Friday, August 6, 2010

Congo

Buat pencinta teknologi terutama komputer, mungkin buku ini bakal menghibur dan menambah wawasan. Buat pencinta alam, anda pasti akan menemukan keasyikan mengikuti petualngan di alam liar dalam buku ini. Dan kalau pun anda, seperti aku, hanyalah seorang bookaholic yang suka kisah thriller, jelas buku lawas ini layak baca. Itu karena Michael Crichton telah berhasil meramu teknologi, biologi, geologi, dan ketegangan ke dalam sebuah panci dan menggodoknya dengan alur yang enak diikuti.

Congo adalah sebuah buku lawas yang pernah diterbitkan Gramedia. Kita mengenal Congo (atau Kongo) sebagai sebuah negara di benua Afrika yang memiliki salah satu hutan tropis dan sungai terbesar di dunia. Kalau tentang sungai, hanya sungai Nil dan sungai Amazon yang mengalahkan sungai Congo dari segi luasnya. Membaca buku ini jadi mengingatkan aku pada buku karangan John Grisham: The Testament. Buku itu mengambil setting di sepanjang sungai Amazon di Brazil.

Entah bagaimana, meski pada dasarnya aku bukanlah seorang petualang atau pelancong, dan seratus persen lebih suka duduk-duduk santai di rumah sambil baca buku daripada disuruh berpetualang ke hutan yang penuh nyamuk, lintah, dan ular, aku toh suka sekali membaca kisah tentang petualangan di alam nan liar dan penuh ketegangan [baca: sewaktu-waktu bisa digigit ular atau perahu terbalik saat diserang buaya]. Hal itu juga aku dapatkan di buku ini. Begini kisahnya…

Ada sebuah ekspedisi dengan misi mencari intan mentah di suatu kota mati di tengah hutan Congo. Mereka berangkat dengan menggunakan teknologi yang super canggih, dari perbekalan hingga pengamanan. Pada saat malam hari di perkemahan…. Saat suasana sudah gelap pekat, tiba-tiba dari keheningan hutan, terdengar suara mendesis dan mendesah, yang disusul goyangan dedaunan semak di luar pagar pengaman perkemahan. Mereka yang bertugas jaga langsung menyiapkan senjata. Apa itu? Siapa itu?

Dan setelah itu seluruh anggota ekspedisi itu ditemukan meninggal di tempat dengan tengkorak kepala diremukkan….

Karena kecanggihan teknologi peralatan komunikasi antara tim ekspedisi di lapangan dengan markas mereka di Houston, akhirnya didapatkan sebuah gambar pelaku penyerangan brutal itu: wajah seekor gorilla.

Maka ekspedisi itu mengirimkan tim kedua yang akan berangkat, selain menyelidiki kematian misterius itu, juga untuk mengambil intan, seperti misi awal, yang terancam jatuh ke pihak lain yang menjadi saingan mereka. Kali ini Dr. Karen Ross, ahli computer yang pandai namun pragmatis dan sulit bersosialisasi menjadi pimpinan rombongan. Ross pun mengajak seorang ilmuwan penyelidik gorilla bernama Peter, bersama dengan Amy, seekor gorilla betina yang telah dilatih berkomunikasi dengan manusia dengan bahasa isyarat.

Menarik juga pendekatan Crichton di sini. Menceritakan secara detail, bagaimana hubungan yang penuh kasih antara Peter dan Amy, layaknya hubungan ibu dan anak. Membayangkan seekor gorilla yang setinggi manusia dan berbulu warna hitam serta berwajah angker minta digelitik oleh manusia sampai berguling-guling….

Perjalanan itu ternyata menjadi perjalanan yang maha berat. Bukan saja medannya yang memang berat, yaitu di keliaran dan keperawanan hutan Congo yang maha luas, namun juga karena mereka harus mengejar waktu agar bisa mendahului tim saingan. Dan pada saat-saat genting itu, perkemahan mereka kembali mendapat tamu malam yang misterius. Diawali dengan suara mendesis, mendesah, daun-daun berkerisik, dan serangan puluhan… gorilla? Tapi menurut Peter, karakter gorilla bukanlah garang dan sadis, melainkan lembut dan tenang. Jadi, apakah yang menyerang mereka?

