Wednesday, December 28, 2011

Cecilia & Malaikat Ariel

“Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.” ~1 Kor 13:12.

“For now we see through a glass, darkly; but then face to face: now I know in part; but then shall I know even as also I am known.” (teks dari Bible versi King James).

Through A Glass, Darkly adalah judul asli buku karya Jostein Gaarder ini. Judul itu diambil dari cuplikan teks Alkitab yang kukutip di atas. Lalu apa hubungannya dengan Cecilia & Malaikat Ariel yang menjadi judul versi terjemahannya ini? Itu karena memang inti buku ini terletak pada dialog antara tokoh Cecilia dan Malaikat Ariel. Itu sebabnya juga, sub judul buku ini adalah Kisah Indah Dialog Surga dan Bumi.

Cecilia adalah seorang anak kecil yang harus terbaring sakit pada suatu malam Natal. Saat itu ia sudah semakin lemah, dan keluarganya sadar bahwa sewaktu-waktu ia akan tiada. Mereka--ayah, ibu, kakek, nenek dan sang adik Lars, berusaha memberikan perhatian dengan menyediakan apa yang diinginkan Cecilia. Mereka memberinya kado Natal papan ski dan toboggan (kereta luncur), meski mereka tak yakin Cecilia akan bisa menggunakannya di musim salju itu. Meski Cecilia harus berbaring di kamarnya di lantai atas, mereka membuka pintu kamarnya sehingga Cecilia tetap bisa merasakan suasana persiapan Natal yang terjadi di bawah. Aroma kulit pohon Natal yang masih segar, suara denting piano lagu-lagu Natal, semuanya diserap Cecilia sehingga ia turut merasakan Natal. Bahkan ketika tiba waktunya membuka kado-kado, ia khusus dibopong turun ke ruang keluarga, dan bergembira bersama yang lain membuka kado.

Namun, momen-momen terindah Cecilia di saat Natal itu, justru datang dari sesosok malaikat bernama Ariel. Malaikat Ariel suka datang ke kamar Cecilia di malam hari, ketika seluruh keluarga tertidur nyenyak. Mereka mengobrol lama, bahkan kadang-kadang mereka berdua berpetualang dengan ski dan toboggan baru Cecilia di hamparan salju di luar rumah. Apa saja yang mereka obrolkan? Tentu saja tentang perbedaan antara manusia yang fana dan malaikat yang ilahiah; antara bumi dan surga. Yah..sebenarnya itulah keseluruhan kisah dalam buku ini. Kalau begitu, di mana letak keistimewaannya? Kekuatan buku ini justru terletak dalam dialog Cecilia dan Malaikat Ariel.

Dalam dialog ini, Jostein Gaarder menumbuhkan kesadaran kita akan hakikat manusia. Ketika menciptakan manusia, Tuhan telah menganugerahkan sekeping diriNya kepada manusia. Sehingga, meski manusia terdiri dari darah dan daging seperti hewan yang fana, manusia juga memiliki sepercik keilahian dalam dirinya, seperti yang telah dianugerahkan pada Adam & Hawa. Seperti dikatakan Ariel:

"Kau adalah hewan dengan ruh malaikat, Cecilia. Itu berarti, kau dianugerahi hal-hal terbaik dari dunia." ~hlm. 50.

"Bukan hanya Adam dan Hawa yang saat itu tercipta. Saat itu, sebagian kecil dirimu ikut tercipta. Kemudian, suatu hari, mendadak tiba giliranmu untuk melihat apa yang telah Tuhan ciptakan. Kau diguncangkan keluar dari lengan jas Tuhan dan kau temukan dirimu menghirup udara, benar-benar hidup." ~hlm. 42. Entah mengapa, aku paling suka dengan bagian ini!

Sayangnya, apa yang dimiliki manusia ketika lahir dan masih kanak-kanak itu segera memudar dengan berjalannya waktu, dan dengan segala ilmu pengetahuan yang dijejalkan dalam otak manusia, sama seperti yang terjadi dengan Adam & Hawa yang menyebabkan mereka diusir dari Taman Firdaus.

Meski memiliki sepercik keilahian, Cecilia tak mampu memahami atau sulit mencerna apa yang terjadi di surga. Itu karena manusia memang 'melihat melalui cermin' sehingga mereka tak mendapat gambaran yang sempurna. Gambaran sempurna itu akan mereka dapatkan, ketika mereka meninggalkan kefanaan dunia dan berpindah ke surga. Seperti yang dijanjikan Tuhan lewat kata-kata St. Paulus dalam ayat Alkitab di atas.

Selain itu, lewat Malaikat Ariel, Gaarder mencoba mengingatkan kita akan betapa rapuh dan tidak nyatanya hidup manusia di dunia ini. Kita sering merasa hidup kita lah yang paling nyata, sedangkan 'kehidupan lain' adalah sesuatu yang di awang-awang, belum tentu ada. Padahal menurut Ariel, justru manusia lah yang tak nyata. "Bagi kami, kalian adalah hantu, Cecilia, bukan sebaliknya. Kalian mendadak muncul, dan setiap kali seorang bayi diletakkan di dalam perut ibunya, itu adalah suatu keajaiban. Tapi, secepat itu pula kalian pergi. Seolah-olah Tuhan bermain gelembung sabun dengan kalian." ~hlm. 77.

