Thursday, June 23, 2011

[Bukan Hanya Tentang] Ning, Anak Wayang

Dear sahabat,

Pernahkah kau membaca buku yang, mungkin bagi orang lain biasa saja namun entah bagaimana, telah menyentuh dirimu? Mungkin karena kesamaan kisah hidup walau hanya sekelumit, atau mungkin karena semangat kisah itu menyentuh satu titik dalam jiwamu? Aku pernah. Dan itu ada di buku yang baru saja tamat kubaca ini: Ning, Anak Wayang. Maka ijinkan aku kali ini, keluar dari kebiasaanku, untuk membagikan sekelumit curahan hatiku yang tiba-tiba saja “terbangun” dari tidur selama aku membaca buku ini. Sekali lagi, mungkin kau tidak akan menyebut tulisan ini review buku, karena aku ingin menulis bagaimana buku ini telah mempengaruhiku…

Seperti halnya Ning, aku dulu juga suka banget menari. Bedanya, aku tidak dibesarkan dalam keluarga penari. Menari bagiku sekedar hobby dan sedikit bakat. Bermula dari menari ballet, akhirnya aku jatuh cinta pada tarian tradisional-modern ala Bagong Kussudiarjo, yang juga pernah digeluti Ning dalam buku ini. Tari Yapong dan Tari Roro Ngigel, keduanya pernah aku bawakan, seperti Ning juga.

Ini salah satu fotoku ketika menari Roro Ngigel pada perayaan HUT Kemerdekaan di RW-ku.


Menarik menemukan di buku ini, makna sebenarnya tarian Roro Ngidel ini.

“Tarian ini menggambarkan keceriaan seorang remaja untuk menarik perhatian seorang pria. Tarian ini juga digunakan sebagai acara hiburan, bentuk keramahan atau penyambutan atas kedatangan kerabat atau teman. Gerakannya ceria dan energik”—hlm 108.

Dulu waktu menari, aku hanya sekedar meliak-liukkan tubuh sesuai gerakan yang diajarkan dan mengikuti musik belaka, tanpa tahu apa arti tiap gerakan itu. Namun tetap saja, sama seperti Ning, Roro Ngigel merupakan salah satu tarian favoritku.

Dalam tarian tradisional maupun tradisional-modern, sering dipakai perangkat pembantu payung. Ternyata payung ini memiliki filosofi tertentu juga, seperti yang kukutip dari buku ini,

“Payung melambangkan pengayoman atau perlindungan. ..Saat menarikan tarian itu, aku memutar-mutarkan paying yang kubawa. Gerakan yang satu ini juga ada artinya, aku diharapkan bisa mengayomi sekelilingku.” –
hlm 25.

Dan ini foto ketika aku serius mengikuti ujian tari dengan membawakan tari Payung, sayangnya payungnya pas dalam keadaan tertutup...


Tentu saja waktu itu aku tak paham sama sekali tentang filosofi mengayomi itu. Namun setelah aku mengalami apa yang terjadi pada keluargaku saat ini, aku sadar bahwa sejak semula aku memang telah ditakdirkan untuk mengayomi keluargaku, sama seperti payung yang kumainkan saat aku menarikan tari Payung itu dulu…

Aku, seperti Ning juga, pernah turut serta dalam beberapa sendratari. Ada yang berbeda saat kau membawakan sebuah tarian, baik solo atau dalam kelompok, dengan menari dalam sebuah sendratari. Sendratari sama seperti film. Bedanya, kau membawakan peranmu dengan menari sambil berakting. Dalam sendratari kau juga akan merasakan indahnya kebersamaan dengan teman-temanmu. Bukan hanya dalam tarian itu saja (yang notabene hanya berlangsung beberapa menit), namun justru dalam seluruh prosesnya. Saat latihan berulang-ulang, saat harus capek menunggu giliran tampil padahal kau sudah ber-make-up dan terkungkung dalam kemben yang sesak selama berjam-jam, saat kau harus makan tapi tak mampu menelan apapun karena campuran gugup, takut make-up mu luntur, dan kemben yang ketat yang menyebabkanmu tak bisa duduk santai untuk makan... Sebuah sendratari merupakan sebuah cerita, namun proses untuk menampilkan sebuah sendratari itu sendiri merupakan cerita kehidupan yang akan mempengaruhi hidupmu kelak!

Fotoku dalam salah satu sendratari yang sempat ditayangkan di TVRI (coba tebak yang mana aku!)


Membayangkan kehidupan sehari-hari Ning yang dibesarkan di kampung seniman dalam keluarga dan lingkungan penari, mengingatkanku pada pengalaman saat aku ikut sanggar tari-ku “nyantrik (=berguru)” di Padepokan Bagong Kussudiarjo di Yogya. Saat itu aku masih duduk di bangku SMP. Ada 4 orang murid yang dipilih untuk “kulakan” tari di padepokan itu, dalam artian belajar tari-tarian baru untuk nantinya diajarkan di sanggar. Sebuah kehormatan bagiku yang saat itu merupakan murid paling yunior (dalam hal pengalaman menari) untuk menghabiskan beberapa hari di padepokan. Satu hal yang kurasakan, kedamaian. Ya, baru saat itulah aku menyadari bahwa menari itu bukan semata urusan gerak tubuh, tapi lebih pada olah jiwa. Ternyata dengan menari aku merasakan diriku lepas bebas tanpa beban, ketika seluruh energiku tercurah mengalir lewat tiap gerak tari. Semua yang ada dalam hatiku rasanya bisa kukeluarkan ketika menari. Setelah selesai, badan memang lelah, namun hati dan jiwa terasa segar dan ringan. Aku juga suka sekali mendengarkan alunan gamelan di tengah sunyinya suasana pedesaan. Sulit untuk menjelaskan di sini perasaan yang sesungguhnya. Yang jelas, aku amat terpesona ketika berada di padepokan itu. Aku bertemu dengan para seniman yang ramah dan rendah hati, apa adanya, dan memiliki penjiwaan penuh pada seni yang digelutinya.

Ini fotoku ketika menari Tari Merak, tarian ini aku pelajari secara kilat di Padepokan, dan setelah itu aku sempat dipercaya untuk mengajarkannya pada murid-murid di sanggar (bangganya…!)


Tak terasa waktu berlalu. Saat aku kembali ke Surabaya, aku sempat mengutarakan keinginanku untuk menjadi penari kepada orang tuaku. Sebenarnya aku kurang suka sekolah, karena aku merasa terkungkung pada banyak aturan. Aku juga merasa hanya otakku yang dipaksa bekerja, sementara jiwaku mencari-cari sesuatu pemenuhan yang tak aku dapatkan di sekolah. Aku ingin belajar di padepokan itu selepas SMA, dan menjadi seorang penari. Aku ingin bisa sebebas burung ketika aku menari. Tapi, seperti yang bisa kau duga, ortuku jelas menolak ide itu. “Apa yang kamu harapkan dengan menjadi seorang penari?”, terngiang selalu jawaban ortuku saat itu. “Tak ada masa depan, karena profesi menari itu tidak dihargai di negeri ini. Itu kenyataan yang harus bisa kamu terima! Kamu boleh menari untuk hobby, tapi jangan menjadikan menari mata pencarian, gak ada duitnya…”. Betapa sedih aku mendengarnya. Dan memang, seperti halnya yang dialami oleh Ning dan seniman lainnya saat itu, orang tak bisa hidup hanya dengan menari, apalagi menari tradisional. Maka aku terpaksa melepaskan harapanku, dan ketika kesibukan makin menumpuk, akhirnya aku pun terpaksa melepaskan angan-angan menjadi seorang penari…

Profesi penari sering disepelekan dan disalah artikan orang. Secara umum penari dianggap warga kelas dua, tidak bermartabat, dan bahkan ada yang men-cap penari wanita itu gampangan. Aku teringat rekan kerja papaku yang memiliki anak perempuan. Si anak ingin menari sepertiku. Ayahnya melarang. Alasannya? Takut dipandang buruk oleh orang lain karena pakaian penari (tradisional) yang memamerkan pundak (saat mengenakan kemben), katanya. Aku tak habis pikir dengan pemikiran semacam itu. Kalau kita menari dengan baik, bukankah yang akan diperhatikan orang tariannya, bukan kulit mulus pundaknya? Tapi begitulah…sulit menghapus stereotip-stereotip seperti itu. Salut pada Ning yang mampu melalui semua itu dengan tegar dan berani, karena toh ia tak melakukan kesalahan apapun. Biar saja orang memandang negatif, toh pada akhirnya Ning bisa membuktikan bahwa dengan menari dan menyanyi, ia mampu memiliki masa depan yang lebih baik.