Membaca novel ini sungguh asyik. Memang ada beberapa bagian yang banyak memaparkan tentang cara kerja alat-alat teknik (yang bagi orang teknik pasti menarik, tapi bagiku membosankan dan memusingkan), juga sejarah penelitian tentang gorilla dan makhluk primate lainnya. Eh..tahukah anda bahwa simpanse itu sebenarnya lebih garang dan cepat marah daripada gorilla? Mungkin quote “Don’t judge an animal by its look” berlaku juga ya…

Dan semua keasyikan itu adalah berkat kehebatan Michael Crichton yang dapat membawa emosi dan imajinasi pembacanya bersama kisahnya. Hingga kini aku masih bingung apakah kisah ini kisah nyata atau murni fiksi. Yang jelas, anda akan merasa bahwa semuanya nyata, senyata diri anda!

Dari kisah ini aku juga ikut belajar bahwa karakter adalah hal terpenting yang harus dipertimbangkan ketika memilih seorang pemimpin, dalam bidang apapun. Sangat berbahaya jika seorang pemimpin sulit bersosialisasi, egois dan pragmatis. Kepandaian mungkin dapat diimbangi oleh rekan dan partner, namun kematangan emosional dan empati yang tinggi perlu dimiliki oleh seorang pemimpin.

P.S. Sayang, sepertinya buku ini sudah tak diterbitkan lagi oleh Gramedia. Tapi kalau anda ingin memilikinya, Vixxio memiliki stock buku bekasnya, meski hanya 2 eksemplar ketika posting ini ditulis. Silakan ke langsung ke Vixxio kalau ingin mendapatkannya yaa…

Wednesday, August 4, 2010

Bagus vs Favorit

Sebagai pencinta buku, aku sering membanding-bandingkan bacaan kesukaanku dengan sesama bookaholic. Dan hingga saat ini aku merasa bahwa hampir tak pernah ada dua bookaholic yang selera bacanya sama persis. Baru-baru ini aku dan adik angkatku, Yudhi bertukar pikiran tentang selera baca kami berdua dan Rudi (nama samaran), sahabat Yudhi yang bookaholic juga.

Si Rudi suka banget kisah-kisah sejarah macam samurai dan perang, dia juga suka kisah fantasi seperti Harry Potter atau Lord Of The Ring, tapi tak suka kisah romantis (iyalah..jarang cowok yang suka kisah romantis). Yudhi lebih suka buku yang mengandalkan logika dan deduksi seperti Agatha Christie dan Sherlock Holmes. Kisah sejarah? Bikin ngantuk, katanya... Kisah fantasi dia juga tak suka, makanya tak pernah membaca Harry Potter.

Kalau aku, mungkin seleraku lebih mirip Rudi karena aku suka Harry Potter, meski tak suka Lord Of The Ring. Tapi sama seperti Yudhi, buku sejarah juga sering bikin aku bosan. Dan aku paling suka Agatha Christie, seperti Yudhi. Hanya saja alasannya bukan karena deduksinya saja, tapi faktor psikologi manusianya juga. Sherlock Holmes? Terlalu banyak deduksinya menurutku, kurang ada seninya. Lho?

Kalau begitu, memang susah ya untuk menemukan dua orang yang benar-benar sama seleranya. Jadi, tidaklah mengherankan kalau ada beberapa buku yang masuk kategori bagus dan best seller, tapi sama sekali tak masuk daftar bacaanku. Contohnya ada beberapa nih...

Lord Of The Ring
Sungguh.... aku dulu sempat beli seri 1 buku ini, karena banyak yang bilang kisahnya mirip dengan Harry Potter. Tapi, baru halaman 1 aku baca...aku jadi ilfil alias kehilangan selera untuk meneruskan. Hanya karena buku ini best seller kala itu, aku memaksakan diri untuk membaca beberapa halaman berikutnya, dengan harapan mungkin lama kelamaan ceritanya akan mengalir dengan lebih enak. Dan akhirnya...aku menyerah. Aku tutup buku itu di bab-bab awal dan tak hendak aku meneruskannya lagi selamanya. Entah kenapa, membaca kisah itu, rasanya datar dan membosankan. Pasti banyak nih teman-teman yang tidak setuju denganku, tapi memang begitulah perasaanku.

Eragon
Buku yang satu ini juga buku bertema fantasi. Ketika aku membaca beberapa halaman awal, aku tak merasakan sensasi-membaca-buku-bagus yang sering datang ketika membaca halaman awal suatu buku. Maka aku memutuskan aku takkan menyukai Eragon dan semua sekuelnya. Bagiku ceritanya terlalu fantastis. Padahal Harry Potter kan juga fantasi ya? Yah..entahkah pokoknya aku tak suka.

