Monday, October 12, 2009

Bumi Yang Subur

Sejak membaca novel Maharani, aku jadi ketagihan membaca karya-karya Pearl S. Buck lainnya. Bumi Yang Subur ini adalah bagian pertama dari sebuah trilogy, yang mengisahkan suka duka kehidupan Wang Lung, seorang petani di China pada awal abad keduapuluh yang begitu mencintai tanah miliknya. Dalam Bumi Yang Subur ini dikisahkan liku-liku perjalanan hidup Wang Lung dari hidup melarat sebagai petani hingga akhirnya menjadi tuan tanah yang kaya raya.

Membaca buku ini, kita menyadari bahwa manusia itu begitu gampangnya berubah. Tak ada manusia di muka bumi ini yang tak ingin menjadi kaya dan sukses, meski tanpa disadarinya bahwa kekayaan itu juga turut mengubah sikap dan pandangan hidupnya. Kehidupan Wang Lung adalah cermin siklus kehidupan manusia yang selama ini kita jalani tanpa kesadaran dan mungkin juga tanpa makna. Dari Wang Lung, kita belajar untuk menghargai hidup, baik itu dalam kemiskinan maupun dalam kemewahan, karena pada akhirnya kebahagiaan itu selalu ada dalam hati kita dan merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya…

----

Wang Lung adalah seorang petani yang amat mencintai tanahnya, ladangnya, gandum dan jagungnya. Seluruh hidupnya berkaitan dengan tanahnya itu. Ia hidup miskin bersama dengan ayahnya yang sudah tua. Bahkan minum teh pun dianggap sebagai kemewahan. Pagi itu Wang Lung akan menikah, maka sedikit pemborosan boleh lah. Ia membelanjakan uangnya dengan begitu irit dan hati-hati.

Calon istrinya adalah seorang budak di rumah keluarga Hwang, seorang tuan tanah kaya yang rumahnya bak istana, namun anggota keluarganya tidak ada yang beres. Istrinya pengkonsumsi candu yang berat, putra-putranya suka selingkuh dengan para budaknya. Orang kaya pada jaman itu bisa membeli budak perempuan, yakni anak perempuan dari keluarga miskin. Karena anak perempuan pada jaman itu tidak dihargai sama sekali, maka sejak kecil dijual kepada orang kaya. Para budak itu (terutama yang cantik) harus melayani tuan tanah dan para putranya, sedang yang tidak cantik biasa bekerja keras di dapur atau di ladang.

Wang Lung akan menebus calon istrinya dengan dua cincin perak dan sepasang subang perak sebagai tanda pertunangan. Ia memasuki rumah besar keluarga Hwang dengan takut-takut dan minder. Di sana ia diejek dan dibentak-bentak bahkan oleh penjaga pintu.

O-Lan nama wanita itu. Parasnya jauh daripada cantik, kakinya juga tidak kecil karena diikat (begitulah adat bagi anak perempuan jaman itu). Badannya kekar dan ia biasa bekerja keras. Maka begitu mengikuti Wang Lung dan menjadi istrinya, O-Lan langsung mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga, dan membantu Wang Lung berladang. Ia benar-benar wanita pekerja keras, pintar memasak, tak banyak omong (pendiam malah) dan taat pada suaminya. Benar-benar tipe istri yang dibutuhkan oleh seorang petani yang miskin dan pekerja keras.

Tak lama kemudian O-Lan pun hamil, dan melahirkan putra pertama bagi Wang Lung, yang amat girang (semua orang pasti menantikan anak laki-laki saat menunggui sang istri melahirkan). Untuk melahirkan bayinya, O-Lan melakukannya sendiri tanpa bantuan siapapun. Bahkan setelah beristirahat sebentar ia langsung kembali bekerja di ladang seperti tak ada kejadian besar apapun sebelumnya.

Ternyata O –Lan punya impian terpendam. Ia ingin membawa anak laki-lakinya yang akan ia dandani dengan baik dan ia pamerkan ke rumah keluarga Hwang, untuk menunjukkan bahwa hidupnya sekarang telah makin makmur (pasti seperti itu juga keinginan kita kepada orang yang pernah mengejek dan merendahkan kita). Wang Lung pun membeli telur yang dicelup cairan warna merah untuk dibagi-bagikan kepada para tetangga, yang melambangkan bahwa ia baru memiliki anak laki-laki.

