Showing posts with label Drama. Show all posts
Showing posts with label Drama. Show all posts

Tuesday, October 9, 2012

The Casual Vacancy: Kerikil Mungil Yang Jatuh Ke Kolam Tenang


Jika Pagford diibaratkan sebagai sebuah kolam yang tenang, maka kematian Barry Fairbrother adalah sebutir kerikil mungil yang jatuh ke tengahnya.

Pagford Parish adalah daerah pemerintahan terkecil di distrik Yarvil, Inggris—kalau di negara kita mungkin setingkat dengan kelurahan—yang amat bangga dengan sejarah panjangnya, dan orang-orang terhormat yang pernah mendiaminya. Pagford adalah warisan yang ingin dipertahankan oleh para penghuninya tetap seperti semula. Maka ketika para pendatang baru membawa nilai-nilai moral yang mulai luntur (obat bius, seks bebas, dll), dimulailah perseteruan panjang antara penghuni lama Pagford dan kalangan The Fields (sebutan para pendatang baru itu) yang sudah berlangsung selama 60 tahun.

Dari luar, Pagford nampak seperti pedesaan yang asri dan tenang, persis seperti kolam yang airnya tenang. Hingga seorang anggota wakil rakyat Pagford yang ceria dan energik bernama Barry Fairbrother mendadak meninggal di parkiran klub golf setempat. Bak sebutir kerikil mungil yang jatuh ke kolam yang tenang, peristiwa kematian Barry itu menimbulkan riak-riak yang menggoncangkan seluruh permukaan ‘kolam’ Pagford. Yang menarik adalah, bagaimana kematian satu orang saja bisa mengubah kehidupan begitu banyak pribadi dan keluarga?

Kematian Barry menimbulkan “casual vacancy” yaitu ketika kursi dewan yang mewakili Pagford Parish di Distrik Yarvil (district = setingkat lebih rendah dari county) kosong. Barry termasuk dalam kalangan pendatang baru yang ingin mempersatukan The Fields dan Pagford, karena itu, meski secara pribadi orang-orang berduka, namun bagi sebagian kecil ‘first citizens’ Pagford kematian Barry merupakan ‘blessing in disguise’. Dengan adanya ‘casual vacancy’ para pro-Pagford akan mampu mempertahankan status quo kehormatan mereka dari serbuan pengaruh The Fields.

Keluarga Mollison adalah yang pertama-tama mencalonkan diri untuk menempati kursi yang ditinggalkan Barry Fairbrother, melalui Miles, putra Howard Mollison (salah satu penduduk terpandang di Pagford). Kemudian di sebuah rumah kecil di atas bukit di perbatasan Pagford, Simon Price—laki-laki pemarah yang suka menyiksa istri dan putra-putranya—tiba-tiba terinspirasi untuk mencalonkan diri pula. Terakhir ada Collin Wall, kepala sekolah di The Fields yang juga maju menantang kedua calon tersebut.

Hingga di sini, buku ini nampaknya membosankan dengan politik tingkat kelurahannya yang..yah..membosankan :) Namun J.K. Rowling ternyata belum kehilangan kemampuan ‘sihirnya’ yang telah terbukti ‘ampuh’ di Harry Potter. Dengan menghadirkan banyak tokoh (tokoh utamanya saja paling tidak 20 orang) dari beberapa keluarga, Rowling menganyam konflik demi konflik; konflik dalam keluarga, konflik antar teman sekolah, konflik antar keluarga. Ada istri yang tidak bahagia dalam perkawinannya dan mulai mengidolakan anggota band yang muda-berotot. Ada ibu pecandu obat bius yang menjual diri demi mendapat pasokan obat bius. Ada remaja tidak bahagia yang terobsesi untuk menjadi ‘authentic’ dengan melakukan kekejaman. Ada remaja yang menganggap mengiris lengannya sendiri adalah obat untuk memerangi sakit hati akibat penghinaan. Namun ada juga tokoh-tokoh yang seolah sempurna, padahal mereka pun menyimpan sebuah rahasia kelam.