Buku yang bagus menurutku haruslah membuat emosiku turut ambil bagian saat secara fisik otak mencerna apa yang aku baca. Kisah di buku itu haruslah membuatku merasakan sesuatu. Tegang? penasaran? Atau aku tiba-tiba merasa sudah pindah dari alam nyata ke dalam kisah itu sendiri. Yang terakhir ini aku alami saat membaca Harry Potter.

Hingga kini aku masih bisa mengingat sensasi itu. Sensasi-halaman-pertama, aku menyebutnya. Aku masih ingat bagaimana suasana malam yang sepi di Privet Drive, dan tiba-tiba suasana magis terasa ketika seekor kucing hitam dengan mata tajam duduk diam di atas tembok, lalu satu per satu lampu jalanan padam mengiringi kemunculan Dumbledore. Semua itu langsung terasa menyihirku ke dalam kisah yang ditulis JK Rowling itu. Seakan aku tiba-tiba tanpa sadar sudah pindah dunia, dan berada di jalanan Privet Drive, menonton semua atraksi itu. Dan sepertinya ada magnet yang mencengkeram aku untuk terus dan terus membaca.

Di luar itu, ada juga buku yang memang bagus di awalnya, namun makin lama membuatku merasa tak nyaman. Tak nyaman di sini bisa berarti bosan karena alur cerita ternayata monoton dan datar saja, atau... ini nih yang baru saja kualami...

Dracula (by Bram Stroker)
Ini buku yang baru-baru ini aku baca. Siapa yang tak tahu tokoh Drakula si penghisap darah itu? Beberapa waktu lalu, saat aku bongkar-bongkar di sebuah lapak buku bekas, aku menemukan sebuah buku dengan tampilan yang sangat unik. Warna dasar sampulnya hitam pekat. Lalu judulnya tertulis dalam huruf kuno berwarna emas: "Dracula". Tanpa ilustrasi lainnya, tanpa warna lain. Hanya hitam bertulisan emas. Lalu di bagian sisi sampul terdapat nuansa emas berupa beberapa kotak yang berisi tulisan judul dan pengarang. Bagian belakang sampul tentu saja hitam pekat. Yang istimewa lagi, pinggiran kertasnya berwarna merah tua. Aku pernah melihat novel-novel paperback berbahasa Inggris jadul seperti Harold Robbins dsb memang berpinggiran kertas berwarna, namun aku tak pernah menemukannya dalam buku terjemahan. Dan buku itu adalah buku terjemahan terbitan Gramedia tahun 2007.

Wow, buku yang artistik dan antik nih. Meski aku sudah pernah mendengar kisah tentang Dracula, tapi aku memang belum pernah membaca bukunya. Maka aku beli buku itu. Aku telah membayangkan asyiknya membaca buku itu. Dan untuk menambah sensasinya, aku mulai membacanya pada malam hari sebelum tidur. Aku ingat dulu ketika pertama kali membaca Sepuluh Anak Negro-nya Agatha Christie, aku juga membacanya kala malam, dan suasananya sangat mendukung ketegangan yang terbangun di kisah itu.

Halaman awal buku Dracula ternyata memang menawarkan ketegangan itu, maka akupun melanjutkannya hingga si tokoh yang menginap di purinya Dracula mulai menemukan keanehan-keanehan yang menakutkan dalam puri itu maupun dalam diri tuan rumahnya. Sampai di situ aku mulai merasa tak nyaman. Bukan..bukannya perasaan takut seperti saat membaca horor, karena toh aku sadar bahwa ini hanya kisah fiksi. Namun, entahlah....kisah ini rasanya terlalu 'gelap' bagiku. Bukan suasananya secara harafiah (masak kisah Dracula suasananya ceria?). Namun 'kegelapan' itu kok aku rasakan hingga ke jiwa ya? Aku jadi ngeri deh. Hati ini rasanya tak nyaman, tak ada damai, pokoknya tak enak lah... Akhirnya aku tutup buku itu, aku sembunyikan di bawah Alkitab-ku. Sungguh, itu tindakan kekanak-kanakan banget ya? Tapi dengan begitu aku jadi merasa sedikit ayem.

