Showing posts with label Atria. Show all posts
Showing posts with label Atria. Show all posts

Tuesday, February 21, 2012

Suddenly Supernatural #3: Medium Yang Tidak Bahagia

Sekitar pertengahan abad 19, ada sepasang kakak beradik Margareth ‘Maggie’ dan Catherine Fox yang mengaku mampu berkomunikasi dengan arwah orang yang meninggal (medium). Karena keahlian ini mereka jadi terkenal di seluruh Amerika, di mana aliran Spiritualisme sedang marak. Namun pada tahun 1888 Maggie membuat pengakuan yang mengejutkan, bahwa apa yang dilakukan Fox Bersaudari selama ini adalah kebohongan—akting semata—yang mereka lakukan karena dorongan kakak tertua mereka Leah, demi mencari keuntungan. Anehnya, tak lama kemudian Maggie meralat pengakuannya, dan pada pengakuan kedua ini ia menandaskan bahwa Fox Bersaudari memang medium yang bisa berkomunikasi dengan arwah—suatu misteri yang tak pernah terpecahkan…

Hingga di sini anda tidak salah baca! Aku bukan hendak mereview sebuah novel historical fiction, melainkan kisah tentang seorang remaja yang menjadi ‘medium’. Masih ingat petualangan Kat dan sahabatnya Jac di Suddenly Supernatural #2 kan? Nah, di sekuel ketiga ini Kat mulai menghadapai bahaya yang sebenarnya dalam ‘profesi’ seorang medium. Kalau di buku kedua Kat masih terasa main-main, kini Kat menghadapi sesuatu yang lebih “gelap”. Yuk intip sedikit kisahnya..

Liburan musim panas kali ini Kat ikut Jac dan mamanya menghadiri konvensi musisi muda yang diadakan di rumah tua bergaya abad 19 yang bernama Whispering Pines Mountain House. Tentu saja Jac yang menghadiri acara-acara bagi para musisi itu, sementara Kat menghabiskan banyak waktunya sendirian. Dan saat pertama kali masuk kamar, Kat sudah berjumpa dengan arwah seorang wanita tua berserban yang memakai pakaian ala jaman Victoria. Wanita itu adalah Madame Serena. Si madame (dulunya) seorang medium juga, dan tak menyadari bahwa dirinya telah meninggal. Lucunya, ia malah mengira Kat lah yang berada di ‘dunia lain’, bukan kebalikannya…

Madame Serena dulu tinggal di Whispering Pines, dan menempati kamar yang saat ini ditempati Kat. Ia masih terobsesi untuk membantu kliennya, istri Kolonel, untuk “menghubungi” Loretta tercintanya. Berkali-kali ia mencoba, namun Madame Serena selalu gagal. Ia sedih, karena saat itu hanya istri Kolonel lah yang percaya kepadanya, sementara orang-orang lain menganggapnya medium bohongan. Mengapa? Kembali lagi, semuanya karena ribut-ribut pengakuan Maggie Fox yang membuat Spiritualisme dicemooh dan dianggap penipuan. Dan kini, tugas Kat lah untuk “mengirim” Madame Serena ke jalur ke mana ia seharusnya menuju.

Andai hanya sesederhana itu, pasti buku ini akan super duper membosankan. Untungnya, Kat menemukan tantangan lain. Kali ini bukan sekedar arwah orang meninggal, namun lebih dahsyat dari itu: sebuah entitas kegelapan yang cenderung merasuki dan mengendalikan manusia untuk berbuat jahat. Entitas itu berbentuk awan hitam nan pekat—mengingatkanku pada dementor di kisah Harry Potter—yang menyedot habis dan mencuri energi makhluk yang dirasukinya. Dan saat ini Kat sendirian di hotel, tanpa ibunya dan tanpa Orin (semacam guru dan teman ibunya) di sampingnya. Ia harus berjuang sendirian melawan si entitas gelap. Atau... apakah ia benar-benar sendirian?

Sampai sini anda merasa buku ini terlalu “gelap”? Jangan khawatir, Elizabeth Cody Kimmel tetap menyisipkan hal-hal khas remaja, terutama lewat sosok Jac. Di konvensi ini Jac—yang masih tetap tak akur dengan ibunya—asyik menikmati perhatian dari seorang cowok sesama peserta konvensi, sampai-sampai mengacuhkan Kat dan bahkan bertengkar dengannya. Sekali lagi tersisip indahnya persahabatan di kisah ini.

