Showing posts with label Mizan. Show all posts
Showing posts with label Mizan. Show all posts

Wednesday, December 28, 2011

Cecilia & Malaikat Ariel

“Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.” ~1 Kor 13:12.

“For now we see through a glass, darkly; but then face to face: now I know in part; but then shall I know even as also I am known.” (teks dari Bible versi King James).

Through A Glass, Darkly adalah judul asli buku karya Jostein Gaarder ini. Judul itu diambil dari cuplikan teks Alkitab yang kukutip di atas. Lalu apa hubungannya dengan Cecilia & Malaikat Ariel yang menjadi judul versi terjemahannya ini? Itu karena memang inti buku ini terletak pada dialog antara tokoh Cecilia dan Malaikat Ariel. Itu sebabnya juga, sub judul buku ini adalah Kisah Indah Dialog Surga dan Bumi.

Cecilia adalah seorang anak kecil yang harus terbaring sakit pada suatu malam Natal. Saat itu ia sudah semakin lemah, dan keluarganya sadar bahwa sewaktu-waktu ia akan tiada. Mereka--ayah, ibu, kakek, nenek dan sang adik Lars, berusaha memberikan perhatian dengan menyediakan apa yang diinginkan Cecilia. Mereka memberinya kado Natal papan ski dan toboggan (kereta luncur), meski mereka tak yakin Cecilia akan bisa menggunakannya di musim salju itu. Meski Cecilia harus berbaring di kamarnya di lantai atas, mereka membuka pintu kamarnya sehingga Cecilia tetap bisa merasakan suasana persiapan Natal yang terjadi di bawah. Aroma kulit pohon Natal yang masih segar, suara denting piano lagu-lagu Natal, semuanya diserap Cecilia sehingga ia turut merasakan Natal. Bahkan ketika tiba waktunya membuka kado-kado, ia khusus dibopong turun ke ruang keluarga, dan bergembira bersama yang lain membuka kado.

Namun, momen-momen terindah Cecilia di saat Natal itu, justru datang dari sesosok malaikat bernama Ariel. Malaikat Ariel suka datang ke kamar Cecilia di malam hari, ketika seluruh keluarga tertidur nyenyak. Mereka mengobrol lama, bahkan kadang-kadang mereka berdua berpetualang dengan ski dan toboggan baru Cecilia di hamparan salju di luar rumah. Apa saja yang mereka obrolkan? Tentu saja tentang perbedaan antara manusia yang fana dan malaikat yang ilahiah; antara bumi dan surga. Yah..sebenarnya itulah keseluruhan kisah dalam buku ini. Kalau begitu, di mana letak keistimewaannya? Kekuatan buku ini justru terletak dalam dialog Cecilia dan Malaikat Ariel.

Dalam dialog ini, Jostein Gaarder menumbuhkan kesadaran kita akan hakikat manusia. Ketika menciptakan manusia, Tuhan telah menganugerahkan sekeping diriNya kepada manusia. Sehingga, meski manusia terdiri dari darah dan daging seperti hewan yang fana, manusia juga memiliki sepercik keilahian dalam dirinya, seperti yang telah dianugerahkan pada Adam & Hawa. Seperti dikatakan Ariel:

"Kau adalah hewan dengan ruh malaikat, Cecilia. Itu berarti, kau dianugerahi hal-hal terbaik dari dunia." ~hlm. 50.

"Bukan hanya Adam dan Hawa yang saat itu tercipta. Saat itu, sebagian kecil dirimu ikut tercipta. Kemudian, suatu hari, mendadak tiba giliranmu untuk melihat apa yang telah Tuhan ciptakan. Kau diguncangkan keluar dari lengan jas Tuhan dan kau temukan dirimu menghirup udara, benar-benar hidup." ~hlm. 42. Entah mengapa, aku paling suka dengan bagian ini!

Sayangnya, apa yang dimiliki manusia ketika lahir dan masih kanak-kanak itu segera memudar dengan berjalannya waktu, dan dengan segala ilmu pengetahuan yang dijejalkan dalam otak manusia, sama seperti yang terjadi dengan Adam & Hawa yang menyebabkan mereka diusir dari Taman Firdaus.

