Thursday, August 9, 2012

[Short Story] Fish Files (Arsip Bau Busuk) by John Grisham


Satu lagi karya John Grisham yang keluar dari ‘pakem’ novel yang biasa kita jumpai, di mana kisahnya berfokus pada ‘perjuangan’ tokoh utamanya yang menyandang status antagonis. Kisah ini merupakan kisah ketiga dalam kumpulan cerita pendek karya Grisham berjudul Ford County. Seperti kisah pertama dan kedua, kisah ini masih bersetting di Ford County, Mississippi, dan kali ini—akhirnya—muncul tokoh pengacara dalam setting berbau hukum (ini karya Grisham kan, kisah macam apalagi yang kita tunggu-tunggu?).

Mack Stafford adalah pengacara kecil untuk kasus-kasus-kasus perceraian dan kebangkrutan, yang terhimpit di antara begitu banyak pengacara-pengacara kecil lainnya yang berjejalan mencari nafkah di Ford County. Ia sudah nyaris putus asa dengan hutang menumpuk tanpa ada tanda-tanda karirnya akan meningkat, ketika suatu hari ada telepon masuk yang akan mengubah hidupnya. Mack pernah mengerjakan kasus gugatan terhadap kesalahan produksi gergaji listrik yang telah mencelakakan pemakainya. Ia menemukan empat korban dan berusaha untuk mengajukan ‘class action’ terhadap sebuah perusahaan besar yang memproduksi alat itu. Sayangnya, waktu berlalu dan gugatan itu tak pernah ada, sampai file-nya terkubur di suatu tempat di laci berdebu Mack yang ia namakan Arsip Bau Busuk (arsip yang tak ada kelanjutannya setelah waktu yang lama).

Di hari bersejarah itu seorang pengacara yang mewakili sebuah perusahaan yang telah mengambil alih saham si perusahaan besar di Arsip Bau Busuk Mack, menelponnya untuk mengajukan proposal ganti rugi agar kasus itu dapat segera ditutup dan ‘dibersihkan’ selamanya. Mack langsung mencium aroma ‘uang’, dan seperti kebanyakan orang lain yang ada di posisinya, timbullah keserakahan. Bukannya berpikir bijak dengan menggunakan hasil yang akan ia dapatkan untuk melunasi hutang dan membangun kembali hidupnya yang carut-marut, Mack malah memutuskan untuk ‘mengubur’  kehidupannya yang sekarang untuk memulai hidup baru yang penuh kemewahan dan kebebasan. Dan dalam proses menuju ‘surga instan’ itu, ia pun mulai menghancurkan hidup orang-orang yang dekat dengannya bahkan keluarganya, lalu perlahan-lahan melakukan kejahatan demi kejahatan. Demi mendapatkan ‘surga instan’ itu.

Kisah seperti ini bukan hanya sekali kudapati pada John Grisham—ada lebih dari satu kalau tak salah, kisah yang serupa—di mana Grisham menjadikan tokoh antagonisnya sebagai tokoh utama; dan alih-alih membawa kita merasakan kemenangan pihak yang benar, kita pun diajak ‘menjadi’ si penjahat sendiri yang berhasil memperkaya diri sendiri dalam sebuah pertarungan hukum. Meski kisah ini tidaklah sesensasional The Runaway Jury, tetap saja aku merasa seperti ‘terbelah’, antara menikmati law-thriller ala Grisham yang selalu cantik—tak peduli di novel ratusan halaman atau cerpen 58 halaman—dan merasa miris pada keserakahan manusia yang mampu menjadikannya tak lagi manusiawi.

Meski tak mampu turut merasa terserap dalam kisah ini, namun kecantikan Grisham meramu law thriller-nya membuatku memberikan tiga bintang untuk kisah ini.

Wednesday, August 8, 2012

Aliens on Vacation


“Jika aku bisa menyediakan tempat di mana beragam spesies dapat berkumpul dalam damai, maka itulah hadiah terbaik yang bisa kuberikan bagi kosmos ini.”

Selamat datang di Penginapan Antargalaksi! Sesuai dengan namanya, penginapan ini menerima pengunjung beragam spesies dari seantero galaksi. Makhluk-makhluk yang biasa kita sebut alien itu senang berlibur di planet kecil yang kita cintai ini, Bumi! Demi keselamatan mereka, para turis ini—demikian sebutan mereka—akan dipakaikan penyamaran mirip manusia sehingga mereka bisa berjalan-jalan di Bumi dan merasakan hidup di peradaban manusia. Penginapan ini dimiliki dan dikelola oleh seorang wanita eksentrik paruh baya selama empat puluh tahun, yang membuatnya tidak disenangi oleh penduduk setempat dan sang sheriff, karena penginapannya selalu berisi ‘orang-orang’ yang berpakaian dan bertingkah aneh-aneh.