Aku memang penggemar kisah thriller, tapi kalau 'gelap'nya sampai merasuk di hati, ogah ah... Di sisi lain, itu menunjukkan kualitas Bram Stroker dalam menulis kisah ini. Penulis yang bisa mengajak pembacanya turut masuk ke dalam suasana yang ia bangun pada cerita itu, berarti memang penulis hebat.

Jadi akhirnya, sampailah aku pada kesimpulan bahwa kita tak perlu terpatok pada selera massa. Seringkali buku-buku yang bukan best-seller justru lebih memenuhi selera kita. Sedang buku best-seller yang disukai banyak orang mungkin sama sekali tak ingin kita baca. Buku bagus menurut khalayak ramai belum tentu adalah buku favorit kita.

Bagaimana dengan anda? Punya pengalaman membaca buku best-seller yang ternyata tak memenuhi selera? Share disini yuk....

Sunday, August 1, 2010

Pemuja Api

Api. Apa yang langsung muncul di kepala anda ketika mendengar satu kata ini? Bagiku, api melambangkan panas, menghanguskan, memusnahkan, sakit (kalau kena luka bakar), dan mematikan. Mungkin satu kata ini bisa mewakili semuanya: bencana. Bukankah kebakaran itu sebuah bencana?

Namun aku cukup tertarik ketika aku melihat judul buku ini di atas warna biru muda dan kuning tua bergelung-gelung, yang menggambarkan api dan asap pada cover buku ini. Pemuja Api? Bagaimana api yang mematikan dan membawa bencana itu bisa dipuja? Blue Smoke, yang merupakan judul asli buku karangan Nora Roberts ini malah semakin memberi rasa yang bertentangan: Blue Smoke. Judul itu membuat asap yang berasal dari api-api seolah-olah indah dan menenangkan. Padahal kalau kita menghirup terlalu banyak asap, bukankah kita bisa kekurangan O2 dan akhirnya pingsan atau bahkan mati?

Nora membuka wawasan baru pada kita, bahwa ada orang di luar sana yang benar-benar memuja api. Api bagi mereka, adalah keindahan fenomena yang mengagumkan dan bahkan nyaris memiliki 'nyawa'. Hal itu tersaji dengan indah pada prolog buku ini. Satu setengah halaman dihabiskan Nora untuk menulis bagaimana keindahan api yang berkobar itu dipuja dan dinikmati oleh seorang tokoh dalam kisah ini. Siapa dia?...

Reena, panggilan Catarina Hale adalah seorang anak perempuan berdarah Italia yang dibesarkan dalam sebuah keluarga besar (khas Italia) pemilik restoran pizza warisan leluhur mereka bernama Sirico's. Pada usianya yang kesebelas, dunia Reena yang damai tiba-tiba disentakkan oleh sebuah kebakaran yang menghanguskan bangunan Sirico's yang letaknya persis di seberang rumah keluarga Hale. Dan Reena kebetulan merupakan saksi yang pertama kali melihat api itu mulai berkobar, sehingga sebuah keluarga yang menghuni lantai atas resto itu bisa terselamatkan nyawanya.

Berkat kebakaran itulah Reena mulai terpesona pada api. Aku kagum pada Nora Roberts yang dapat menggambarkan api dengan kata-kata yang indah. Berkat api jualah Reena berkenalan dengan profesi penyelidik kebakaran, seperti yang disandang oleh John Minger, sang inspektur polisi penyelidik kebakaran Sirico's itu. Saat itulah Reena menyaksikan bagaimana para pemadam kebakaran bekerja dalam suasana panas, pengap sekaligus lembab di dalam ruangan yang terbakar.

Penyelidikan John Minger ditambah kesaksian Reena membawa mereka pada kesimpulan bahwa Sirico's memang sengaja DI-bakar, bukannya TER-bakar. Tapi siapa pelakunya? Apa motifnya?

Ketika John Minger mengusut adakah orang yang membenci keluarga Hale, nama Joey Pastorelli tiba-tiba keluar dari mulut Reena. Keluarga Pastorelli adalah tetangga mereka, dan Joey, si badung yang satu sekolah dengan Reena pernah bertindak kasar pada Reena, yang kemungkinan akan berujung pada pemerkosaan jika adik lelaki Reena, Xander tak segera menolong sang adik. Atas laporan Reena dan Xander, ayah mereka Gibson, tentu saja mencak-mencak. Ia mengajak Reena ke rumah ayah Joey untuk mengadukan kelakuan Joey. Pastorelli tua tak terima, lalu terjadi adu mulut.