Selain mengajakku mengenang masa lalu, iman Ning dan keluarganya yang kuat seakan ikut menguatkan aku, dalam kesulitan keluarga yang sedang kuhadapi saat ini. Meskipun kesulitanku mungkin tak sebesar keluarga Ning, namun keyakinannya yang teguh bahwa Tuhan pasti akan menolong dengan cara yang kita tak pernah tahu, benar-benar menguatkan aku juga. Saat kecil Ning harus berjalan puluhan kilometer hanya untuk bisa bersekolah. Ia harus menyalin ribuan kata dari buku teks pada waktu istirahat di sekolah hanya untuk bisa mengikuti pelajaran. Ia juga harus menahan lapar hanya untuk bisa menabung demi masa depan yang lebih baik. Dan semua itu ia jalani dengan sabar. Aku jauh lebih beruntung daripada Ning. Kesulitanku mungkin lebih tidak mendesak daripada Ning. Jadi, kalau Ning bisa terus berjalan untuk kemudian bangkit dari keterpurukan, bukanlah tak mungkin aku pun bisa melakukannya.

Menari merupakan masa lalu bagiku, dan tak pernah mempengaruhi lagi hidupku di masa selanjutnya. Namun, bukankah semua yang pernah terjadi dalam hidup kita memiliki andil entah bagaimana, untuk membentuk diri kita pada saat ini? Mungkin begitu pulalah, takdir membawaku kepada buku ini, yang membawaku pada kenangan masa lalu, sekaligus menguatkan diriku pada masa kini.

Ah...Ning, kau bukan hanya seorang anak wayang. Dan tulisan ini pun juga bukan hanya tentang sebuah buku…

Tertanda,
Pemilik Blog ini

Judul: Ning, Anak Wayang
Penulis: Niken & Anjar
Penerbit: Grasindo
Terbit: 2011
Tebal: 244

Friday, June 10, 2011

Manxmouse

Ketakutan itu adalah sesuatu yang tidak akan ada hingga seseorang membayangkannya. Kesimpulan itulah yang akan anda dapatkan setelah membaca buku ini, sama seperti yang akhirnya dipahami oleh Manxmouse, si tikus biru yang menjadi tokoh di kisah karya Paul Gallico ini.

Seekor tikus berwarna biru? Tentu saja tikus ini bukanlah sebuah spesies baru hasil mutasi gen atau semacamnya. Si tikus biru itu bermula dari seorang spesialis pembuat tikus keramik di Inggris yang tiba-tiba mempunyai inspirasi untuk membuat sebuah maha karya nan sempurna. Sayangnya, inspirasi itu timbul semata-mata karena ia sedang mabuk. Setelah semalam suntuk menyelesaikan maha karya itu, si pembuat keramik meletakkan tikus keramik kebanggaannya di atas nakas, lalu berangkat tidur. Kesadaran barulah datang keesokan harinya, ketika ia mendapati bahwa tikus ciptaannya jauh dari sempurna. Bahkan boleh dibilang itu bencana paling mengerikan bagi seorang pembuat keramik. Tikus itu tak mirip tikus, tubuhnya berwarna biru, kakinya serupa kaki kangguru, telinganya telinga kelinci, dan ekornya buntung. Lalu pada suatu pagi tikus keramik itu menghilang….

Bisa dikatakan hari kelahiran si tikus biru yang bernama Manxmouse ini adalah saat ia tiba-tiba berubah menjadi makhluk hidup, alih-alih pajangan di meja nakas pembuat keramik tua. Seperti layaknya makhluk manapun, Manxmouse memulai hidupnya bak selembar kertas putih. Ia belum melihat apapun, belum pernah berkomunikasi dengan siapapun, bahkan ia belum mengenal dirinya sendiri. Tentu saja, ia juga belum mengenal apa itu rasa takut. Sampai ia bertemu dengan sesosok Clutterbumph. Clutterbumph adalah sosok yang pekerjaannya membawa ketakutan dalam pikiran semua makhluk. Clutterbumph bisa menjadi sosok seperti apa saja, tergantung apa yang dibayangkan “korbannya”. Kalau anda membayangkan tengkorak itu menakutkan, maka Clutterbumph anda akan mewujud sebuah tengkorak. Di sini, anda yang pecinta Harry Potter mungkin akan teringat sesuatu? Kalau anda menjawab “Boggart”, anda benar! Mungkin saja J.K. Rowling mengambil ide Clutterbumph ini untuk menciptakan sosok Boggart di Harry Potter. Tak mengherankan juga, karena buku ini ternyata sempat menjadi buku favorit J.K. Rowling. Bahkan Rowling membubuhkan endorsement juga untuk buku ini.

Kembali pada kisah Clutterbumph. Nah, di malam hari nan sial itu, si Clutterbumph gagal membuat Manxmouse ketakutan. Alih-alih, Manxmouse malah bersimpati pada Clutterbumph yang menangis karena baru kali ini gagal menakut-nakuti makhluk hidup! Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, si Clutterbumph pun memberikan peringatan kepada Manxmouse untuk berhati-hati pada Kucing Manx. Saat itulah lembar bersih putih dalam hidup Manxmouse mulai diisi dengan kekhawatiran…

Selanjutnya, dalam pengembaraan Manxmouse, ia hampir selalu terlibat dalam petualangan yang kadang menyenangkan, namun tak jarang juga seru dan menegangkan. Dalam tiap petualangan, ia menemukan teman-teman baru. Yang pertama adalah seekor Billibird yang menunjukkan jalan pada Manxmouse, lalu Kapten Hawk si burung elang yang membawa Manxmouse pada penagalaman terbangannya yang pertama. Kemudian Manxmouse juga berkesempatan menolong Nellyphant si gajah bintang film yang suka gugup kalau melihat tikus. Berkat Manxmouse, tikus yang tidak berpembawaan seperti tikus, Nelly menemukan kembali keberaniannya. Burra Khan, seekor harimau sirkus adalah juga salah satu yang menerima kebaikan Manxmouse untuk mengembalikannya dengan selamat ke kandang sirkusnya. Begitulah, di setiap perhentian, ia menemukan kehangatan persahabatan dari teman-teman baru. Namun di sisi lain, ia juga mulai memahami banyak hal, termasuk juga tentang musuh bebuyutan yang, menurut teman-temannya, harus diwaspadai, dikhawatirkan dan ditakuti, bahkan tercantum dalam ramalan Hari Akhir-nya: Kucing Manx.

Hingga pada suatu hari, ketika takdir membawa perjalanan Manxmouse ke pulau Man, maka akhirnya Manxmouse pun bertemu dengan Kucing Manx. Apakah yang akan terjadi? Akankah Manxmouse menyerah pada takdirnya dan menjadi milik Kucing Manx? Akankah Kucing Manx menyantap Manxmouse dalam sebuah pertarungan yang tak sepadan? Di saat itulah, Manxmouse harus memilih antara selamanya menjadi penakut, atau memerangi rasa takut itu sendiri dengan menjalani hal yang telah membuatnya ketakutan selama ini.

