Sunday, October 10, 2010

The Fences

What is the main purpose of putting a fence around your property? Well, if you read the series of Harry Potter, it's like Fidelius Charm that the wizards put around a place to protect it from other wizards outside it. That's what a fence is for too, right? We put fences around our property to keep it to our private. However, it can also work as a decoration, as well as reflecting the owner's taste and giving the house a certain unique sign. When you want to visit your friend's house, you might have asked your friend, "What color is your fence?" besides his/her complete address, of course.

Anyway, people have their own consideration when deciding what kind of fences they are going to have. If you take a look on several Chapel Hill, NC Fences for example, people there build their fences mostly for protecting their properties from traffic risks. In this case, wood fences would be a perfect choice. It looks good too for Durham, NC Fences, especially when the owner want to build a swimming pool inside their property. Fencing will keep it private from other people sight.

But if you happen to visit a small town with a historic appeal in Southwestern Wake County, you'll likely to find old American flares in some Apex, NC Fences. This town is trying to keep their historical theme for attracting visitors and new business to the town. This also proves that you can use fences as decoration item.

There are many consideration you must get through before buying your new fencing. Pet is one of them. Most of Raleigh, NC Privacy Fences are built by the owner right after they get a new pet or simply to provide the children a closed and safe playing area. Cost, of course, is another important consideration while choosing your fence. Chain link fences would be your perfect choice, as you can see many of Cary, NC Fences use it too. If you are a farmer, you can keep your pet safely. The same works for young couple who spend most of their time in other town for work. You will need something to assure you that your house will be still in one piece when you come home. Fences will do that for you!

Friday, October 8, 2010

Theodore Boone: Pengacara Cilik

Akhirnya terbit juga sebuah buku dari salah satu penulis favoritku: John Grisham. Meski sebenarnya yang kutunggu-tunggu adalah buku yang lain, tapi tetap kehadiran buku Theodore Boone ini cukup mengobati kerinduanku pada tulisan John Grisham. Banyak orang mengakui bahwa John Grisham adalah penulis yang bagus, namun enggan membaca bukunya karena memang genre thriller hukum tergolong “agak berat”. Ada juga beberapa karya Grisham yang agak membosankan karena terlalu banyak aspek hukumnya. Aspek hukum yang menampilkan pertarungan di pengadilan sih masih seru, tapi kalau sisi hukum itu banyak di teori hukumnya sendiri, minat baca kita bisa meluntur karenanya. Tapi tetap saja, John Grisham menjadi salah satu penulis favoritku karena aku suka pada cara ia menulis. Sulit untuk menjelaskannya karena aku bukanlah penulis fiksi, hanya penikmat karya fiksi. Tapi cara ia bercerita membuat hal yang sebenarnya membosankan menjadi menarik. Dan ia membuktikan dirinya mampu menulis dengan karakter yang berbeda. Tentang ini, aku pernah menulis di posting tentang John Grisham ini.

Anyway, begitu aku tahu buku ini terbit, langsung kuputuskan untuk membelinya (dan langsung membacanya!). Bagi anda yang tak suka bacaan “berat”, Theodore Boone ini bisa menjadi pilihan anda karena kisahnya dijalin dari pendekatan seorang anak laki-laki berusia 13 tahun. Cara Grisham bertutur pun lebih simple, teori-teori hukum yang diselipkan juga teori yang sudah kita kenal dalam hukum Amerika (saking seringnya membaca buku dan menonton film ex Hollywood). Pendek kata, Theodore Boone menjadi sebuah tulisan yang amat menarik dan menghibur untuk dibaca.

Pengacara cilik? Apakah mungkin seorang ABG berusia 13 tahun menjadi pengacara? Tentu saja tidak. Dan faktor inilah yang menjadi daya tarik buku ini. Theodore Boone adalah seorang anak yang unik. Lahir dari keluarga pengacara, ayah, ibu, bahkan paman, ia pun dibesarkan sebagai anak tunggal dalam suasana yang nyaris dipenuhi soal hukum. Bayangkan kalau ayah dan ibumu sama-sama berkarir di bidang yang sama, pasti omongan mereka sehari-hari mayoritas tentang hal-hal dalam karir itu, kan? Belum lagi jam kerja ortunya yang panjang, menyebabkan Theo paling banyak menghabiskan waktunya di luar jam sekolah, di kantor kedua ortunya dan di pengadilan.

