Wednesday, July 28, 2010

Dari Bagi-Bagi Akhirnya Kebagian..BUKU

Itulah yang aku rasakan ketika aku mendapat kabar dari Penerbit Gramedia di twitter, bahwa aku telah MEMENANGKAN sebuah buku terbitan Gramedia: The Hunger Games! Horeee…

Bagi-bagi buku gratis. Itu tag yang sering kupakai untuk Vixxio, pusat buku onlineku. Sudah banyak juga teman-teman blogger dan twitter yang sempat kecipratan berkah buku gratis dari Vixxio lewat sejumlah lomba dan kuis. Aku sendiri juga pernah memenangkan buku gratis dari penerbit Gagas Media. Dan saat itu baru aku merasakan sensasi yang pasti dialami teman-teman juga saat mendapat ‘buku runtuh’ (jangan durian runtuh ah..sakit kalau menjatuhi kita…).

Tapi baru beberapa hari yang lalu aku benar-benar mengalami indah ‘berbagi’. Berbagi itu bisa dalam berbagai cara. Bisa dengan berbagi langsung, misalnya saat Vixxio berbagi buku dengan para Vixxers – sahabat Vixxio, atau…nah ini yang seru…berbagi dengan cara merekomendasikan seorang teman untuk mendapatkan sebuah hadiah. Itulah yang dilakukan oleh penerbit Gramedia di Twitter. Mereka ingin bagi-bagi buku The Hunger Games, tapi caranya bukan membuat kuis, melainkan meminta para followernya buat merekomendasikan temannya yang layak untuk dihadiahi buku itu.

Aku pikir awalnya, pasti sedikit respon-nya karena siapa sih yang mau repot-repot ngetweet agar orang lain mendapat hadiah? Biasanya kita mau bersusah-susah ngetweet atau posting blog jika kita berpeluang mendapat hadiah. Namun, ternyata dugaanku salah besar! Ternyata di dunia maya ini, yang kebanyakan justru tak pernah bertatap muka di dunia nyata, keinginan untuk berbagi sungguh besar. Buktinya? Sebelum aku sempat memutuskan siapa yang akan aku rekomendasikan (karena satu orang hanya bisa merekomendasikan satu teman), ternyata sudah ada 3 orang Vixxers yang merekomendasikan aku (@vixxio) !! Dan rekomendasinya bukan dengan alasan yang asbun saja, tetapi mereka sungguh-sungguh tulus. Mereka bilang, karena aku sudah sering berbagi buku dengan Vixxers, kini saatnya aku sendiri yang mendapatkans ebuah buku gratis.

Betapa terharunya aku saat itu, karena ternyata benar bahwa apa yang telah kita tabur, akan kita tuai suatu hari nanti.

Inilah buku yang akhirnya benar-benar aku menangkan itu…


Mungkin saja penerbit Gramedia memilihku karena aku salah satu pelanggan mereka yang sering beli buku dan sering membagi-bagikannya. Jadi...jangan pernah kapok untuk berbagi ya, karena dengan ketulusan hati, apa yang anda tabur pasti akan anda tuai juga, meski anda takkan pernah tahu kapan, dari mana, dan bagaimana bentuknya…

Saturday, July 24, 2010

Buku Kenanganku...

Setiap orang pasti memiliki benda kenangan. Begitu juga aku. Dan benda itu berupa sebuah buku anak-anak hardcover, berbahasa Inggris. Ada pula kisah yang menyertainya...

Aku patut bersyukur bahwa kedua orang tuaku begitu peduli pada pendidikan anaknya, karena mereka adalah pencinta-pencinta buku juga. Well..sebenarnya papaku lah yang semenjak awal mencintai buku. Dan buku-buku yang dibacanya semasa sekolah dulu adalah buku-buku klasik macam To Kill A Mockingbird atau Tom Sawyer. Ketika berpacaran dengan mamaku, papa lah yang mengenalkan edisi paperback novel-novel karya Sidney Sheldon, Harold Robbins, dsb kepada mama. Edisi bahasa Inggris tentunya, karena pada jaman itu tak ada atau tak banyak (aku tak tahu persis, karena aku kan belum lahir..) edisi terjemahannya.