Beberapa hari kemudian, polisi menangkap Pastorelli tua dan membawanya pergi dengan mobil atas tuduhan membakar Sirico's. Sebuah pemandangan yang takkan pernah dilupakan oleh Gibson dan Reena adalah, ketika Joey sambil menangis meraung-raung, lari mengejar mobil polisi yang membawa ayahnya pergi itu...

Pengalaman dengan api dan kebakaran Sirico's itu menuntun Reena pada karier di kepolisian, untuk kemudian mengambil lisensi untuk menjadi penyelidik kebakaran. Rupanya, karakter mandiri, tegas dan berani yang ia warisi dari ayahnya membawa ia pada karier impiannya itu.

Dan api rupanya memang tak dapat menjauh dari hidup Reena sepenuhnya. Kasus pembakaran demi pembakaran sepertinya mengejar Reena, dan tiga orang kekasihnya berturut-turut menjadi korbannya. Hingga Reena berkenalan dengan seorang pria yang menjadi tetangga rumah mungilnya, Bo Goodnight, seorang pembuat furniture. Bo pria yang ramah, baik hati dan ringan tangan yang sudah bertahun-tahun mengagumi Reena dari jauh dan tak jua berhasil mengenalnya dari dekat. Bo pun segera menjadi favorit keluarga Reena.

Ketika cinta mulai bersemi, semakin banyak kasus pembakaran yang terjadi, dan sebuah petunjuk selalu ditinggalkan oleh seorang pelakunya. Petunjuk itu selalu berhubungan dengan Sirico. Itu berarti...pembakaran-pembakaran itu ditujukan kepada Reena dan keluarganya. Oleh siapa? Dan apakah Bo benar-benar akan menjadi kekasih Reena, atau satu korban lagi akan jatuh?

Wow,...membaca Pemuja Api ini memang seru dan tegang. Tak kusangka Nora Roberts yang biasanya piawai menulis kisah-kisah romantis, kini hadir dalam sebuah thriller yang enak dinikmati. Tak terlalu berksan 'gelap', tak terlalu cepat, sehingga masih sempat menebarkan keindahan api di sana-sini. Bagaimana? Apa pendapat anda tentang api? Apakah ia memang indah?

Judul buku: Pemuja Api (Blue Smoke)
Penulis: Nora Roberts
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 631 hlm
Terbit: 2010

Wednesday, July 28, 2010

Dari Bagi-Bagi Akhirnya Kebagian..BUKU

Itulah yang aku rasakan ketika aku mendapat kabar dari Penerbit Gramedia di twitter, bahwa aku telah MEMENANGKAN sebuah buku terbitan Gramedia: The Hunger Games! Horeee…

Bagi-bagi buku gratis. Itu tag yang sering kupakai untuk Vixxio, pusat buku onlineku. Sudah banyak juga teman-teman blogger dan twitter yang sempat kecipratan berkah buku gratis dari Vixxio lewat sejumlah lomba dan kuis. Aku sendiri juga pernah memenangkan buku gratis dari penerbit Gagas Media. Dan saat itu baru aku merasakan sensasi yang pasti dialami teman-teman juga saat mendapat ‘buku runtuh’ (jangan durian runtuh ah..sakit kalau menjatuhi kita…).

Tapi baru beberapa hari yang lalu aku benar-benar mengalami indah ‘berbagi’. Berbagi itu bisa dalam berbagai cara. Bisa dengan berbagi langsung, misalnya saat Vixxio berbagi buku dengan para Vixxers – sahabat Vixxio, atau…nah ini yang seru…berbagi dengan cara merekomendasikan seorang teman untuk mendapatkan sebuah hadiah. Itulah yang dilakukan oleh penerbit Gramedia di Twitter. Mereka ingin bagi-bagi buku The Hunger Games, tapi caranya bukan membuat kuis, melainkan meminta para followernya buat merekomendasikan temannya yang layak untuk dihadiahi buku itu.