Kisah Manxmouse ini merupakan kisah yang unik. Cukup sulit bagiku untuk menentukan, masuk ke dalam genre apakah buku ini. Fabel? Mungkin saja, namun dalam kisah ini ada juga tokoh-tokoh manusia yang mengambil peran cukup penting dalam petualangan Manxmouse. Contohnya anak perempuan bernama Wendy H, Troy yang sempat bersahabat dengan Manxmouse, bahkan memberinya nama keren: Harrison G. Manxmouse. Petualangan Manxmouse yang lumayan seru sekaligus unik adalah ketika ia jatuh ke tangan pemilik toko hewan peliharaan yang tamak. Menyadari keanehan Manxmouse, dan yakin bahwa tikus Manx adalah spesies langka, ia berusaha menjual Manxmouse dengan harga setinggi-tingginya. Akibatnya Manxmouse sempat membuat heboh kota London dan bahkan dunia berkat berita yang menyatakan bahwa Manxmouse hendak dilelang! Bayangkan kalau suatu hari balai lelang terkenal Sotheby's tiba-tiba mengumumkan akan melelang seekor tikus biru! Pasti akan terjadi kehebohan kan? Di sini nampaknya Paul Gallico ingin menyindir manusia yang begitu tamak pada kekayaan dan prestise. Yang mereka inginkan adalah kekayaan dan sanjungan, bukan si tikus sendiri. Menggelikan sekali proses pelelangan Manxmouse ini, yang bahkan membawanya hingga ke museum Madame Tusaud, di mana Manxmouse menemukan duplikat dirinya, Manxmouse II dalam wujud patung lilin!

Memasukkan Manxmouse ke dalam genre fantasi mungkin lebih pas, namun toh aku tak begitu merasa bahwa ini kisah yang fantastis. Benar yang dituliskan J.K. Rowling dalam endorsement-nya: Gallico menjalin fantasi dan realitas dengan sangat terampil, sehingga kisah yang paling fantastis sekalipun terasa masuk akal. Memang, selama membaca dan menikmati kisah ini, semuanya nyaris terasa nyata bagiku. Sulit untuk memisahkan bagian mana yang fantasi, dan mana yang tidak, semuanya membaur dengan natural. Menurutku, sosok Manxmouse sendirilah yang merupakan fantasi yang tak nyata. Namun sebaliknya, karakter Manxmouse sendiri malah lebih terasa manusiawi daripada manusia-manusia yang menganggap diri mereka agung.

Bagiku, Manxmouse mewakili kesederhanaan yang jarang dimiliki oleh manusia di jaman ini. Manxmouse mewakili diri kita sendiri tanpa terkecuali, ketika kita dulu lahir. Bersih. Tanpa ada prasangka. Tanpa ada rasa takut. Tanpa ada keserakahan. Tanpa ada rasa benci. Karena dalam keadaan begitulah kita diciptakan Tuhan sebagai manusia. Namun, dalam perjalanan hidup kita, kita jadi terseret oleh bermacam pengaruh yang datang dari luar. Kita jadi mengenal rasa takut, takut pada sesuatu yang kita bahkan mungkin belum tahu dan belum mengalaminya. Ketakutan itu akhirnya melumpuhkan kita, dan hanya ada satu cara untuk mengalahkannya, yaitu menghadapi ketakutan itu sendiri. Manxmouse juga membuat kita menyadari betapa selama ini kita disilaukan oleh harta dan kehormatan yang akhirnya menghalangi kita dari melihat hal-hal yang hakiki, seperti halnya para sheik dan pangeran yang sibuk menaikkan penawaran dalam lelang demi prestisenya, tanpa melihat apa sih sesungguhnya makhluk yang mereka tawar itu?

Akhirnya, aku malah bertanya-tanya...apakah Manxmouse ini termasuk buku anak-anak? Jangan-jangan buku ini ditulis justru untuk menyindir para orang dewasa yang sering lebih kekanak-kanakan daripada anak-anak? Dan pastinya, lebih tidak bijak daripada seekor tikus. Meskipun itu hanyalah seekor tikus biru, berkaki kangguru, bertelinga kelinci dan tidak berbuntut yang bernama Manxmouse...

Judul: Manxmouse
Penulis: Paul Gallico
Penerjemah: Maria Lubis
Penerbit: Media Klasik Fantasi (a Division of Mahda Books)
Original copyright at 1968 by Mathemata Anstalt
Cetakan: April 2011
Tebal: 227 hlm

Note: Review ini sekaligus kuikut sertakan dalam Lomba Resensi Penerbit Redline (Mahda Books). Mohon kritik dan saran dari teman-teman ya..!

Friday, June 3, 2011

The Innocent Man

Muak-ngeri-geram di awal. Bosan menggantikannya di pertengahan. Tapi mendekati akhir, trenyuh dan prihatin berganti menyeruak di dada. Akhirnya aku sampai pada pertanyaan: Masihkah ada keadilan di dunia ini? Semua kesan itu aku dapatkan ketika membaca karya John Grisham yang merupakan sebuah kisah nyata: The Innocent Man.

Jika kau percaya bahwa orang (di Amerika) tak bersalah, sampai dinyatakan bersalah, buku ini akan mengejutkanmu.
Jika kau percaya hukuman mati, buku ini akan mengusikmu.
Jika kau percaya sistem peradilan pidana itu adil, buku ini akan menyulut kemarahanmu.

Malam itu, 7 Desember 1982, sebuah pembunuhan terjadi di Ada, sebuah kota kecil di negara bagian Oklahoma, Amerika. Korbannya gadis bernama Debbie Carter, seorang waitress di bar bernama Coachlight. Keesokan harinya Debbie ditemukan tak bernyawa setelah diperkosa di apartemennya sendiri. Seperti biasa, proses penyidikan segera digelar, barang bukti diamankan, saksi-saksi (para pria tentunya) diwawancarai dan diminta menyerahkan sampel cairan tubuh, seperti layaknya prosedur tindak kriminal yang sering kita baca/tonton. Bedanya, dalam kasus ini polisi segera menjadi depresi karena setelah semua prosedur yang makan waktu lama itu dilalui, tak kunjung ditemukan seorang tersangka pun.

Maka mulailah mereka mengeluarkan "kreativitas" mereka dengan menyeret seorang pria yang sudah terkenal sebagai “troublemaker” karena suka mabuk-mabukan dan membuat keributan di bar. Alasannya gampang saja: Ron Williamson, nama pria itu, adalah tersangka yang besar kemungkinannya melakukan kejahatan itu. Pasti malam itu ia mabuk berat, lalu menginap di apartemen Debbie. Sesuatu yang seharusnya hanya dugaan, tiba-tiba berkembang menjadi obsesi polisi untuk secepatnya menetapkan tersangka. Apakah ada saksi yang melihat Ron pulang bersama Debbie malam itu? Tidak ada. Adakah yang melihatnya mendekati Debbie di bar? Tidak ada. Atau setidaknya adakah yang melihat Ron di Coachlight malam itu? Tak ada yang ingat. Lalu? Tak masalah. Ron tersangka yang sangat bagus, sekarang tinggal mendapatkan pengakuan darinya. Bagaimana kalau ia tak mengakui bahwa ia membunuh Debbie? Tak masalah. Polisi akan menerornya dengan bentakan dan ancaman yang persuasif hingga pada suatu titik, bahkan orang yang teguh pendiriannya pun akan menyerah dan membuat pengakuan yang lemah. Tak masalah. Pasti ada napi-napi lain yang bisa diancam untuk membual di pengadilan bahwa mereka mendengar Ron mengaku telah membunuh Debbie. Semua itu bisa direkayasa. Yang penting polisi telah menunaikan tugas.

Muak. Ngeri. Geram. Muak melihat kemalasan dan kebodohan polisi dalam melakukan tugas. Ngeri menyadari begitu gampangnya aparat hukum menjadikan seseorang yang tak berdosa tersangka pembunuhan. Geram membaca bahwa kebodohan dan ketidakadilan itu dilakukan hampir terang-terangan dan diketahui hampir semua orang, namun hanya didiamkan saja. Sementara polisi, yang menyimpulkan bahwa kejahatan itu pasti dilakukan 2 orang, berhasil pula menyeret seorang teman Ron: Dennis Fritz. Klop sudah.