Ke sanalah David aka Scrub akan menghabiskan dua bulan liburan musim panasnya kali ini. Scrub adalah seorang remaja cowok biasa yang canggung menghadapi cewek, dan sedang berjuang untuk masuk ke tim utama basket di sekolahnya meski tubuhnya..hmm…maaf..pendek. Ia menatap liburannya dengan muram, merasa ‘dibuang’ ke kota kecil yang tidak menarik, mendapati penginapan nyentrik milik Grandma-nya yang juga nyentrik, tak mendapati koneksi internet atau televisi di kamarnya, dan harus menyantap hidangan favorit Grandma berupa tahu, labu, beras merah, dan jamur…yucks!! Dan belum-belum ia sudah berkanalan dengan sheriff galak, pria linglung aneh berkulit kelabu dan cewek yang suka memotret sembunyi-sembunyi. Bisakah kau bayangkan prospek liburan musim panas Scrub?

Namun setelah berjalannya waktu, ternyata Scrub mulai bisa terbiasa dan malah menikmati pengalamannya. Ia menjadi asisten Grandma khusus untuk penyambutan para alien yang datang lewat transporter, dan ia juga yang dengan kreatifitasnya bertanggung jawab menyulap para alien yang berbentuk aneh itu menjadi mirip manusia normal…yah..sedikit mirip lah.. Sampai Scrub berkenalan (akhirnya) dengan si cewek bertopi kuning yang suka memotret itu. Ternyata si cewek bernama Amy ini lumayan cantik dengan bintik-bintik di hidungnya, dan dengan kecerdasannya, terutama yang menyangkut fiksi ilmiah. Singkat kata, oh…Scrub pun jadi mulai jatuh cinta pada Amy. Tampaknya, liburan init oh akan menyenangkan juga kok bagi Scrub….

Eh tapi tunggu dulu! Menangani sekian banyak ‘turis’ alien ternyata tak segampang yang kau pikirkan, terlebih karena tak boleh seorang pun tahu bahwa para turis itu adalah alien. Kau tahu sendiri kan, bagaimana masyarakat akan heboh kalau mengetahui ada alien berada dekat dengan mereka. Dan terutama, mereka harus menutupinya dari sherif Tate yang sudah gatal ingin menutup bisnis Grandma selamanya. Yah…Scrub merasakan sendiri betapa sulitnya memikul tanggung jawab untuk melindungi rahasia itu sekaligus melakukan pedekate pada Amy. Ugh…kenapa Scrub terus saja melakukan hal-hal bodoh yang membuat Amy mungkin sebal padanya, padahal yang ia inginkan cuma satu…yaitu mencium Amy; selama hidupnya Scrub belum pernah mencium cewek lho!...

Kurasa kau akan dapat menebak isi buku ini selanjutnya. Pasti akan ada hal-hal yang salah, dan ketika Scrub hendak melakukan sesuatu yang penting, semuanya malah berantakan. Si ‘jahat’ nampaknya akan menang, dan si ‘baik’ tak mampu melakukan apa-apa, sampai di saat terdesak tiba-tiba muncul ide cemerlang. Yeah…seperti itu jugalah cerita ini akan mengalir, namun tetap saja, aku mengacungkan jempol pada Clete Barrett Smith—jangan pernah meremehkan penulis yang tak pernah kau dengar sebelumnya!—yang bisa merenda cerita dengan manisnya. Ia mampu menggabungkan unsur kocak, seru, percik-percik cinta :), dan nilai-nilai kemanusiaan menjadi satu kesatuan kisah yang enak untuk dinikmati. Tidak kekanak-kanakan, tidak picisan, alurnya pas, dan meski ceritanya jelas tak masuk akal, namun kau tak akan merasakannya, sama seperti Scrub yang langsung bisa beradaptasi dengan semua keanehan di Penginapan Antargalaksi. Seolah bertemu dengan alien adalah hal paling biasa yang pernah kau alami!

Tapi kurasa hal paling hebat dari buku ini adalah kau akan sempat menemukan sebuah nilai moral yang terbungkus dalam kisah ringan ini, yaitu tentang memperlakukan sesama, meski mereka berbeda dengan kita. Berbeda bukan berarti mereka tidak baik, apalagi jahat. Yang perlu kita lakukan pertama-tama adalah menyambut mereka dengan tangan terbuka, memperlakukan mereka sama dengan kita memperlakukan teman-teman kita, maka mereka pun akan menjadi teman kita.

Aku juga senang pada bagaimana Grandma memperlakukan Scrub. Remaja seusianya ingin diperlakukan dengan serius—tidak disepelekan karena ‘masih kecil, ingin dipercaya untuk melakukan suatu tugas, dan dipuji ketika ia melakukan tugas dengan baik. Dan yang terpenting, perasaan dicintai, berikan semuanya itu, maka si anak akan menjadi anak yang baik dan berbakti pada orang tua.