Pengadilan? Ya, itu karena Theo sering disuruh ibunya memasukkan berkas ke pengadilan untuk didaftarkan. Dan hal-hal sepele lain yang membuat ia sering mondar-mandir di pengadilan, hingga mengenal hampir semua staff yang bekerja di sana. Termasuk juga hakim-hakimnya. Hebat bukan? Mungkin Theo adalah remaja yang paling mengerti hukum di seluruh dunia. Dan karena itu pula, ia sering dimintai bantuan oleh teman-teman sekolahnya mengenai soal hukum. Kalau ada imigran illegal yang takut soal deportasi atau penyitaan rumah karena telat membayar sewa, orang yang pertama dimintai nasihat adalah Theo. Karena itu, tak heran bahwa Theo pun memiliki kantor-tak-resmi di bagian belakang kantor ortunya. Makin asyik aja ya?

Suatu ketika terjadi kasus terheboh yang pernah terjadi di kota mereka. Pembunuhan seornang wanita yang tinggal di perumahan dekat lapangan golf. Tersangka utama adalah sang suami, meskipun tak ada bukti secuilpun yang menunjukkan keterlibatannya. Tak ada saksi, tak ada bukti. Jaksa Penuntut Umumnya sudah hampir putus asa, Pengacaranya sudah mulai jemawa karena membayangkan kemenangan di depan mata, para juri sudah siap-siap menyelesaikan tugasnya, bahkan Hakim juga sudah ingin menyelesaikan sidang secepatnya, ketika sebuah kejutan justru datang menghantam Theo si bocah pengacara cilik.

Karena aktif mengikuti jalannya sidang (kalau anak lain menghabiskan waktu di internet dengan download lagu-lagu atau game, Theo malah meng-hack notulen sidang untuk mengetahui apa saja yang terjadi saat sidang berlangsung, ketika ia harus masuk sekolah), Theo tahu semua detail tentang kasus pembunuhan itu. Dan tidak mengherankan juga kalau ternyata dia, dan hanya dia seorang yang mengetahui sekaligus memiliki sebuah bukti akurat tentang pembunuhnya.

Theo yang malang, yang hanya seorang remaja yang suka dan berminat dengan hukum, tak menyangka harus menanggung beban yang amat berat. Bila ia mengabaikan bukti itu, ia akan membiarkan seorang pembunuh bebas, namun jika ia menunjukkan bukti itu, kehidupan seseorang akan harus dikorbankan. Di titik ini, semuanya berjalan dengan wajar, tak dipaksakan. Theo memang bukanlah bocah ajaib, ia hanya dibesarkan dalam kondisi yang unik. Itu saja.

Menyenangkan juga sesekali membaca kisah yang down-to-earth. Kisah yang membuat kita tetap “menginjak bumi”, membuat kita berpikir bahwa kisah itu bisa saja terjadi pada manusia normal seperti kita semua. Ditambah dengan alur dan cara penulisan John Grisham, membuat buku ini sangat menyenangkan. Salut juga buat Gramedia yang memberikan cover yang elegan dan kertas yang bagus sehingga buku ini menjadi lain daripada buku-buku John Grisham biasanya. Sayang sekali, kali ini Gramedia tak menyisipkan sebuah pembatas buku. Padahal itu salah satu barang yang aku nantikan saat membuka pembungkus buku baru….

Bagi yang ingin mendapatkan buku ini dengan diskon 25%, segera saja ke Vixxio ya.. Di sana sedang ada promo. Setiap beli 1 buku bekas, akan dapat diskon 25% untuk 1 buku terbitan Gramedia (judul apapun). Buruan ya, karena promonya berakhir tgl. 15 Oktober 2010!

Sunday, September 26, 2010

Doctors

Melihat ukuran buku ini ketika terpajang di rak toko buku, aku jadi ragu-ragu untuk membelinya. Alasannya, aku takut kalau aku sudah bosan duluan sebelum menghabiskan buku itu, padahal harganya lumayan mahal. Apalagi temanya bukan thriller, sehingga alurnya kemungkinan datar. Tapi karena banyak orang yang merekomendasikan buku ini, aku jadi tertarik untuk membaca. Dan ternyata kesan pertamaku salah total. Buku ini jauh dari membosankan.