Maka, ketika aku masih dalam kandungan mama, papa dan mama ingin sekali membelikan calon buah hatinya sebuah buku. Buku ternyata juga bisa sebuah investasi ya? Buku itu buku cerita anak yang mengandung unsur-unsur pendidikan. Kalau sekarang, mungkin semacam buku ensiklopedi yang harganya mencapai jutaan dan biasa dijual door to door dengan cara kredit. Aku tak tahu persis harga buku yang hingga saat ini jadi milikku ini. Pasti harganya tak terlalu mahal, karena kalau tidak, tak mungkin papa dan mama yang rumah saja masih mendompleng di 'pondok-mertua-indah' dan bekerja sebagai pegawai kecil, mampu membelinya.

Toh, buku hardcover itu tetap dibeli oleh papa-mama dengan cara kredit. Kreditnya lunas ketika aku berusia 9 bulan. Bagaimana aku mengetahuinya? Tentu saja karena mama menyempatkan diri menorehkan kata-kata cinta buat buah hatinya di buku pemberiannya itu, lengkap dengan tanggal, di halaman awal buku itu...



Kalau terlihat beberapa coretan tak rapi ...maaf, waktu itu Fanda kecil belum mampu menghargai nilai sebuah buku. Baginya kala itu, fungsi space kosong di buku apapun, adalah untuk ditulisi...* Dan kalau lihat tulisan 250 itu, apa itu harga buku itu ya??

Dan inilah cover depan buku itu...


Stories And Pictures, judulnya. V. Suteyev, penulis dan animatornya. Kalau sampul plastiknya nampak kumal, itu karena usia saja. Bisa saja aku mengganti dengan mika yang baru, tapi justru kekumalannya itu mengingatkan aku pada tua usianya...

Ada yang menarik dari buku ini. V. Suteyev (berkebangsaan apa ya kira-kira? India??) mengerjakan tulisan dan animasinya BERSAMAAN. Itu karena sejak kecil Suteyev sudah terbiasa menggambar menggunakan tangan kiri. Sedang kalau menulis, ia tetap menggunakan tangan kanan. Dan buku ini ia kerjakan berbarengan. Saat tangan kanannya menulis cerita, tangan kirinya melukis gambar-gambar lucu yang merepresentasikan tulisan itu ke dalam animasi.

Dengan begitu, anak-anak kecil seperti aku sangat terbantu untuk cepat belajar. Hanya dengan melihat gambar-gambarnya, sebenarnya kita sudah dapat mengetahui ceritanya. Itu adalah pengenalan pertama anak saat ia belum mampu membaca. Saat aku telah mampu membaca (meski belum mampu berbahasa Inggris), mama membimbingku mengenali kata-kata bahasa Inggris yang mudah, seperti chick (anak ayam), cat (kucing), dll. Tentu saja pengenalan bahasa Inggris itu bisa mengendap di otakku makin cepat karena sebelumnya aku sudah hafal cerita-ceritanya lewat gambar.

Ketika aku sudah makin besar dan sudah mampu mengenal kalimat yang lebih kompleks dalam bahas Inggris, akupun bisa belajar lebih banyak dari kisah itu, lagi-lagi dengan bantuan cerita ringan yang sudah amat kuhafal semenjak kecil. Kadang aku melafalkannya keras-keras untuk melatih lidahku dalam bahasa Inggris. Belakangan semua ini berguna saat aku harus bertemu dengan orang-orang asing dalam pekerjaanku ketika dewasa.

Itulah sekelumit cerita tentang buku yang paling berkesan bagiku. Buku itu berkesan, selain karena usianya yang bahkan lebih tua dariku, juga karena dalam buku yang ringan dan mulai menguning itu, berat terkandung energi cinta dari kedua orangtuaku yang ingin memberi anak tunggalnya sebanyak mungkin ilmu di usia sedini mungkin. Hal terakhirlah yang membuat buku Stories and Pictures yang biasa-biasa saja bagi orang lain, namun tak ternilai harganya bagiku!

Thursday, July 1, 2010

Mau Buku Gratis??

Singkat aja yah posting kali ini!

Dalam rangka pembukaan Rumah Vixxers (tempat nongkrong buat para sahabat Vixxio), Vixxio mau bagi-bagi buku gratis (lagi)...

Caranya hanya jawab quiz aja kok. Tempatnya di Rumah Vixxers. Temukan pertanyaannya disana, dan jawab lewat kotak komentar. Dan pertanyaannya dijamin gampang banget. Ayo..ayo...segera ikutan ya!