Dan ketika masing-masing calon dewan tadi mulai berkampanye, muncullah artikel-artikel di website Pagford Parish yang mengungkap rahasia-rahasia memalukan para kandidat, semuanya ditulis dengan menggunakan nama samaran ‘Hantu Barry Fairbrother’. Dan bersama dengan si Hantu, perlahan-lahan, Rowling menelanjangi satu per satu rahasia masing-masing tokoh, yang ia ungkap di masing-masing bab. Dari bab ke bab kita diajak untuk semakin penasaran, mengapa si A begitu membenci si B? Apakah si B diam-diam mencintai si C?... dan seterusnya. Membaca The Casual Vacancy ini bak mengupas sebutir bawang merah, selapis demi selapis kita buka untuk menemukan apa yang kita inginkan.

Bagi penggemar Harry Potter, jangan berharap bahwa The Casual Vacancy akan penuh dengan aksi heroik dari tokoh-tokoh yang bisa kita cintai. Boleh dibilang, hampir tak ada tokoh di sini yang bisa kita cintai, seperti halnya Hermione Granger atau Ron Weasley. Kita mungkin akan muak dan membenci mereka, karena kebodohan mereka, karena kebobrokan moral mereka. Namun sebenarnya, dari apa yang mereka alami, kita dapat belajar banyak tentang kehidupan dan tentang manusia.

Misalnya, dari tokoh ibu pecandu obat bius yang boleh dibilang telah jatuh di lumpur yang paling hina (pecandu, pelacur, tak becus mengurus anak); kita harus menyadari bahwa ia menjadi seperti itu karena banyak alasan, dan yang bila dirunut jauh ke belakang, mungkin karena ia mengalami masa kecil yang kelam. Dari beberapa kasus kita bisa melihat, bahwa cinta kasih dan perhatian adalah hal mutlak yang dibutuhkan manusia, dan kekurangan unsur itu akan menyebabkan kejatuhan moral dan kelemahan mental. Karena itu kita juga diajak Rowling untuk tidak cepat menjatuhkan penghakiman terhadap orang lain. Tiap orang memiliki latas belakangnya masing-masing, yang akan membentuk dirinya saat dewasa.

The Casual Vacancy bukanlah kisah Grifindor melawan Slytherin, bukan kisah penyihir putih melawan penyihir hitam. The Casual Vacancy adalah kisah kita semua, yang dengan kelemahan kita masing-masing selalu berjuang untuk menjadi baik, namun seringkali justru melakukan kebodohan-kebodohan yang memalukan, yang kita simpan rapat-rapat agar dunia tak mengetahuinya. The Casual Vacancy bertutur tentang bagaimana mereka menghadapi kejatuhan, ada yang kuat dan mampu bangkit untuk menjadi lebih baik, namun ada pula yang lemah dan terpaksa membiarkan diri makin terpuruk. Ya, The Casual Vacancy adalah kisah tentang dunia yang sangat nyata, tentang orang-orang biasa seperti kita. Membosankan? Sama sekali tidak!

Sekali lagi, bagi yang mengharapkan sesuatu seperti Harry Potter, anda akan kecewa. Alur The Casual Vacancy mengalir dengan cukup lambat seperti kisah drama pada umumnya, namun J.K. Rowling mampu menjaga rasa penasaran kita dengan menguak sedikit demi sedikit rahasia tokoh-tokohnya. Kisah ini juga bukan kisah yang cocok untuk remaja karena bertebaran kata-kata kasar seperti fu**ing, b*tch, s*agging, juga penggambaran lumayan eksplisit tentang adegan seksual. Jelas bukan buku untuk menghibur diri, melainkan bacaan sarat emosi yang membantu kita menjalani hidup kita sendiri.