Doctors, karangan Erich Segal adalah buku tentang liku-liku kehidupan para dokter, dari semenjak mereka menuntut ilmu, menjadi residen, mengambil spesialisasi, hingga benar-benar berpraktik atau berkiprah di dunia edukasi dan penelitian. Banyak suka-duka yang tersirat, ambisi dan dedikasi yang terungkap. Semuanya tergambar dengan begitu detil di kisah yang mengambil setting sekitar tahun....., di mana orang kulit hitam dan wanita tak mendapatkan tempat yang setara di dunia medis.

Barney Livingston dan Laura Castelano adalah tokoh sentral yang menjadi benang merah keseluruhan kisah ini. Tumbuh bersama sebagai tetangga, mereka berdua menempuh pendidikan di Harvard Medical School. Di sini kita akan disuguhi betapa kerasnya perjuangan Barney, Laura dan teman-temannya untuk dapat menyerap seluruh teori yang harus mereka kuasai. Tak sedikit calon dokter yang mengalami gangguan psikis. Kasus bunuh diri pun bukanlah hal yang aneh, dan hampir pada tiap angkatan selalu ada korban.

Di luar perjuangan untuk lulus sekolah kedokteran, Erich Segal juga mengajak kita mengikuti problematika pribadi para calon dokter ini. Mulai anak yang ditekan ayahnya hingga sahabat karib Barney yang keturunan negro namun diangkat anak oleh pasangan Yahudi, yang membuatnya makin terkucil.

Dan problematika makin meluas ketika mereka semua telah lulus dan layak menyandang gelar 'dokter' di depan nama mereka. Dari kisah cinta, etika, hingga moral. Kasus-kasus yang pasti diambil dari kehidupan nyata, seperti mengakui karya ilmiah sebagai miliknya dan menghapus nama rekan yang lebih banyak kontribusi, atau kasus euthanasia dengan dalih 'kasihan', juga akan kita jumpai di buku ini.

Akhirnya, dengan membaca buku ini, selain kita akan mendapat banyak wawasan baru mengenai dunia medis dan kehidupan para dokternya, kita juga akan menyadari bahwa bagaimanapun dokter tetaplah makhluk yang bernama manusia. Dokter bukanlah dewa, apalagi Tuhan. Sebanyak apapun teori di kepalanya dan setinggi apapun jam terbangnya dalam menangani orang sakit, kesembuhan, kematian dan kehidupan tetap menjadi misteri agung Sang Pencipta. Tugas para dokter adalah menjadi fasilitator kesembuhan itu apabila memang Tuhan menghendakinya.

Salut pada Erich Segal yang telah membawa kisah menyentuh ini ke dunia literatur kita. Rasanya membayar 75 ribu untuk menikmatinya tidaklah sia-sia...

O ya..buku ini adalah terbitan Gramedia. Kalau ada yang berminat membeli, bisa lewat Vixxio, kalian akan mendapat 15% diskon.

Tuesday, September 14, 2010

The Vanished Man

Liburan ini aku melahap dua buku sekaligus. Salah satunya yang keren banget adalah The Vanished Man, atau Si Perapal versi terjemahannya (kenapa ya judul terjemahan kok sering jauh kerennya dibanding judul asli?). Novel ini bergenre thriller pembunuhan yang ditulis oleh Jeffery Deaver. Beliau juga yang menulis The Bone Collector, novel yang dilayar-lebarkan dengan judul sama dan dibintangi Denzel Washington dan Angelina Jolie. Makanya, meski nama si pengarang asing bagiku, namun karena aku suka The Bone Collector, aku berani membeli novel ini.

Pasangan Lincoln dan Amelia adalah dua orang ahli forensik. Lincoln pernah mengalami kecelakaan sehingga tak bisa aktif menyelidiki di TKP pembunuhan, karena itu ia mengangkat asisten, Amelia yang ahli forensik didikannya dan masih aktif di kepolisian. Kali ini mereka berdua menghadapi kasus pembunuhan yang aneh. Aneh, karena si pembunuh bisa menghilang padahal dalam ruangan tertutup. Ia bagai menguap begitu saja. Jejak-jejak forensik yang ditemukan di TKP pembunuhan seorang siswi sekolah musik itu lumayan banyak dan beragam, namun anehnya tak ada kaitannya sama sekali.