Pada saat-saat bahagia itu Wang Lung selalu pergi ke kuil dan menancapkan dupa di depan patung Dewa Bumi, sambil berpikir alangkah besar kekuasaan Dewa itu yang telah memberinya rejeki yang berlimpah. Bahkan setahun kemudian, ketika keluarga Hwang mulai jatuh dan mereka menjual tanah-tanahnya, Wang Lung pun mengambil keputusan untuk membeli tanah itu. Ya, Wang Lung adalah petani yang cerdik. Ketika para tetangganya menghambur-hamburkan uang saat panen mereka berhasil, Wang Lung tetap hidup sederhana, dan menggunakan uangnya untuk berinvestasi. Kini ia, Wang Lung, mampu membeli tanah keluarga besar yang dulu sangat ia takuti dan segani. Wang Lung dan O-Lan begitu bahagia.

Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Suatu kali datang kekeringan yang berkepanjangan hingga seluruh persediaan uang Wang Lung habis. Begitulah hidup petani, mereka amat bergantung pada kesuburan tanahnya. Air kering, sehingga tanamannya tak dapat air, dan merekapun kesulitan untuk minum. Tak ada toko yang menjual makanan, dan kalaupun ada, tak ada petani yang memiliki uang untuk membelinya, karena panenan mereka gagal dan tabungan mereka telah habis. Dan O-Lan kini mengandung anaknya yang ketiga. Dalam keadaan terpepet ketika mereka sudah berhari-hari tak makan, akhirnya mereka mencoba pindah ke kota di sebelah Selatan dan mendirikan gubuk di pinggir jalan.

Wang Lung menarik andong, sedang O-Lan dan putranya menjadi pengemis. Di sana mereka semua bisa makan kenyang. Tapi, uang yang didapat selalu habis untuk makan, sehingga kehidupan mereka hanya seperti itu saja dari hari ke hari. Yang miskin tetap miskin, dan kaya tetap dapat menikmati hidup di balik rumah gedongnya. Jurang yang selalu tampak, seperti di kota-kota besar di negara kita. Akhirnya, Wang Lung mulai memikirkan kembali tanahnya, dan ia memutuskan untuk memboyong keluarganya kembali ke desa. Saat itu ada kejadian menghebohkan. Karena perang, sebuah keluarga kaya terpaksa meninggalkan rumah megahnya yang mirip istana, dan melarikan diri. Banyak orang miskin, termasuk Wang Lung dan O-Lan masuk ke rumah itu dan mengambil benda-benda berharga. Wang Lung mendapat beberapa keeping uang emas, dan O-Lan mendapat sepasang giwang mutiara yang amat ia sayangi bagaikan harta yang sangat berarti baginya.

Kembali ke kampung halaman, mereka mulai menggarap tanahnya kembali, dan bumi yang subur kembali memberikan kemakmuran pada keluarga Wang Lung. Karena kejeliannya, ia sedikit demi sedikit menjadi orang kaya raya, salah seorang tuan tanah sama seperti keluarga Hwang. Makin banyak tanah subur yang ia beli, makin berlimpah uang tabungan dari panennya. Ia dapat menyekolahkan putra-putranya, sedang putri sulungnya tinggal di rumah. Anak itu idiot karena kurang gizi ketika terjadi bencana kekeringan. Meski tak ada yang mempedulikan anak itu, Wang Lung dan istrinya mencintai dan memeliharanya dengan sepenuh hati.

Hingga saat itu Wang Lung tak tahu apa-apa tentang menikmati hidup. Namun pada suatu hari ketika Wang Lung telah dapat menyerahkan pengerjaan sawah-sawahnya kepada pegawainya dan ia banyak menganggur, maka terlihatlah banyak kekurangan dalam hidupnya yang dulu tak ia sadari. Ia memandang istrinya, dan tiba-tiba sadar betapa jelek wajahnya, rambutnya yang kusut, kulitnya yang kasar, kakinya yang besar dan jelek, bajunya yang kusam. Tiba-tiba ia muak melihat istrinya sendiri, yang yelah memberinya banyak anak, yang mengikutinya dengan pasrah sewaktu miskin, dan yang mendampinginya bekerja keras. Istrinya hanya dapat menyembunyikan kakinya dan menatap Wang Lung dengan sorot mata pedih…