Meski memiliki sepercik keilahian, Cecilia tak mampu memahami atau sulit mencerna apa yang terjadi di surga. Itu karena manusia memang 'melihat melalui cermin' sehingga mereka tak mendapat gambaran yang sempurna. Gambaran sempurna itu akan mereka dapatkan, ketika mereka meninggalkan kefanaan dunia dan berpindah ke surga. Seperti yang dijanjikan Tuhan lewat kata-kata St. Paulus dalam ayat Alkitab di atas.

Selain itu, lewat Malaikat Ariel, Gaarder mencoba mengingatkan kita akan betapa rapuh dan tidak nyatanya hidup manusia di dunia ini. Kita sering merasa hidup kita lah yang paling nyata, sedangkan 'kehidupan lain' adalah sesuatu yang di awang-awang, belum tentu ada. Padahal menurut Ariel, justru manusia lah yang tak nyata. "Bagi kami, kalian adalah hantu, Cecilia, bukan sebaliknya. Kalian mendadak muncul, dan setiap kali seorang bayi diletakkan di dalam perut ibunya, itu adalah suatu keajaiban. Tapi, secepat itu pula kalian pergi. Seolah-olah Tuhan bermain gelembung sabun dengan kalian." ~hlm. 77.

Sepercik keilahian yang kita miliki itu mewujud, misalnya saat kita bermimpi atau berimajinasi. Karena saat itu, menurut Malaikat Ariel, kita sama saja dengan malaikat. Malaikat tak memiliki indra penglihatan; penglihatan itu datang dari pikiran. Yang lebih menarik lagi--menurut Ariel, Tuhan menciptakan mata bagi manusia agar ia dapat berbagi proses penciptaan dengan manusia. "Setiap mata adalah sekeping kecil misteri Ilahi. Mata manusia adalah cermin tempat sisi kreatif dari kesadaran Tuhan bertemu muka dengan diri-Nya sendiri dalam ranah ciptaan." ~hlm 99.

Pada akhirnya Malaikat Ariel berhasil memberikan pengertian pada Cecilia, sekaligus kepada kita, betapa berharganya diri manusia di mata Tuhan. Itulah keagungan penciptaan Tuhan yang merupakan misteri Ilahi. Kita tercipta sebagai makhluk fana, namun sekaligus memiliki sepercik keilahian. Kita tercipta sebagai citra Allah, namun sekaligus memiliki kelemahan. Mengapa begitu? Kita takkan pernah sanggup memahaminya, karena saat kita masih hidup di dunia, kita hanya melihat melalui cermin gambaran yang samar-samar. Yang jelas, kita menggenggam janji Tuhan, bahwa kelak kita akan melihat keseluruhan gambaran itu ketika kita sampai di surga.

Sekali lagi, Jostein Gaarder berhasil memukauku dengan sebuah kisah berbingkai suasana Natal yang teramat sederhana, namun teramat dalam maknanya. Mungkin memang begitulah seharusnya kita menjalani hidup kita sendiri. Alih-alih meruwetkan diri dengan segala macam hal duniawi, seharusnya kita menjalani hidup dengan cara yang sederhana. Kita pernah menjadi kanak-kanak, jangan biarkan sisi kekanakan kita menghilang dan membuat kita menjadi skeptis pada semua yang ilahiah. Jangan sampai kita menjadi sok pintar seperti Adam & Hawa, lalu dibuang dari surga selamanya! Kita harus berterima kasih pada Jostein Gaarder yang telah mengingatkan kita lewat kisah sederhana nan manis ini.

Lima bintang untuk Cecilia, Malaikat Ariel, dan Jostein Gaarder. Saat ia datang ke Indonesia beberapa waktu lalu, ia mengakui bahwa Through A Glass, Darkly merupakan salah satu karyanya yang paling ia sukai.