Empat bintang kuberikan untuk The Casual Vacancy, sebuah tonggak yang berhasil ditancapkan J.K. Rowling untuk keluar dari romantisme epic Harry Potter, dan menulis kisah yang lebih membumi dan lebih berbobot dengan gaya khasnya yang sama cantiknya seperti yang kita dapati di Harry Potter. Sayang, ending kisah ini kurang menggigit emosi, yang menghalangiku menambahkan 1 bintang lagi yang akan menjadikannya sempurna…

Judul: The Casual Vacancy
Penulis: J.K. Rowling
Versi: ebook
Terbit: September 2012
Halaman: 335 (versi MS Word)

Friday, October 14, 2011

The Remains Of The Day

Seandainya seseorang bertanya pada anda: “Manakah yang terpenting bagi anda, hidup pribadi atau karier anda?” –jawaban apakah yang akan anda berikan? Sebelum anda memberikan jawaban apapun, ada baiknya kita bersama menelaah perjalanan hidup seorang kepala pelayan Inggris abad 20 bernama Stevens, yang dikisahkan dengan indah oleh Kazuo Ishiguro lewat buku ini: The Remains of The Day.

Stevens adalah contoh seorang kepala pelayan terhormat, tak bercacat yang bisa anda jumpai bila anda hidup di kalangan bangsawan di Inggris pada pertengahan abad 20. Setelah selama tiga puluh tahun mengabdi pada seorang Lord Darlington di Darlington Hall, Stevens telah mengalami tak terhitung banyaknya acara-acara penting yang menjadi saksi sejarah. Kini Darlington berganti pemilik, dan Stevens pun kini mengabdi pada Mr. Farraday, seorang pengusaha Amerika. Atas kebaikan hati Mr. Farraday, Stevens diijinkan berkendara dengan mobil Ford sang bos untuk pergi berlibur.

Bila awalnya sempat ada keraguan, sepucuk surat dari mantan koleganya--Miss Kenton yang menyiratkan perkawinannya yang tak bahagia, membulatkan tekad Stevens untuk pergi berlibur. Dalam perjalanan tiga hari menuju ke daerah West Country Inggris menuju rumah Miss Kenton inilah Stevens memiliki kesempatan untuk berhenti sejenak berkutat dengan pekerjaannya, dan lebih banyak merenungkan seluruh hidupnya selama menjadi kepala pelayan.

Ada satu hal yang selama ini menjadi obsesi pribadi Stevens, yakni: martabat. Bagi Stevens, puncak karir bagi seorang kepala pelayan adalah saat ia menjadi kepala pelayan yang bermartabat. Untuk dapat mencapainya, salah satunya dengan mengabdi pada majikan yang tepat, yakni di rumah para bangsawan dan orang terhormat. Di sisi lain, martabat adalah suatu aura atau karakter yang dimiliki seseorang. Panutan Stevens untuk kepala pelayan bermartabat adalah ayahnya sendiri.

Dari cerita Stevens tentang si ayah, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa bagi Stevens deskripsi bermartabat adalah: menjaga profesionalitas kapan pun juga kecuali ketika si kepala pelayan sedang menikmati privasi kamarnya sendiri. Di luar itu, dalam kondisi apapun, kepala pelayan tak sepatutnya menunjukkan emosi, entah saat ia marah, takut, atau sedih. Hanya ketenangan yang harus ia tampakkan. “Topeng” profesionalitas itu harus dipakai selama berada di luar kamar tidurnya.

Bagi Stevens, profesionalitas kepala pelayan akan teruji saat terjadi hal-hal dramatis dalam sebuah acara penting. Contoh ketika Lord Darlington mengadakan acara makan malam rahasia yang menjadi cikal bakal Konferensi Maret 1923; sebuah konferensi yang hendak memprotes hukuman bagi Jerman untuk membayar “denda” yang bertentangan dengan perjanjian damai Versailles usai Perang Dunia I. Acara di Darlington Hall malam itu sangat penting, dan tentu saja membuat Stevens sangat sibuk. Namun, sayangnya sesuatu yang amat pribadi dan penting bagi Stevens harus memilih malam itu untuk terjadi. Dapat diduga, Stevens si kepala pelayan sempurna terpaksa harus mengedepankan tanggung jawabnya dan mengorbankan kepentingannya sendiri.