Akhirnya, aku cuma ingin bilang, tak banyak novel remaja yang membuatku tersentuh, dan novel ini adalah salah satunya. Empat planet untuk Scrub dkk! :)

Judul: Aliens on Vacation (terjemahan: Liburan Para Alien)
Penulis: Clete Barrett Smith
Penerjemah: Justine Tedjasukmana
Editor: Fenty Nadia
Penerbit: Atria
Terbit: Juni 2012
Tebal: 310 hlm

Monday, August 6, 2012

Dark Parallel: The Joshua Files #4


Aku seperti bunga matahari yang berotasi ke arah matahari” ~Joshua Garcia

Seperti itulah kondisi hati Joshua Garcia saat ia mulai pindah ke Ek Naab bersama ibunya. Masih ingatkah kau pada Joshua—si ABG yang di seri pertama serial The Joshua Files menemukan kaitan dirinya dengan Ek Naab, kota yang hilang dari bangsa Maya? Yang lalu mulai mencari keberadaan ayahnya yang hilang di seri ke-2 dalam petualangan berbahaya di gunung esOrizaba? Dan yang kemudian mulai menjajal Gelang Itzamna untuk menemukan titik nol di seri ke 3? Nah, kini Joshua, sekarang jauh lebih matang dari sebelumnya, masih akan bertualang untuk mencoba menyelamatkan peradaban dunia yang terancam punah pada Desember 2012 menurut ramalan kuno bangsa Maya.

Seperti bunga matahari yang berotasi ke matahari, Joshua di seri keempat—Dunia Paralel—ini sedang benar-benar jatuh cinta pada Ixchel, s cewek Ek Naab. Sayangnya Ixchel nampaknya malah lengket dengan Benicio, sepupu Joshua di Ek Naab. Namun, meski sedang galau dilanda cinta, Josh masih sempat memikirkan urusan Ek Naab, setidaknya ketika Montoyo membicarakan rencana pergi ke Kerajaan Calakmul abad ke-7 demi menggagalkan usaha Sekte Huracan untuk merusak Codex Ix. Bisakah kau membayangkan Montoyo bepergian ke masa lampau dan bertualang di bangsa Maya kuno? Jangan khawatir, karena akhirnya justru Josh lah yang akan berangkat bersama dengan Ixchel dengan bantuan Gelang Itzamna.

Jangan mengira misi Josh dan Ixchel akan berjalan mulus, banyak petualangan yang—bukan lagi menyerempet, tapi benar-benar—berbahaya, yang membuatmu menahan napas saking tegangnya. Kali ini musuh mereka bukan lagi Simon Madison, namun ayahnya sang Pemimpin Sekte Huracan yang kejam, Marius Martineau. Jadi bayangkan betapa terkejutnya Josh saat ia mengira bahaya terbesarnya saat itu adalah terperangkap di tengah bangsa Maya pada tahun 653 dan berpotensi menjadi kurban persembahan mereka karena telah dituduh mencuri Gelang Itzamna, tiba-tiba menyadari bahwa Pendeta bangsa Maya ini adalah Marius! Bagaimana ia sampai di sana? Tentu saja dengan Gelang Itzamna juga. Ah, berarti Gelang Itzamna ada dua? Itulah bagian teka-tekinya…

Di luar semua itu, masih ada sesuatu yang berubah di dunia Josh sendiri, sebuah misteri yang aneh baginya. Bagaimana mungkin Tyler sobatnya tidak mengenalnya? Bagaimana mungkin orang-orang Ek Naab tak mengetahui hal-hal yang terjadi di waktu lampau? Bagaimana mungkin ada hal-hal yang hanya Josh seorang yang mengetahuinya? Apa semua ini akibat dari perjalanan waktu yang Josh lakukan dengan Gelang Itzamna? Benarkah salah satu konsekuensi perjalanan waktu adalah engkau akan terlempar ke realitas yang lain meski dalam kerangka waktu yang sama? Inikah yang disebut Dunia Paralel, yang menjadi judul seri ke 4 Joshua Files ini?

Kalau begitu, saat Josh dan Ixchel akhirnya harus meninggalkan Calakmul abad ke 7 dan kembali ke abad 21, ke manakah kira-kira mereka akan mendarat? Akankah mereka mendapati Meksiko yang sama? Akankah mereka menjumpai keadaan di Ek Naab sama seperti sebelum mereka pergi? Atau akankah mereka terdampar di realitas waktu, di mana mereka sendirian, tak lagi memiliki siapapun?

Terus terang saja, aku jadi semakin kagum pada M.G. Harris. Seri ke empat ini benar-benar menyuguhkan sesuatu yang lebih daripada sekedar petualangan seru beberapa orang remaja. Aku menemukan Dark Parallel ini lebih cerdas dari seri-seri sebelumnya. Di sini imajinasi dan konsentrasi tingkat tinggi akan sangat dibutuhkan untuk memahami seluk-beluk perjalanan waktu dan semua hal di seputar codex ix dan Gelang Itzamna ini.

Mau tak mau aku jadi berpikir, bahwa sebenarnya hidup ini sendiri menawarkan konsekuensi yang sama seperti Gelang Itzamna. Sebenarnya kau tak perlu memakai Gelang Itzamna untuk melakukan perjalanan waktu ke masa lampau untuk melakukan atau memperbaiki sesuatu untuk mengubah apa yang terjadi di masa kini. Apa yang bisa kita lakukan adalah mengubah atau memperbaiki apa saja yang perlu kita perbaiki di masa kini, untuk mengubah apa yang akan terjadi kelak di masa depan. Masuk akal kan? Karena bukan hanya karena Gelang Itzamna, hidup ini sendiri memang menyediakan berjuta-juta kemungkinan. Apa yang kita lakukan dahulu—sekecil apapun itu—akan berpengaruh pada hidup kita hari ini; apa yang kita lakukan sekarang akan berpengaruh pada keadaan kita kelak, baik maupun buruk. Realitas itu membantuku untuk memahami tentang Dunia Paralel.