Sekarang Wang Lung malu bila masuk ke kedai minum yang murahan. Ia mulai mencoba kedai minum baru untuk orang-orang kaya yang juga menyediakan wanita. Di sanalah ia bertemu Lotus, wanita penghibur yang cantik jelita, kulitnya mulus, tubuhnya ramping dan kakinya kecil mungil. Wang Lung pun semakin tergila-gila pada Lotus, dan sering menghabiskan malam di kedai minum di kota itu. Wang Lung lalu mengambil Lotus sebagai istri keduanya, dan bahkan mencuri giwang mutiara yang amat disayangi O-Lan kepada Lotus. Betapa pedih hati O-Lan, namun ia diam saja.

Begitulah tahun demi tahun berlalu dalam kehidupan Wang Lung yang rupanya sudah lupa pada keadaannya saat miskin dulu. Dewa-dewi yang dulu disembahnya, sekarang tak ia pedulikan lagi karena ia telah jadi tuan tanah yang kaya. Apakah ia bahagia? Rupanya, baik dalam kemiskinan maupun kemewahan, yang namanya kesulitan dan konflik selalu datang silih berganti dalam hidup manusia. Suatu saat karena teguran anaknya, Wang Lung sadar dan menyesal atas kelakuan buruknya terhadap O-Lan. Saat itu O-Lan menderita komplikasi beberapa penyakit, dan pada akhir hayatnya Wang Lung selalu bersikap baik padanya.

Wang Lung kini menempati rumah besar bekas keluarga Hwang. Ia sekarang dipusingkan oleh ulah putra-putranya yang banyak ulah, para menantunya yang saling membenci, dan keluarga pamannya yang menggerogoti hartanya. Bahkan Lotus yang sudah mulai menua pun tak dapat menghiburnya. Wang Lung justru tertarik pada seorang budak muda bernama Pear Blossom.

Itulah sekilas kehidupan Wang Lung, sang petani dan tuan tanah. Pearl S. Buck mampu menuangkannya dengan apik dan enak dibaca. Tak salah bila karyanya ini dihadiahi Pulitzer di 1932. Membaca buku ini seolah melihat kehidupan banyak orang di dunia ini,. Kita hanya dapat belajar dari Wang Lung, bahwa hidup selalu ada pasang surut, dan bahwa dalam hidup ini tak ada yang sempurna. Namun karena keserakahannya, manusia itu selalu menuntut lebih. Padahal di akhir hayatnya, semua kemewahan itu takkan ada lagi artinya, kecuali kebahagiaan….

Judul buku: Bumi Yang Subur (The Good Earth)
Pengarang: Pearl S. Buck
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 507
Harga: 45.000,- (toko buku online)



23 comments:

  1. saya pernah membaca buku ini, dan ingatan saya kembali setelah membaca ulasan mbak Fanda yang lengkap.

    Pearl S. Buck karyanya penuh dengan renungan filsafat kehidupan, kalau tidah salah buku ini pernah di filmkan yah mbak.

    ReplyDelete
  2. Orang itu nggak bisa tajir terus, nggak bisa melarat terus, pasti ada pasang surutnya. Sekarang masalahnya, apakah kita tetap bisa bahagia dalam kedua keadaan itu sekaligus, atau tidak.

    ReplyDelete
  3. Ya ini review yang mantap. Sebuah variasi dan pengkayaan (enrichment) yang mantap dari review-review mbak Fanda selama ini. Saya membaca novel ini ketika saya SMA. Pearls S.Buck, penulis hebat. Dia sudah menunjukkan kualitasnya dengan meraih nobel di bidang sastra untuk karyanya.

    ReplyDelete
  4. blm pernah baca nih karyanya. kelas berat sih. he he he..tapi, kasihan banget perempuan pada masa itu ya.

