh EMI untuk memproduksi musik remiks secara resmi untuk perusahaan.



Kami Adalah Media



Kebangkitan jurnalisme sosial dan media yang dikendalikan customer menjadi contoh lain tentang bagaimana kolaborasi massa dan penciptaan bersama menghapus batasan-batasan antara perusahaan dan customer. Di dalam paradigma prosumsi yang sedang berkembang ini, seseorang dapat beralih dari customer menjadi kontributor dan kreator. Contohnya adalah Digg, situs berita teknologi dimana anggota mengajukan artikel yang memberikan link ke situs Digg, kemudian anggota lain memilihnya bila artikel itu bagus. Artikel yang banyak dipilih akan muncul di halaman depan. Bisa dibilang, komunitaslah editornya.



Memanfaatkan Komunitas Prosumer



Prosumsi menjadi salah satu mesin perubahan dan inovasi terkuat yang pernah dilihat dunia bisnis. Prosumsi bergerak melampaui penyesuaian produk. Penyesuaian masal melibatkan padu padan komponen tertentu sehingga menghambat fleksibilitas inovasi bagi pengguna. Dengan prosumsi, pengguna terlibat secara aktif dari awal produksi. Dalam perkembangan prosumsi, customer akan semakin memperlakukan produk anda sebagai platform bagi inovasi mereka sendiri, seperti dalam kasus iPod dan PSP. Jika anda tidak mengikuti perkembangan customer, mereka akan terus mencipta di sekitar anda dan menyediakan peluang bagi pesaing anda. Dalam dunia prosumsi, bisnis riil anda bukanlah membuat produk akhir melainkan ekosistem inovasi. Ketika prosumsi makin mantap, perlakukan customer sebagai peer, bukan pembeli.



Untuk mengandalkan suatu ekosistem yang dinamis dan subur bagi pertumbuhan dan inovasi, berikanlah keuntungan bagi customer untuk terlibat di dalamnya. Jika anda ingin bertahan, temukanlah cara untuk bergabung dalam prosumsi dan memimpin komunitas prosumer. Ingatlah bahwa customer tidak peduli apakah aktivitas mereka mendatangkan keuntungan bagi anda, mereka hanya ingin pengalaman dan produk yang superior. Dan sebagai customer, anda tidak lagi sekedar penerima produk dan jasa pasif. Anda dapat berpartisipasi dalam perekonomian untuk memenuhi kebutuhan personal anda, untuk mengubah dunia atau sekedar untuk bersenang-senang. Prosumsi telah menjadi sebuah lingkaran penuh.




Bab 6 – Platform Bagi Partisipasi



Pada Mei 2005 Paul Rademaker meluncurkan situs jejaring yang mengkombinasikan daftar layanan iklan baris on-line “Craiglist” dengan layanan Google Maps. Hasilnya: HousingMaps. Apabila anda ingin mencari rumah untuk dibeli/disewa, anda tinggal memilih kota dan rentang harganya, maka keluarlah peta yang menunjukkan lokasi dan detail sewanya. HousingMaps merupakan salah satu remiks pertama di web. Sejak itu menjamurlah remiks-remiks lain yang semuanya memberikan pesan bagi sektor bisnis: Bukalah platform anda untuk meningkatkan kecepatan, skala dan keberhasilan inovasi.



Platform Bantuan




Pada saat badai Katrina melanda Amerika th 2005, tim relawan ad hoc dari penjuru negeri membangun proyek yang diberi nama People Finder, yaitu situs jejaring yang dibangun untuk mengumpulkan data korban selamat dan memudahkan pencarian dan identifikasi. Dengan platform terbuka semacam ini orang-orang biasa akan dapat menciptakan layanan informasi baru yang lebih efektif daripada saluran-saluran birokratik.



Platform Untuk Web Dan Komunitas



Dilema platform adalah, remiks memberikan insentif jangka panjang yang rendah bagi inovator dan proteksi minim bagi pemilik data. Dalam kasus HousingMaps, Rademaker tidak memiliki proteksi bila suatu saat Craiglist mengintegrasikan sendiri API gratis dan membuat situs yang bersaing dengan HousingMaps. Di lain pihak, Craiglist berpotensi mengalami penurunan laba bila lebih banyak orang yang beralih dari iklan lowongan kerja (yang berbayar) ke lokasi lain yang diberikan secara gratis. Lalu mengapa Google menyukai ide itu? Ingat, bahwa pertumbuhan spektakuler Google sebagian besar mengandalkan open source dan inovasi. Aplikasi macam HousingMaps merupakan publisitas gratis dan bakat baru (Rademaker) yang bisa direkrut Google. Dengan mengeksploitasi platform bagi partisipasi secara agresif, Google dapat meningkatkan daya tampilnya sebagai mesin pencari no. 1.




Platform Untuk Perdagangan



Platform Amazon bagi partisipasi memacu 2 hal: inovasi dan pertumbuhan yang menyebar. Amazon memanfaatkan komunitas besar developer serta bisnis kecil dan menengah untuk merambah ke kawasan baru dengan hanya sedikit biaya dan resiko. Caranya, Amazon membuka API-nya bagi mesin e-commerce untuk mengundang partisipan eksternal untuk menjadi developer bersama di platform Amazon. Hasilnya: aplikasi hebat mulai dari situs jejaring yang mengatur katalog CD berdasarkan lagu populer di beragam stasiun radio hingga aplikasi instant messaging yang memungkinkan pengguna MSN dan AOL mengirim sinyal ke Amazon dengan sebuah permintaan, dan Amazon akan mengirim pesan dengan link ke produk yang relevan.




Developer mendapatkan uang dari komisi atas lalu lintas dan penjualan yang melewati aplikasi mereka. Feedburner (layanan sindikasi berita populer) dan Amazon membangun sebuah layanan yang memungkinkan penerbit mendapat fee dari produk yang mereka link ke saluran berita mereka. Inilah yang dsebut sistem ‘affiliate’ atau ‘associate’ di Amazon, sebuah sumber pendapatan yang lumayan bagi blogger dan pemilik website.



Bagi mereka yang tetap suka belanja di dunia fisik tetapi tetap butuh layanan online yang menguntungkan, ada ScanZOOM. Yakni layanan yang memungkinkan pengguna memotret barcode produk dengan ponsel berkamera saat sedang berbelanja, lalu mendapat perbandingan harga instan serta info produk bandingan di Amazon.
Dengan memperlakukan index sebagai sebuah aset yang dapat dijual, bukan sebagai rahasia dagang, Amazon benar-benar merobek kebijaksanaan tradisional tentang mesin pencari (search engine). Dengan demikian Amazon dengan efektif telah menyesuaikan teknologi yang diterapkan oleh perusahaan pencarian raksasa (Google, Yahoo, Microsoft) seraya mencetak pendapatan untuk diri sendiri.



Sistem Insentif Platform: Melampaui Budaya Kedermawanan




Sebuah posting di sebuah blog yang memulai suatu debat: Perlukah Flickr memberikan kompensasi bagi kreator foto terpopuler di situs itu? Caterina Fake, pendiri Flickr, menanggapi bahwa ada sistem nilai di luar uang. Sistem nilai ini sangat penting bagi publik yaitu untuk berhubungan dengan orang lain, menciptakan sebuah identitas online, berekspresi sebagai diri sendiri dan menarik perhatian orang lain. Budaya jiwa sosial adalah tulang punggung internet.