“Setiap tindakan memiliki konsekuensi” ~hlm. 149

“Begitu kamu meninggalkan garis waktumu, garis waktu itu hilang untuk selamanya.” ~hlm. 149

“Takdir kita tidaklah menakutkan karena ketidaknyataannya; takdir terasa menakutkan karena tak bisa diulang kembali dan terlindung besi.”~hlm. 135

“Semenakutkan itulah rasanya jika kau berurusan dengan sejarah. Kau tak akan pernah tahu ke mana tindakanmu berujung.” ~hlm. 332

Sampai dengan paragraf di atas, kau akan mengira novel ini penuh petualangan berbahaya dan deduksi rumit ala fiksi ilmiah saja. Sebenarnya tidak. Hal yang paling aku sukai dari novel ini justru terletak pada perkembangan pribadi Josh sendiri, dan tentu saja pada hubungannya dengan Ixhel. Di seri ke 4 ini aku menemukan sesuatu yang berbeda pada diri Josh. Ia sudah lebih dewasa dan matang, dan cintanya pada Ixchel terbukti bukan cinta monyet belaka. Terharu aku membaca bagaimana Josh mengorbankan hidupnya dan nasib dunia yang ada di tangannya, demi menyelamatkan Ixhel; karena di tengah petualangan penuh marabahaya itu pun Josh mampu menyadari bahwa ia takkan sanggup hidup tanpa Ixchel.

Untungnya di tengah semua hiruk pikuk menyelamatkan dunia dari super gelombang magnetik di 2012 itu, M.G. Harris masih memberi kesempatan manis kepada Josh dan Ixchel untuk menikmati saat-saat romantis mereka, hanya berdua di tepi pantai. Oh sungguh….adegan itu sangat-sangat romantis! Seperti kita semua saat mengalami kejadian yang membahagiakan, kita tak ingin semuanya berakhir, begitu juga Josh. Meski sedang dilanda cinta, ia menyadari bahwa tanggung jawab yang sangat berat ada di pundaknya, dan itu menyangkut keselamatan umat manusia! Jadi, meski kau begitu menikmati membaca seri ke-4 ini, akan ada saatnya engkau harus menutup lembar terakhir, dan sekali lagi kau akan mengalami penantian (yang moga-moga tidak) panjang sebelum seri terakhir Joshua Files terbit lagi! Sampai saat itu, cukuplah kalau aku menutup tulisan ini dengan kata-kata Josh sendiri.…

“Berada begitu dekat dengan Ixchel membuatku merasakan sesuatu, perasaan yang dalam dan tenang, seolah aku ada di dalam gelembung yang tertahan di spektrum waktu. Bukannya aku tak mau tumbuh dewasa, meskipun ada begitu banyak bahaya yang harus kami hadapi. Tapi saat ini kuharap waktu bisa berhenti berputar.”

Empat gelang untuk Joshua!

Judul: The Joshua Files #4: Dark Parallel
Penulis: M.G. Harris
Penerjemah: Nina Andiana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Juni 2012
Tebal: 367 hlm

Wednesday, August 1, 2012

[Short Story] Menjemput Raymond (Fetching Raymond) by John Grisham


[conclusion in English is at the bottom of this post]

Cerpen kedua di kumpulan cerita pendek karya Grisham: Ford County ini awalnya menyiratkan cerita yang biasa-biasa saja—Menjemput Raymond, apa yang terlintas dalam pikiran anda saat membacanya? Apa yang akan terjadi saat anda menjemput seseorang? Jangan salah, jangan menilai sebuah kisah dari judulnya saja, kalau anda tak mau terkecoh seperti aku. Mengawali kisah ini dengan skeptis, aku justru menemukan kisah ini sebagai kisah yang intens, menguras emosi dan tentu saja, menguras air mata. Memang kisahnya berkisar pada perjalanan sebuah keluarga (lagi-lagi aku bertemu dengan kisah perjalanan seperti pada cerpen pertama—Perjalanan Berdarah, apakah ini akan menjadi benang merah kumpulan cerpen ini?) untuk menjemput Raymond. Namun, siapakah Raymond ini? Mengapa ia perlu dijemput? Dan dalam keadaan bagaimana ia akan pulang? Itulah yang menjadi inti kisah ini.

Raymond ternyata adalah salah satu anggota keluarga Graney yang super berantakan. Bagaimana tidak, semua berawal dari Inez—sang ibu—yang diperkosa, lalu dinikahi oleh seorang bajingan, yang akhirnya menelantarkan keluarga mereka setelah meninggalkan ‘jejak’ abadi pada ketiga putranya yang sudah kenyang disiksa dan dipukuli, kenyang dengan suasana kekerasan dalam rumah mereka. Tak heran bila ketiganya tumbuh menjadi berandalan juga. Leon yang tertua, akhirnya mampu mengentaskan dirinya dan kembali ke jalan yang lurus, sementara Butch dan Raymond terus keluar-masuk penjara. Akhirnya Raymond pun terlibat dalam pembunuhan dan dipenjara untuk menantikan hukuman mati.