Hal ini membuat Lincoln dan Amelia bingung. Apalagi di ruangan TKP itu hanya ada 2 pintu. Pintu utama dan pintu darurat. Pintu utama dijaga polisi, dan ketika salah satu polisi berpindah ke pintu darurat, ada saksi seorang petugas kebersihan yang tak melihat siapapun keluar dari ruangan itu. Belum lagi lewat kamera diketahui bahwa ada 9 orang tamu yang menulis dan menandatangani buku tamu di tempat satpam. Tapi, ternyata di buku tamu hanya ada 8 tanda tangan. Bagaimana bisa??

Di sisi lain, dari halaman awal buku ini kita sudah dapat mengenal profil seorang ilusionis yang bernama panggung Malerick. Kita akan disuguhi narasi yang ada di benaknya, seolah-olah ia sedang tampil dalam pertunjukan dan sedang berbicara kepada 'Hadirin yang terhomat'nya. Dari situ sebenarnya kita sudah sedikit menebak siapa tokoh utama di buku ini, baik protagonis maupun antagonisnya. Misteri-nya justru terletak pada 'bagaimana', 'mengapa' dan 'kapan lagi' pembunuhan-pembunuhan itu dilakukan. Dan pada akhirnya, tentu kita penasaran bagaimana Lincoln dan Amelia dapat memecahkannya. Proses inilah yang memberikan keasyikan selama membaca buku ini.

Karena salah satu bukti mengarah kepada alat-alat sulap, maka masuklah tokoh Kara. Seorang wanita berambut merah keunguan yang sedang belajar menjadi ilusionis. Dari Kara, kita semua (tokoh protagonis dan pembaca) mendapatkan wawasan tentang dunia pertunjukan ilusionis. Apa yang terjadi saat seorang ilusionis menghilang dari suatu tempat, lalu tiba-tiba ada di tempat lain dengan pakaian yang berbeda, misalnya. Kara juga amat membantu Lincoln dan Amelia dalam penyelidikan forensik karena ia banyak tahu tentang alat dan bahan yang sering dipakai dalam pekerjaan ilusionis.

Sementara itu korban mulai berjatuhan. Seorang ahli rias pertunjukan Broadway, seorang penunggang kuda bahkan juga seorang polisi. Sementara itu, tokoh-tokoh kita berkali-kali mendapatkan mereka telah disesatkan oleh bukti-bukti palsu yang ditebarkan oleh si Perapal (julukan mereka untuk si pembunuh). Belum lagi si Perapal juga punya keahlian berganti-pakaian-cepat dalam penyamarannya. Sehingga saat pengejaran, amat sulit untuk mengetahui di mana ia sebenarnya. Amelia yang melakan pengejaran bahkan tak sadar ketika Kara juga melakukan 'penyesatan' demi mengelabui si Perapal.

Salah satu bukti yang ada mengarah pada rombongan sirkus yang sedang main di dekat rumah Lincoln, Cirque Fantastique. Apakah si Perapal, yang latar belakangnya akhirnya disinyalir sebagai mantan pemain di sebuah sirkus dan akhirnya mengalami kebakaran, akan melakukan balas dendam pada sirkus itu? Atau ia sebenarnya pembunuh bayaran yang disewa seseorang?

Meski bukan seorang pesulap atau ilusionis, Lincoln dan Amelia, dibantu oleh Kara dan beberapa anak buah Lincoln berupaya untuk terus memecahkan misteri itu. Karena hanya dengan cara itu, mereka akan bisa mencegah pembunuhan berikutnya, dan menangkap pelakunya.

Anyway, akhir kisah ini bisa dibilang twisted ending, meski sebenarnya banyak twisted-twisted yang juga berceceran di sepanjang kisah ini. Itulah yang memberi daya tarik khusus pada buku ini. Di satu sisi kita disuguhi pertunjukan ilusionis kelas atas, di sisi lain kita serasa melihat sendiri proses penyelidikan forensik modern yang menggunakan alat-alat canggih.

Terus terang, sirkus dan forensik, adalah dua hal yang aku senangi. Tak heran, aku bisa melahap buku yang tebalnya 557 halaman ini hanya dalam waktu 2 hari. Angkat dua jempol untuk The Vanished Man!