Sementara itu, cerita kemudian bergulir pada kehidupan Ron yang ironis. Sepanjang hidupnya Ron hanya memiliki satu impian, ambisi sekaligus obsesi, yaitu pada bisbol. Ditunjang tubuhnya yang setinggi 180 cm dan atletis, Ron yang egois karena selalu dimanja sejak kecil, tak kesulitan merintis jalan menuju seorang pemain bisbol profesional di liga besar. Ketika nampaknya pengorbanan keluarga Williamson terhadap si bungsu nan manja itu bakal berbuah kebahagiaan, datanglah kabar yang menyakitkan. Ron mengalami cedera bahu yang memaksanya untuk berhenti main bisbol selamanya. Ron yang tak pernah dewasa tak mampu menerima kenyataan impiannya harus pupus, justru ketika ia nyaris berhasil menembus liga besar dan menjadi pemain bisbol terkenal seperti para idola yang ada di kartu-kartu bisbol koleksi keramatnya. Ron lalu jatuh ke jurang minuman keras, dan menderita penyakit mental. Dan dalam keadaan demikianlah, Ron menapakkan kaki ke penjara Pontotoc County sebagai pembunuh…

Meski tak sedramatis perjalanan hidup Ron, Dennis Fritz harus merelakan kehidupan sebagai suami dan ayah yang bahagia, hanya karena fakta ia merupakan teman Ron dan pernah mabuk-mabukan bersamanya. Dengan teknik yang sama, polisi akhirnya berhasil menjerat Dennis ke penjara juga. Hanya butuh sebuah sidang dengan selusin saksi-saksi penipu, para pengadu, jaksa penuntut arogan dan hakim yang kurang teliti, maka Ron dan Dennis pun resmi menjadi narapidana. Dennis dengan hukuman seumur hidup, dan Ron dengan hukuman mati!

Di bagian ini, cerita menjadi datar. Aku sempat bosan membaca naik-turunnya kondisi Ron yang begitu cepat, namun dengan kepastian grafik itu menuju ke bawah. Pemenjaraan memang siksaan bagi semua yang mengalaminya, namun bagi seorang sakit mental seperti Ron, itu berarti merenggut hidup seorang manusia secara perlahan. Dan itu bukan saja karena penjara itu sendiri namun juga keacuhan semua pihak yang terlibat di dalamnya terhadap kesehatan mental dan fisik Ron. Dan itu terjadi selama dua belas tahun. Bayangkan, dua belas tahun menghabiskan hidup di penjara padahal anda tak melakukan apapun! Untunglah ada orang-orang seperti Barry Schenck dan Mark Barrett yang aktif di yayasan yang peduli terhadap orang-orang tak mampu yang mengalami peradilan yang buruk. Mereka bekerja sama dengan para pekerja medis yang tergerak oleh nurani memperjuangkan nasib Ron yang dijauhkan dari perawatan kesehatan. Berkat rasa keadilan mereka, Ron bersama Dennis akhirnya berhak mendapatkan sidang peradilan yang baru, yang (diharapkan) lebih bersih.

Di bagian-bagian akhir inilah cerita kembali memanas. Aku bisa membayangkan bagaimana perasaan Ron dan Dennis menghadapi berita yang memberikan harapan besar ini. Setelah belasan tahun terpenjara dan pengajuan banding mereka ditolak di mana-mana, nyaris tak ada lagi harapan barang secuil pun bahwa mereka akan dapat kembali menghirup udara bebas. Kini secercah harapan nampak di ujung lorong panjang penantian itu. Apakah cahaya itu nyata? Bagaimana kalau ternyata sidang itu penuh kebohongan seperti pada sidang yang lalu? Di sinilah emosiku turut diaduk-aduk antara harapan dan kekhawatiran. Harapan bahwa akhirnya, keadilan akan ditegakkan. Sekaligus kekhawatiran bahwa harapan yang terlambung untuk kedua kalinya akan semakain membuat Ron dan Dennis makin terpuruk. Untunglah, Hakim Seay memiliki cukup keberanian untuk mendobrak sistem yang salah.

Dan akhirnya sidang pun dimulai. Sidang kedua pembunuhan Debbie Carter yang telah berlangsung 14 tahun lalu! Bahagiakah Ron dan Dennis setelah mereka dinyatakan bebas? Tentu saja! Namun yang membuatku trenyuh adalah perjuangan mereka untuk dapat kembali ke masyarakat, mengenyam hidup yang normal. Melewatkan dua belas tahun di penjara adalah satu hal, namun harus memulai hidup kembali setelah tertinggal dua belas tahun adalah hal lain yang bisa jadi lebih mengkhawatirkan. Bagi sedikit orang yang berkarakter kuat seperti Dennis, mereka akan berhasil melewatinya. Namun bagi orang-orang yang tak pernah bisa mandiri dan sepenuhnya dewasa seperti Ron, kebebasan itu terasa semu. Itulah menurutku dosa paling besar proses peradilan yang tidak jujur. Bukan hanya waktu yang tersia-sia di penjara, namun pemenjaraan itu bisa merusak hidup seseorang sepenuhnya hingga akhir hayatnya. Kalau anda tak percaya bacalah kata-kata terakhir Ron sebelum ia meninggal dunia, yang membuatku menangis...

"...Aku pernah bertanya pada diri sendiri apa alasan aku dilahirkan, saat aku dipenjara terpidana mati, jika aku harus melalui semua itu? Apa alasan kelahiranku? Aku hampir mengutuk ayah dan ibuku--jahat sekali--karena membuat aku lahir ke dunia ini. Bila aku harus melakukan semuanya itu lagi, aku tak ingin dilahirkan."

Sangat miris kalau orang sudah menyesalkan kelahirannya sendiri ke dunia ini. Dan itu gara-gara segerombolan aparat hukum sembrono yang tak mampu menegakkan hukum dengan adil. Jadi...apakah keadilan itu masih ada? Tentu saja! Hakim Seay, Mark Barrett dan Barry Scheck adalah contoh-contoh nyata. Kasus Ron itu mungkin saja menjadi titik balik dimulainya proses hukum yang lebih baik. Dan kalau demikian, mungkin saja pengorbanan Ron tak sia-sia, kelahiran Ron ke dunia bukannya tanpa tujuan. Ia memang harus mengalami semuanya itu, agar makin banyak orang yang boleh merasakan keadilan. Mungkin saja...

Yang membuat buku ini terasa spesial adalah foto-foto mereka yang tersangkut dalam cerita ini. Ada foto Debbie Carter yang manis, dan banyak foto-foto Ron. Di foto itu anda bisa membandingkan ketika Ron baru saja didakwa, dan ketika Ron keluar dari penjara. Anda takkan percaya bahwa tenggang waktunya hanya 12 tahun! Salut pada John Grisham yang keluar dari kebiasannya menulis fiksi. Meski mungkin saja fiksinya lebih "heboh", namun bukankah itu hanya fiksi? Ketidak adilan yang dialami orang-orang yang nyata, justru akan menjungkir balikkan emosi anda, dan akhirnya membuat buku ini semakin melekat di hati anda. Empat bintang untukmu John!

Judul: Tak Bersalah (The Innocent Man)
Penulis: John Grisham
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Mei 2011
Tebal: 537 hlm

Tuesday, May 24, 2011

Midnight For Charlie Bone

Charlie Bone sama hebatnya dengan Harry Potter? Hmm...tunggu dulu! Biarpun endorsement dari Goodreads mengatakan begitu, aku tak setuju. Midnight For Charlie Bone ini memang jelas terinspirasi oleh dan mirip dengan Harry Potter, namun cara bertutur Jenny Nimmo di buku ini jelas-jelas sangat jauh bila dibandingkan dengan J.K. Rowling. Yang membuat kisah petualangan fantasi itu bagus, adalah bila pembaca bisa dibuat (sejenak) percaya bahwa apa yang terjadi di kisah itu adalah apa yang ia alami/lihat sendiri. Itu artinya, walau kisah itu fantasi, pembaca merasa seolah-olah kisah itu wajar, sewajar apa yang terjadi di sekitar kita. Lalu, mengapa Charlie Bone ini dibilang mirip dengan Harry Potter? Mari kita intip cerita singkatnya...