Perjalanan ini adalah perjalanan keluarga Garney yang terakhir kalinya ke penjara Parchman, karena malam itu Raymond akan dihukum mati di kamar gas. Grisham dengan piawainya telah mengusik emosiku dari saat perjalanan itu dimulai, karena sedikit demi sedikit kita pun diajak melihat perjalanan mereka semua selama sebelas tahun penantian antara Raymond mulai masuk penjara hingga saat akan dihukum mati. Dengan perjalanan itu Grisham telah mulai membangun karakter sosok Raymond, bagaimana ia selalu saja menuntut banyak dari orang lain, dan selalu membualkan berbagai macam hal. Aku pun dibuat muak dengan sifat Raymond ini. Namun—dan inilah piawainya Grisham—ketika eksekusi sudah semakin dekat, emosiku pun mulai teraduk-aduk. Mau tak mau aku teringat pada novel terbaik Grisham yang pernah kubaca: The Chamber, yang bertema sama, terpidana yang menanti hukuman mati.

**spoiler** Membaca cerpen ini kembali gugatan diam itu terlintas di pikiranku: mengapa hukuman mati tetap saja ada di muka bumi yang (katanya) beradab ini? Aku selalu berada di pihak kontra humuman mati, tak perlu kujelaskan mengapa, karena bisa-bisa ulasan ini akan berubah menjadi ajang debat filosofi… :). Dan ada dua hal yang mengusikku ketika menamatkan kisah ini, yang ditutup dengan,

Dia (Leon) mengemudikan mobilnya ke pabrik lampu di sebelah timur kota dan memasukkan kartu absensi pada pukul 08:30, seperti biasanya.

Pertanyaanku…setelah menyaksikan sendiri saudaramu—betapapun bejatnya dia—meregang nyawa di kamar gas, dapatkah kau hanya ‘mengemudikan mobil ke tempat kerja lalu memasukkan kartu absensi seperti biasanya’ seolah perjalanan menjemput saudaramu itu hanyalah salah satu kegiatanmu pada malam hari? Aku percaya tidak. Mungkin kalimat terakhir itu mau menekankan ironi pada nasib Raymond yang diabaikan begitu saja pada akhir hidupnya yang tragis, karena ia memang bajingan dan sudah sewajarnya mengalami nasib buruk—apa yang kau tanam itulah yang kau tuai. Tapi menurutku apa yang Leon saksikan malam itu akan terus membekas sepanjang sisa hidupnya.

Di sisi lain, aku geram dengan reaksi para tetangga keluarga Garney, yang tak muncul seorang pun pada saat pemakaman Raymond. Dia memang penjahat, tapi apakah tak ada sedikit pun rasa belasungkawa karena seorang manusia—sesama mereka—telah dibunuh? (oh ya, aku menganggap hukuman mati sebagai sebuah pembunuhan terorganisir!) Aku juga sangat heran dengan komentar Mr. McBridge yang meminjamkan van-nya untuk perjalanan menjemput Raymond ini: “Tahu nggak, beberapa orang tidak menyukai ini” Apa maksudnya? Bahwa para tetangga tak menyukai van milik orang baik-baik dipakai untuk membawa pulang peti mati penjahat? Atau bahwa jenazah seorang penjahat akan dimakamkan berdekatan dengan makam leluhur mereka? Betapa absurdnya kalau perkiraanku benar! Ingin rasanya aku melemparkan alkitab tebal ke wajah mereka, sambil berkata: Baca Yoh 8:7b “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

Yah, sayangnya aku hanya membaca kisah ini lewat cerita pendek karya John Grisham, dan hanya mampu memberikan 5 bintang untuknya! Sungguh kisah yang menggugah emosi, dan hebatnya, hanya ditulis sebagai cerita pendek sepanjang 65 halaman!

Conclusion:

This is a story about a crooked family named Garney—a mother and two brothers—in their journey to the county jail to pick up Raymond for the last time. Raymond Garney was charged with death penalty for murdering a man, and tonight is the night of the execution, after waiting for eleven years. Many things had happened during those eleven years, the mother never failed to support his son, no matter guilty he was. “She was there when they were born, and she’s still there when they were beaten”.

I got emotional (crying a bit) after reading this book, it reminded me much of Grisham’s The Chamber. I still can’t agree on death penalty, and the scene of the execution always sheds my tears (thanks to Grisham!). Raymond is not an innocent man, he was guilty, he was born a liar, and he always asks for money from his family. Well, in short, he has every quality of man we should hate. Nevertheless, seeing a human being killed by others (although under the law) always touched me deeply.

Five stars for this story!