O ya, kalau kalian berminat membeli buku terbitan Gramedia ini, klik aja link ini ya, ada diskon 15% dari Vixxio loh!

Saturday, September 4, 2010

Hadiah Buku A Little Princess

Beberapa waktu lalu (aduh...baru sadar bahwa posting ini sudah lama banget tertunda) aku berhasil memenangkan sebuah giveaway di blog Dela, pecinta buku yang juga suka bagi-bagi buku (seperti aku, hihi..). Giveaway itu diadakan menjelang hari ulang tahunnya. Karena itu, tugas untuk giveaway itu ada kaitannya dengan ulang tahun.

Ini pertanyaannya (dalam bahasa Inggris nih)

Share with me, what is your craziest dream of birthday party? What do you want for its theme, who will you invite, or maybe the stars who will perform in your party? Be creative!

Dan inilah jawabanku, yang menurut syaratnya harus ditulis di komentar (juga dalam bahasa Inggris dong),

I always love everything that are related to France, and especially Paris. So I guess if I had the chance, I'd like to make a birthday party 'in Paris'. Well, of course it's not really in Paris, but with Paris theme. I'll set the building to be Parisien outdoor cafe, with the canopy, 'petite' tables & chairs, street lamps, even menu board hanged outside the window. In the corners there will be small gardens with benches, lamps, and trees. Well, I will make everyone feels like they are in Paris, anyway!

For the entertainment, I want a street singer group to perform (with violin, cello, etc). Of course they'll sing French songs! The food will be French culinary complete with the delicious pastries and the baguette. Dress code will be casual, but in bleu-blanc-rouge (blue-white-red) colors!

Who will attend? My closest friends of course, and some friends from CCF. This will be a reunion party for us. Oh, and don't forget my French teachers, especially my 2 handsome French teachers (they must come from French I suppose...).

That will be the night I'll never forget!

But for now, I guess A Little Princess book from Dela would be a wonderful gift for me. Right now I'm enjoying another Frances Hodgson's book: The Secret Garden, and will be very happy to read another book from her. Frances' style of story telling is amazing!

So I really look forward to get this book from you, Dela... *please..please..make me win this book*

Tuh kan, ketahuan daya khayal dan daya bual Fanda yang tinggi banget, hehehe...

Dan akhirnya...aku pun berhasil mendapatkan buku hadiah yang kupilih, yang juga berbahasa Inggris.

Judulnya A Little Princess, dan pengarangnya Frances Hodgson Burnett yang juga mengarang buku The Secret Garden. Karena aku terpesona pada The Secret Garden, makanya aku lalu langsung sreg memilih buku ini. Dan memang ternyata aku mendapatkannya. Duuh...sueneeeng banget! Thanks again, Dela!

Dan ngomong-ngomong tentang giveaway, Vixxio sebentar lagi juga akan mengadakan giveaway loh. Setelah Lebaran deh, dan saat kalian semua pada bokek (sama deh kita!), aku akan bagi-bagikan beberapa buku secara gratis. MAU?? Pantau terus di blog Rumah Vixxers ya, karena pengumumannya akan diposting di sana.

Thursday, August 19, 2010

Kompas Emas

Buku ini adalah seri pertama dari trilogi His Dark Material, yang berjudul asli The Golden Compass. Bergenre fantasi serta petualangan yang seru, hasil karya Philip Pullman. Kalau anda pencinta kisah fantasi, buku ini pasti yang anda cari. Tapi kalaupun anda lebih suka ketegangan, buku ini cukup menjanjikan ketegangan itu. Kalau aku sih, ada di tengah-tengahnya deh. Antara fantasi dan ketegangan ditambah misteri. Woow...ayo kita kupas ceritanya...

Namanya saja kisah fantasi, maka setting tempatnya pun juga fantasi, meski semuanya berawal di sebuah Akademi yang berlokasi di Inggris. Entah di abad mana kisah ini berlangsung, namun ada sebuah keunikan yang membedakannya dengan dunia nyata di jaman manapun. Yaitu, tiap manusia memiliki daemon (baca: demon). Daemon itu berwujud hewan, dan pertalian daemon dan tuannya seerat pertalian tubuh dan jiwa. Tak ada tubuh yang hidup tanpa jiwa, juga tak ada jiwa yang tenang tanpa tubuh. Apa yang dialami jiwa akan dirasakan tubuh, dan apa yang terjadi pada tubuh akan mempengaruhi jiwa. Demikian halnya hubungan manusia dengan daemonnya. Apa yang dirasakan salah satu darinya, akan dirasakan lainnya. Dan keduanya tak dapat berpisah.