Keluarga Bone jelas bukan keluarga yang normal. Charlie, si bocah lelaki, dan ibunya tinggal seatap bersama kedua nenek Charlie yang hampir sama nyentriknya. Maisie adalah nenek dari pihak ibu yang periang dan pintar memasak. Sebaliknya Nenek Bone, nenek dari pihak ayah Charlie, adalah wanita tua yang cemberut, suka memerintah dan suka mengeluh. Si Nenek punya 3 orang saudara perempuan yang sama nyentrik dengannya. Suatu hari Charlie menemukan keanehan pada dirinya. Ketika memandang sebuah foto milik orang lain (yang tertukar dengan foto Runner Bean -- anjing milik sahabatnya, Benjamin), Charlie tiba-tiba dapat mendengar suara dalam otaknya. Suara itu adalah suara orang-orang di foto saat foto itu diambil. Keanehan ini tercium oleh Nenek Bone yang juga anggota keluarga Yewbeam yang "diberkahi". Dari kemampuan khusus Charlie itu, nenek Bone akhirnya memaksa Charlie untuk keluar dari sekolahnya saat itu, dan pindah ke Bloor's Academy, akademi untuk mereka yang "diberkahi".

Benjamin, sahabat sekaligus tetangga Charlie yang sering kesepian karena tak punya teman dan sering ditinggal pergi orang tuanya, sedang berulang tahun. Charlie, satu-satunya sahabatnya, ingin memberikan hadiah berupa foto Runner Bean yang akan ia jadikan kartu ucapan. Sayangnya, ketika ibunya mengambil foto itu dari tempat cuci cetak di toko buku Ingelsdew, foto itu tertukar dengan foto orang lain, dari mana Charlie menyadari kemampuan khususnya. Ingin menukar foto tersebut, Charlie pergi ke Ingledew, dan disambut oleh pemiliknya: Julia Ingledew, yang menceritakan kisah yang menarik. Kisah keponakan perempuannya yang anak seorang ilmuwan bernama Dr. Tolly, dan terpaksa ditukar ayahnya dengan sebuah “kotak misterius”. Ketika Charlie pulang, ia tak hanya membawa foto Runner Bean miliknya, tetapi juga kotak misterius itu, yang lantas disembunyikannya bersama Benjamin dengan rapi.

Tak sedetikpun Charlie menyadari bahwa kotak itu akan membawanya pada petualangan yang seru, tegang dan berbahaya. Untungnya ia tak sendirian. Selain Benjamin, ia memiliki Fidelio, seniornya di Bloor’s Academy yang mengajarinya musik, sekaligus membantunya menyembunyikan kotak misteriusnya. Lalu ada Paman Paton, satu-satunya keluarga Yewbeam yang berada di pihak Charlie. Oh ya, keluarga Ingledew termasuk Nenek Bone ternyata mengincar kotak misterius Charlie. Bukan dia saja, Manfred Bloor –putra Dr. Bloor pemilik Bloor’s Academy yang punya keahlian menghipnotis, juga meminatinya. Charlie tahu, bahwa tugas untuk menemukan kembali putri Dr. Tolly terletak di tangannya. Dan dari pertemuannya dengan Mr. Onimous yang nyentrik bersama tiga kucing apinya, Charlie pun tahu bahwa yang dicarinya kini berada di Bloor’s Academy.

Di Bloor’s Academy inilah satu persatu jawaban misteri yang dibawa Charlie muncul. Salah satunya bahwa ayahnya masih hidup entah di mana, dan bahwa sang ayah dulu telah berjuang menyelamatkan putri Dr. Tolly. Dibantu oleh Olivia dan Fidelio, teman-temannya di academy, Charlie pun memulai misi untuk menyelamatkan putri Dr. Tolly, dan “menyadarkannya” dari pengaruh hipnotis Manfred Bloor lewat kotak misterius yang didapatnya dari Julia Ingledew.

Misi penyelamatan ini dan segala pengalaman baru berada di sebuah sekolah khusus seperti Bloor’s Academy ini yang membuat buku ini dapat dinikmati dan cukup menghibur. Dibantu oleh penempatan huruf-huruf yang cukup besar dan berspasi agak renggang oleh penerbit Ufuk, membuat buku ini enak dibaca. Dan kalau anda adalah seorang pembaca yang menganut "judge a book from its cover", anda jelas akan meminati buku bercover nuansa kilap dan bernuansa misterius ini. Hanya sayangnya, kurasa kehidupan sehari-hari di Bloor’s Academy kurang dieksplor oleh Jenny Nimmo. Tak seperti Hogwarts yang membuat kita sangat mengenal suasana sekolah seolah kita sendiri pernah bersekolah di sana, Bloor’s Academy masih terasa asing bagiku meski telah menamatkan bagian pertama ini. Namun, bagaimana pun kisah Charlie Bone memang ingin menyuguhkan sesuatu yang lain. Mungkin saja kekuatan cerita akan semakin mengental di seri-seri berikutnya, karena si Raja Merah yang misterius dan sepertinya menjadi benang merah serial ini masih harus terungkap, dan ayah Charlie pun masih menunggu entah di mana untuk diselamatkan oleh putranya yang juga “diberkahi”.

Satu hal yang kutangkap dari kisah ini, bahwa menjadi berbeda [baca: memiliki kelebihan atau kekurangan] memang dapat membuat seseorang menderita. Namun semuanya kembali kepada kita, bagaimana kita memandang keunikan kita itu. Karena Sang Pencipta kita pasti menambahkan keunikan itu agar kita dapat memanfaatkannya untuk hal-hal yang baik. Keunikan menjadi kekurangan kalau kita menjadi minder, namun ia menjadi kelebihan kalau kita menggunakannya untuk menolong sesama. Seperti halnya Charlie Bone!

Judul: Midnight for Charlie Bone
Penulis: Jenny Nimmo
Penerbit: Ufuk Press
Cetakan: November 2010
Tebal: 412 hlm

Thursday, May 19, 2011

The Beach House

Walau tetap tak bisa disandingkan dengan sang maestro thriller-hukum: John Grisham, tetap saja James Patterson patut diacungi jempol untuk terobosannya di novel The Beach House ini. Sejak awal, narasi Patterson sudah terasa nikmat untuk dibaca. Sepertinya misteri sudah mulai dibangun sejak saat si tokoh “aku” datang terlambat ke sebuah pesta musim panas kaum elite di beach house mewah milik keluarga Neubauer. Menunggangi motor sport BMW, tentulah kita mengira si “aku” adalah salah satu bocah kaya yang gemar pesta. Namun, kejutan pertama telah dipasang Patterson di akhir prolog: si “aku” ternyata hanyalah seorang petugas valet di pesta itu! Petugas valet tunggangannya motor BMW??

Kejutan kedua. Si “aku” yang ternyata bernama Peter dan berjuluk “Rabbit” punya “pekerjaan” sampingan yang berhubungan dengan orang-orang kaya dan berpengaruh. Pekerjaan sampingannya tidak hanya membuat Peter kaya dari bayaran atas “jasa”nya, namun juga celaka. Pada malam pesta itu, mayatnya ditemukan di pantai dalam keadaan babak belur…

Cerita kini berpindah ke tokoh “aku” lainnya, yang bernama keluarga sama: Mullen. Kali ini si “aku” adalah Jack, kakak kandung Peter. Jack sedang magang di sebuah biro hukum besar. Saat pulang ke rumahnya di Montauk, East Hampton, Jack disambut dengan kabar buruk kematian Peter. Seolah kehilangan kakak masih kurang buruk, kepolisian tampaknya mengabaikan fakta-fakta yang menunjukkan keganjilan pada mayat Peter. Malahan kasus kematian Peter dianggap sebagai kecelakaan atau bunuh diri, dengan modus Peter nekat berenang di laut berombak keras, lalu tenggelam dan mayatnya terhempas ke pantai dalam keadaan babak belur.