Kalau hari ini anda tak beruntung, coba lagi besok. Karena hari ini (1 Juli 2010) dan besok (2 Juli 2010) ada 2 buku gratis yang dibagikan untuk 2 pemenang (judul berbeda). Setiap quiz dibuka mulai pagi dan ditutup persis jam 24:00.

Mau baca buku tanpa modal? Ke Rumah Vixxers aja yuk!!!

Thursday, June 24, 2010

Si Pembawa Harry Potter Ke Indonesia Itu Telah Berpulang…

Teman-teman, hari ini (mulai saat aku membuka Twitter), timeline banyak orang yang mencintai buku dipenuhi oleh sebuah berita duka. Sebuah nama yang (mungkin) tak kita kenal, Listiana Srisanti, namun karya-karyanya telah memenuhi cakrawala literatur para pembaca buku di Indonesia, telah berpulang menghadap hadiratNya.

Ibu Listiana adalah senior editor fiksi di Gramedia yang karya masterpiece-nya yang terakhir adalah menterjemahkan buku Harry Potter dari seri 1-7.

Kalau anda sudah membaca Harry Potter yang versi terjemahan, itulah hasil karya Bu Listiana yang penuh dedikasi. Mengapa begitu? Karena saat sedang menyelesaikan terjemahan buku yang ke-5, Bu Lis (demikian ia akrab dipanggil) didiagnosis mengidap kanker paru-paru stadium 3B. Terus terang, begitu kabar itu tersiar beberapa tahun lalu, aku dan teman-teman sesame pecinta Harry Potter langsung khawatir. “Wah…kira-kira si penerjemah bakal bisa bertahan gak ya sampai seri terakhir (7)?” Sebab, kalau tidak…susah membayangkan ada penerjemah lain dengan gaya yang mungkin lain, harus menuntaskan Harry Potter yang selama ini sudah melekat di hati kami.

Namun ternyata….buku Harry Potter ke 7 akhirnya tuntas, tetap di tangan ibu Listiana.

Menarik juga meneropong kembali kiprahnya di dunia literatur Indonesia, yang sempat diungkapkan oleh banyak orang di Twitter hari ini. Semua tweet di bawah ini aku ambil secara acak dari beberapa orang, lalu aku satukan sehingga membantu kita semua untuk lebih mengenal sosok alm. Ibu Listiana Srisanti, sang editor senior fiksi di Gramedia.

Akhirnya…selamat jalan Ibu Lis! Meski kami hampir semua tak pernah berkenalan dengan Ibu, tak pernah melihat wajah ibu, namun hasil karya Ibu akan selalu ada di hati kami. Kisah Harry Potter takkan pernah sampai di tangan kami tanpa dedikasi Ibu yang tak kenal menyerah meski di tengah penderitaan. Syukur dan bangga kami haturkan buat Ibu, semoga arwah Ibu diterima disisNya…

Salam hormat juga bagi para editor dan penerjemah, yang namanya mungkin tak pernah dikenal orang, namun justru merekalah yang sebenarnya membuat para penulis terkenal itu ada, dan buku-buku mereka yang telah mempengaruhi kita selama ini pernah ada!

-----

Tweet-tweet yang aku kumpulkan mengenai meninggalnya Ibu Listiana Srisanti:

@anasmustika: Sdh dipanggil Bapa pagi ini, 24 Juni sekitar jam 4, Listiana Srisanti (editor&penerjemah Harry Potter), di RS Boromeus Bdg.

@itsbluedolphin: Turut berduka cita utk Mbak Lis...RT @gramedia: Mbak Listiana Srisanti yg dipanggil Bapa Kamis, 24 Juni 2010, sekitar jam 4 pagi di Bdg.

@hetihrusli: Saat rapat redaksi th 2000, Mbak Lis usul menerbitkan Harry Potter. Bbrp org berpikir itu absurd. Siapa yg mau baca buku anak tebal spt itu?