Aku pikir awalnya, pasti sedikit respon-nya karena siapa sih yang mau repot-repot ngetweet agar orang lain mendapat hadiah? Biasanya kita mau bersusah-susah ngetweet atau posting blog jika kita berpeluang mendapat hadiah. Namun, ternyata dugaanku salah besar! Ternyata di dunia maya ini, yang kebanyakan justru tak pernah bertatap muka di dunia nyata, keinginan untuk berbagi sungguh besar. Buktinya? Sebelum aku sempat memutuskan siapa yang akan aku rekomendasikan (karena satu orang hanya bisa merekomendasikan satu teman), ternyata sudah ada 3 orang Vixxers yang merekomendasikan aku (@vixxio) !! Dan rekomendasinya bukan dengan alasan yang asbun saja, tetapi mereka sungguh-sungguh tulus. Mereka bilang, karena aku sudah sering berbagi buku dengan Vixxers, kini saatnya aku sendiri yang mendapatkans ebuah buku gratis.

Betapa terharunya aku saat itu, karena ternyata benar bahwa apa yang telah kita tabur, akan kita tuai suatu hari nanti.

Inilah buku yang akhirnya benar-benar aku menangkan itu…


Mungkin saja penerbit Gramedia memilihku karena aku salah satu pelanggan mereka yang sering beli buku dan sering membagi-bagikannya. Jadi...jangan pernah kapok untuk berbagi ya, karena dengan ketulusan hati, apa yang anda tabur pasti akan anda tuai juga, meski anda takkan pernah tahu kapan, dari mana, dan bagaimana bentuknya…

Saturday, July 24, 2010

Buku Kenanganku...

Setiap orang pasti memiliki benda kenangan. Begitu juga aku. Dan benda itu berupa sebuah buku anak-anak hardcover, berbahasa Inggris. Ada pula kisah yang menyertainya...

Aku patut bersyukur bahwa kedua orang tuaku begitu peduli pada pendidikan anaknya, karena mereka adalah pencinta-pencinta buku juga. Well..sebenarnya papaku lah yang semenjak awal mencintai buku. Dan buku-buku yang dibacanya semasa sekolah dulu adalah buku-buku klasik macam To Kill A Mockingbird atau Tom Sawyer. Ketika berpacaran dengan mamaku, papa lah yang mengenalkan edisi paperback novel-novel karya Sidney Sheldon, Harold Robbins, dsb kepada mama. Edisi bahasa Inggris tentunya, karena pada jaman itu tak ada atau tak banyak (aku tak tahu persis, karena aku kan belum lahir..) edisi terjemahannya.

Maka, ketika aku masih dalam kandungan mama, papa dan mama ingin sekali membelikan calon buah hatinya sebuah buku. Buku ternyata juga bisa sebuah investasi ya? Buku itu buku cerita anak yang mengandung unsur-unsur pendidikan. Kalau sekarang, mungkin semacam buku ensiklopedi yang harganya mencapai jutaan dan biasa dijual door to door dengan cara kredit. Aku tak tahu persis harga buku yang hingga saat ini jadi milikku ini. Pasti harganya tak terlalu mahal, karena kalau tidak, tak mungkin papa dan mama yang rumah saja masih mendompleng di 'pondok-mertua-indah' dan bekerja sebagai pegawai kecil, mampu membelinya.

Toh, buku hardcover itu tetap dibeli oleh papa-mama dengan cara kredit. Kreditnya lunas ketika aku berusia 9 bulan. Bagaimana aku mengetahuinya? Tentu saja karena mama menyempatkan diri menorehkan kata-kata cinta buat buah hatinya di buku pemberiannya itu, lengkap dengan tanggal, di halaman awal buku itu...



Kalau terlihat beberapa coretan tak rapi ...maaf, waktu itu Fanda kecil belum mampu menghargai nilai sebuah buku. Baginya kala itu, fungsi space kosong di buku apapun, adalah untuk ditulisi...* Dan kalau lihat tulisan 250 itu, apa itu harga buku itu ya??

Dan inilah cover depan buku itu...


Stories And Pictures, judulnya. V. Suteyev, penulis dan animatornya. Kalau sampul plastiknya nampak kumal, itu karena usia saja. Bisa saja aku mengganti dengan mika yang baru, tapi justru kekumalannya itu mengingatkan aku pada tua usianya...

Ada yang menarik dari buku ini. V. Suteyev (berkebangsaan apa ya kira-kira? India??) mengerjakan tulisan dan animasinya BERSAMAAN. Itu karena sejak kecil Suteyev sudah terbiasa menggambar menggunakan tangan kiri. Sedang kalau menulis, ia tetap menggunakan tangan kanan. Dan buku ini ia kerjakan berbarengan. Saat tangan kanannya menulis cerita, tangan kirinya melukis gambar-gambar lucu yang merepresentasikan tulisan itu ke dalam animasi.