Judul: Cecilia & Malaikat Ariel
Judul asli: Through A Glass, Darkly
Penulis: Jostein Gaarder
Penerjemah: Andityas Prabantoro
Penerbit: Mizan
Terbit: Desember 2008
Tebal: 210 hlm

Note: Review ini terbit sesaat setelah Natal, dan ini merupakan proyek baca bareng BBI (Blogger Buku Indonesia). Maka aku sekaligus ingin mengucapkan: SELAMAT HARI NATAL 2011 bagi semua yang merayakannya. Semoga dengan kesadaran baru lewat buku ini, hati kita menjadi tempat yang layak bagi Yesus mungil yang lahir di hari Natal ini!

Saturday, August 20, 2011

Maya: Misteri Dunia Dan Cinta

"Diperlukan waktu bermiliar-miliar tahun untuk menciptakan seorang manusia. Dan diperlukan hanya beberapa detik untuk mati."


Di kepulauan Fiji, di sebuah resort di pulau Taveuni, secara tak sengaja bertemulah beberapa turis. Frank si ahli biologi evolusioner, John Spooke si penulis, dan pasangan eksentrik José dan Ana, wartawan TV dan penari Flamenco. Buku ini dibuka dengan narasi John, yang mengisahkan percakapannya dengan Frank yang berpisah dari istrinya Vera, setelah anak mereka Sonja meninggal akibat kecelakaan. Frank menulis surat panjang kepada Vera mengenai pengalamannya di pulau Taveuni itu, dan John akhirnya mendapat salinan surat itu lantas menuliskan kembali isinya bagi kita.


Fiji, pulau yang eksotis dengan flora dan fauna langkanya, mungkin tempat yang paling ideal untuk membicarakan evolusi. Tanpa sengaja Frank mendengar José dan Ana mendeklamasikan potongan puisi-puisi aneh tentang penciptaan manusia dan keberadaan alam semesta. Dengan sendirinya, Frank pun mulai merenungkan keberadaan manusia di dunia ini, yang menurut ilmu biologi adalah vertebrata yang berasal dari satu sel dan telah berevolusi selama milyaran tahun sehingga menjadi manusia sekarang ini. Frank juga merenungkan lahirnya alam semesta lewat Big Bang, dan ketakutannya akan kematian, akan kepunahan manusia yang tak dapat dihindari.


Bukanlah kebetulan bahwa seekor tokek besar mengganggu Frank di kamar tidurnya selama menginap di resort. Si tokek bernama Gordon, yang mungkin saja adalah nenek moyang spesies manusia, turut mengusik keyakinan Frank mengenai kehidupan semu primata yang bernama manusia. Selain itu dalam suatu makan malam bersama di resort itu, entah bagaimana, perdebatan tentang evolusi dan eksistensi manusia juga mengalir di antara para tamu dalam suatu permainan. Tampaknya masing-masing individu berperan dalam memberikan pemikiran-pemikiran filosofis kepada Frank, baik secara keilmuan maupun secara mistis, ditambah dengan puisi-puisi José dan Ana tentang Joker dan para peri. Apa makna semua ini?


Pulang dari Fiji, Frank pergi ke Spanyol untuk menghadiri konferensi. Di sana ia bertemu dengan Vera istrinya yang telah berpisah dengannya. Di sini akan jelaslah alasan sesungguhnya perpisahan mereka. Namun, bukan Vera saja yang ditemui Frank di Spanyol. José dan Ana tanpa sengaja bertemu dengannya. Di Spanyol inilah, Frank akan teringat mengapa sejak awal berjumpa Ana, ia merasa pernah melihat wajah wanita itu. Semuanya ternyata berkaitan dengan pelukis Fransisco Goya dan lukisannya yang berjudul Maja (La Maja Desnuda dan La Maja Vestida), ehm…dan mungkin juga dengan kemunculan kurcaci tua yang suka muncul begitu saja (Joker-kah itu?).


Frank lalu terbawa pada kisah Ana yang misterius, tepatnya pada kisah nenek moyang Ana yang berasal dari suku gipsi ini. Di sini anda yang pernah membaca karya Jostein Gaarder lainnya, Misteri Soliter, akan langsung mengenal si Joker yang misterius dari pulau di kisah Misteri Soliter. Joker yang sama kini bukan saja tak pernah menjadi tua, malahan mampu melintasi waktu dan masuk ke dalam kisah Ana. Terlalu fantastis? Mungkin anda akan berpikir begitu waktu tiba di bagian ini. Namun menurutku, di sini Gaarder membawa kita untuk menyadari bahwa seluruh keberadaan alam semesta dan hidup manusia sendiri selalu memiliki makna. Apa yang terjadi di masa lampau mempengaruhi keadaan masa kini, dan apa yang terjadi masa kini mempengaruhi masa depan.