@pdchusfani: #iluvHP Dedalu Perkasa, jembalang, cermin tarsah adlh kreativitas Mbak Lis #RIPListianaSrisanti

@ambudaff: #iluvHP jembalang, mencelos, berjengit, mengedikkan bahu, pasti semua fans HP tau @kelontongsihir @gramedia #RIPListianaSrisanti

@anasmustika: Her passion for translating Harry Potter made her keep fighting against cancer since 2006 #RIPListianaSrisanti

@htanzil: Ketekunan Mbak Listiana dlm menerjemahkan ke tujuh buku Harry Potter sngt luar biasa #RIPListianaSrisanti

@htanzil: Saat mengerjakan Harry Potter 5, dia tiba2 divonis kanker paru2 stadium 3B, diperkirakan hidupnya tinggal 6 bulan lagi! #RIPListianaSrisanti

@htanzil: Tapi vonis itu tdk menyurutkan semangat Editorial & Product Manager-Fiction Gramedia ini u/ melanjutkan kesibukannya. #RIPListianaSrisanti

@hetihrusli: Dalam kondisi sakit kanker stadium 4, Mbak Lis berjuang menerjemahkan 2 buku Harry Potter terakhir.

@htanzil: "Saya mengerjakan Harry Potter pada malam hari sepulang kantor dan di akhir pekan" Ujarnya dlm sbh wawancara sbh media. #RIPListianaSrisanti

@htanzil: "Saya mengerjakan penerjamahan ini con amore, karena saya menyukainya" #RIPListianaSrisanti

@htanzil: Harry Potter 7, 900-an halaman, dia kerjakan dlm waktu hanya 5 minggu, di sela-sela jadwal kemoterapi yang melelahkan. #RIPListianaSrisanti

@htanzil: Arswendo Atmowiloto menyatakan dlm : "... terjemahan (Memoar Geisha) Listiana jauh lbh menyentuh daripada buku aslinya. #RIPListianaSrisanti

@htanzil: Salah satu buku yang diterjemahkan Mbak Lis selain seri Harry Potter adlh Memoar Seorang Geisha - Arthur Golden #RIPListianaSrisanti

@AndreiAksana: Mbak Listiana Srisanti adlh senior editor fiksi yg bnyk melahirkan pengarang terkenal spt Remy Sylado, Mira W, Hilman, dll

editor_in_chic: Mbak Lis taught us work w/ love. Passion for books is the most important thing in being an editor/translator. #RIPListianaSrisanti

@editor_in_chic: Mbak Lis memperkenalkan dan menegaskan pentingnya "rasa bahasa" dlm menjadi editor/penerjemah. Tanpa itu, tdk ada jiwa

Friday, May 28, 2010

Berkelana Bersama Tiga Buku

Entah mengapa aku selalu terpesona pada semua yang berbau Paris. Mungkin aku telah jatuh cinta pada kota itu bahkan sebelum aku menginjakkan kakiku kesana. Jadi tak heran kalau aku selalu jatuh cinta pula pada buku-buku yang memakai sang kota cahaya itu sebagai backgroundnya. Salah satunya adalah novel metropop berjudul: Autumn In Paris.

Aku pergi ke Paris 10 tahun yang lalu, pada musim semi. Dan karena aku tak pernah ke Eropa pada musim lainnya (karena aku kesana ya cuma sekali itu seumur hidup!), aku hanya bisa membayangkan saja suasana musim gugur di Paris. Entah bagaimana denganmu, tapi menurutku berkelana melalui buku itu jauh lebih menyenangkan. Karena kita tak perlu secara fisik hadir di suatu tempat atau mengalami suatu peristiwa (yang mungkin saja bisa tak menyenangkan). Kita hanya perlu duduk dengan nyaman sambil membiarkan fantasi kita melayang kemana pun kita ingin pergi, dan suasana apapun yang ingin kita ciptakan. Indah, bebas, aman, dan...murah!

Begitulah yang aku alami dengan novel Autumn In Paris karangan Ilana Tan ini. Padahal secara cerita, novel ini biasa-biasa saja. Yah..novel ini masuk genre metropop yang biasanya bukan favoritku (kecuali aku sedang tak ada bacaan lain). Tapi membaca Autumn in Paris bisa mengasyikkan bagiku. Apalagi kalau bukan karena suasananya itu. Entah bagaimana, membayangkan Paris selalu menumbuhkan perasaan romantis pada diriku. Romantis gimana sih? Ah...sulit menjelaskan. Yang jelas, dengan setiap kata di novel itu, khayalanku bisa mengembara ke kota impianku sejak kuliah dulu... Paris..Paris... kapan yah aku bisa kembali kesana? Mungkin kalau aku boleh tinggal selama seminggu saja di sana, akan tercipta sebuah tulisan mahakarya dariku ya?