Wednesday, July 25, 2012

[Short Story] The Woman With A Pitted Face by Ratih Kumala


This time I would like to introduce and promote Indonesian literature in the Short Stories on Wednesdays. What embarrasses me is that I’ve just found this site: I-Lit: IndonesianLiterature in Translation from a non-Indonesian blogger. I did not even know that such a project exists, until now. Anyway, this is a project to promote Indonesian literature by translating it to English. You can find many short stories (and you can read it directly on the site) written by young female Indonesian authors. The tag line is “Not Chick-Lit! Writing by Younger Indonesian Women Writers”.

For my first reading, I pick a short story from Ratih Kumala, as I have recently read one of her novels, a historical fiction, that I found very enjoyable.

The story is about a poor woman with a disfigured face (a pitted face) who was rejected by her parents since her birth, as well as by everybody in the kampong (small village). Not only ugly, she was also mute and appeared to be idiot too. I’d rather think that in fact the girl was quite normal in spite of her pitted face, however as nobody has ever treated her as a human (taught her to be civilized), she became mute and idiot. Anyway, everything run quite well for the pitted face girl until someday, a group of school boy threw pebbles to her out of nothing, just because she was ugly and never talked or responded to them. The girl took a big stone and threw it to the children, and one of them got a wound from it. The mother of the wounded boy got angry and insisted that the idiot girl should be chained “because she didn’t even resemble a human being”.

That was such an absurd thing that I could never understand. Haven’t we all been taught about not doing something that you don’t want others do to you since we were kids? I really want to shout out to that stupid mother: it’s your boy who has first thrown the pebbles to the girl, so you must blame him instead of the girl; what do you expect the girl to do against that insult? If she didn’t do anything, the boys would insult her more!

Anyway, that incident caused the pitted face girl to be chained in a small hut since that day. Years went by, she became a woman, and still no one cared about her. She was rejected, captured and alone. Her only friend now was the moon, who always shone her with its light, no matter who she was and how she looked. Only the moon who always came for her, the one to whom she could talk every night.

Actually the story is very simple (and short), written in narrative style, no dialog, no conflict, and without any major character besides the woman with a pitted face; however I found it quite deep to be reflected. I like how Ratih put the ending:

She approaches the pool of water, a dirty pool of water, mixed with dust. There is a shadow there. She smiles-and finds the moon’s face in it. Then she falls asleep and has no need to wake up again because her friend is with her.”

It is beautiful to picture God in the moon. God who loves men no matter how they are, and who treats them all equally. How absurd it is that men can’t love each other while they are together in the same pilgrimage on earth. Why must men treated others badly just because they are not like us? Isn’t it enough that a woman was born with ugly face, that we must insult her too?

I was moved by this story, and when I feel alone and desperate, I’ll need only to see the moon, for there I will see God, and know that I will never be alone in this world…

Four stars for this story!




And I encourage you to read some of the literatures in I-Lit, you will find there short stories, poetry, as well as monologue. Let’s help Indonesian literature to get access to international readers!

Wednesday, July 18, 2012

[Short Story] Perjalanan Berdarah (Blood Drive) by John Grisham


[Conclusion in English is at the bottom of the pos]

Cerita ini adalah salah satu dari tujuh cerita pendek karya John Grisham yang dikemas dalam buku berjudul “Ford County”. Karena ini adalah pertama kalinya Grisham menulis dalam bentuk cerita pendek, tentu saja Ford County menjadi ‘wajib baca’ bagi fans John Grisham sepertiku. Dan kali ini pertama kalinya pula bagiku untuk mengulas cerita pendek secara terpisah (bukan review buku kumpulan ceritanya secara utuh). Mengapa? Karena menurutku cara terbaik untuk menikmati kumpulan cerpen seperti ini—yang memiliki tema berbeda meski masih dalam satu topik—adalah membaca masing-masing cerpen seolah-olah mereka berdiri sendiri [baca: tidak membacanya secara simultan]. Jadi nantinya aku akan menerbitkan ulasan ke-7 cerpen secara terpisah, dan pada akhirnya aku akan tetap mereview buku ini sebagai sebuah kumpulan cerita-cerita menarik tentang Ford County, sebuah kota kecil di negara bagian Mississippi. Baiklah, sekarang aku akan mengulas cerita pertama: Perjalanan Berdarah, yang diterjemahkan dari judul aslinya: Blood Drive.

Seperti halnya yang sering terjadi di pedesaan di mana penduduknya saling mengenal akrab, demikian juga yang terjadi di Box Hill, sebuah desa di Ford County. Ketika Bailey—seorang putra daerah mereka—mendapatkan kecelakaan tertimpa perancah di sebuah lokasi konstruksi di Memphis, seluruh desa menjadi gempar. Pertama, berita kejadian itu menjadi simpang siur, dan karenanya tak ada seorang pun yang memiliki data yang akurat tentang kejadian sebenarnya.