"Tepuk tangan bagi Big Bang baru terdengar lima belas miliar tahun setelah ledakan itu terjadi". Baru pada saat inilah kita menyadari arti penting terjadinya Big Bang yang (kita percayai) merupakan awal lahirnya alam semesta, dari ketiadaan lalu lahirlah ruang dan waktu. Di sisi lain, sesuatu yang terjadi di sini pada saat ini hanya mendapatkan arti dari kejadian-kejadian di masa depan. Ini berarti bahwa seluruh alam semesta maupun hidup manusia bukanlah produk samping yang terjadi secara tidak sengaja. Maka perdebatan ayam dan telur tak lagi signifikan, karena keduanya berhubungan sangat erat.


"Kita tidak tahu ke mana kita akan pergi. Kita hanya tahu bahwa kita telah memulai sebuah perjalanan panjang. Baru setelah tiba di akhir perjalanan, kita akan tahu mengapa kita melakukan perjalanan besar itu, walaupun perjalanan itu mungkin telah berlangsung selama banyak generasi. Maka, kita selalu menemukan diri kita dalam tahap embrio. Banyak hal yang tidak kita ketahui artinya saat ini, mungkin akan tampak jelas tujuannya di perlintasan jalan berikutnya." ~hlm. 347.


Gaarder juga mengajak kita merenungkan bagaimana kita mengisi kehidupan kita. Ada banyak orang yang seolah hidup dalam ilusi (ingat para kurcaci yang berasal dari kartu poker di Misteri Soliter?), hanya menjalani hidup begitu saja, terpaku pada hal-hal duniawi yang semu, tanpa menyadari makna hidupnya (Joker adalah contoh makhluk yang berbeda, yang keluar dari ilusi).


Namun di sisi lain, jangan pula kita sibuk mempertanyakan asal usul alam semesta dan manusia dengan telaah ilmu pengetahuan yang canggih, sehingga akhirnya saat semua yang mampu diungkap telah terungkap, manusia baru menyadari bahwa hidup ini terlalu singkat. Sama seperti yang dialami Frank si ahli biologi evolusioner. Padahal, seberapa canggihnya ilmu pengetahuan pun, alam semesta dan penciptaan akan selamanya menjadi misteri bagi manusia.


"Karena kita adalah teka-teki yang tak teterka siapapun. Kita adalah dongeng yang terperangkap dalam khayalannya sendiri. Kita adalah apa yang terus berjalan tanpa pernah tiba pada pengertian." ~hlm. 437


Jadi, alih-alih bersibuk-sibuk diri berusaha menemukan misteri kehidupan, alangkah baiknya kalau kita menggunakan waktu yang singkat ini untuk memaknai hidup kita sendiri. Ingatlah selalu bahwa diperlukan hanya beberapa detik untuk mati !


Masih ada banyak kesadaran baru yang akan anda dapatkan dalam buku ini, yang akan lebih menarik bila anda temukan sendiri saat membacanya.


Di akhir kisah ini John sang narator akan menguak sedikit demi sedikit skenario yang telah ia persiapkan bagi Frank dan Vera. Begitu juga kemisteriusan José dan Ana dengan puisi-puisinya serta hubungannya dengan lukisan di Prado yang berjudul Maja, akan sedikit terkuak di bagian akhir kisah ini, meski tak seluruhnya menjadi jelas.


Bagi anda yang belum pernah membaca karya Jostein Gaarder, atau yang sudah pernah namun tak mampu mencerna isinya, kusarankan untuk membacanya dengan kritis. Maksudnya, jangan menganggap kisah Maya ini kisah misteri (meski ada banyak hal yang misterius), sehingga di akhir cerita anda mengharapkan sebuah kesimpulan. Misteri yang ada di sini bukan semata-mata sebuah cerita, melainkan cara Gaarder memberikan contoh atau analogi bagi pemikiran filosofis yang ingin ia jelaskan kepada kita. Ketika ada hal-hal aneh di sepanjang kisah, teruskan saja membaca sambil berpikir, apa yang ingin diungkapkan Gaarder?