Bukti lain bahwa berkelana bersama buku itu mengasyikkan, adalah buku The Smoke Jumper (Sang Penerjun dalam versi terjemahannya) karya Nicholas Evans. Sungguh...aku ini memang cinta pada alam, walau sungguh juga, aku gak suka kegiatan pecinta alam. (Hehehe...jadi, ini cinta apa cinta ya?). Maksudnya, aku cinta pada alam kebanyakan lewat tulisan dan panorama pemandangan, baik dalam lukisan atau foto.

Novel The Smoke Jumper mewakili yang pertama, yaitu membawa alam lewat tulisan. Seperti dugaanku, Smoke Jumper itu ada hubungannya dengan kegiatan pemadaman api. Atau lebih tepatnya orang-orang yang bertugas memadamkan api. Tapi ternyata, yang satu ini bukan pemadam api di gedung-gedung nan tinggi (tadinya kutebak kata 'Jumper' ada hubungannya dengan tempat yang tinggi), melainkan khusus kebakaran yang terjadi di hutan. Wow...eksotis ya? Pikir-pikir, mungkin seharusnya negara kita mengirimkan para pecinta alam atau penerjun untuk mengikuti training Smoke Jumper di Amerika sono, supaya label 'eksportir asap' tak lagi disematkan pada bumi pertiwi kita tercinta ini!

Anyway, dari yang aku baca di novel ini, profesi Smoke Jumper itu mengasyikkan loh, meski juga membahayakan. Tapi..aku memang selalu kagum pada orang-orang yang berani. Bukan hanya berani dalam arti fisik, tapi lebih pada orang-orang yang berani memegang teguh prinsipnya dan berani mengambil resiko. Seperti tokoh Connor di novel ini. Aku paling suka adegan sewaktu ia mengambil keputusan dengan cepat saat api kebakaran hutan mengejar Julia, wanita yang ia cintai. Dengan keberanian, tanpa keraguan, ia dengan kepala dingin menyelamatkan mereka berdua dari lalapan api. (Ngomong-ngomong aku baru sadar bahwa untuk mencegah api menjalar ke tempat kita berlindung, cukup bakar saja tanah di sekeliling kita, dan dengan begitu tanah itu akan kehabisan O2, sehingga ketika api tiba di tanah itu, ia akan kehabisan O2 dan akhirnya akan 'berbelok' ke arah lain. Pasti aku diketawain oleh guru Fisika deh, tapi sungguh aku baru sadar bahwa api harus dilawan dengan api!)

The Smoke Jumper sungguh membawaku ke 'alam lain' ketika aku membacanya. Ceritanyapun mengaduk-aduk emosi. Antara tegang dan romantis. Sungguh, aku akan bangga kalau punya suami seperti Connor (tapi deg-deg-an juga ya kalau suami kita hobbynya menentang bahaya? Ah..tapi apalah arti hidup ini kalau datar-datar saja kan?...).

Terakhir, buku yang membawaku berkelana juga (dalam pikiran tentu saja), adalah The Ghost Writer. Ghost Writer bukanlah penulis cerita-cerita hantu. Bukan pula hantu yang pintar menulis novel. Ghost writer adalah julukan bagi para penulis yang menulis bagi (dan atas pesanan) orang lain, seolah-olah orang lain itu yang menulisnya sendiri.

Ghost writer cukup dikenal di dunia internet marketing. Yaitu saat pemilik web atau blog harus menulis artikel padahal mereka tak mahir menulis, maka mereka memberikan job pada seorang penulis bayangan (begitu sebutan ghost writer dalam bahasa Indonesia) untuk menuliskan artikel, yang nantinya akan diakui sebagai tulisan sang pemilik web atau blog tersebut. Jadi...para penulis bayangan itu tak pernah tampil sebagai diri sendiri, dan oleh karenanya disebut ghost writer.

Profesi ghost writer juga dibutuhkan oleh orang-orang terkenal yang ingin menerbitkan memoarnya. Mungkin anda pernah bertanya-tanya...eh si A itu ternyata gak hanya pintar nyanyi, tapi pintar nulis juga ya? Atau si B itu kan politisi yang sibuk, tapi kok sempat-sempatnya nulis juga ya? Nah...jangan heran, karena mungkin saja (mungkin loh!) mereka juga menggunakan jasa seorang ghost writer.