Ada seorang anak perempuan bernama Lyra yang bandel, liar dan susah diatur. Namanya Lyra, dan daemonnya bernama Pantalaimon. Pada saat seorang anak belum akil balig, daemon ini dapat berubah-ubah bentuk. Begitu juga Pantalaimon bisa menjadi apa saja mulai dari ngengat, tikus, hingga harimau. Kurasa, itu mengacu pada jiwa kanak-kanak yang tidak stabil, dan belum menemukan bentuk yang tepat untuk jatidirinya.

Ada dua peristiwa yang sedang terjadi di sekitar Lyra. Pertama, banyak anak kecil dikabarkan hilang. Kedua, sebuah fenomena yang sedang diributkan oleh para Cendekiawan, yang mereka sebut Debu. Fenomena kedua masuk ke dalam kehidupan Lyra karena secara tak sengaja ia melihat sebuah percobaan peracunan terhadap pamannya, Lord Asriel oleh Master (kepala Akademi). Sedangkan hilangnya anak-anak akhirnya juga menimpa anak-anak gipsi teman bermain Lyra di luar Akademi, serta sahabat baiknya Roger, sang pesuruh dapur Akademi.

Kabarnya, anak-anak malang itu dibawa oleh para "Pelahap" untuk "dipotong". Apa maksudnya? Tak seorangpun mengerti. Hingga suatu saat Lyra dibawa pergi oleh seorang wanita cantik nan ramah bernama Mrs. Coulter yang berdaemonkan seekor monyet emas. Sebelum Lyra berangkat, Master memanggilnya diam-diam dan menyuruhnya membawa sebuah alat bernama alethiometer yang harus ia jaga baik-baik dan tak boleh diketahui Mrs. Coulter.

Petualangan seru yang mengubah hidup Lyra selamanya, terjadi begitu ia melarikan diri dari Mrs. Coulter. Ia kemudian bertemu dengan orang-orang Gipsi yang baik hati dan memiliki misi untuk menyelamatkan anak-anak yang hilang yang dibawa jauh ke kutub utara. Dalam perjalanan panjang, melelahkan dan penuh bahaya itu Lyra juga berkenalan dengan beruang kutub bernama Iorek. Beruang di sini memiliki peranan penting karena mereka dapat berbicara dengan manusia. Bahkan mereka membentuk sebuah kerajaan sendiri. Para beruang ini merupakan petarung, dan biasa menyewakan jasanya untuk bertarung dan melindungi manusia. Kabarnya, Raja Beruang telah menawan Lord Asriel.

Hingga di sini ditanggung anda tak akan bisa meletakkan buku ini sebelum tamat. Karena, petualangan Lyra dan Pantalaimon benar-benar menegangkan. Untungnya Lyra anak yang cerdas dan optimis, dan ia memiliki alat alethiometer yang ternyata amat membantunya ketika ia telah dapat membaca instrumen yang mirip kompas itu (mungkin itu sebabnya buku ini mengambil judul Kompas Emas ya!).

Namun sayangnya, kisah ini belumlah tamat. Masih ada 2 buku lanjutannya lagi, yang berjudul The Subtle Knife dan The Amber Spyglass. Tapi untuk sementara...lumayan menghiburlah ketegangannya, meski makin lama makin tak masuk akal saja kisahnya (yah..namanya juga kisah fantasi ya?!)

O ya, kalau anda berminat memiliki buku ini, anda bisa mendapatkannya di Vixxio dengan harga hanya 37.000. Bukunya masih baru dan bersegel plastik. Harga aslinya di toko sekitar 57.500. Tapi stoknya hanya 2 buah, jadi buruan kalau berminat ya! E-mail aja ke mail[at]vixxio[dot]com

Friday, August 13, 2010

Misteri Soliter by Jostein Gaarder


Keriting - Hati - Wajik - Sekop - Joker

Apa yang terlintas di benak anda begitu membaca kelima kata itu? Kartu Remi? Soliter?

