Friday, April 13, 2012

Menuju 400 Follower + BBI 1st Giveaway Hop!


Dalam rangka memeriahkan ULANG TAHUN BBI (Blogger Buku Indonesia) yang PERTAMA, para anggota BBI ramai-ramai mengadakan giveaway hop, dengan blog Fanda’s HistoricalFiction, Kumpulan Sinopsis Dari Okeyzz dan Dear Readers sebagai host. Sekaligus aku juga sedang menantikan jumlah followerku menjadi 400! Yayyy… (sekarang masih 384, moga-moga mencapai 400 sebelum giveaway ini berakhir!). Maka inilah giveawayku untuk para followerku yang selama ini setia mengikuti pengalamanku membaca buku di blog ini…

GIVEAWAY 1 copy buku Anak Rembulan by Djokolelono


Sinopsis bisa diintip di sini.

Syarat/Ketentuan:
  • Terbuka untuk semua yang berdomisili di Indonesia.
  • Wajib mem-follow blog ini (tentu saja), lewat GFC atau subscribe email.
  • Tiap peserta dapat memasukkan entri sebanyak-banyaknya.
  • Entri yang menang akan ditentukan melalui undian menggunakan random.org.
  • Giveaway berakhir pada 26 April 2012 pk. 23:59.
  • Bila 48 jam setelah aku menghubungi pemenang, tidak ada jawaban, maka aku berhak memilih pemenang baru.
Silakan langsung saja mengisi sebanyak-banyaknya entri, dan good luck!

a Rafflecopter giveaway


Selain blog ini, masih ada lebih dari 30 blog yang juga mengadakan BBI 1st Giveaway Hop. Listnya bisa kalian temukan di bawah ini. Kunjungi mereka juga ya, makin banyak kalian ikut giveaway, makin banyak kemungkinan menang. Dan temukan buku-buku lain dari penulis lokal di giveaway-giveaway itu!

Fantasi Friday (1)


Aku mengikuti blog hop yang diadakan Maria (blog Hobby Buku’s Classic). Temanya adalah tentang pengalaman kita dengan Children Literature saat masih kecil. Ini blog hop yang gampang-gampang-susah deh, karena sebelum menentukan apa yang mau ditulis, kita harus nostalgia dulu saat kecil dong… J. Sepertinya aku akan mulai dari awal sekali, yaitu buku pertama yang aku dapatkan dalam hidupku.

STORIES AND PICTURES
by V. Suteyev


Sesuai judulnya, buku ini (lebih banyak) berisi ilustrasi berwarna yang sangat menyerupai aslinya, diselingi dengan cerita fabel anak-anak. Ada 2 keunikan buku ini, yang pertama V. Suteyev adalah penulis sekaligus ilustrator buku ini. Lebih uniknya lagi, Suteyev mengerjakan ilustrator dan menulis ceritanya pada waktu yang bersamaan dengan menggunakan kedua tangan! Hebat bukan? Seperti ini kira-kira pose Suteyev waktu menggarap buku ini:


Sebenarnya nih...saat orangtuaku menghadiahkan buku ini kepadaku, aku sama sekali belum bisa membaca, apalagi memahami ceritanya J. Buku ini (seperti tanggal yang tertera di halaman depan buku) diberikan untukku saat aku baru berusia 9 bulan! Oh mama…memang aku sudah kau bentuk menjadi kutubuku bahkan saat masih bayi (thanks for that!). 


Aku tidak ingat mulai usia berapa mama mulai menceritakan isi buku ini—sambil memahami ilustrasinya—kepadaku. Yang jelas aku sangat menikmati saat-saat itu, saat aku boleh berjalan-jalan ke dunia imajinasi bersama buku, full color lagi. O ya, keunikan buku ini yang ke-2 adalah bisa dinikmati anak-anak hingga beberapa tahun. Cerita pertama sangat sederhana, kalimatnya singkat-singkat dan banyak pengulangan. Makin ke belakang, kisah dan penggunaan kalimat makin kompleks, sehingga pemahaman seorang anak makin banyak. Benar-benar buku anak-anak yang mendidik sekaligus menghibur, menurutku!