Dengan begitu, anak-anak kecil seperti aku sangat terbantu untuk cepat belajar. Hanya dengan melihat gambar-gambarnya, sebenarnya kita sudah dapat mengetahui ceritanya. Itu adalah pengenalan pertama anak saat ia belum mampu membaca. Saat aku telah mampu membaca (meski belum mampu berbahasa Inggris), mama membimbingku mengenali kata-kata bahasa Inggris yang mudah, seperti chick (anak ayam), cat (kucing), dll. Tentu saja pengenalan bahasa Inggris itu bisa mengendap di otakku makin cepat karena sebelumnya aku sudah hafal cerita-ceritanya lewat gambar.

Ketika aku sudah makin besar dan sudah mampu mengenal kalimat yang lebih kompleks dalam bahas Inggris, akupun bisa belajar lebih banyak dari kisah itu, lagi-lagi dengan bantuan cerita ringan yang sudah amat kuhafal semenjak kecil. Kadang aku melafalkannya keras-keras untuk melatih lidahku dalam bahasa Inggris. Belakangan semua ini berguna saat aku harus bertemu dengan orang-orang asing dalam pekerjaanku ketika dewasa.

Itulah sekelumit cerita tentang buku yang paling berkesan bagiku. Buku itu berkesan, selain karena usianya yang bahkan lebih tua dariku, juga karena dalam buku yang ringan dan mulai menguning itu, berat terkandung energi cinta dari kedua orangtuaku yang ingin memberi anak tunggalnya sebanyak mungkin ilmu di usia sedini mungkin. Hal terakhirlah yang membuat buku Stories and Pictures yang biasa-biasa saja bagi orang lain, namun tak ternilai harganya bagiku!

Thursday, July 1, 2010

Mau Buku Gratis??

Singkat aja yah posting kali ini!

Dalam rangka pembukaan Rumah Vixxers (tempat nongkrong buat para sahabat Vixxio), Vixxio mau bagi-bagi buku gratis (lagi)...

Caranya hanya jawab quiz aja kok. Tempatnya di Rumah Vixxers. Temukan pertanyaannya disana, dan jawab lewat kotak komentar. Dan pertanyaannya dijamin gampang banget. Ayo..ayo...segera ikutan ya!

Kalau hari ini anda tak beruntung, coba lagi besok. Karena hari ini (1 Juli 2010) dan besok (2 Juli 2010) ada 2 buku gratis yang dibagikan untuk 2 pemenang (judul berbeda). Setiap quiz dibuka mulai pagi dan ditutup persis jam 24:00.

Mau baca buku tanpa modal? Ke Rumah Vixxers aja yuk!!!

Thursday, June 24, 2010

Si Pembawa Harry Potter Ke Indonesia Itu Telah Berpulang…

Teman-teman, hari ini (mulai saat aku membuka Twitter), timeline banyak orang yang mencintai buku dipenuhi oleh sebuah berita duka. Sebuah nama yang (mungkin) tak kita kenal, Listiana Srisanti, namun karya-karyanya telah memenuhi cakrawala literatur para pembaca buku di Indonesia, telah berpulang menghadap hadiratNya.

Ibu Listiana adalah senior editor fiksi di Gramedia yang karya masterpiece-nya yang terakhir adalah menterjemahkan buku Harry Potter dari seri 1-7.

Kalau anda sudah membaca Harry Potter yang versi terjemahan, itulah hasil karya Bu Listiana yang penuh dedikasi. Mengapa begitu? Karena saat sedang menyelesaikan terjemahan buku yang ke-5, Bu Lis (demikian ia akrab dipanggil) didiagnosis mengidap kanker paru-paru stadium 3B. Terus terang, begitu kabar itu tersiar beberapa tahun lalu, aku dan teman-teman sesame pecinta Harry Potter langsung khawatir. “Wah…kira-kira si penerjemah bakal bisa bertahan gak ya sampai seri terakhir (7)?” Sebab, kalau tidak…susah membayangkan ada penerjemah lain dengan gaya yang mungkin lain, harus menuntaskan Harry Potter yang selama ini sudah melekat di hati kami.

Namun ternyata….buku Harry Potter ke 7 akhirnya tuntas, tetap di tangan ibu Listiana.