Lalu perhatikan juga penjelasan-penjelasan filosofis yang ia berikan. Biasanya dari kisah fiksi dan filosofisnya, anda lambat laun akan menemukan sedikit kesamaan. Dari sana anda dapat mengolah kembali pemikiran anda hingga anda tiba pada wawasan yang ingin Gaarder buka bagi anda.


Maya: Misteri Dunia dan Cinta ini kubaca dan kureview dalam memeriahkan GaarderFest yang diadakan oleh Bukunya.com, dalam rangka memeriahkan ulang tahun Jostein Gaarder yang jatuh pada bulan Agustus ini. Meski ada begitu banyak bagian yang masih belum mampu kupahami, aku memberikan empat bintang untuk buku ini. Seperti biasa, Jostein Gaarder telah menghadirkan sesuatu yang berbeda dalam khasanah literatur kita. Buku-bukunya mampu mengubah cara pandang kita akan kehidupan ini, sekaligus termasuk buku-buku yang hanya bila telah dibaca berulang kali, maka kita akan makin memahami maknanya. Bravo Jostein Gaarder! And happy birthday to you...


Judul: Maya: Misteri Dunia dan Cinta
Penulis: Jostein Gaarder
Penerbit: Mizan
Penerjemah: Winny Prasetyowati
Terbit: Januari 2008
Tebal: 458 hlm

Friday, December 31, 2010

Dunia Sophie

Wow!...wow!.. Dua kata itulah yang tampaknya paling tepat untuk mendeskripsikan buku karya Jostein Gaarder ini. Sudah sejak lama aku mencari-cari buku ini, tapi ternyata sulit mendapatkannya. Lalu aku mendengar kabar bahwa penerbit Mizan telah menerbitkannya sebagai Gold Edition. Maksudnya, dengan cover apik dengan efek kilau keemasan serta jenis kertas luks sehingga buku setebal 797 halaman ini layak dijadikan koleksi. Apalagi mengingat isinya yang begitu menakjubkan.

Dunia Sophie adalah pelajaran filsafat yang dikemas ke dalam semacam kisah misteri-fantasi. Kita harus berterima kasih pada Jostein Gaarder karena telah memberi kita cara yang asyik dan tidak membosankan untuk belajar filsafat. Alih-alih menggunakan kalimat dan bahasa yang sulit ditangkap bagi awam seperti kita, Gaarder mendeskripsikan pemikiran filsafat dari mulai ribuan tahun lalu hingga masa kini ke dalam bahasa yang mudah dicerna dan disertai contoh-contoh yang kadang lucu, meski tetap membantu kita memahami suatu pemikiran dengan lebih baik.

Sophie adalah cewek berusia 14 tahun yang tinggal bersama ibunya. Menjelang ulangtahunnya yang ke-limabelas, di suatu siang sepulang sekolah, ia menemukan sebuah surat misterius di kotak surat rumahnya. Surat itu ditujukan pada dirinya. Isinya hanya 2 kata disertai tanda tanya: Siapakah kamu? Amplop surat itu tak menunjukkan nama atau alamat pengirimnya, tak pula ada perangko. Belum sampai pada jawaban yang memuaskan, Sophie lalu menemukan sepucuk surat lainnya di kotak suratnya, yang tentu saja berasal dari si pengirim anonim yang sama. Kali ini pertanyaannya berbeda: Dari mana datangnya dunia?

Dan memang, manusia mulai belajar filsafat dengan kedua pertanyaan mendasar itu. Dua pertanyaan yang hanya terdiri dari beberapa kata, namun butuh 797 halaman untuk membawa kita kepada jawabannya. Apakah pertanyaan itu akhirnya terjawab? Kita harus melalui jalan yang panjang untuk mengetahuinya...