Dan karena nilai historisnya bagiku, aku masih menyimpan buku ini hingga sekarang. Inilah buku tertua yang ada di koleksi pribadiku saat ini (usianya hanya 2 tahun lebih muda dariku ).

Itulah Fantasi Friday with Children Classic Literature-ku minggu ini. Selanjutnya aku akan membagikan buku-buku masa kecilku seiring aku tumbuh sebagai [calon] kutubuku ya! J

Kalau mau ikutan blog hop ini, silakan meluncur ke blog Hobby Buku's Classic dan simak aturannya:


1.       Follow Blog " HobbyBuku's Classic" sebagai host melalui Google Friend Connect (GFC).
2.       Pasang button Fantasy Friday Blog Hop di postingan Anda atau sidebar blog, agar follower Anda juga bisa menemukan blog hop ini.
3.       Postingan berkaitan dengan Children Literature, pembahasan boleh tentang Books / Authors / Features. Sertakan pula pengalaman dan kenangan tentang topik yang diambil.
4.       Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Fantasy Friday” dan “Syarat Mengikuti” pada postingan Anda.
5.       Isikan link (URL) postingan Anda ke Mr. Linky di bawah ini ( klik saja sign Mr. Linky ). Cantumkan nama dengan format : nama Blogger @ nama Blog, contohnya : Hobby Buku @ Hobby Buku’s Classic.
6.       Jangan lupa untuk kunjungi blog-blog peserta blog hop ini, sehingga kita juga bisa berbagi wawasan dan pengetahuan tentang buku-buku yang belum pernah kita ketahui …

Yuk share Fantasy Friday-mu bersama Children Classic Literature!




Monday, April 9, 2012

European Reading Challenge

I just entered another reading challenge. This time the task is to read (and review of course) books that are set in Europe, from January 1, 2012 to January 31, 2013; one book for each country and author. And so far, this is my list:

England : The Murder of Roger Ackroyd (Agatha Christie) -- READ

France: Les Miserables (Victor Hugo) -- READ

Russia: Doctor Zhivago (Boris Pasternak) -- READ

Turkey: The Female (Paul I. Wellman) -- READ

Vatican City: Pope Joan (Donna Woolfolk Cross) -- READ

Italy: Juliet (Anne Fortier) -- READ

Netherlands: Lust for Life (Irving Stone) -- READ

And the list will still be growing...

As I have read 4 books until March, I encourage myself to take the highest level of this challenge:

Five Star (Deluxe Entourage): Read at least five books by different European authors or books set in different European countries.

If you'd like to join too, just visit Rose City Reader blog for more information about this challenge!

Tuesday, March 20, 2012

Top Ten Tuesday (2): Top Ten Books On My Spring To-Be-Read list

Well, although there's no spring in my country, I'll assume the Top Ten Tuesday of this week is about books I will read during 20 March to 20 June. So, this is it:


From my Historical Fiction piles:

March
I'm now in the middle of The Thorn Birds by Colleen McCullogh, which I think will only last till end of March.

April
Gadis Kretek by Ratih Kumala
This is a historical fiction from an Indonesian writer, telling a history of "kretek" cigarettes business in Indonesia long time ago and the stories of people who lived in that era.

The Court of the Lion by Eleanor Cooney & Daniel Altiery
A historical fiction of Tang Dynasty in China. There are 2 series of trilogy but I think I'll read the first book first

Sashenka by Simon Montefiore
From Indonesia, to China, next I'll be heading to Russia with this historical fiction..

May
Juliet by Anne Fortier
Quite a "sexy" book, hopefully worth reading.