Menarik juga meneropong kembali kiprahnya di dunia literatur Indonesia, yang sempat diungkapkan oleh banyak orang di Twitter hari ini. Semua tweet di bawah ini aku ambil secara acak dari beberapa orang, lalu aku satukan sehingga membantu kita semua untuk lebih mengenal sosok alm. Ibu Listiana Srisanti, sang editor senior fiksi di Gramedia.

Akhirnya…selamat jalan Ibu Lis! Meski kami hampir semua tak pernah berkenalan dengan Ibu, tak pernah melihat wajah ibu, namun hasil karya Ibu akan selalu ada di hati kami. Kisah Harry Potter takkan pernah sampai di tangan kami tanpa dedikasi Ibu yang tak kenal menyerah meski di tengah penderitaan. Syukur dan bangga kami haturkan buat Ibu, semoga arwah Ibu diterima disisNya…

Salam hormat juga bagi para editor dan penerjemah, yang namanya mungkin tak pernah dikenal orang, namun justru merekalah yang sebenarnya membuat para penulis terkenal itu ada, dan buku-buku mereka yang telah mempengaruhi kita selama ini pernah ada!

-----

Tweet-tweet yang aku kumpulkan mengenai meninggalnya Ibu Listiana Srisanti:

@anasmustika: Sdh dipanggil Bapa pagi ini, 24 Juni sekitar jam 4, Listiana Srisanti (editor&penerjemah Harry Potter), di RS Boromeus Bdg.

@itsbluedolphin: Turut berduka cita utk Mbak Lis...RT @gramedia: Mbak Listiana Srisanti yg dipanggil Bapa Kamis, 24 Juni 2010, sekitar jam 4 pagi di Bdg.

@hetihrusli: Saat rapat redaksi th 2000, Mbak Lis usul menerbitkan Harry Potter. Bbrp org berpikir itu absurd. Siapa yg mau baca buku anak tebal spt itu?

@pdchusfani: #iluvHP Dedalu Perkasa, jembalang, cermin tarsah adlh kreativitas Mbak Lis #RIPListianaSrisanti

@ambudaff: #iluvHP jembalang, mencelos, berjengit, mengedikkan bahu, pasti semua fans HP tau @kelontongsihir @gramedia #RIPListianaSrisanti

@anasmustika: Her passion for translating Harry Potter made her keep fighting against cancer since 2006 #RIPListianaSrisanti

@htanzil: Ketekunan Mbak Listiana dlm menerjemahkan ke tujuh buku Harry Potter sngt luar biasa #RIPListianaSrisanti

@htanzil: Saat mengerjakan Harry Potter 5, dia tiba2 divonis kanker paru2 stadium 3B, diperkirakan hidupnya tinggal 6 bulan lagi! #RIPListianaSrisanti

@htanzil: Tapi vonis itu tdk menyurutkan semangat Editorial & Product Manager-Fiction Gramedia ini u/ melanjutkan kesibukannya. #RIPListianaSrisanti

@hetihrusli: Dalam kondisi sakit kanker stadium 4, Mbak Lis berjuang menerjemahkan 2 buku Harry Potter terakhir.

@htanzil: "Saya mengerjakan Harry Potter pada malam hari sepulang kantor dan di akhir pekan" Ujarnya dlm sbh wawancara sbh media. #RIPListianaSrisanti

@htanzil: "Saya mengerjakan penerjamahan ini con amore, karena saya menyukainya" #RIPListianaSrisanti

@htanzil: Harry Potter 7, 900-an halaman, dia kerjakan dlm waktu hanya 5 minggu, di sela-sela jadwal kemoterapi yang melelahkan. #RIPListianaSrisanti

@htanzil: Arswendo Atmowiloto menyatakan dlm : "... terjemahan (Memoar Geisha) Listiana jauh lbh menyentuh daripada buku aslinya. #RIPListianaSrisanti

@htanzil: Salah satu buku yang diterjemahkan Mbak Lis selain seri Harry Potter adlh Memoar Seorang Geisha - Arthur Golden #RIPListianaSrisanti

@AndreiAksana: Mbak Listiana Srisanti adlh senior editor fiksi yg bnyk melahirkan pengarang terkenal spt Remy Sylado, Mira W, Hilman, dll

editor_in_chic: Mbak Lis taught us work w/ love. Passion for books is the most important thing in being an editor/translator. #RIPListianaSrisanti

@editor_in_chic: Mbak Lis memperkenalkan dan menegaskan pentingnya "rasa bahasa" dlm menjadi editor/penerjemah. Tanpa itu, tdk ada jiwa