Friday, October 14, 2011

The Remains Of The Day

Seandainya seseorang bertanya pada anda: “Manakah yang terpenting bagi anda, hidup pribadi atau karier anda?” –jawaban apakah yang akan anda berikan? Sebelum anda memberikan jawaban apapun, ada baiknya kita bersama menelaah perjalanan hidup seorang kepala pelayan Inggris abad 20 bernama Stevens, yang dikisahkan dengan indah oleh Kazuo Ishiguro lewat buku ini: The Remains of The Day.

Stevens adalah contoh seorang kepala pelayan terhormat, tak bercacat yang bisa anda jumpai bila anda hidup di kalangan bangsawan di Inggris pada pertengahan abad 20. Setelah selama tiga puluh tahun mengabdi pada seorang Lord Darlington di Darlington Hall, Stevens telah mengalami tak terhitung banyaknya acara-acara penting yang menjadi saksi sejarah. Kini Darlington berganti pemilik, dan Stevens pun kini mengabdi pada Mr. Farraday, seorang pengusaha Amerika. Atas kebaikan hati Mr. Farraday, Stevens diijinkan berkendara dengan mobil Ford sang bos untuk pergi berlibur.

Bila awalnya sempat ada keraguan, sepucuk surat dari mantan koleganya--Miss Kenton yang menyiratkan perkawinannya yang tak bahagia, membulatkan tekad Stevens untuk pergi berlibur. Dalam perjalanan tiga hari menuju ke daerah West Country Inggris menuju rumah Miss Kenton inilah Stevens memiliki kesempatan untuk berhenti sejenak berkutat dengan pekerjaannya, dan lebih banyak merenungkan seluruh hidupnya selama menjadi kepala pelayan.

Ada satu hal yang selama ini menjadi obsesi pribadi Stevens, yakni: martabat. Bagi Stevens, puncak karir bagi seorang kepala pelayan adalah saat ia menjadi kepala pelayan yang bermartabat. Untuk dapat mencapainya, salah satunya dengan mengabdi pada majikan yang tepat, yakni di rumah para bangsawan dan orang terhormat. Di sisi lain, martabat adalah suatu aura atau karakter yang dimiliki seseorang. Panutan Stevens untuk kepala pelayan bermartabat adalah ayahnya sendiri.

Dari cerita Stevens tentang si ayah, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa bagi Stevens deskripsi bermartabat adalah: menjaga profesionalitas kapan pun juga kecuali ketika si kepala pelayan sedang menikmati privasi kamarnya sendiri. Di luar itu, dalam kondisi apapun, kepala pelayan tak sepatutnya menunjukkan emosi, entah saat ia marah, takut, atau sedih. Hanya ketenangan yang harus ia tampakkan. “Topeng” profesionalitas itu harus dipakai selama berada di luar kamar tidurnya.

Bagi Stevens, profesionalitas kepala pelayan akan teruji saat terjadi hal-hal dramatis dalam sebuah acara penting. Contoh ketika Lord Darlington mengadakan acara makan malam rahasia yang menjadi cikal bakal Konferensi Maret 1923; sebuah konferensi yang hendak memprotes hukuman bagi Jerman untuk membayar “denda” yang bertentangan dengan perjanjian damai Versailles usai Perang Dunia I. Acara di Darlington Hall malam itu sangat penting, dan tentu saja membuat Stevens sangat sibuk. Namun, sayangnya sesuatu yang amat pribadi dan penting bagi Stevens harus memilih malam itu untuk terjadi. Dapat diduga, Stevens si kepala pelayan sempurna terpaksa harus mengedepankan tanggung jawabnya dan mengorbankan kepentingannya sendiri.

Jadi begitulah…sementara Stevens berkendara melewati daerah pedesaan dan kota-kota kecil yang menyuguhkan pemandangan indah dan keramahan penduduknya, ingatan si kepala pelayan pun melayang pada momen-momen kecil sepanjang perjalanan karirnya. Kalau kita amati, sepertinya kehadiran Miss Kenton yang menjadi koleganya, menempati porsi terbesar dalam nostalgia Stevens. Dan kini, saat pertemuan dengan Miss Kenton makin mendekat, kenangan-kenangan itu pun seolah bercerita pada kita tentang perasaan Miss Kenton yang sebenarnya pada Stevens. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?

The Remains of The Day ini ditulis dengan gaya buku harian. Seolah-olah Stevens menumpahkan seluruh kenangan dan pemikirannya lewat buku harian ini. Ishiguro dengan piawainya membuatku seolah-olah mengenal Stevens dengan baik selama bertahun-tahun. Seolah-olah aku adalah temannya, dengan siapa ia berbagi pandangan hidup, perasaan dan pikirannya. Meski beralur lambat, aku tetap setia membaca “buku harian” ini. Bravo Ishiguro, empat bintang untukmu!

Judul: The Remains of The Day
Judul terjemahan: Puing-Puing Kehidupan
Penulis: Kazuo Ishiguro
Penerjemah: Femmy Syahrani
Penerbit: Hikmah
Terbit: Januari 2007
Tebal: 336 hlm

4 comments:

  1. hyaaa...pengen segera bongkar lemari cari ni buku --"

    ReplyDelete
  2. kayaknya saya suka buku ini deh. di negara - negara kerajaan seperti inggris, martabat seseorang memang sangat penting untuk dijaga. eh, tapi pesan yang mau disampaikan lewat buku ini apa mbak?

    ReplyDelete
  3. @Review Buku: Pesannya sih udah terselip di paragraf 1 reviewku, mengajak kita menyadari apa yg paling bermakna dalam hidup kita: karir dan martabat, atau cinta dan keluarga?

    ReplyDelete