The Help by Kathryn Stockett
I don't know when will the movies be played in my country, hopefully not before I finish with the book.


From my Classics piles:

March
Until the end of March, I'll be still struggling with L'Assommoir of Emile Zola.

April
The Great Gatsby by F. Scott Fitzgerald
A Midsummer Night's Dream by William Shakespeare

May
Nobody's Boy by Hector Malot

June
I will read these two books on A Victorian Celebration project:
Martin Chuzzlewit by Charles Dickens
Black Beauty by Anna Sewell

What about you? What's in your TBR list this spring? If you'd like to join this blog hop, just stop by at broke and bookish' blog.

Tuesday, March 13, 2012

Top Ten Tuesday (1): My Top 10 Classics

Aku tahu, hari Selasa sudah lewat, tapi aku baru menemukan blog hop yang asyik di blog ini. Temanya adalah menemukan 10 buku sesuai topik yang tiap minggunya berganti-ganti. Kreatif juga blogger ini, mau memikirkan 52 topik sepanjang tahun.

Untuk minggu ini, topiknya adalah: Top X Genre Books (pick the genre you want). Karena aku suka genre classic, maka inilah 10 buku klasik yang paling kusukai:

  1. To Kill a Mockingbird by Harper Lee
  2. The Count of Monte Cristo by Alexandre Dumas
  3. Curtain by Agatha Christie
  4. A Tale of Two Cities by Charles Dickens
  5. The Phantom of the Opera by Gaston Leroux
  6. The Yearling by Marjorie Kinnan Rawlings
  7. Oliver Twist by Charles Dickens
  8. Adventures of Huckleberry Finn by Mark Twain
  9. The Three Musketeers by Alexandre Dumas
  10. The Diary of A Young Girl by Anne Frank

Bagaimana denganmu?...

Friday, February 24, 2012

Kehidupan Abadi Henrietta Lacks

Tiap kali anda melakukan pemeriksaan kesehatan di laboratorium atau Rumah Sakit, pernahkah anda memikirkan jaringan kecil (misalnya darah atau sel) tubuh anda yang diambil oleh pihak medis untuk diperiksa? Aku yakin tidak, karena toh anda tak kehilangan apa pun. Tapi bagaimana perasaan anda kalau suatu hari mendengar bahwa sel yang berasal dari tubuh anda itu telah menjadi sebuah komoditas, tanpa sepengetahuan/seijin anda?

Hal yang sama telah terjadi 51 tahun lalu pada diri Henrietta Lacks, seorang wanita muda Afro-Amerika dari keluarga miskin keturunan budak, yang menderita kanker leher rahim saat berusia 31 tahun. Untuk memeriksa kankernya--demikian yang dikatakan si dokter waktu itu--pihak Rumah Sakit Johns Hopkins mengambil secuil sampel jaringan kanker Henrietta. Namun tanpa sepengetahuan Henrietta dan keluarganya, sel-sel kanker Henrietta ternyata berpindah tangan ke seorang peneliti yang sedang mencoba menumbuhkan sel manusia dalam kultur, dan menggunakannya dalam berbagai percobaan untuk kepentingan medis dan membagi-bagikannya ke banyak peneliti lain di seluruh penjuru dunia.

Berbicara soal sel, tahukah anda bahwa dalam tubuh manusia terdapat seratus triliun sel yang ukurannya sangat kecil, begitu kecil sehingga seribu sel bisa muat ke dalam sebuah tanda titik di ujung kalimat ini. Sel-sel itu selalu membelah diri, yang membuat janin tumbuh menjadi bayi, dan tubuh kita dapat menciptakan sel-sel baru untuk menyembuhkan luka atau mengganti darah yang hilang. Sel-sel kanker--bila ditumbuhkan dalam kultur yang memasok gizi baginya--akan mampu membelah diri tanpa henti, sehingga bisa dikatakan abadi. Salah satu contohnya adalah sel yang diambil dari tumor Henrietta Lacks, yang sel-sel garis keturunannya masih dipakai di seluruh dunia hingga saat ini, 61 tahun setelah ditumbuhkan pertama kalinya! Sel-sel itu dinamakan HeLa--diambil dari 2 huruf dari masing-masing nama Henrietta Lacks (Prolog xxiii).