Maka melalui novel ini, aku jadi bisa membayangkan bahwa ghost writer itu pasti penulis-penulis yang sangat berbakat. Bagaimana tidak? Menulis dari hati sendiri itu tidak mudah, tapi lebih tidak mudah lagi menulis melalui pandangan dan karakter orang lain, kan? Makanya, aku mengacungkan dua jempol pada para ghost writer. Tak terkecuali penulis novel The Ghost Writer ini. Ia sanggup menyandingkan detail liku-liku profesi seorang ghost writer, dan ketegangan yang menyertai petualangan tokohnya di buku itu.

Nah...aku sudah berkelana bersama 3 novel. Tak seperti biasanya, aku tak ingin bercerita pada kalian tentang isi cerita ketiganya. Aku hanya ingin bercerita apa yang kupikirkan dan kesan mendalam apa yang aku dapatkan dari ketiganya.

Terus terang saja, akhir-akhir ini begitu banyak buku yang aku baca, sehingga aku tak sempat menuliskan ulasannya, dan langsung larut lagi dalam kisah yang lain. Jadi...menulisnya keroyokan seperti ini saja ya...Moga-moga lebih menghibur daripada ulasannya.

------

P.S. Aku tadinya bingung mau memposting tulisan ini di blog mana (akibat dari kebanyakan melahirkan blog!). Aku pengen meletakkannya di Fanda's Thought (karena ini kan pemikiran seorang Fanda), tapi kan bahasannya mengenai buku ya? Dan blog ini kan juga tentang buku? Hehe...sudah deh, akhirnya aku posting di sini saja (gitu aja kok bingung? Apa ini karena aku kelamaan gak ngeblog ya, jadi pengennya nulis di semua blogku??).

Saturday, May 8, 2010

Mengupas Karakter Di Dimsum Terakhir

Pernahkah anda membandingkan karakter tokoh yang ada di buku yang sedang anda baca, dengan diri anda sendiri? Aku sih sering banget. Saat aku membaca buku, aku akan membayangkan tokoh-tokoh utamanya. Penampilannya, logat bicaranya, dan terutama karakternya. Dan seringkali aku membandingkannya dengan aku sendiri. Si A ini mirip denganku, tapi dia agak lebih sensitif daripada aku. Si B itu sama sekali bertentangan denganku. Si C itu kok gak kayak aku ya...kalau aku dihadapkan hal yang sama, aku akan begini-begitu.

Tentu saja itu biasanya terjadi pada buku-buku yang lebih banyak fokus pada karakter atau kehidupan tokoh-tokohnya. Bukan misteri, thriller atau roman. Tiga yang terakhir biasanya lebih fokus pada alur ceritanya. Nah, baru saja aku menamatkan sebuah buku yang memungkinkan aku 'bermain-main' dengan karakter tadi. Yaitu buku karangan Clara Ng, seorang novelis wanita Indonesia yang sudah banyak menelurkan karya best-seller. Kali ini aku membaca salah satu karyanya, yang menurut banyak orang adalah yang terbaik: Dimsum Terakhir.

Sebenarnya aku agak kecewa ketika selesai membaca buku ini. Dari masukan-masukan yang aku dapat (yang kuakui memang sering menyesatkan karena selera orang kan beda-beda) mengenai buku ini, banyak yang menggambarkan buku ini 'breath-taking', membuat orang menahan napas, takjub, terhanyut, dan reaksi-reaksi macam itu deh. Makanya aku, yang sebelum ini tak pernah membaca genre metropop, sangat antusias untuk membeli buku ini.

Ternyata setelah selesai membaca, aku jadi berpikir...wah, kok begini aja ya? Entahlah, mungkin aku terlalu banyak membaca John Grisham yang serius ya? Kupikir di buku ini tak ada satu konflik yang sangat menonjol yang biasanya jadi benang merah yang sangat pekat selama cerita yang panjang. Itulah yang kurasa kurang di novel ini. Tapi, apakah memang genre metropop seperti itu ya? Mungkin metropo memang bukan seleraku deh...