Kedua, setelah pihak Rumah Sakit yang merawat Bailey mengabarkan bahwa si pemuda membutuhkan donor darah, kegemparan berikutnya pun terjadi. Kali ini mereka semua berusaha agar bukan dirinya yang harus berangkat ke Memphis untuk menyumbangkan darahnya, karena—lagi-lagi seperti yang biasa terjadi di pedesaan—mereka membayangkan donor darah sebagai hal yang menakutkan. Namun akhirnya dua pemuda mengajukan diri sebagai pahlawan, yaitu Aggie dan Calvin, ditemani seroang pemuda pemabuk dan pemakai narkoba bernama Robert. Bertiga mereka memulai perjalanan ke Memphis demi menyelamatkan nyawa teman mereka Bailey.

Ternyata di perjalanan banyak sekali rintangan yang menghadang. Mulai dari minuman keras, dikejar polisi, dicurigai pemilik sebuah rumah, salah masuk rumah sakit karena mereka ternyata tak tahu di rumah sakit mana Bailey dirawat (di Memphis ada 7 Rumah Sakit!), hingga yang terparah, hasrat mereka untuk bersenang-senang di stripping club hingga terlibat perkelahian missal di sana. Padahal di sebuah tempat tidur di sebuah rumah sakit entah di mana, si malang Bailey mungkin sedang membutuhkan pertolongan mereka….

Aku melihat kisah ini sebagai sebuah absurditas. Ingin rasanya aku berteriak pada penduduk Box Hill dan ketiga pemuda yang berangkat untuk menyumbangkan darah: ‘Cepatlah..cepatlah! ni masalah genting, tahu!’. Lebih jengkel lagi aku pada Aggie, Calvin dan Robert yang dengan gampangnya mengesampingkan urusan yang amat serius hanya gara-gara mereka menginginkan kesenangan! Dari sini sedikit banyak aku belajar bahwa sangat-sangat-sangat sulit untuk berkorban bagi orang lain. Aggie dan Calvin paling tidak sudah memiliki niat baik untuk pergi menyumbangkan darah (meski mau tak mau aku berpikir, apakah niat mereka murni untuk menolong, ataukah hanya agar dianggap sebagai pahlawan)? Dan kalaupun niat sudah ada (dan ingat, dari sekian banyak penduduk hanya Aggie dan Calvin yang memiliki paling tidak sedikit niat itu), kita masih dihadapkan pada perjalanan panjang untuk mengeksekusi niat baik kita. Dan di sini kita membutuhkan persistensi dan fokus pada apa yang kita niatkan. Dua hal yang tak dimiliki Aggie maupun Calvin; mereka berdua mengumpat Robert si pembuat onar, padahal mereka sendiri juga sama bersalahnya.

Hal kedua yang menarik adalah benang merah yang juga menjadi bagian dari judul kisah ini, yaitu “darah”. Menarik bahwa elemen darah menjadi titik pusat kisah ini. Bailey membutuhkan donor darah. Tiga orang berniat menyumbangkan darah. Pada akhirnya merekalah (terutama Aggie dan Calvin) yang berdarah-darah. Ketika uang mereka habis, apa yang ingin mereka lakukan? Menjual.. darah! Tak heran bila John Grisham memberi judul kisah ini ‘Perjalanan Berdarah’. Adakah anda merasakan paradox di sini? Jadi dapat kita golongkan sebagai apa kisah ini? Paradox yang absurd? Hmm….

Untung saja kisah ini ditulis oleh John Grisham, yang memang terbukti sebagai seorang pencerita yang hebat, sebab sesuatu yang sebenarnya sering kita alami (baca: kehebohan yang tak perlu sehingga mengabaikan hal yang penting, niat baik yang pupus karena godaan) mampu dianyam menjadi kisah yang cukup seru oleh Grisham. Tiga bintang aku hadiahkan untuk kisah ini, semoga aku akan menemukan kisah-kisah lain yang lebih “dalam” dari Perjalanan Berdarah ini.

Conclusion:

This story is in: Ford County, John Grisham’s first stories collection. It’s about three young men from a small village in Ford County who volunteered to donate their blood for a wounded friend called Bailey in Memphis. One of them (the bad boy, we can say) is a drunkard, and during the journey has been poisoning the two other with both dozen cans of beer and talking about stripping clubs they ought to visit. With all the distraction, it was obvious that the journey would soon become a disaster, and they would hardly come in time for rescuing the wounded friend with their blood.

I see this story as an absurdity. How could the three young men pleased themselves with beer and women, while their friend might have been dying in need of blood donor? And the most absurd here is that instead of giving their blood to rescue life, it was THEIR blood that must be shed in the end.

Yes, this story is an absurdity, yet Grisham has written it beautifully, that I can’t stop reading to get to know the ending.

Monday, July 2, 2012

Mid-Year Reading Challenges Update


Tak terasa kita sudah menapaki bulan Juli, itu artinya setengah perjalanan tahun 2012 telah kita lalui. Sekarang tiba saatnya ‘bersih-bersih’ rumah, alias melihat kembali apa saja yang sudah aku selesaikan, dan apa yang masih harus kulakukan di paruh kedua tahun ini. Meski blog ini sudah lama tak ku-update, bukan berarti aku meninggalkan kegiatan membaca buku, hanya saja akhir-akhir ini aku lebih banyak fokus ke bacaan klasik (reviewnya terbit di blog Fanda Classiclit), dan historical fiction (review bisa dilihat di Fanda Historical Fiction). Sementara itu, mari melihat bagaimana performaku dalam (banyak) reading challenge yang kuikuti tahun ini…

What’s In A Name 5

Sejauh ini challenge ini yang tantangannya paling besar karena tugasnya adalah membaca buku dengan tema yang telah ditentukan, dan tentu saja butuh kreatifitas untuk dapat menyelesaikannya.