HeLa telah banyak berjasa dalam bidang medis, ia menjadi bagian riset untuk peredam kanker, membantu pengembangan obat untuk herpes, leukimia, influenza, hemofilia, Parkinson. Ia juga berjasa dalam penelitian pencernaan laktosa, penyakit menular seksual, radang usus buntu, dan masih banyak lagi. Bahkan dosen Rebecca Skloot--penulis buku ini--mengatakan:

"Sel-sel HeLa adalah salah satu hal terpenting yang hadir dalam dunia medis dalam seratus tahun terakhir." ~Prolog xxiii

Kalau begitu, seluruh umat manusia di dunia seharusnya berterima kasih kepada Henrietta Lacks--dari siapa sel-sel HeLa itu berasal. Setiap kali mereka berobat dan sembuh dari penyakit mereka, sel HeLa pernah berperan dalam penemuan obatnya. Namun kalau HeLa sedemikian pentingnya dalam dunia medis, mengapa selama ini kita semua tak pernah mendengar tentang sosok Henrietta Lacks ini? Pertanyaan yang sama juga diajukan kerabat dan keluarga Henrietta. Di sinilah mulai muncul perdebatan abadi tentang salah satu etika medis dan sains yang hingga kini tak pernah terselesaikan, haruskah dokter meminta ijin pasien dan memberitahunya bahwa sel-selnya akan dipakai untuk penelitian medis?

Opini pro dan kontra langsung mengemuka. Banyak yang menginginkan keterbukan semacam itu, tapi di sisi peneliti, mereka menganggap keterbukaan itu akan menghambat kemajuan sains. Bagi mereka jaringan yang diambil dari tubuh kita saat pemeriksaan adalah sampah yang kita anggap terbuang. Mereka bebas menggunakannya untuk apapun. Toh kita tak kehilangan/rugi apapun. Kalau itu yang selama ini terjadi, orang bahkan akan merasa bangga bahwa entah bagaimana mereka telah turut berjasa bagi dunia. Namun saat uang mulai berbicara, perdebatan jadi semakin sengit dan seolah tak berujung. Orang jadi merasa bahwa miliknya dikomersialkan pihak lain, sementara dirinya sendiri tak mendapat apa-apa.

Di tengah-tengah perdebatan dan geliat penemuan medis dan riset genetika itulah, kisah Henrietta Lacks dan keluarganya dianyam dengan indah oleh Rebecca Skloot, seorang penulis sains yang membutuhkan waktu sepuluh tahun untuk menyelesaikan buku ini. Rebecca telah menelusuri jejak almarhumah Henrietta Lacks hingga ke kota kelahirannya Clover, Virginia. Ia lalu dengan sabar terus mendekati suami dan anak-anak Henrietta untuk mendapatkan kisahnya, selain dari para dokter dan peneliti yang terlibat dalam proyek sel HeLa. Dan hasilnya adalah buku yang sangat menakjubkan ini.

Rebecca menuliskan kisah ini dengan sangat detil dan kronologis. Kisahnya dibuka dengan awal ketertarikannya pada sel HeLa di kelas Biologinya, hingga saat-saat ia mulai menelusuri keberadaan keluarga Henrietta Lacks. Banyak ilmuwan yang sebelumnya pernah menghubungi keluarga Lacks dan meminta supaya mereka dites. Meski maksud mereka adalah untuk belajar lebih banyak tentang sel-sel HeLa dari keturunannya, namun yang ditangkap oleh keluarga Lacks yang notabene tidak terpelajar, adalah bahwa mereka ingin melihat apakah ada keturunan Henrietta yang menderita kanker. Kesalahpahaman ini memuncak ketika keluarga Lacks membaca atau mendengar berita bagaimana sel-sel HeLa terlah diperjual-belikan ke seluruh dunia.