Aku tidak bilang tulisan Clara Ng jelek ya, sama sekali tidak. Aku akui bahwa Clara Ng pandai dalam menggambarkan karakter tokoh-tokohnya, yang di buku ini adalah empat wanita saudara kembar yang lahir dari etnis keturunan Tionghoa. Biarpun saudara kembar, ternyata karakter mereka masing-masing sangat berbeda. Saking fokusnya menggarap karakter mereka, aku bisa menggambarkan mereka dengan jelas, seolah-olah aku memang pernah punya kenalan seperti itu. Dan itulah satu-satunya kekuatan dalam novel ini. Karena dari segi konflik dan alur cerita ternyata biasa saja. Malahan di beberapa bagian, Clara terlalu berlebihan dalam usahanya untuk mempertegas karakter tokohnya, sehingga jadi terkesan 'lebay'.

Yang paling 'gak masuk' dalam cerita ini, dan malah merusak cerita keseluruhan adalah pembuka dan penutupnya. Padahal menurutku pembuka dan penutup (prolog dan epilog) adalah dua hal yang paling berperan penting untuk menciptakan kesan pada sebuah buku. Boleh saja sebuah buku isinya bagus banget, tapi kalau pembukanya datar-datar saja, kesan membosankan akan terbit di benak kita sehingga kita akan malas meneruskannya. Lebih penting lagi adalah penutup. Karena penutup adalah kesan terakhir yang akan terus kita bawa setelah kita menutup halaman terakhir sebuah buku. Kalau kesannya sangat baik, kita akan memuja-muja buku itu, meski setelah sekian tahun kita boleh saja lupa persis isinya. Dalam hal buku ini, kehadiran 'arwah' si ibu yang sudah meninggal, terasa tidak pada tempatnya.

Dimsum Terakhir bercerita tentang Siska, si "sulung" dari kembar 4, yang berarti lahir paling dulu. Siska adalah cewek yang mandiri, tegas, blak-blakan, cuek. Ia menjadi pengusaha yang sukses di Singapore, penampilannya selalu anggun, meski tak bermaksud genit. Tokoh SIska ini yang sering aku bandingkan dengan diriku. Aku suka dengan kemandirian dan ketegasannya. Tapi jelas aku tidak sejutek dia. Tapi di balik kecuekannya, ia juga perhatian pada keluarga dan saudara-saudaranya. Well, paling tidak dia orang yang tahu bagaimana menempatkan setiap aspek dalam kehidupannya. Dia bukan orang yang hanya memikirkan karir dan melupakan keluarga, bukan pula wanita yang menomorsatukan keluarga sehingga harus mengorbankan karir. Ia aka memberi masing-masing porsi tersendiri sesuai pilihannya.

Lalu ada Rosi. Ini mungkin tokoh yang paling menarik karena keunikannya. Rosi memang tomboi dari sejak kecil. Tapi, ternyata ia bukan hanya perempuan yang suka tampil maskulin, yang sering disebut tomboi. Tapi Rosi adalah pria yang kebetulan saja harus lahir dalam tubuh wanita. Jadi Rosi adalah tubuhnya, sedang jiwa, hati dan pikirannya adalah Roni. Kehebatan Clara disini menurutku adalah menggambarkan sosok Rosi atau Roni ini dengan begitu detail, tak menghakimi dan tak menolak maupun menerima. Clara hanya mau menunjukkan bahwa setiap orang mungkin diciptakan unik dan berbeda dari yang lain. Jangan menolak mengakuinya, melainkan terimalah dan berikanlah ia porsi sdalam kehidupan sesuai keunikannya, bukan sesuai standar kita sendiri. Sikap itu terutama timbul dari Siska, saudara kembar Rosi yang pertama kali menerima Roni, dan memperlakukannya sebagai Roni, bukan Rosi. Namun sesungguhnya wanita yang pertama kali mengetahui keberadaan Roni dalam tubuh Rosi adalah Dharma, cewek yang jadi pacar Roni.

Dua tokoh lainnya bagiku tak terlalu menonjol kepribadiannya. Ada Indah yang rapi, teratur, terkendali dan kaku. Tapi herannya, justru dialah yang sampai hamil dengan seorang pastor yang notabene harusnya selibat. Bagiku Indah adalah sosok yang paling bisa mengendalikan dan mengontrol diri sendiri. Tapi kok malah dia yang terjerumus ya?