Jadi begitulah…sementara Stevens berkendara melewati daerah pedesaan dan kota-kota kecil yang menyuguhkan pemandangan indah dan keramahan penduduknya, ingatan si kepala pelayan pun melayang pada momen-momen kecil sepanjang perjalanan karirnya. Kalau kita amati, sepertinya kehadiran Miss Kenton yang menjadi koleganya, menempati porsi terbesar dalam nostalgia Stevens. Dan kini, saat pertemuan dengan Miss Kenton makin mendekat, kenangan-kenangan itu pun seolah bercerita pada kita tentang perasaan Miss Kenton yang sebenarnya pada Stevens. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?

The Remains of The Day ini ditulis dengan gaya buku harian. Seolah-olah Stevens menumpahkan seluruh kenangan dan pemikirannya lewat buku harian ini. Ishiguro dengan piawainya membuatku seolah-olah mengenal Stevens dengan baik selama bertahun-tahun. Seolah-olah aku adalah temannya, dengan siapa ia berbagi pandangan hidup, perasaan dan pikirannya. Meski beralur lambat, aku tetap setia membaca “buku harian” ini. Bravo Ishiguro, empat bintang untukmu!

Judul: The Remains of The Day
Judul terjemahan: Puing-Puing Kehidupan
Penulis: Kazuo Ishiguro
Penerjemah: Femmy Syahrani
Penerbit: Hikmah
Terbit: Januari 2007
Tebal: 336 hlm

Tuesday, July 26, 2011

Salem Falls

Ketiklah kata “Salem” di mesin pencari di internet, maka anda akan menemukan banyak kata “witch” di hasil pencarian. Kota Salem yang terlatak di Massachusetts, USA tak dapat dipisahkan dari sejarah pengadilan penyihir Salem pada tahun 1692. Dan ternyata praktek sihir atau tenung itu pernah dipraktekkan pada abad modern ini. Mungkin bukan di dunia nyata, namun di benak Jodi Picoult ketika menulis novel ini: Salem Falls. Ada kesamaan antara sejarah pengadilan penyihir Salem dan kisah Salem Falls. Pada keduanya, anda akan menemukan para penenung dan pengadilan. Namun pengadilan di buku ini bukan untuk para penenung, melainkan untuk seorang mantan guru olahraga yang dituduh melakukan pemerkosaan. Lalu di mana unsur penenungnya? Teruskan membaca ya…

Jack St. Bride adalah seorang guru dan pelatih sepak bola sekolah putri yang amat berdedikasi pada pekerjaannya. Namun suatu hari muridnya menuliskan di diary-nya, pengalaman seksual yang seolah dilakukan Jack padanya. Akibatnya Jack dipenjara dan harus mengalami persidangan. Pembelanya menyarankan Jack untuk mengaku bersalah untuk mendapat keringanan hukuman. Setelah menjalani hukuman, Jack berharap ia dapat dengan bebas memulai hidup baru di tempat baru. Salem Falls adalah kota kecil yang ia pilih untuk tempat tinggalnya, lalu bekerja menjadi pencuci piring di kedai milik wanita bernama Addie Peabody. Alangkah kelirunya Jack. Berkat hukum yang mengharuskan mantan napi melapor pada kepolisian setempat, maka akhirnya masa lalu Jack pun (harus) terkuak. Meski mati-matian mengatakan bahwa ia tak bersalah, namun “praduga bersalah” terlanjur menempel di benak semua orang bak double tape yang sulit dilepas tanpa meninggalkan bekas sama sekali.