"Saya selalu pikir, kok aneh, kalau sel ibu kami udah banyak jasanya buat kedokteran, kenapa keluarga kami nggak mampu bayar biaya dokter? Nggak masuk akal. Orang jadi kaya karena ibu saya tapi kami nggak tahu mereka ambil sel dia, sekarang kita nggak dapat duit sepeser pun." ~Debora (putri Henrietta).


Rebecca akhirnya menemukan tempat tinggal keluarga Lacks setelah bersusah-payah, hanya untuk menemukan bahwa mereka tak mau berbicara lagi karena sudah muak dengan banyak orang yang menghubungi mereka, yang--mereka merasa--hanya untuk mengeksploitasi mereka. Hanya dengan kesabaran dan ketulusan hati saja Rebecca perlahan-lahan melunakkan hati mereka: Lawrence--putra tertua, Sonny, Zakkariya--dulunya Joseph Lacks sebelum menjadi muslim, dan Deborah--putri kesayangan Henrietta yang saat itu berusia limapuluh tahun. Ada lagi putri Henrietta yang menderita epilepsi dan keterbelakangan mental bernama Elsie, yang sebelum ibunya meninggal, dititipkan ke Rumah Sakit untuk Negro Gila.

Deborah, yang awalnya tetap menolak berbicara kepada Rebecca meski saudara-saudara lainnya sudah mulai terbuka, akhirnya malah bersahabat akrab dengan Rebecca. Ia banyak memberikan sentuhan personal dan emosional dalam buku ini, dan membuat buku ini terasa "sangat Deborah". Apalagi karena Rebecca mengutip langsung gaya bahasa Deborah yang cuek dan tak berpendidikan. Saat-saat ketika Deborah terserang kepanikan juga tergambar dengan sangat jelas lewat buku ini, hingga seringkali aku lupa bahwa ini adalah buku non fiksi.

Tapi saat paling emosional rasanya adalah ketika dengan ditemani Rebecca, Deborah--yang hingga saat itu tak pernah mengetahui keberadaan Elsie--akhirnya mendatangi Rumah Sakit untuk Negro Gila tempat terakhir Elsie menghabiskan hidupnya. Di sana barulah terungkap kenyataan pahit yang dialami Elsie malang sebelum ia meninggal di usia limabelas tahun.

Dari sejarah sel HeLa dan nasib Elsie, mataku menjadi terbuka pada kenyataan pahit dalam sejarah, di mana dokter dan dunia medis sering mempergunakan (atau lebih tepatnya mengeksploitasi) orang-orang kulit hitam sebagai obyek percobaan, tanpa penjelasan yang memadai. Bukan itu saja, para dokter sering menyuntikkan virus atau substansi lain ke tubuh mereka untuk diteliti. Praktik ini terutama dilakukan di rumah sakit atau klinik-klinik gratis bagi kaum kulit hitam. Mungkin dengan pemikiran bahwa pengobatan digratiskan dengan ganti obyek manusia untuk penelitian? Hal yang lebih tak manusiawi lagi adalah yang terjadi pada anak-anak kulit hitam penderita epilepsi seperti Elsie...yang tak tega rasanya aku membeberkannya di sini...