Sadar bahwa pengaruh kekayaan sedang berusaha menutup-nutupi fakta bahwa Peter dibunuh, membuat Jack bersama Mack kakeknya, dan beberapa sahabatnya berusaha mencari keadilan. Sepak terjang mereka tercium oleh si pembunuh, dan beberapa ancamanpun ditebarkan. Yang terparah adalah ketika saksi kunci bagi kubu Mullen dalam persidangan tiba-tiba mengubah kesaksiannya. Jack pun menyadari peliknya situasi mereka. Keadilan telah dibeli dan melacurkan diri. Apakah yang mungkin dilakukan oleh orang-orang lemah seperti keluarga Mullen? Haruskah mereka menyerah kalah, padahal perlahan-lahan bukti demi bukti telah mereka dapatkan?

Membaca The Beach House sedikit menggelorakan emosi kita akan ketidak adilan hukum bagi orang lemah. Ketidak adilan itu selain diwakili oleh pembunuhan Peter, juga oleh vonis hukuman mati bagi “Mudman”, yang kasusnya ditangani oleh Jack sebagai kasus pro-bono sewaktu magang di biro hukum. Orang lemah dan kecil sering kali diremehkan oleh sistem. Mungkin karena keberadaan atau ketidakberadaan mereka dianggap tak punya pengaruh apapun pada dunia. Di sinilah Jack Mullen mencoba untuk menjadi pahlawan, meski untuk itu ia harus mempertaruhkan segalanya.

Meski greget pengadilan dan hukum kurang terasa di sini, namun The Beach House tetap menawarkan sesuatu yang lain. Gabungan antara intrik-intrik hukum, ketidak adilan, romansa, juga percikan misteri di sana sini mampu menyuguhkan bacaan yang tak terlalu berat namun tetap membuat penasaran hingga lembar terakhir!

Judul: The Beach House (Rumah Pantai)
Penulis: James Patterson, Peter De Jonge
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Oktober 2009
Tebal: 416 hlm

Monday, May 16, 2011

The Last Samurai: Official Movie Guide

Di tengah pekatnya kabut putih yang melayang-layang di sebuah hutan, sepasukan tentara sedang bersiap-siap... Kapten Algren meneriakkan perintah dari atas kudanya. Ketegangan tampak pada wajah-wajah Asia di bawah topi tentara mereka... Lalu tiba-tiba...dari kesunyian yang mencekam itu terdengar lamat-lamat sesuatu yang bergemuruh dari kejauhan, dan kian mendekat... Ditingkahi teriakan yang gemanya seolah terpantul pada pohon-pohon, lalu melayang-layang bersama kabut... Sesuatu yang menakutkan sedang mendekat, dan itu terpancar dari kengerian yang terpancar dari wajah-wajah tentara yang memucat.... Dan akhirnya muncullah satu persatu sosok-sosok manusia bertopeng dengan dua tanduk di kepala, mengendarai kuda yang berlari cepat ke arah para tentara. Sedetik kemudian, pasukan berkuda itu membantai pasukan yang mungkin bahkan tak sempat melakukan serangan saking ngerinya...


Itulah sekilas adegan yang selalu menempel di otakku dari sebuah film epik yang sangat apik: The Last Samurai. Itu adalah adegan ketika para samurai menghabisi tentara Jepang yang dilatih oleh Kapten Algren (diperankan Tom Cruise). Tulisan ini bukan untuk mengisahkan kembali tentang film itu, namun aku ingin mengulas sekaligus mengabadikan isi sebuah buku yang amat menarik: The Last Samurai-Official Movie Guide. Buku ini merupakan pendamping film The Last Samurai. Selain berisi foto-foto eksklusif berwarna dengan ketajaman gambar yang sempurna (berkat David James, sang fotografer), Official Movie Guide ini juga memunculkan tulisan dan riset tentang sejarah Jepang yang melatar belakangi film ini, juga tentang hal-hal yang berkaitan dengan pembuatan film, serta penjelasan tentang samurai dan cara hidup mereka. Ditambah petikan dialog-dialog yang singkat namun dalam maknanya di beberapa scene film. Sangat menarik!

The Last Samurai bersetting tahun 1876-1877 pada saat Jepang di bawah pemerintahan Kaisar Meiji yang saat itu masih sangat muda. Selama 250 tahun sebelumnya, Jepang adalah negara yang mengisolasi diri dari dunia luar, yang dikenal dengan istilah sakoku. Di bawah tekanan Amerika, akhirnya Jepang pada tahun 1854 menandatangani perjanjian perdagangan dengan Amerika, sekaligus membuka diri bagi perdagangan internasional. Pada tahun 1868 Saigo Takamori yang menjadi inspirasi terciptanya tokoh Katsumoto di film ini, merestorasi takhta kekaisaran Meiji yang tadinya diduduki oleh para shogun. Namun Saigo dan para samurai ingin tetap mempertahankan nilai-nilai leluhur mereka, sedang pemerintahan yang baru ingin berubah dan mengadopsi cara-cara Barat. maka rezim Meiji akhirnya mendesak keberadaan para samurai dengan melarang penggunaan pedang (yang menjadi "jiwa" seorang samurai) yang dianggap penghinaan oleh para samurai. Maka mereka akhirnya memberontak kepada pemerintah. Dan di sinilah kisah The Last Samurai itu lantas dibuat....

Adalah Nathan Algren, seorang kavaleri berpangkat Kapten yang baru saja pulang dari medan perang sebagai pahlawan. Ia terlibat dalam pemusnahan suku Indian di Gettysburg. Perang terhadap suku Indian ini juga diambil dari sejarah, dan "pahlawan"nya juga berasal dari kavaleri ke 7, seperti halnya tokoh Nathan Algren. Dalam keadaan trauma karena perasaan bersalah harus membantai para Indian, Algren lalu direkrut oleh Jendral Omura dari rezim Meiji untuk melatih tentara Jepang demi membasmi pemberontakan kaum Samurai yang dipimpin Katsumoto. Senjata api didatangkan, para petani dan rakyat dilatih untuk menjadi tentara. Namun, jumlah mereka yang banyak tentu bukan tandingan para samurai. Dan dalam pertempuran yang tak seimbang di hutan seperti yang kugambarkan di awal tulisan ini, para tentara akhirnya kalah, entah mati, terluka atau mundur. Dan lihatlah...satu-satunya yang bertahan adalah sang Kapten Algren. Sudah terluka, ia tetap bertahan dengan gagah berani sendirian, sambil membawa tombak berbendera harimau putih. Aksinya ini menarik perhatian sang pemimpin samurai, Katsumoto, yang bertambah kekagumannya setelah Algren berhasil membunuh seorang samurai berbaju perang warna merah berkat kecerdikannya. Algren pun dibawa oleh rombongan para samurai kembali ke desa mereka yang terletak di atas pegunungan sunyi nan asri.

Di sanalah Algren lalu mulai belajar ilmu bermain pedang ala samurai yang berpusat pada pengosongan pikiran, sambil mengenal budaya Jepang sekaligus Samurai yang disiplin dan menjunjung tinggi kehormatan bahkan di atas nyawa. Luka-lukanya dirawat oleh seorang wanita jelita bernama Taka, yang adalah adik Katsumoto sekaligus istri samurai berbaju perang merah yang telah dibunuh Algren. Maka cinta pun bersemi di antara dua anak manusia yang awalnya (dan seharusnya) dipenuhi dengan dendam. Aku begitu kagum pada cinta Algren-Taka ini, seperti yang diulas juga di Official Movie Guide ini: "Algren and Taka's relationship is a very unique love story. They are people from two different worlds who make contact in very subtle ways--through looks and through gesture." Dan ini makin membuat cinta mereka nampak begitu agung dan sakral. Di tempat tinggal samurai ini pula Algren dan Katsumoto menjadi makin dekat karena mereka memiliki pandangan yang sama serta menjunjung tinggi nilai-nilai yang sama.