Dan memang, menilik dari judul dan gambar cover buku ini, apa yang akan kita baca di dalamnya pasti ada hubungannya dengan kartu remi dan soliter. Tapi sebenarnya yang menggelitikku untuk mengambil buku bersampul warna kuning cerah nan lecek ini dari tumpukan di sebuah lapak buku bekas, adalah karena pengarangnya.

Aku sudah sering menemui buku-buku tulisan Jostein Gaarder, namun selama ini kebanyakan berbahasa Inggris dan temanya agak berat sehingga aku malas membacanya. Namun melihat buku Misteri Soliter ini, aku langsung jatuh cinta, entah mengapa. Mungkin sosok Joker yang tampak di cover depan buku itu melambangkan keceriaan, permainan, sekaligus misteri. Hei...aku kan memang pencinta misteri!...

Dan setahuku Jostein Gaarder adalah penulis kisah filosofis. Maka adanya unsur 'joker' tadi makin menggelitik rasa ingin-tahuku akan isi buku ini. Bagaimana ya kalau filsafat dibungkus ke dalam kisah yang lucu, ceria sekaligus misterius? Pasti asyik, begitu pikirku. Dan memang aku tak salah! Puas rasanya membeli buku bekas ini, yang meski kondisinya tidak mulus namun isinya sangat memuaskan. Baiklah, akan aku ceritakan sedikit buat anda ya...

Membaca kisah ini jadi mengingatkan aku pada film Inception (anda sudah nonton?). Memang kisah ini bukan tentang alam mimpi, melainkan tentang sejarah yang benar-benar terjadi yang dikisahkan beberapa orang. Persamaannya adalah kisah bertingkat. Kalau di Inception, orang dibuat bermimpi, lalu dalam mimpi itu bisa dibuat mimpi lagi, dan dalam mimpi kedua itu diciptakan mimpi lagi. Sehingga mimpinya jadi 3 tingkat. Sedangkan di buku ini... ah, sebaiknya langsung saja aku ceritakan ya..

Adalah seorang bocah laki-laki Norwegia berusia 12 tahun bernama Hans Thomas, sedang bepergian bersama ayahnya yang suka minuman keras dan mengumpulkan kartu joker, serta berfilsafat. Mereka hendak ke Athena, Yunani demi mencari ibu Hans Thomas yang pada suatu hari delapan tahun lalu, tiba-tiba meninggalkan suami dan anaknya begitu saja untuk mencari jati diri, katanya. Kini ayah dan anak itu menemukan bahwa si ibu telah menjadi fotomodel di Athena. Dan kesanalah mereka menuju.

Di tengah perjalanan, Hans diberi sebuah kaca pembesar oleh seorang pria cebol ketika mereka sedang mengisi bensin mobil mereka. Si cebol yang mirip kurcaci itu lalu memberikan arah yang salah pada mereka sehingga akhirnya mereka harus bermalam di sebuah kota bernama Dorf. Lalu ketika Hans Thomas singgah di sebuah toko roti, si tukang roti tua yang bernama Ludwig memberinya 4 buah kue kismis dengan sebuah pesan: "Tinggalkan kue yang terbesar untuk kau makan terakhir, dan makanlah kue itu saat kau sendirian".

Ternyata Hans Thomas menemukan sebuah buku mungil terselip di dalam kue kismis itu (bayangkan betapa kecilnya buku itu) ketika sedang menggigit kuenya. Satu-satunya cara membaca isi buku mungil itu adalah dengan menggunakan kaca pembesar yang didapatnya dari si cebol.

Ternyata buku mungil itu berupa kisah Ludwig, si tukang roti tua itu. Ludwig menceritakan pengalamannya lima puluh dua tahun lalu ketika ia pertama kali masuk ke sebuah toko roti milik Albert. Albert yang sudah sepuh itu menceritakan kisah yang pernah ia dengar dari Tukang Roti Hans. Tukang Roti Hans mendengar sendiri kisah itu dari mulut Frode yang tinggal di pulau ajaib penuh kurcaci. Nah kan....jadi kita membaca cerita dalam cerita dalam cerita, hingga empat tingkat. Lumayan menguras konsentrasi kalau anda membacanya terputus-putus!