    ReplyDelete
  5. ehm,,repiunya oke nih,,
    aku musti nabung lebih dalem lagi nih
    hehehehehe

    ReplyDelete
  6. Duh kapan ya aku bisa mengulas secantik dan seindah ini.
    Tanpa membaca novelnya aku dah dapat menangkap moral ceritanya.
    thanks 4 sharingnya

    ReplyDelete
  7. Saya belum pernah membacanya. Semoga suatu saat kami bisa membelinya untuk koleksi pribadi maupun untuk perpus sekolah.
    Ulasannya lengkap sekali. Kapan saya bisa berkarya sebaik mbak Fanda?.
    Selamat malam. Semoga selalu bahagia. Amin.

    ReplyDelete
  8. Keren mbak ulasannya... Keren juga bukunya...
    Aku belum pernah baca karya Pearls S.Buck, tapi setelah baca ulasan mbak Fanda pengen juga baca karya-2nya yang lain....

    ReplyDelete
  9. Semasa SMA aku beli lengkap triloginya. Sayang sekali waktu kuliah buku pertama (yg Fanda ulas) dipinjam teman dan ga dibalikin meski udah kutagih.
    Buku yang sangat bagus. Penulisnya memang luar biasa.

    Baru berusaha turun gunung nih, Fan. Ini hari pertama dolan ke teman. Semoga ndak kehalang macet lagi. He he he ....

    ReplyDelete
  10. buku yang sangat bagus mbak dan memberi banyak inspirasi apalagi ulasannya... dari sini aku bisa belajar ternyata hidup manusia itu memang tidak abadi.. ia berjalan bagaikan roda... kadang di atas dan kadang pula di bawah...

    ReplyDelete
  11. Mbak Fanda, saya salut ama hobi baca mbak! Semoga saya selalu ketularan rajinnya. Mbak, masih ada waktu untuk KBO gak? nanti, saya update di blog aja, infonya saya tag ke semua temen2. makasih yah mbak atas ilmunya juga semangatnya.

    ReplyDelete
  12. udah lama nggak baca buku nih mbak. ini dimasukin ke goodreads nggak nih? :)

    ReplyDelete
  13. Wah, pengin banget nih baca bukunya. Kayaknya menarik banget, tapi sayang, saya sdg menghemat uang buat kuliah nanti...heheheheh..
    Oh ya, mba, sdh baca cerpen ku yg Ramalan Madam Durja..Baca gih....Hehehhe

    ReplyDelete
  14. keren banget mbak jadi penasaran mau baca bukunya, itu lah hidup terkadang orang sering lupa, kacang selalu lupa pada kulitnya, yang pasti hidup seperti putaran roda selalu ada di atas dan lupa klau ada yg dibawah,sedangkan yg dibawah selalu berpikir gimna bisa keatas....

    ReplyDelete
  15. semua yang kita miliki didunia ini hanya sementara begitu hidup.

    mumpung masih ada waktu,,yuk kita tebarkan kasih sayang ke sesama agar suatu saat nanti benih yang kita tebar itu bisa kita panen saat tak ada siapapun yang mampu memberi kasih sayang pada kita kecuali amal baik.

    ReplyDelete
  16. inspiring, bukunya juga gak mahal ya..trims sharingnya mbak..

    ReplyDelete
  17. berkunjung untuk baca posting lainnya yang belum di baca

    ReplyDelete
  18. tertarik ama nih buku deh aku ...

    ReplyDelete
  19. wah nambah pengetahuan ni...bagus,minat..makasih infonya...mh aku salut ma mbak...semoga sy bs kayak mbak y

    ReplyDelete
  20. Kala derita...... merintih meminta.
    Setia,
    akan cinta, akan Tuhan akan segala.

    Justru ketika suka,
    Semua lupa.
    Akan tuhan,
    akan Cinta.

    Bojo Loro....
    ( Hussss....., nyambung gak ? )

    ReplyDelete
  21. jadi kepingin baca juga...
    percaya deh sama ulsan Fanda. kalo dibilang bagus ya berarti bagus. hehehe

    ReplyDelete
  22. Buku karya pearl s buck ini sangat bagus ceritanya. Aq membacanya 15 tahun lalu di perpus. Buku yang sudah usang tebal tapi sarat dengan pitutur kehidupan. Saya kini di perpus tidak lagi kujumpai buku itu padahal aq ingin sekali membacanya kembali.

    ReplyDelete