Ada hal yang menarik bagiku—selain secuplik fakta sejarah yang terselip di sini—yaitu nasihat dari Orin saat Kat harus menghadapi bahaya si entitas jahat:

“Segala bentuk cahaya terang adalah musuh makhluk ini. Energi terang adalah energi cinta, kebaikan, dan kemurahan hati. Energi gelap adalah energi kebencian dan kehancuran.” ~hlm. 153.

“Seorang manusia, tak peduli selemah apa pun, bisa melindungi dirinya dari kerasukan fisik dengan doa sederhana atau dengan memanggil kekuatan apa pun yang mereka yakini, jika mereka tahu caranya. …Pikirkan sebuah bintang yang akan meledak menjadi supernova. Tambahkan dengan cinta. Setiap emosi kepedulian dan kasih sayang yang bisa kau bangkitkan.” ~hlm. 153.


Kali ini secara keseluruhan, Kat sudah lebih dewasa dari petualangannya yang terakhir, dengan problema yang lebih “nyata” juga. Karena masalah kerasukan itu adalah masalah yang nyata, kadang dalam bentuk ekstrem yang membuatnya si manusia menjerit-jerit atau lainnya, namun kadang bentuknya lebih pasif—membuat seseorang terdorong untuk bunuh diri. Pada saat-saat itulah, seperti nasihat Orin, yang harus dilakukan hanya satu: berdoa sambil tetap percaya bahwa Yang Baik lah yang akan menang.

Lalu, akankah Kat berhasil mengusir si entitas jahat untuk selamanya? Apakah Jac berhasil mencuri hati si cowok? Dan mengapa sekuel ini diberi judul medium yang tidak bahagia? Kau harus menemukan jawabannya sendiri deh...

Tiga bintang untuk buku ini!

Judul: Suddenly Supernatural #3: Medium Yang Tidak Bahagia
Penulis: Elizabeth Cody Kimmel
Penerjemah: Barokah Ruziati
Penerbit: Atria
Terbit: Desember 2011
Tebal: 217 hlm

Tuesday, January 3, 2012

Sweetly

'Dua orang anak yatim piatu diusir oleh ibu tiri yang jahat ke hutan. Di hutan mereka menemukan rumah bertabur permen dan kue jahe yang ditinggali seorang perempuan tua. Perempuan itu ternyata nenek sihir yang hendak memakan anak-anak itu.' Apakah kisah itu tak asing bagi anda? Tentu saja, itu adalah dongeng Hansel and Gretel yang dipopulerkan Grimm Bersaudara. Jackson Pearce--seorang penulis novel young-adult fantasy--meminjam dongeng itu untuk kisah Sweetly ini.

Alih-alih Hansel dan Gretel, dua bersaudara yang menjadi tokoh kisah ini bernama Ansel dan Gretchen, dua bersaudara yang tumbuh di Washington. Ketika masih kecil, mereka mempunyai adik perempuan, saudari kembar Gretchen. Suatu hari saat bermain-main ke hutan, mereka dikejar oleh sesosok monster bermata kuning. Berlari semburat keluar hutan, Ansel dan Gretchen lalu menemukan bahwa saudari mereka tertinggal di hutan. Lenyap. Tanpa bekas. Tanpa penjelasan.

Musibah itu menghancurkan keluarga Ansel dan Gretchen, membuat mereka berdua selalu dihantui perasaan bersalah dan mendapat perlakuan tak adil dari warga setempat yang menyalahkan mereka. Akhirnya mereka pun didepak oleh ibu tiri mereka dari rumah. Miskin dan hanya berbekal pakaian dan mobil butut, mereka pun mengembara. Mobil butut itu memaksa mereka berhenti di kota kecil yang tampak mati bernama Live Oak. Ansel mencari uang dengan membantu seorang gadis pemilik toko cokelat bernama Sophia, yang hidup di pondok terpencil di tepi hutan.

Saat ingin memberanikan diri berjalan-jalan di hutan, Gretchen kembali berhadap-hadapan dengan monster bermata kuning yang selama ini menghantuinya. Kalau selama duabelas tahun ia menganggap monster itu penyihir, kini akhirnya ia tahu apa yang telah mengambil adiknya dan Ansel: sesosok Fenris.