Ketika akhirnya saat yang tak dapat dielakkan tiba, yaitu ketika para samurai harus berhadapan dengan pasukan perang pemerintah yang dipersenjatai meriam dan senapan dari Barat, maka Algren pun menjadi salah satu dari para samurai ini. Adegan Taka yang memakaikan pakaian perang pada Algren menjadi salah satu adegan percintaan yang paling menggetarkan yang pernah kutonton... Dari buku ini pula aku jadi lebih memahami percintaan Algren-Taka. Awalnya Taka memang membenci Algren karena ia telah membunuh suaminya. Ia merawat Algren semata-mata karena perintah kakaknya. Dan dendam itu serasa terpuaskan ketika menyaksikan Ujio membuat Algren babak belur saat berlatih di bawah derai hujan. Ujio yang awalnya tak suka pada Algren memang tak tanggung-tanggung melatih Algren. Namun, sifat pantang menyerah dan keberanian Algren membuatnya berkali-kali bangun lagi meski sudah kesakitan. Saat itulah dendam Taka berubah menjadi simpati sekaligus kagum pada kegigihan Algren. Kurasa saat itulah benih-benih cinta mulai tumbuh di hatinya...

Itulah sekilas film The Last Samurai, yang mungkin sudah pernah anda tonton juga. Tapi, pernahkah anda menyadari bagaimana sulitnya memproduksi sebuah film epik seperti ini? Buku ini menjelaskan semuanya. Anda pasti tak percaya kalau kukatakan bahwa pembuatan film diadakan di 3 negara di 3 benua yang berbeda: Jepang, Amerika, dan New Zealand. Untuk lokasi pegunungan tempat tinggal Katsumoto dan para samurai, petugas bagian setting menemukan sebuah lanskap di New Zealand yang indah. Meski begitu, butuh sekitar 6 minggu untuk menanami beberapa tumbuhan dan pohon agar lanskap tersebut terlihat sangat alami dan sesuai dengan keadaan pada abad 19 itu. Sedangkan suasana kota Tokyo abad 19 (yang notabene hanya muncul beberapa menit saja di film) menggunakan sebuah area di New York yang didandani sehingga persis bagaikan Tokyo masa lalu. Saking detail dan profesionalnya cara kerja kru film, sehingga orang-orang Jepang yang terlibat di film jadi teringat kampung halaman mereka di masa kecil. Yang berarti...mereka telah berhasil menciptakan setting yang sempurna!

Belum lagi bagian-bagian lain seperti kostum, yang harus menyediakan kostum kimono hingga baju perang samurai yang persis dengan aslinya. Ada yang menarik tentang kimono. Tahukah anda bahwa semua kimono harus dibuat dari bahan berukuran sama: panjang 12-13 meter, lebar 36-40 meter, baik untuk orang dewasa maupun anak-anak. Kain itu akan dipotong menjadi 8 bagian, lalu dijahit dengan teknik tertentu, bagaikan origami untuk pakaian! Pengadaan senjata dan pelatihan kuda juga sama menariknya. Pedang samurai dibuat dari kombinasi baja dan besi yang lebih lentur untuk menghasilkan bagian tajam dari pedang yang sangat keras sehingga tak mudah patah saat beradu pedang dengan musuh. Caranya ialah dengan proses folding, di mana logam dipanaskan pada temperatur tinggi, lalu dipalu hingga terlipat separuh, lalu dipanaskan lagi hingga permukaannya menyatu kembali.

Aku sempat tersenyum saat membaca tentang pelatihan kuda. Anda mungkin berpikir, hanya kuda-kuda yang ditunggangi pemeran utama yang perlu dilatih. Jawabnya: tidak. Semua kuda yang ada di setting film itu dilatih secara khusus. Bahkan kuda-kuda latar, yakni kuda-kuda yang ambruk dalam peperangan, misalnya. Bayangkan, melatih kuda untuk mau berbaring selama beberapa menit dalam diam seolah mati pasti sulitnya setengah mati. Bagaimana kalau ia tiba-tiba ingin berdiri lagi? Tentu tindakan alamiahnya itu akan mengacaukan pengambilan film! Maka selama 6 minggu kru melatih kuda-kuda itu hingga terbiasa berbaring diam-diam selama beberapa menit. Dan setelah itu mereka justru harus bekerja keras kembali untuk membuat kuda-kuda itu mau berdiri lagi. Mungkin kuda-kuda itu jadi berpikir: "Eh..enak juga ya ternyata berbaring santai begini..."

Selain itu upacara minum teh yang menjadi salah satu ciri khas budaya Jepang juga dijelaskan singkat di buku ini. Upacara minum teh adalah salah satu kebiasaan para samurai demi mendapatkan ketenangan. Adalah seorang bernama Eisai yang dulu menemukan obat penenang, yaitu dengan minum teh. Maka Eisai menciptakan proses pembuatan teh dengan mencampurkan bubuk matcha (daun teh hijau) ke dalam air mendidih, lalu mengaduknya dengan chasen (pengaduk berbahan bambu) sampai larutan itu sedikit berbuih. Bukan saja tehnya membuat tubuh menjadi tenang, tapi kegiatan mengaduk itu sendiri dengan suara yang monoton, memiliki efek yang menenangkan. Akhirnya berkembanglah ritual minum teh ini dan menjadi budaya Jepang yang disebut cha-no-you (upacara minum teh).

Itulah sekilas beberapa hal menarik yang kusarikan dari Official Movie Guide The Last Samurai ini. Nilai-nilai yang dianut oleh samurai menurutku adalah yang paling menarik di film ini dan membuatnya sangat istimewa. Samurai yang gagal menunaikan tugasnya, akan lebih suka mati terhormat oleh musuhnya, atau oleh dirinya sendiri. Mungkin anda sering mendengar tentang harakiri atau bunuh diri ala Jepang. Sebenarnya harakiri adalah istilah vulgar yang dipopulerkan justru oleh orang Barat. Para samurai menyebut ritual membunuh diri secara terhormat ini dengan seppuku. Tekniknya adalah menusuk bagian perut dengan tanto (belati). Mengapa perut? Karena mereka percaya jiwa manusia berada di sana, dan seppuku dilakukan untuk membebaskan jiwa. Seppuku sebagai hukuman resmi dihapus pada 1868 setelah Restorasi Meiji.

Semoga ulasan panjang tentang film The Last Samurai dan sejarah samurai serta budaya Jepang ini cukup menghibur dan memberi wawasan baru bagi anda. Sekaligus anda akan terhibur dengan foto-foto yang kupilih dari sekitar 150 foto yang ada di buku ini. Maaf, ada beberapa gambar yang terpotong karena sulit untuk men-scan halaman-halaman tertentu tanpa merusak buku yang amat kusayangi ini. Akhirnya, aku akan mengutip beberapa dialog antara Algren dan Katsumoto yang singkat namun amat bermakna. Persahabatan mereka adalah persahabatan sejati yang dibangun tanpa banyak kata, namun dalam diam pun mereka dapat saling memahami dan saling mempercayai. Sama halnya dengan percintaan Algren dan Taka...

Katsumoto: "You believe a man can change his destiny?"

Algren: "I think a man does what he can, until his destiny is revealed."

----

Katsumoto: "...And you do not fear death?"
"But sometimes you wish for it. Is this not so?"

Algren: "Yes"

Katsumoto: "I, also. And then I come to this place of my ancestors. And I remember...[looks around to the blossoms] like these blossoms, we are all dying. To know life in every breath. Every cup of tea. Every life we take. The way of the warrior."