Pada akhirnya, pertanyaan apakah untuk mengambil jaringan tubuh pasien demi penelitian dokter harus minta persetujuan, tetaplah tak terjawab dengan pasti. Yang ada hanyalah etika, bukan hukum. Paling tidak ini yang terjadi di Amerika--setting kisah ini, entah di negara-negara lain. Menurutku pribadi, pihak medis wajib menjelaskan kepada pasien apa yang akan dilakukan dengan sampel darah atau jaringan yang diambil dari kita, karena kita memiliki hak untuk mengetahuinya. Paling tidak, itu berarti mereka menghargai pasien. Kurasa, uang bukanlah subyek utama dari perdebatan ini, melainkan penghargaan, seperti yang pada akhirnya diakui oleh Deborah. Siapa sih yang tak bangga kalau dirinya turut menyumbang bagi keselamatan banyak orang? Henrietta Lacks memang telah meninggal 61 tahun lalu, namun bagian kecil dirinya telah menyumbangkan sesuatu yang berharga bagi umat manusia, warisannya akan hidup selamanya. Semoga dengan terbitnya buku ini, makin banyak orang di dunia yang akan memberikan penghargaan kepada Henrietta dan seluruh keluarga Lacks.

Lima bintang untuk buku yang menambah wawasan, mengaduk-aduk emosi, sekaligus menyentuh rasa kemanusiaan kita. Sungguh, setelah membaca buku ini, pengalaman memeriksakan diri ke laboratorium atau Rumah Sakit takkan pernah sama lagi bagiku...



Video wawancara Rebecca Skloot tentang buku ini:



Judul: Kehidupan Abadi Henrietta Lacks
Judul Asli: The Immortal Life of Henrietta Lacks
Penulis: Rebecca Skloot
Penerjemah: Zia Anshor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 2011
Tebal: 385 hlm

Tuesday, February 21, 2012

Suddenly Supernatural #3: Medium Yang Tidak Bahagia

Sekitar pertengahan abad 19, ada sepasang kakak beradik Margareth ‘Maggie’ dan Catherine Fox yang mengaku mampu berkomunikasi dengan arwah orang yang meninggal (medium). Karena keahlian ini mereka jadi terkenal di seluruh Amerika, di mana aliran Spiritualisme sedang marak. Namun pada tahun 1888 Maggie membuat pengakuan yang mengejutkan, bahwa apa yang dilakukan Fox Bersaudari selama ini adalah kebohongan—akting semata—yang mereka lakukan karena dorongan kakak tertua mereka Leah, demi mencari keuntungan. Anehnya, tak lama kemudian Maggie meralat pengakuannya, dan pada pengakuan kedua ini ia menandaskan bahwa Fox Bersaudari memang medium yang bisa berkomunikasi dengan arwah—suatu misteri yang tak pernah terpecahkan…

Hingga di sini anda tidak salah baca! Aku bukan hendak mereview sebuah novel historical fiction, melainkan kisah tentang seorang remaja yang menjadi ‘medium’. Masih ingat petualangan Kat dan sahabatnya Jac di Suddenly Supernatural #2 kan? Nah, di sekuel ketiga ini Kat mulai menghadapai bahaya yang sebenarnya dalam ‘profesi’ seorang medium. Kalau di buku kedua Kat masih terasa main-main, kini Kat menghadapi sesuatu yang lebih “gelap”. Yuk intip sedikit kisahnya..

Liburan musim panas kali ini Kat ikut Jac dan mamanya menghadiri konvensi musisi muda yang diadakan di rumah tua bergaya abad 19 yang bernama Whispering Pines Mountain House. Tentu saja Jac yang menghadiri acara-acara bagi para musisi itu, sementara Kat menghabiskan banyak waktunya sendirian. Dan saat pertama kali masuk kamar, Kat sudah berjumpa dengan arwah seorang wanita tua berserban yang memakai pakaian ala jaman Victoria. Wanita itu adalah Madame Serena. Si madame (dulunya) seorang medium juga, dan tak menyadari bahwa dirinya telah meninggal. Lucunya, ia malah mengira Kat lah yang berada di ‘dunia lain’, bukan kebalikannya…

Madame Serena dulu tinggal di Whispering Pines, dan menempati kamar yang saat ini ditempati Kat. Ia masih terobsesi untuk membantu kliennya, istri Kolonel, untuk “menghubungi” Loretta tercintanya. Berkali-kali ia mencoba, namun Madame Serena selalu gagal. Ia sedih, karena saat itu hanya istri Kolonel lah yang percaya kepadanya, sementara orang-orang lain menganggapnya medium bohongan. Mengapa? Kembali lagi, semuanya karena ribut-ribut pengakuan Maggie Fox yang membuat Spiritualisme dicemooh dan dianggap penipuan. Dan kini, tugas Kat lah untuk “mengirim” Madame Serena ke jalur ke mana ia seharusnya menuju.