Fenris atau fenrir adalah sebuah mitos, yakni sesosok monster berwujud serigala. Aku tak tahu pasti apa bedanya fenrir dan werewolf--manusia yang berubah menjadi serigala saat bulan purnama, yang jelas dalam kisah ini si fenris bisa menjelma menjadi pria yang tampan untuk mengelabui calon mangsanya.

Seorang pria muda bertampang masam bernama Samuel lah yang menolong Gretchen di hutan saat itu, dengan menembak sesosok fenris. Sejak saat itu, Gretchen yang sebenarnya sudah mulai menjalani hidup rutin dan normal di toko cokelat Sophia, harus membulatkan tekad untuk berhadapan langsung dengan para fenris penunggu hutan. Sementara itu, di balik manisnya aroma cokelat dan vanila serta segarnya permen lemon, ada kabut misteri pekat di kehidupan Sophia. Sang gadis ngotot menyelenggarakan Festival Cokelat, meski dua even yang sama telah membuat beberapa gadis Live Oak hilang tanpa jejak secara misterius. Apa yang terjadi sebenarnya? Apakah memang Sophia yang menyebabkan gadis-gadis itu hilang seperti yang dituduhkan warga? Dan bagaimana Gretchen seorang diri dapat menaklukkan para fenris, padahal ia sendiri ketakutan pada mereka?

Yang membuatku agak heran adalah selama ini Gretchen selalu bertanya-tanya mengapa saudari kembarnya yang diambil fenris di hutan, bukannya dia; apa yang istimewa dari adiknya? Menurutku pertanyaan yang agak tak biasa saja dipikirkan seseorang yang kehilangan orang yang disayanginya. Seolah-olah misteri itu jauh lebih penting daripada kenyataan bahwa ada monster yang mengambil adiknya. Aku juga agak tak setuju dengan adegan penembakan di akhir kisah. Selebihnya, Sweetly menawarkan ketegangan, misteri dan sepercik bumbu romantis.

Yang menarik justru covernya. Untunglah Atria menggunakan cover asli untuk edisi terjemahan ini. Kalau anda perhatikan dari dekat, gambarnya adalah dua tebing dengan pepohonan yang tumbuh di lereng-lerengnya. Ranting-rantingnya ada yang saling bertautan, dan di tengah lembah ada rumah. Tapi coba pandanglah dari jarak yang agak jauh, apa yang anda lihat?....

Aku memberikan tiga bintang untuk Sweetly!

Judul: Sweetly
Penulis: Jackson Pearce
Penerbit: Atria
Penerjemah: Ferry Halim
Penyunting: Fenty Nadia
Terbit: November 2011
Tebal: 401 hlm

Tuesday, August 23, 2011

Suddenly Supernatural 2: Kat Si Medium Penakut

Pernah dengar tentang fenomena “orb”? Beberapa waktu lalu temanku pernah menunjukkan foto-foto hasil jepretan kamera digital canggih. Di foto itu nampak bulatan kecil warna putih seolah melayang di udara, padahal dipastikan di lokasi pemotretan tak ada benda semacam itu. Menurut temanku, itu adalah fenomena “orb” atau bisa diterjemahkan sebagai bola arwah. Aku sih tak percaya begitu saja, karena sebenarnya itu adalah refleksi optik biasa yang tertangkap kamera (baca disini). Tapi ada loh yang percaya bahwa bola arwah itu berisi arwah yang gentayangan. Mau tahu siapa orangnya? Perkenalkan deh…dialah: Kat Si Medium Penakut.


Sebenarnya Kat adalah cewek ABG biasa, yang kesepian di rumah saat libur musim semi, padahal sobatnya Jac sedang di luar kota, sementara ibunya terlalu asyik berngobrol-ria dengan bunga-bunga di tamannya. Eh…aku belum bilang ya, bahwa ibu Kat itu seorang “medium”? Medium di sini artinya bukan ukuran tubuhnya sedang (=M) loh, tapi medium artinya perantara. Lebih tepatnya perantara arwah! Putri seorang medium bukan cewek biasa dong? Memang bukan, Kat mewarisi bakat melihat dan berkomunikasi dengan arwah dari ibunya. Tapi Kat juga bukan medium biasa, ia itu medium yang penakut…


Bayangkan kalau ada nelayan yang takut naik kapal, atau pilot yang takut ketinggian, menggelikan kan? Itu sama dengan seorang medium yang takut hantu. Gimana bisa jadi medium kalau takut hantu? Nah…Kat ternyata bisa. Inilah salah satu kisahnya yang menjadi sekuel ke 2 seri Suddenly Supernatural ini.