Di sisi lain, ada 4 orang gadis muda yang diam-diam menjadi pengikut situs penenung di internet: Wicca. Mereka senang melakukan aktivitas menenung, dan punya toko langganan yang menjual bahan-bahan untuk menenung, lilin, rempah dan buku-buku mantra. Mereka adalah Gillian (putri pengusaha farmasi), Meg (putri kepala polisi), Chelsea dan Whitney. Awalnya mereka hanya ingin melakukan sesuatu yang terlarang saja. Tak butuh waktu lama, mereka pun mengenal Jack yang bertubuh tinggi dan tampan saat mereka pergi ke kedai makan. Mereka (terutama Gillian) berusaha mendekati Jack meski Jack berusaha menghindar dengan sopan. Namun usaha Jack tak menyurutkan keputusan Kepala Polisi Charlie untuk memberlakukan “jam malam” bagi para gadis. Mereka dilarang berdekatan dengan Jack.

Lalu suatu malam, Gillian yang tak suka ditolak oleh Jack mengajak ke 3 kawannya untuk mengadakan semacam ritual menenung di dalam hutan. Ketika malam berakhir, Gillian mengaku dirinya telah diperkosa oleh Jack. Maka Jack pun kembali harus melalui mimpi terburuknya: ditahan, dipenjara, diadili, dicap sebagai pemerkosa, dijauhi orang dan dipandang dengan pandangan jijik. Namun yang terburuk mungkin adalah sikap Addie yang meragukan dirinya.

Sidang kasus pemerkosaan ini pun dimulai. Jordan, pengacara yang berkawan dengan Jack menjadi pembelanya. Kasus yang sulit, sebab Jack tak mampu mengingat peristiwa itu. Perlahan tapi pasti Jordan dapat mengumpulkan bukti-bukti yang dapat mematahkan kesaksian Gillian, namun ada 1 bukti fisik yang sangat jelas bahwa Gillian telah berhubungan seksual, meski siapa pasangannya tetap tak dapat dibuktikan.

Para juri akhirnya menjatuhkan keputusan pada kasus Jack, namun teka-teki kebenaran di balik pengakuan Gillian itu belum terungkap sepenuhnya. Kalau memang Jack tidak melakukan pemerkosaan, lalu bagaimana dengan sebuah bukti fisik yang menandakan adanya aktivitas seksual itu? Apakah itu berarti ada orang lain yang telah melakukannya terhadap Gillian? Lalu siapakah dia? Jawaban atas pertanyaan ini akan terkuak secara samar pada paragraf terakhir di halaman terakhir. Kalau anda tak teliti, maka mungkin kebenarannya akan menguap begitu saja. Boleh dibilang, twisted ending itu yang memberikan sedikit greget pada buku ini, sementara di sepanjang kisah, aku tak menemukan sesuatu yang istimewa. Jodi Picoult memang piawai membawa emosi pembacanya terhanyut bersama kisahnya, namun hanya sampai di situ saja bagiku. Jadi, maaf Jodi, aku hanya bisa memberikan 3 bintang untuk buku ini. Mungkin aku memang bukan pembaca drama beralur datar yang baik…

***

“Sistem hukum memang terdengar baik di atas kertas, tapi kenyataannya, selama terdakwa duduk di samping pembelanya, setiap orang yang menghadiri persidangan itu akan menganggapnya bersalah sampai terbukti bahwa dia ternyata tidak bersalah.” ~hlm 451

Betapa sulitnya menjadi terdakwa, terutama kalau engkau tak bersalah. Asas praduga tak bersalah seringkali hanya bunga dalam dunia hukum, karena manusia cenderung melihat kejelekan dan kesalahan sesamanya ketimbang kebaikannya. Semoga hal ini mengingatkan kita untuk tak terlalu mudah memberikan label buruk pada orang lain, apalagi kalau “dosa”nya hanya berupa gosip di media massa saja…

Judul: Salem Falls
Penulis: Jodi Picoult
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 2007
Tebal: 584 hlm