Seolah 2 pucuk surat itu masih belum cukup membngungkan Sophie, datang pula selembar kartu pos yang berperangko Norwegia dan bercap pos Batalyon PBB. Yang lebih aneh lagi, kartu pos itu dialamatkan pada Hilde Moller Knag, d/a Sophie Admundsen. Alamat yang tercantum adalah alamat rumah Sophie. Tapi siapa Hilde yang berulang tahun hanya beda beberapa hari darinya itu? Lebih bingung lagi Sophie membaca isinya, yaitu ucapan selamat ulang tahun seorang ayah kepada putrinya yang bernama Hilde, dan si ayah meminta maaf pada Hilde karena harus mengirim kartu pos itu lewat Sophie. Apa maksud semuanya ini? Dalam sehari saja, hidup Sophie nampaknya akan berubah 180 derajat. Sophie yang dulunya seorang remaja yang ceria dan suka bermain bersama sahabatnya Joanna, kini jadi lebih tertarik untuk berpikir tentang asal usul dirinya dan dunia daripada main badminton.

Surat-surat misterius secara periodik berdatangan ke rumah Sophie. Kini amplopnya berukuran besar, dan isinya beberapa halaman ketikan. Judulnya: Pelajaran Filsafat. Maka kita semua bagaikan murid-murid yang bertemu dalam kelas filsafat bersama dengan Sophie, si gadis cerdas yang baru berusia 15 tahun itu. Filsafat bukanlah ilmu omong kosong yang hanya perlu bagi orang-orang kuper yang kerjanya berpikir. Filsafat membantu mata kita terbuka pada hal-hal yang paling hakiki: keberadaan kita di dalam dunia.

Sophie memiliki tempat persembunyian di antara sesemakan di taman depan rumahnya, dan disitulah ia menyembunyikan kaleng berisi semua materi pelajaran filsafatnya. Namun, meski bahan itu tersembunyi, Sophie tak mampu menyembunyikan sikap anehnya dan omongan seriusnya dari ibunya. Sophie kini bukan hanya seorang gadis lugu yang hanya menerima apapun yang dunia sediakan baginya, namun ia mulai mempertanyakan dunia itu sendiri.

Setelah itu "sang guru" misterius mulai menjabarkan asal-usul filsafat dari 600 ribu tahun sebelum Masehi. Seperti kita tahu, kebanyakan filsuf berasal dari Yunani. Sebelum filsafat murni lahir, keberadaan dunia sering dijelaskan dalam bentuk mitos keagamaan. Tak heran begitu banyak kisah tentang dewa-dewi di Yunani. Kemudian para filsuf mulai melepaskan diri dari agama, dan pemikirannya lebih didasarkan pada aspek ilmiah. Bagaimana tumbuhan dapat hidup? Dan pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Mereka sampai pada kesimpulan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini abadi dan kekal sifatnya. Karena tak mungkin ada ketiadaan sebelum semuanya ada. Mereka juga meyakini bahwa dunia ini terus mengalami perubahan hingga masa di mana mereka hidup.

Sementara itu banyak hal aneh terjadi. Misalnya saja, Sophie selalu saja menemukan benda-benda yang bukan miliknya terselip entah di bagian mana kamarnya. Ada selendang sutra merah.... Dari kartu-kartu pos ayah Hilde yang terus datang ke rumahnya, Sophie mengetahui bahwa barang-barang itu adlah milik Hilde. Tapi...bagaimana semua barang itu bisa sampai ke kamar Sophie??

Hal yang tak kalah misteriusnya adalah sang guru filsafat anonim Sophie. Siapakah dia? Setelah beberapa saat sang guru, yang belakangan ia tahu bernama Alberto Knox, mulai mengutus seekor anjing berbulu coklat bernama Hermes untuk menjadi kurir yang mengirim bahan pelajaran filsafat kepada Sophie. Lalu pada suatu saat Sophie memberanikan diri mengikuti Hermes untuk menemukan tempat tinggal Alberto. Ternyata ia tinggal di sebuah gubuk yang, belakangan Sophie tahu, disebut orang "gubuk mayor" karena dulunya pernah ditinggali seorang mayor.