Andai hanya sesederhana itu, pasti buku ini akan super duper membosankan. Untungnya, Kat menemukan tantangan lain. Kali ini bukan sekedar arwah orang meninggal, namun lebih dahsyat dari itu: sebuah entitas kegelapan yang cenderung merasuki dan mengendalikan manusia untuk berbuat jahat. Entitas itu berbentuk awan hitam nan pekat—mengingatkanku pada dementor di kisah Harry Potter—yang menyedot habis dan mencuri energi makhluk yang dirasukinya. Dan saat ini Kat sendirian di hotel, tanpa ibunya dan tanpa Orin (semacam guru dan teman ibunya) di sampingnya. Ia harus berjuang sendirian melawan si entitas gelap. Atau... apakah ia benar-benar sendirian?

Sampai sini anda merasa buku ini terlalu “gelap”? Jangan khawatir, Elizabeth Cody Kimmel tetap menyisipkan hal-hal khas remaja, terutama lewat sosok Jac. Di konvensi ini Jac—yang masih tetap tak akur dengan ibunya—asyik menikmati perhatian dari seorang cowok sesama peserta konvensi, sampai-sampai mengacuhkan Kat dan bahkan bertengkar dengannya. Sekali lagi tersisip indahnya persahabatan di kisah ini.

Ada hal yang menarik bagiku—selain secuplik fakta sejarah yang terselip di sini—yaitu nasihat dari Orin saat Kat harus menghadapi bahaya si entitas jahat:

“Segala bentuk cahaya terang adalah musuh makhluk ini. Energi terang adalah energi cinta, kebaikan, dan kemurahan hati. Energi gelap adalah energi kebencian dan kehancuran.” ~hlm. 153.

“Seorang manusia, tak peduli selemah apa pun, bisa melindungi dirinya dari kerasukan fisik dengan doa sederhana atau dengan memanggil kekuatan apa pun yang mereka yakini, jika mereka tahu caranya. …Pikirkan sebuah bintang yang akan meledak menjadi supernova. Tambahkan dengan cinta. Setiap emosi kepedulian dan kasih sayang yang bisa kau bangkitkan.” ~hlm. 153.


Kali ini secara keseluruhan, Kat sudah lebih dewasa dari petualangannya yang terakhir, dengan problema yang lebih “nyata” juga. Karena masalah kerasukan itu adalah masalah yang nyata, kadang dalam bentuk ekstrem yang membuatnya si manusia menjerit-jerit atau lainnya, namun kadang bentuknya lebih pasif—membuat seseorang terdorong untuk bunuh diri. Pada saat-saat itulah, seperti nasihat Orin, yang harus dilakukan hanya satu: berdoa sambil tetap percaya bahwa Yang Baik lah yang akan menang.

Lalu, akankah Kat berhasil mengusir si entitas jahat untuk selamanya? Apakah Jac berhasil mencuri hati si cowok? Dan mengapa sekuel ini diberi judul medium yang tidak bahagia? Kau harus menemukan jawabannya sendiri deh...

Tiga bintang untuk buku ini!

Judul: Suddenly Supernatural #3: Medium Yang Tidak Bahagia
Penulis: Elizabeth Cody Kimmel
Penerjemah: Barokah Ruziati
Penerbit: Atria
Terbit: Desember 2011
Tebal: 217 hlm