Sepercik keilahian yang kita miliki itu mewujud, misalnya saat kita bermimpi atau berimajinasi. Karena saat itu, menurut Malaikat Ariel, kita sama saja dengan malaikat. Malaikat tak memiliki indra penglihatan; penglihatan itu datang dari pikiran. Yang lebih menarik lagi--menurut Ariel, Tuhan menciptakan mata bagi manusia agar ia dapat berbagi proses penciptaan dengan manusia. "Setiap mata adalah sekeping kecil misteri Ilahi. Mata manusia adalah cermin tempat sisi kreatif dari kesadaran Tuhan bertemu muka dengan diri-Nya sendiri dalam ranah ciptaan." ~hlm 99.

Pada akhirnya Malaikat Ariel berhasil memberikan pengertian pada Cecilia, sekaligus kepada kita, betapa berharganya diri manusia di mata Tuhan. Itulah keagungan penciptaan Tuhan yang merupakan misteri Ilahi. Kita tercipta sebagai makhluk fana, namun sekaligus memiliki sepercik keilahian. Kita tercipta sebagai citra Allah, namun sekaligus memiliki kelemahan. Mengapa begitu? Kita takkan pernah sanggup memahaminya, karena saat kita masih hidup di dunia, kita hanya melihat melalui cermin gambaran yang samar-samar. Yang jelas, kita menggenggam janji Tuhan, bahwa kelak kita akan melihat keseluruhan gambaran itu ketika kita sampai di surga.

Sekali lagi, Jostein Gaarder berhasil memukauku dengan sebuah kisah berbingkai suasana Natal yang teramat sederhana, namun teramat dalam maknanya. Mungkin memang begitulah seharusnya kita menjalani hidup kita sendiri. Alih-alih meruwetkan diri dengan segala macam hal duniawi, seharusnya kita menjalani hidup dengan cara yang sederhana. Kita pernah menjadi kanak-kanak, jangan biarkan sisi kekanakan kita menghilang dan membuat kita menjadi skeptis pada semua yang ilahiah. Jangan sampai kita menjadi sok pintar seperti Adam & Hawa, lalu dibuang dari surga selamanya! Kita harus berterima kasih pada Jostein Gaarder yang telah mengingatkan kita lewat kisah sederhana nan manis ini.

Lima bintang untuk Cecilia, Malaikat Ariel, dan Jostein Gaarder. Saat ia datang ke Indonesia beberapa waktu lalu, ia mengakui bahwa Through A Glass, Darkly merupakan salah satu karyanya yang paling ia sukai.

Judul: Cecilia & Malaikat Ariel
Judul asli: Through A Glass, Darkly
Penulis: Jostein Gaarder
Penerjemah: Andityas Prabantoro
Penerbit: Mizan
Terbit: Desember 2008
Tebal: 210 hlm

Note: Review ini terbit sesaat setelah Natal, dan ini merupakan proyek baca bareng BBI (Blogger Buku Indonesia). Maka aku sekaligus ingin mengucapkan: SELAMAT HARI NATAL 2011 bagi semua yang merayakannya. Semoga dengan kesadaran baru lewat buku ini, hati kita menjadi tempat yang layak bagi Yesus mungil yang lahir di hari Natal ini!

5 comments:

  1. Wah, jadinya 5 bintang?

    eh note nya perlu diedit tuh mbak,kan postingnya abis natal :)

    Aku paling suka bagian mata itu.hehehe..

    Ohya, satu lagi yang aku dapet, menurutku maksud dari "melihat melalui cermin" itu juga artinya dalam setiap hal yang kita lihat (benda materiil) itu terpantul kemuliaan Tuhan, jadinya segala yang kita lihat itu samar2, karena sepotong-demi sepotong aja. menurutmu gimana mbak?

    ReplyDelete
  2. Aduh bagusss ... *segera ke Mizan corner moga masih 30%

    ReplyDelete
  3. waw..another masterpiece dari gaarder ya. aku blm baca nih buku ini. terjemahannya bagus mba? karena sepertinya kisahnya agak "berat"...

    ReplyDelete
  4. @balonbiru: mmm...bisa juga dibilang begitu sih.

    @dion: Sampe akhir tahun kok, ayooo... *komporin dion*

    @astrid: gak berat kok astrid, cuma kudu pelan2 bacanya. Menurutku ini novel filosofis Gaarder yg paling ringan yg aku baca. memang aku blm baca semua sih, tp dari review2 yg kubaca kayaknya ini yg paling ringan

    ReplyDelete
  5. Kyaaaa.. Aku bacanya ketinggalan.. Baru selesai tadi pagi, postingnya besok aja ya :)

    ReplyDelete