Di sepanjang kisah ini anda akan dijejali, selain dengan penjabaran pemikiran para filsuf dunia, juga dengan misteri ke misteri yang makin misterius saja. Sophie bersama Alberto, yang akhirnya dapat bertatap muka langsung untuk pelajaran filsafat mereka, sering merasa terganggu dengan ulah ayah Hilde, seorang mayor yang bekerja di batalyon PBB di Norwegia. Sang mayor seolah-olah mengikuti mereka kemanapun mereka pergi dan seolah-olah dapat membaca pikiran mereka. Lalu datang juga tokoh-tokoh dongeng seperti Winnie The Pooh, Gadis Korek Api, Snow White dll mengganggu pelajaran mereka.

Lalu siapakah sebenarnya Alberto itu? Apakah Hilde itu benar-benar ada? Bagaimana si mayor bisa mengintervensi kehidupan Sophie dengan ulah-ulah konyol dan menjengkelkan itu? Anda akan mengetahui jawabannya di akhir kisah ini. Namun di sela-sela petualangan Sophie dan Alberto itu, anda juga akan menelusuri bagaimana para ahli filsafat membaktikan hidupnya untuk menjawab satu pertanyaan besar itu: Darimana asal dunia. Ada yang bilang dunia ini kekal dari awalnya, ada yang berpendapat semua berasal dari sebuah sel atom yang terus menerus membelah diri. Berbagai ide ditawarkan, berbagai argumen dikemukakan, namun pada akhrirnya tak seorang pun dapat mengetahui dengan pasti bagaimana dunia ini bisa terbentuk. Dan makin modern sains, manusia juga menemukan bahwa bumi tempat manusia hidup ini bagaikan setitik pasir di tengah samudra nan luas. Bayangkan saja, benda angkasa yang kita sebut matahari adalah pusat bagi planet-planet yang mengelilinginya, yang salah satunya adalah bumi yang kita cintai ini. Di galaksi Bima Sakti ini terdapat 400 milyar matahari seperti matahari kita! Padahal alam raya ini terdiri dari kira-kira seratus milyar galaksi. Bisakah anda membayangkan betapa luasnya alam raya ini? Dan lagi-lagi kita kembali pada satu pertanyaan besar itu? Darimana asalnya alam raya ini? Bagaimana awal mula terbentuknya? Siapa atau apa yang mengatur dan menggerakkan masing-masing elemennya yang total berjumlah...ahh..tak cukup digit di kalkulatorku untuk menghitungnya. Tak cukup otak kecilku untuk memikirkannya.

Semua itu akhirnya hanya menjelaskan satu hal: bahwa ada "sesuatu" yang jauh lebih besar daripada alam raya ini. Suatu kekuatan yang tak mampu kita terima di radar otak kita, namun pastilah ada karena hanya itu yang mampu menjelaskan semua pertanyaan para orang pintar itu. Sesuatu yang akhirnya kita sebut dengan "God" atau "Tuhan".

Ada seorang filsuf yang jadi favoritku (berkat Sophie, Alberto, sang mayor, oh..dan tentu saja Jostein Gaarder--aku yang buta filsafat malah bisa memiliki filsuf favorit!). Si filsuf adalah Soren Kirkegaard dari Denmark. Orangnya ganteng juga loh, at least dari sketsa yang ada di buku ini (tiap filsuf ada sketsa wajahnya loh, dan itu membuat buku ini semakin unik dan keren). Inilah kutipan pemikirannya: yang aku jadikan penutup review panjang ini,

Jika aku dapat menangkap Tuhan secara obyektif, aku tidak akan percaya; tapi justru karena aku tidak dapat melakukannya, maka aku harus percaya.

Jika aku ingin menjaga imanku,aku harus terus menerus berpegang teguh pada ketidakpastian obyektif, agar imanku tetap lestari.

Masuk akal juga, karena kalau kita manusia bisa memahami Tuhan, bagaimana kita akan bisa beriman sungguh-sungguh kepadaNya? Justru karena Ia tak dapat dipahami, maka kita hanya mampu bertekuk lutut di hadapanNya....

Judul: Dunia Sophie
Pengarang: Jostein Gaarder
Penerbit: Mizan