Kisah yang diceritakan itu memang sangat fantastis. Namun Jostein dengan cerdiknya memasukkan unsur logika dan filsafat sehingga kisah itu tak hanya mengalir begitu saja dan akhirnya hilang dari benak kita, namun justru tetap mengalir dengan indah sambil meninggalkan jejeak-jejak kesan yang manis dan mendalam di setiap lembarnya.

Frode adalah seorang pelaut yang kapalnya karam dan terdampar di pulau tak berpenghuni. Yang ada di kantongnya adalah satu set kartu remi. Karena berhari-hari tak dapat berkomunikasi dengan orang lain, ia menciptakan khayalan dalam benaknya, karakter-karakter dari masing-masing kartu remi. Misalnya, keriting berambut keriting, berkulit coklat, dsb. Makin lama karakter-karakter itu makin hidup, dan setelah hitungan bulan, tiba-tiba karakter-karakter dari kartu remi itu sungguh-sungguh hidup. Lalu pada suatu hari muncullah Joker. Yang terakhir ini bukan tokoh khayalan Fredo, dan hanya dia satu-satunya yang sering mempertanyakan "Dari mana asalku?". Sedang karakter lainnya hanya menjalani hidup yang diciptakan lewat khayalan Fredo saja.

Sejatinya, Jostein mau mengingatkan manusia modern yang cenderung hanya menjalani saja hidup mereka, ke mana arus kehidupan membawa mereka. Tak pernah mereka mau bertanya, "Siapa sebenarnya aku? Mengapa aku ada? Darimana asalku? Dan apa tujuan hidupku?" Tanpa pernah memikirkan hal itu, hidup manusia itu menjadi tak berarti. Kita ini sepertinya hanyalah sembarang kartu yang diambil acak dari tumpukan kartu. Memang kita memiliki tanda-tanda lahiriah yang unik (seperti wajik berbeda dari sekop, atau hati berbeda dari keriting), namun tetap saja kita semua serupa. Lain halnya dengan Joker. Joker tak termasuk golongan manapun (hati, wajik, sekop, atau keriting). Hanya ada 1 atau kadang 2 Joker dalam satu set kartu, dan dalam kisah ini dikisahkan hanya Joker yang kritis memikirkan tentang kehidupan.

Manusia telah dinina-bobokan oleh kemudahan dan kenikmatan dalam hidup, yang dalam buku ini diibaratkan dengan meneguk Soda Bianglala yang memiliki semua rasa buah di dunia dan efeknya bisa memberi perasaan hebat pada peminumnya. Karenanya, manusia kurang mensyukuri apa yang ada di sekitar dirinya dalam hidup ini. Kita sering mendengar kicau burung, namun apakah kita pernah menyadari betapa merdunya dan mengagumkannya suara kicauan itu? Siapa yang meletakkan nada-nada indah itu di dalam paruh si burung? Dan yang terutama, manusia telah melupakan hal terbesar dalam hidup mereka, yakni 'cinta'.

Mungkin kita sering merasa bahwa suatu kejadian terjadi secara kebetulan belaka. Tapi sadarkah anda, bahwa memang kehidupan itu dibangun dari 'kebetulan' demi 'kebetulan' semacam itu? Pernahkah anda bertanya, siapa dalang yang menciptakan semua kebetulan itu? Dan apakah semua itu memang kebetulan? Atau memang diniatkan untuk menuju pada suatu peristiwa tertentu? Semua pemikiran itulah yang dinamakan filsafat. Dan biasanya semua pertanyaan itu akan mengerucut pada sebuah kesimpulan yang sama, bahwa ada 'Sesuatu' di luar kita, yang lebih besar dari kita, yang mengatur semuanya. Disanalah manusia akan mengenal Penciptanya...Tuhan.

Ah...rasanya tak cukup sebuah posting ini untuk menggambarkan buku ini. Gabungan antara ketegangan petualangan fantasi para tokoh-tokohnya, ironi yang kadang-kadang lucu dalam perjalanan Hans Thomas dan ayahnya, serta filsafat yang ditaburkan di sana sini membuat buku ini benar-benar menghibur sekaligus mengenyangkan otak dan jiwa. Salut buat Jostein Gaarder!