Di tengah liburannya Kat mendapati rumah di sebelah rumahnya sepertinya akan mendapat penghuni baru. Penasaran akan calon tetangganya, ditambah penasaran akan kamera digital baru yang didapatnya sebagai hadiah ulang tahun, Kat iseng memotret-motret rumah calon tetangganya. Betapa terkejutnya ia melihat di salah satu foto ada bayangan samar anak laki-laki kecil di balik jendela. Hantukah itu? Hanya ada satu cara mengetahuinya!


Dengan semangat 45 (anggap saja begitu..), Kat masuk ke rumah sebelah hanya berbekal kamera digital dan sedikit nyali (sesedikit yang dimiliki seorang penakut!). Bertemu dengan hantu pria tua yang marah-marah sudah menciutkan nyalinya yang kecil itu. Namun ia bertekad akan mendatangi kamar si anak kecil yang memperlihatkan diri padanya lewat foto itu. Bagaimanapun Kat kan seorang medium? Dan ia pun harus membiasakan dirinya bertemu dengan arwah yang mungkin membutuhkan bantuannya.


Anak laki-laki itu (hantunya tentu saja) ternyata bernama Tank, ia ada di kamarnya, namun ia tak dapat mendengar atau melihat Kat. Anehnya, di kaca jendela kamarnya ada tulisan “TOLONG AKU” yang seolah digoreskan jari ke lapisan kaca yang berdebu. Kat pun langsung lari kencang pulang ke rumahnya!


Setiba di rumah ia menemukan bahwa dalam salah satu foto dirinya yang ia ambil untuk dikirim kepada Jac via e-mail, ternyata nampak puluhan bola arwah atau orb di latar belakang foto itu. Foto itu ia jepret ketika berada di kamarnya sendiri, berarti…kamarnya ternyata ditinggali banyak arwah! Dan Kat pun makin ketakutan…


Kat ingin minta bantuan Jac, tapi sang sobat baru saja mengambil keputusan yang penting dalam hidupnya: berhenti bermain selo. Lalu siapa dong yang bisa membantunya?


Untunglah ada pria imut berambut shaggy teman ibunya yang bernama Orin, seorang penyembuh dengan menggunakan energy. Yang jelas Orin lah yang meredakan kepanikan Kat sewaktu para arwah seolah meneror Kat ketika ia sedang berada di rumah sebelah. Pengalaman yang menakutkan bagi kat yang merasa dikejar-kejar arwah yang memaksanya membuka “saluran” komunikasi dengan mereka. Lalu bagaimana Kat bisa menyelamatkan Tank kalau ia belum-belum sudah ketakutan begitu? Dan bagaimana dengan arwah-arwah lainnya, termasuk arwah pria tua yang marah-marah waktu Kat pertama kali ke rumah sebelah? Dan siap-siaplah untuk makin penasaran karena di akhir kisah Elizabeth Cody Kimmel menyisipkan kejutan tentang jatidiri Tank….


Ini adalah buku yang ringan sekaligus bernada ceria meski temanya berkesan “gelap”. Kehidupan Kat juga identik dengan kehidupan ABG pada umumnya dengan semua permasalahannya. Perbedaannya mungkin pada bakat “medium” yang dimilikinya. Ah, tapi…bukankah semua orang memiliki bakatnya masing-masing? Yang perlu dilakukan hanyalah menyadarinya, menerimanya, dan tentu saja mengembangkannya!


Meski ini adalah bacaan remaja, tak ada kesan manja atau kekanak-kanakan. Terjemahannya juga wajar, tak berlebihan, sama seperti ceritanya sendiri. Enak saja untuk dinikmati, so… 3 bintang untuk buku ini! Dan terima kasih untuk Serambi/Atria yang telah membuntelkan buku ini untukku!


Judul: Suddenly Supernatural 2: Kat Si Medium Penakut
Penulis: Elizabeth Cody Kimmel
Penerbit: Atria (Serambi Group)
Terbit: Juli 2011
Tebal: 161 hlm