Lalu ada si bungsu yang sakit-sakitan, tak percaya diri, dan peragu: Novera. Ia kehilangan rahimnya dan karena itu merasa minder untuk menjalin hubungan dengan pria. Karena ayah ke-4 bersaudara itu minta agar keempat anak gadisnya segera menikah sebelum beliau meninggal karena penyakitnya, Novera terpaksa berbohong. Ia minta pada seorang duda yang putrinya menjadi murid Novera, untuk berpura-pura menjadi kekasih Novera. Padahal, si duda sebenarnya mencintai Novera, dan setali tiga uang dengan Novera.

Di akhir cerita, keempat kembar itu mengeluarkan pengakuannya masing-masing pada ayah mereka. Dan sesuai tradisi keluarga mereka, mereka berempat pun berkumpul di rumah orang tua mereka untuk membuat dimsum dan menyantapnya bersama pada pagi hari tahun baru Imlek. Karena ayah mereka dalam keadaan kritis, kemungkinan besar dimsum itu adalah dimsum yang terakhir.

Jadi bagaimana pendapat anda yang sudah pernah membaca buku ini? Atau bagi yang belum, apa anda juga tertarik membacanya? Share yah...

Wednesday, April 21, 2010

Menyambut Hari Buku Sedunia 2010

Buat anda yang suka membaca buku, tanggal 23 April 2010 merupakan salah satu tanggal yang harus anda tandai di kalender. Mengapa? Karena pada tanggal 23 April 2010, seluruh dunia akan memperingai Hari Buku Sedunia. Mengapa tgl 23 April? Ini secuplik sejarahnya…

Di tahun 1995, UNESCO memutuskan bahwa Hari Buku dan Hak Cipta se-Dunia akan dirayakan pada tanggal ini karena bertepatan dengan festival Katalonia dan juga karena bertepatan dengan tanggal ulang tahun kelahiran dan kematian William Shakespeare, kematian Miguel de Cervantes , Inca de Garcilaso la Vega dan Josep Pla , kelahiran Maurice Druon , Vladimir Nabokov , Manuel Mejía Vallejo dan Halldór Laxness ada di tanggal ini. (sumber: dari sini)

Di Indonesia sendiri, sejak tahun 2006 Hari Buku Sedunia ini sudah dirayakan. Untuk tahun 2010 ini WBD Indonesia mengambil tema “Kepergok Membaca”. Beritanya bisa dilihat disini. Tujuannya adalah untuk melihat antusiasme membaca di masyarakat Indonesia, dan tentunya agar budaya membaca makin menjadi gaya hidup masyarakat kita. Bukankah membaca itu membangun wawasan? Dan bukankah Negara kita selalu bercita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa? Cara apakah yang paling gampang mewujudkannya? Urusan sekolah adalah urusan Dinas Pendidikan kan? Bagaimana dengan kita semua? Kita bisa loh ikut berpartisipasi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa itu.

Caranya? Selalu tularkan kebiasaan membaca kepada semua orang. Awalilah dari diri anda sendiri dan orang-orang terdekat anda, terutama…anak-anak anda! Tak perlu menghabiskan gaji sebulan untuk memborong buku (buku kan tak bisa untuk membuat asap dapur mengepul!). Cukup canangkanlah niat anda untuk membaca buku sedikitnya 5-10 buku dalam setahun. Tak perlu harus yang tebal-tebal, tapi pilihlah yang benar-benar cocok buat kebutuhan anda.

Harga buku mahal? Ada banyak pilihan kok. Misalnya nih, ikutan acara giveaway atau hibah buku dua sahabat bloggerku: Dela dan Fanny. Siapa tahu anda bisa menang? Tapi kalau buku mereka bukan yang anda sukai, anda bisa pinjam di perpustakaan (sayangnya perpus di Indonesia masih minim dan kurang baik pengelolaannya ya?), atau sewa di rental-rental buku. Atau, kalau anda tak mau repot-repot, belanja saja buku bekas online di Vixxio! Harganya murah, dan anda hanya tinggal memilih, transfer pembayaran, dan voila…beberapa hari kemudian buku akan tiba di hadapan anda dan siap dibaca.

O ya, mulai tgl. 23 s/d 7 Mei 2010 Vixxio juga ikut memeriahkan Hari Buku Sedunia dengan memberikan DISKON 30% untuk semua buku ber-label ‘30’. Klik saja link ini untuk menemukan buku-buku yang didiskon. Buruan aja kesana yah…

Jadi…banyak cara kan buat membaca buku? Yang penting sekarang adalah niat anda saja. Ayooo…bangun niat untuk membaca buku mulai hari ini yaa!!