Sejauh ini aku baru menyelesaikan 2 dari 6 buku yang harus kubaca. Untungnya, aku sudah mendapatkan buku-buku yang sesuai tema, dan tinggal memasukkan jadwal baca di semester 2 ini. Pencapaianku bisa dilihat di sini. Buku-buku yang masih harus dibaca:
  • Notes from Underground – Fyodor Dostoyevsky
  • Pesawat Pos Selatan – Antoine de Saint-Exupery
  • The Scarlet Letter – Nathaniel Hawthorne
  • Twenty Years After – Alexandre Dumas


Victorian Challenge 2012

Untung saja tahun ini challenge ini bersamaan waktunya dengan A Victorian Celebration yang juga aku ikuti selama Juni & Juli, sehingga secara otomatis buku-buku yang harus aku baca dapat digunakan untuk mengikuti keduanya. Dari jumlah 10 buku/film yang aku masukkan, tinggal 1 buku dan 1 film yang masih belum terselesaikan J. Pencapaianku selama ini bisa dicek disini. Sebenarnya aku sudah menonton film A Christmas Carol untuk challenge ini, hanya belum sempat mereview saja, sedang buku yang masih harus kubaca:
  • The Jungle Book – Rudyard Kipling


Historical Fiction Challenge 2012

Sepertinya ini challenge paling ambisius yang kuikuti tahun ini. Membaca 15 historical fiction selama setahun. Dan kalau anda mengintip di pencapaianku, ternyata aku telah berhasil menuntaskan 9 di antaranya. 6 buku lagi yang masih harus aku baca:
  • The Help – Kathryn Stockett
  • Anthony and Cleopatra – Colleen McCullough [belum terbit terjemahannya, semoga terbit tahun ini, tapi kalaupun tidak, aku akan switch ke judul lain]
  • Pompeii – Robert Harris
  • World Without End – Ken Follett  [belum terbit terjemahannya, semoga terbit tahun ini, tapi kalaupun tidak, aku akan switch ke judul lain]
  • Vivaldi’s Virgin – Barbara Quick
  • Empress Wu – Shan Sa


Back to the Classics Challenge

Menurut pencapaianku untuk challenge ini, dari 9 buku yang dibaca sesuai tema, aku sudah menamatklan 7 buku. 2 buku lagi yang harus kubaca sebelum akhir tahun:
  • Gone With The Wind – Margaret Micthell
  • Lord of the Flies – William Golding


Book In English Reading Challenge 2012

Dan reading challenge yang di-host oleh Melisa ini kayaknya menjadi ‘the lightest challenge so far’. Tahun ini aku benar-bernar memacu diriku untuk membaca buku-buku berbahasa Inggris, dan sepertinya semakin lama aku jadi semakin terbiasa dengan bahasa Inggris. Maka dengan bangga kulaporkan J bahwa aku telah berhasil membaca 7 dari 12 buku. Karena aku harus membaca 1 buku per bulan untuk menaklukkan challenge ini, maka tugasku tinggal membaca 5 buku dalam 6 bulan, lumayan santai kan? J. Buku-buku yang sudah kubaca ada disini, sedang yang masih ada di tumpukan adalah:
  • The Old Curiosity Shop – Charles Dickens [sedang kubaca saat ini]
  • Anna Karenina – Leo Tolstoy
  • Lord of the Flies – William Golding
  • Gone With the Wind – Margaret Mitchell
  • Vivaldi’s Virgin – Barbara Quick


European Reading Challenge

Terakhir…reading challenge yang agak curang! :P Bukan hostnya yang curang, tapi pesertanya, alias aku J. Aku mengikuti challenge ini setelah berjalan beberapa bulan, dan sebenarnya saat aku ikut, aku tinggal membaca 1 buku saja untuk menggenapi 6 buku yang kurencanakan. Jadi…dengan (tidak) bangga aku mengumumkan bahwa sejauh ini hanya challenge inilah yang sepenuhnya telah berhasil aku selesaikan!! Detilnya ada disini. [motto: biar curang asal selesai J).

Goodreads Reading Challenge

Untuk yang ini, sudah jelas terlihat di sini bahwa aku suda menghabiskan 34 buku dari target 60 buku yang aku masukkan. Great work, you're 5 books (7%) ahead, horeee! Artinya, kurang 27 buku lagi, aku akan menyentuh touchdown! J

Jadi…setelah dihitung-hitung, aku masih harus menghabiskan 27 buku selama semester kedua tahun 2012 ini (karena semua buku tentu saja masuk ke target GR). Semangattt!! Eh, tapi bagaimana dengan challenge yang aku host sendiri? Post-nya akan menyusul yaa!