Algren: "...Life in every breath..."

Katsumoto: "That is bushido*."

*Bushido: The Way Of The Warrior, the way of samurai

Dan last but not least, kukutip juga pernyataan Kaisar Meiji ketika menerima dari Algren, pedang milik Katsumoto yang telah tewas dalam perang yang dilancarkan oleh sang Kaisar sendiri. Akhirnya, sikap Algren dan kematian Katsumoto yang penuh kehormatan itu membuka mata sang Kaisar akan nilai-nilai leluhur yang hendaknya tetap dijunjung tinggi, meski arus modernisasi terus membanjir:

"I have dreamed of a unified Japan. Of a country strong and independent and modern... And now we have railroads and cannon and Western clothing. But we cannot forget who we are. Or where we come from..."

Wednesday, May 11, 2011

Persekutuan Misterius Benedict

Siapa di dunia ini yang paling mengerti tentang makna "kesepian"? Pastilah para anak yatim piatu yang tak sempat mengecap kasih orang tua, entah karena ketiadaan orang tua, atau karena pengabaian orang tua akan anaknya. Kesepian macam inilah yang dirasakan Reynard Muldoon alias Reynie, bocah lelaki jenius yang tinggal di sebuah panti asuhan di kota Stonetown, yang gemar berdiskusi sambil minum teh bersama pembimbingnya: Miss Perumal. Suatu hari mereka berdua menemukan iklan aneh mengenai sebuah tes di surat kabar yang bunyinya begini: 'Apakah kau seorang anak berbakat yang mencari kesempatan istimewa?'. Berbekal iklan itu, berangkatlah Reynie ke tempat tes itu dilaksanakan, tanpa menyadari bahwa tes itu akan mengubah hidupnya yang membosankan selama ini.

Dari beberapa tes yang diadakan, Reynie berhasil lolos bersama dengan 2 anak lainnya: Kate Wetheral dan George "Sticky" Washington. Mereka bertiga, seperti semua anak yang mengikuti tes, memiliki tingkat kepandaian di atas rata-rata. Sticky misalnya, adalah pembaca cepat. Ia bisa membaca dan menghafal isinya luar kepala dalam waktu amat cepat. Kate lebih pandai dalam hal fisik dan banyak akal karena ia pernah bergabung bersama rombongan sirkus. Reynie sendiri memiliki kemampuan analisa yang bagus dan wawasan luas karena senang membaca koran dan berdiskusi. Bagaimana pun juga, mereka bertiga memang anak-anak yang unik. Mereka sama-sama memiliki bakat unik, dapat dikategorikan jenius, dan memiliki karakter jujur (dibuktikan lewat tawaran "menyontek" yang ternyata ditampik oleh ketiga anak yang mengikuti tes). Belakangan, ada seorang anak lagi yang bergabung dengan mereka, yaitu Constance Contraire. Hmm...sulit mengatakan dengan pasti bakat anak kecil (memang bertubuh amat kecil) yang bandel dan keras kepala ini. Namun kenyataannya, keempat anak ini direkrut oleh seorang ilmuwan nyentrik dan baik hati bernama Mr. Benedict, yang mengadakan tes itu.

Mr. Benedict memiliki sebuah misi menyelamatkan dunia dari pengaruh "pesan-pesan rahasia" yang dikirimkan oleh sebuah institut lewat gelombang televisi. Tujuannya untuk mengacaukan otak manusia, sehingga si pemilik institut yang serakah dan jahat itu akan mampu menguasai dunia. Menurut Mr. Benedict hanya anak-anaklah yang mampu menghentikan pengiriman pesan itu, karena anak-anak jugalah yang dipakai sebagai pengirim pesan. Tentu saja, untuk menggagalkan misi institut itu, dibutuhkan lebih dari sekedar anak-anak, melainkan anak-anak yang sangat berbakat. Reynie, Sticky, Kate dan Constance adalah empat anak berbakat yang dipilih Mr. Benedict. Misi mereka adalah untuk menyelusup ke Institut LIVE (Learning Institute of the Very Enlightened) untuk menjadi murid di sana, sekaligus mata-mata bagi Mr. Benedict.

Di LIVE, ternyata ada strata bagi para murid. Para murid yang mendapat nilai paling baik di kelas berpeluang diangkat penjadi Penyampai Pesan. Dan suatu saat para Penyampai Pesan ini bisa juga menjadi Eksekutif. Apa yang harus dilakukan Penyampai Pesan maupun Eksekutif? Tentu saja membantu Mr. Curtain, pendiri sekaligus pemimpin LIVE, yang berambisi mengubah wajah dunia dengan keahliannya. Untuk menghentikan misi jahat itu, anak-anak Persekutuan Misterius Benedict harus pasang mata dan telinga mengamati semua yang terjadi di sekeliling mereka. Mereka mengadakan rapat di kamar anak-anak lelaki setiap malam. Dan bila mereka mengalami kesulitan, mereka bisa mengirim pesan ke Mr. Benedict dengan menggunakan kode Morse. Tentu saja semua ini tidak berlangsung dengan mulus. Ada kalanya rapat mereka nyaris ketahuan oleh para Eksekutif, atau pesan jawaban yang mereka terima dari Mr. Benedict begitu sulit dipecahkan. Sepanjang waktu itu, anak-anak tanpa sadar selalu menggantungkan pada keputusan dan pemikiran Reynie, yang terbukti mampu menjadi sosok pemimpin, sekaligus merupakan sosok yang paling aku sukai. Reynie adalah sosok pahlawan yang sejati menurutku, bukan pahlawan yang selalu percaya diri, mampu bekerja sendiri, selalu berani dan selalu menang. Namun justru pahlawan yang juga merasa sama takutnya dengan yang lain, dan mengakui ketakutan itu dan kebutuhannya akan teman-teman yang lain. Sikap Reynie yang membesarkan hati Sticky si penakut, dengan mengatakan bahwa Reynie sangat membutuhkan Sticky. Tak banyak pemimpin yang mau mengakui hal semacam ini karena takut dianggap lemah dan khawatir direndahkan oleh anak buahnya. Padahal, justru sikap semacam itulah yang membuat anak buah menaruh respek pada pemimpinnya. Sebuah contoh yang baik bagi anak-anak yang membaca buku ini.

Banyak kejadian lucu sekaligus tegang selama geng pahlawan kita ini menyamar di institut. Anda pasti paling tidak tersenyum waktu membaca saat Constance yang kemana-mana harus digendong di punggung Kate dengan mengomel, atau tiap kali Mr. Benedict tiba-tiba tertidur setelah tertawa karena ia menderita Narcolepsy (serangan tidur lelap yang tiba-tiba dan tak dapat dikendalikan, salah satu penyebabnya adalah adanya emosi yang kuat). Anda juga akan ikutan terkekeh puas saat teman sekelas mereka yang bernama Martina jatuh terjerembab saat dikerjai dengan sukses oleh Kate. Tapi yang jelas, anda pasti akan ikut merasa tegang saat petualangan anak-anak ini telah berada di tahap akhir dan mereka harus menyerempet bahaya sungguhan, bukan hanya bahaya kecil macam ketahuan menyontek. Apalagi saat dua dari mereka harus berhadapan dengan “Sang Pembisik”. Siapa atau apa itu Pembisik? Dan bahaya apa tengah mengintai ke empat pahlawan cilik kita? Berhasilkah mereka dalam misi yang mereka emban? Lebih baik (dan pasti lebih seru) kalau anda menuntaskan sendiri kisahnya. Karena bagaimanapun, kisah petualangan hanya bisa dinikmati secara langsung kan? Tapi moga-moga saja sekilas reviewku ini bisa menerbitkan setitik air liur anda untuk membaca buku petualangan setebal 574 halaman ini…

Judul: Persekutuan Misterius Benedict (The Mysterious Benedict Society)
Pengarang: Treton Lee Stewart
Penerbit: Matahati
Cetakan: Februari 2009
Tebal: 574 hlm